True Love Celebration – 20 November 2010

True Love Celebration 20 November 2010

Kembali mengundang ke acara puncak True Love Celebration

Setelah setahun membahas dan menelusuri dunia per-jomblo-an, pornografi, pacaran, selibat, dan sampai ke dunia pernikahan, perayaan kali ini akan merangkum kesemuanya. Dengan kiat dan ajaran praktis yang akan dipaparkan oleh Romo Deshi Ramadhani, SJ, kita akan kembali diajak untuk memikirkan panggilan hidup kita dan bagaimana pilihan kita tersebut dapat menjadi penyaluran cinta sejati yang akan merubah generasi ini. Seusai acara perayaan True Love Celebration kali ini akan disediakan waktu dan makan malam untuk teman-teman ngobrol dan kenalan lebih lanjut.

Tempat: Wisma Indocement, Anggrek Room

Jl. Jendral Sudirman Kav 70-71, Jakarta

Sabtu, 20 November 2010 | 4 PM – 7 PM

Acara gratis termasuk makan malam

Tagged with:  

Summary TLC: Fellowship of the Ring

Teaching by: Riko Ariefano

Sore ini kita bicara tentang the Fellowship Of The Ring. Pertanyaan untuk survey sore ini untuk wanita “Apa artinya mempercayakan seluruh hidupmu ke dalam keputusan calon suamimu atau suamimu?” Yang jawab ya 59, tidak 23 orang. Untuk yang pria “Apakah kamu memahami artinya mencintai dan menguduskan calon istrimu dalam Tuhan serta siap melaksanakannya?” Yang jawab ya 19, tidak 23. Kita lebih banyak punya wanita yang siap nikah daripada pria di tempat ini menyebabkan harga cowok melambung tinggi karena komoditas langka.

Saya menikah tahun 2004 dengan istri saya yang barusan nyanyi suaranya seperti malaikat. Saya berkenalan dengan dia tahun 95 waktu itu kami masing-masing punya pacar, hang out bareng, dia pacaran selama 9 tahun dengan cowoknya. Tahun ke 9 dia tunangan, yang mana saya dan mantan saya jadi MC-nya.

Setelah tunangan tak sampai 1 tahun putus. Saya sendiri setelah 6 tahun pacaran bubar, saya single selama 4 tahun ke depan, sementara dia sempat 2 atau 3 kali pacaran. Akhirnya tahun 2003 kami pacaran, dan tahun 2004 kami menikah.

Hari ini kita akan telusuri tentang pernikahan, ada beberapa hal yang sangat penting dalam pernikahan.  

Ef 5:21-33 Dan rendahkanlah dirimu seorang ada pada yang lain..

Kita akan banyak bicara soal ayat-ayat ini. Bagi yang masih ingat yang datang bulan lalu, ini yang kita bicarakan dari Maret (menunjuk pada powerpoint). Bulan Maret pertama kali acara ini diadakan kita bicara dasar teologi body, memahami Allah lewat tubuh kita, dan kita bicara apa artinya mencintai. Mencintai adalah giving, dan bukan menggunakan. Misalnya saya sudah berusia 30 tahun dan saya belum punya pacar. Sementara orang tua saya setiap hari terus mengingatkan saya kapan, kalau cewek usia 30 tahun ke kawinan pertanyaan yang diajukan sama, undangannya kapan, karena pressure terus menerus, karena sering ditekan akhirnya berpikir siapa saja, yang penting segera dapat cowok supaya oom dan tante nggak berisik tanyain terus menerus. Akhirnya siapa saja yang baik dan punya uang langsung ya jadian. Dia pacaran apakah benar-benar mencintai cowok itu? Tidak karena dia butuh cowok itu supaya statusnya aman. Using, dia menggunakan tubuh si cowok, ke beradaan fisik ada di sebelahnya supaya orang pikir dia punya cowok. It’s not love karena cinta selalu memberi, bukan menggunakan.

Bulan April kita bicara tentang pornografi, kalau cowok lihat cewek cakep langsung bisik-bisik ke temannya, sssttt barang bagus, atau ada cowok yang melihat cewek dan bisik-bisik tentang bagian tubuhnya, ini keren, itu pas, itu kepanjangan, itunya kegedean atau kekecilan dikit, yang dilihat hanya bagian anggota tubuh. Kalau cewek itu tubuhnya mampu membuat si cowok on, semangat, maka si cowok menyimpukan cewek ini cakep. Dengan kata lain kriteria cantik dsb hanya seberapa jauh mampu membuat si cowok tergerak.

Jadi dia dekati, supaya orang lain puji dia ceweknya cakep, dia menggunakan tubuh si cewek. Atau cowok lihat gambar-gambar cewek telanjang dan masturbasi, menggunakan tubuh perempuan untuk kepuasanku. Using, not loving.

Di bulan berikutnya kita bicara tentang sex abuse. Sedemikian nafsunya, dia punya power, orang yang lebih lemah powernya digunakan untuk kepentinganku. Lagi-lagi dia nggak loving tapi using.

Terus berlanjut pada singleness dan pacaran, bagaimana single harus dipenuhi oleh cinta Tuhan. Kenyataannya nggak banyak yang melewati hidupnya sungguh penuh dalam Tuhan. Karena bingung terus menerus akhirnya dia pacaran, dan pertanyaannya selalu batasannya ada di mana. Saya tanya suatu batasan di mana itu tujuannya supaya tak jatuh, dan ini juga berarti saya sedang berjalan menuju ke sana atau ke batas itu. Artinya kalau kita tanya pacaran batasnya di mana yang mulai dosa, maka kita sebetulnya sedang berjalan menuju dosa itu. Kalau memang mau pacaran yang bener, kenapa pertanyaannya tak dibalik, yaitu gimana pacaran untuk memuliakan Tuhan. Selama kita bertanya batasannya di mana, kita mau memakai space itu seoptimal mungkin, mau using, gue mau pegang cewek gue sampai mana supaya gak dosa. Kalau di leher ya sampai leher, artinya dia mau mendapatkan kenikmatan sebanyaknya. Lagi-lagi itu bukan loving tapi using.

Bulan lalu kita share pyramid dalam berhubungan. Dalam pacaran kita seringkali tak mau memikirkan atau tak peduli dengan area-area lain yang penting. Kebanyakan langsung masuk ke exclusive relationship. Suka lihat, pdkt, tembak, secepatnya jadian. Dia nggak melewati proses friendship yang berkualitas. Dia tak kenal keluarganya, langsung masuk exclusive relationship, lalu baru berteman, dan ternyata tak cocok. Tapi karena sudah membangun exclusive relationship duluan, maka emotionally sudah nempel. Waktu ternyata gak cocok, mau putus gak bisa, karena sudah emotionally lengket, mau jalan terus juga ga bisa karena tak cocok. Akhirnya jadi masalah. Ini problemnya karena tak mau menjalani friendship dulu. Kenali dulu keluarganya baru exclusive relationship, baru pertunangan, dan married. Waktu step-step pyramid ini dilewati dan tak diperhatikan, kita punya potensi masalah yang besar dalam perkawinan.

Maka kualitas hidup sebagai jomblo sangat mempengaruhi kualitas pernikahan kita. Kualitas persahabatan dengan pasangan juga sangat mepenguaruhi kualitas perkawinan. Baru yang paling atas judulnya seks.

TOB bicara tentang perkawinan sebagai sebuah sakramen

Kalau ingat pelajaran agama, sakramen adalah tanda yang kelihatan dari rahmat Tuhan yang tak kelihatan. Tadi dikatakan bahwa hubungan suami dan istri adalah rahasia tentang hubungan Kristus dan mempelai-Nya sehingga setiap kali melihat pasutri, mereka berdua sebetulnya seperti icon dari sebuah misteri besar. Begitu di klik iconnya, ada jauh lebih banyak program yang kompleks didalamnya. Maka icon mau menggambarkan apa yang sebetulnya mau diungkapkan.

Pernikahan adalah tanda kelihatan dari realitas yang tak kelihatan, yaitu Kristus dan mempelaiNya. Selain itu laki-laki dan perempuan menjadi sakramen bagi satu sama lain. Sakramen-sakramen lain dalam gereja diberikan oleh imam, kecuali pernikahan, karena pasangan saling menerimakan sakramen pernikahan. Jadi di samping pasutri menjadi lambang Kristus dan mempelai-Nya, mereka juga menjadi tanda yang kelihatan dari realitas Allah yang tak kelihatan bagi satu sama lain.

Suami menjadi gambar dan rupa yang kepenuhan cinta Allah bagi pasangannya, demikian pula sebaliknya istri juga menjadi gambar dan rupa dengan kepenuhan cinta Allah bagi pasangannya. Masing-masing menjadi tanda bagi satu sama lain. Mutual.

Ayat “Hai istri tunduklah pada suami…” sering dipakai cowok sebagai alasan kamu jadi istri harus nurut dan mengikuti kata-kataku padahal sebelumnya ada dasarnya, muncul respek satu sama lain, saling merendahkan diri satu sama lain, menjadi subyek bagi satu sama lain. Ada perbedaan besar antara pernikahan sebagai covenant dan kontrak.

Kontrak, saya beli barang, kamu kasih saya barang, saya kasih uang, barang ini menjadi milik saya uang menjadi milik kamu, this will become mine and this will become yours. Yang terjadi dalam perkawinan bukan kontrak tapi covenant. I will became yours and you will become mine, pasangan kamu itu will become totally yours but you will become totally hers, it’s not an exchange of goods it’s an exchange of person, of life.

Dulu waktu kuliah di Amerika, seorang dosen mengatakan marriage is a better form of prostitution karena dalam pelacuran you give sex you get cash, tapi dalam pernikahan you give sex, you get sex, you get a man, you get a house, it’s a better form of prostitution.

Sebagai suami istri, masing2 pasangan dipanggil untuk memberikan diri sepenuhnya dan seutuhnya bagi pasangannya.

Ayat berikutnya mengatakan hai suami kasihilah istrimu. Perintah buat suami banyak, mengasihi seperti Kristus , menyelamatkan, menguduskan, menyucikan, mengasihi istri seperti mengasihi tubuhnya sendiri. Kalau cowok-cowok seringkali bertolak pinggang dan berkata hai istri tunduklah pada suami, tapi ayat berikutnya perintah buat suami jauh lebih berat karena suami dipanggil untuk menjadi seperti Kristus bagi jemaat. Pertanyaannya berapa banyak suami atau calon suami yang siap menjadi Kristus bagi calon istrinya, berapa banyak cowok yang mengambil tanggung jawab untuk memimpin doa dalam sebuah hubungan, berapa banyak cowok yang ingetin cewek untuk doa, ngaku dosa, ajak ke gereja, bersikap sopan waktu komuni, berapa banyak cowok yang ambil waktu setiap hari bersekutu dengan Tuhan, ‘casue he has to be just like Jesus to his wife. Itu sebabnya istri tunduk pada suami karena suaminya harus serupa dengan Yesus.

Berangkat dari hasil survey ada 19 pria yang siap menjadi seperti Kristus bagi jemaat-Nya. Sementara ada 59 wanita telah siap memperebutkan 19 pria di ruangan ini. ..:-)

Apa artinya menjadi seperti Kristus, apakah cowok-cowok itu mengambil tanggungjawab rohani dalam hubungannya? Seringkali karena alasan bahwa gereja itu urusan cewek, karena di rumah dia melihat nyokap lebih rajin doa daripada bokap, ibu lebih rajin mimpin doa makan, doa novena, Rosario sementara bapak cuma sibuk daripagi sampai malam, tak peduli gereja sehingga banyak yang berpikir church and Jesus adalah bagan wanita. Kalau kamu merasa gereja hanyalah urusan wanita, kamu tak siap untuk menikah!

Beberapa waktu yang lalu, saya kerja di sebuah perusahaan, saya di hire satu company, saya masuk, 2 minggu kemudian ada laporan yang saya harus tandatangani, yaitu laporan keuangan di perusahan itu dan laporan pajak. Setelah saya cek angka yang dilaporkan adalah angka yang salah, saya panggil staf saya. Saya bilang “Kemarin yang saya tandatangani angkanya segini, padahal sebetulnya beda ya”. Dia jawab “Sudah biasa boss kasih laporan yang tak benar. Kalau kasih yang benar bayar pajaknya mahal”. Saya bergumul dalam doa, ini tak jujur, kalau melanggar saya bisa dipecat sementara saya dapat tawaran di perusahaan itu dengan gaji 3x gaji saya di perusahaan sebelumnya. Akhirnya satu hari saya memberanikan diri menghadap boss, dan saya katakana “Pak saya bukan orang suci tapi ceritanya kita mau belajar hidup benar, boleh gak lain kali laporan pajak kita laporkan yang jujur?” Boss saya geleng-geleng kepala. “Riko..Riko.. hampir semua firman Tuhan saya bisa ikuti kecuali yang satu itu” Saya pikir hebat juga, semua bisa diikuti kecuali yang satu itu. Lalu boss saya bilang lagi “Kita kasih ke pajak dikit, selisihnya, kita nyumbang panti asuhan, kalau kita kasih semua ke pajak nanti juga dikorupsi”. Saya katakan “Yesus bilang berikan pada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikan Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan. Masalah korupsi urusan dia dan Tuhan, yang penting kita jujur” Anyway, hari itu saya memuji Tuhan bahwa saya nggak dipecat.

Bulan berikut, beberapa hari sebelum laporan, saya bergumul, 2-3 hari sebelum tandatangan, saya menghadap boss dan resign. Saya keluar, waktu keluar, saya belum punya kerjaan, saya nganggur tapi sampai hari ini Tuhan tak pernah membiarkan saya kekurangan sedikitpun dalam hidup sekalipun saya memilih untuk jujur seperti Kristus. Cowok dipanggil untuk menjadi serupa Kristus, untuk hidup dalam kebenaran, kalau tak siap hidup dalam kebenaran Tuhan berarti tak siap untuk menikah. Kepada istri-istri diperintahkan untuk tunduk pada suami seperti tunduk pada Kristus, maka ya cowok2 harus berusaha menjadi serupa Kristus.

Istri tunduk pada suami, saya suka bahasa Inggris woman should be in submission to husband, bagian dari missi suaminya yang adalah mencintai, menyelamatkan, memandikan dengan air dan firman, mengasihi istrinya. Itu misinya dan istri harus menjadi bagian dari misi suaminya dengan membiarkan dirinya dicintai, dilayani, dikasihi, diselamatkan, disucikan dalam Firman. Maka kalau buat cewek tak akan ada masalah kalau punya calon suami yang memandikan dengan firman dan air, menguduskan, menyucikan, menyelamatkan, semua dilakukan suami untuk istri, buat istri tidak ada masalah untuk tunduk pada suami. Banyak kali yang terjadi adalah masalah suaminya.

Ef 5:31 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Suami dipanggil untuk meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istri dan menjadi satu daging, analogi yang sama, suami seperti Kristus, analogi Kristus meninggalkan Bapa-Nya dan segala kemegahan kerajaan untuk bersatu dengan mempelai-Nya, kita ,dan menjadi satu daging dengan kita. “Inilah tubuh-Ku” kita sambut komuni dan jadi satu tubuh dengan Kristus.

Arti nupsial laki-laki adalah memberi.  Nupsial artinya perkawinan. Bayangkan Kristus dan mempelaiNya, suami dan istrinya, serta Tuhan sebagai mempelai pria dan umat-Nya sebagai mempelai wanitaNya. Itu sebabnya dalam perkawinan, waktu suami melakukan hubungan seks dengan istri, suami berada pada posisi memberikan sperm, istri yang menerima. Suami dipanggil untuk member. Tubuh cowok didesign sedemikian rupa sehingga dalam kaitannya dengan wanita (fungsi nupsial) ia mempunyai fungsi memberi.

Wanita di sisi lain memiliki arti nupsial tubuh untuk menerima. Maka laki-laki menunjukkan cintanya dengan memberikan. Dengan memberi cinta ia menerima cinta. Seperti Allah memberi kehidupan. Cewek dengan menerima cinta, ia memberikan cinta.

Seks

Orang suka bilang seks enak, saya bilang gak enak. Yang enak pulang dari sini cari makan. Orang suka bilang seks seru, saya bilang gak seru. Piala dunia itu baru seru. Seks bukan sekadar enak atau seru. Sex is holy, bukan sekadar masalah enak atau seru karena waktu suami dan istri melakukan hubungan seks ini adalah peristiwa mewujudnya janji di atas altar. Cowok janji bakal sayang dalam sehat, senang dan sukses, cewek bilang aku cinta kamu..bla bla bla. Seluruh janji di atas altar hanya kata-kata, tapi waktu memberikan diri secara utuh dalam pernikahan janji ini mewujud dalam hubungan seks suami istri, sehingga seks menjadi perwujudan total pemberian suami dan istri, seks menjadi perwujudan tanda cinta kasih.

Seks sebagai persatuan cinta kasih artinya waktu suami memberikan diri untuk mencintai istrinya, dia memberikan diri sepenuhnya dan tidak menggunakan tubuh istri untuk kepuasan sendiri – tapi dengan cinta lewat tubuh seutuhnya. Begitu juga istri memberikan cinta lewat tubuh seutuhnya bagi suaminya. Maka seks menjadi ungkapan cinta satu sama lain. Familiaris Consortio mengatakan bahwa hubungan suami dan istri adalah peringatan tetap akan apa yang terjadi di atas salib, karena di atas salib Yesus telanjang dan memberikan cinta-Nya secara utuh bagi memelai-Nya. Maka dalam arti tertentu kayu salib adalah seperti ranjang pengantin bagi Kristus dan umat-Nya, karena di atas salib Dia rapuh dan memberikan diri-Nya seutuh-Nya bagi kita. Seperti suami dalam hubungan suami istri, dia telanjang, dan memberikan diri secara utuh bagi istrinya. Konsekuensinya kalau ini cinta kasih yang seperti cinta Tuhan, maka akan selalu berbuah kehidupan yang baru. Waktu kita menerima cinta Tuhan kita terus menerus diperbarui. Maka hubungan suami istri yang mencerminkan cinta Tuhan harus selalu terbuka pada kehidupan. Artinya seks harus memiliki dua unsur, yaitu persatuan cinta kasih dan prokreasi.

Kesimpulan

Marriage love = God’s love = true love = free, total, faithful, dan fruitful. Pemberian diri sepenuhnya, cinta yang total tak menahan apapun, semuanya buat pasanganku. Kadang-kadang orang bilang cintanya total kenyataannya tidak. Misalnya aku berikan diriku seutuhnya untukmu kecuali spermaku. Ini terjadi kalau pasangan menggunakan kontrasepsi, pakai kondom, dsb. Atau istrinya bilang aku memberikan diriku seutuhnya semuanya untukmu, kecuali kesuburanku. Jadi pakai kontrasepsi dan tak mau punya anak berarti tak mau berbuah kehidupan. Waktu kita tak mau berbuah kehidupan, ini bermasalah karena cinta Tuhan selalu terbuka pada kehidupan.

Faithfullness berarti memilih untuk mencintai terus menerus. Memilih mencintai orang yang sama setiap hari seumur hidup. Seringkali permasalahan dalam pernikahan bukan masalah prinsipil yang besar tapi seringkali masalah kecil jadi besar. Contoh, saya kalau suruh angkat kursi ini saya kuat, perbedaan kecil dalam satu hubungan kecil tak ada masalah karena saya kuat menanggungnya. Waktu pikul 1 menit saya masih kuat, cobain 3 menit akan gemetaran. Makin lama makin turun tangan saya, dan menit ke limabelas saya taruh.  Sebetulnya enteng, tapi kalau yang enteng harus dipikul setiap hari seumur hidup ceritanya akan beda. Faithfullness bicara tentang setia mau memikul perbedan kecil, kelemahan, semua seumur hidup walaupun lama kelamaan terasa berat.

Kalau kita bisa siap dalam sebuah hubungan pernikahan, buat cowok atau cewe artinya masing-masing dari  kita siap secara bebas memberikan diri secara seutuhnya, total, mencintai terus menerus menanggung segala perbedaan dan terbuka pada kehidupan. Waktu kita siap menjalankan ini – cowok-cowok menjadi seperti Kristus dan cewek-cewek menjadi seperti umat yang tunduk pada mempelai Kristus, maka kita siap untuk menikah.

Teaching by: Riko Ariefano

Wisma Indocement – 7 Agustus 2010

Transcript by: Mungky & Redi

Tagged with:  

I Wish for Four, now I still have Zero

By: Lia B. Ariefano

Mari kita simak bersama kisah suka duka dari salah satu teman kita, Lia, dalam menggenapi rencana Tuhan atas kehidupannya.

***

Waktu saya di bangku SMA, saya pernah berjanji dalam hati, saya tidak mau hidup saya dibebani dengan makhluk-makhluk kecil yang bernama: A N A K. Buat saya (saat itu), anak hanya menghalangi langkah saya untuk mencapai apa yang saya mau dalam hidup saya. Kebetulan saya juga bukan tipe perempuan yang suka akan anak dan mau dinilai orang keibuan.

Ini berlangsung sampai masa saya bekerja. Hati saya selalu berontak bila melihat kenyataan perempuan seakan-akan tidak punya pilihan. Semua kesialan, ketidak-beruntungan, bahkan ketidak-enakan selalu harus dijalani oleh perempuan. Saya percaya akan kontrasepsi, saya percaya akan pilihan-pilihan yang harus dibuat oleh perempuan, saya percaya kita perempuan bisa hidup tanpa lelaki. Satu-satunya yang belum bisa saya terima waktu itu adalah aborsi, karena biar bagaimanapun saya tahu itu adalah pembunuhan. Tapi…  kalau waktu itu saya mengalami kehamilan yang tidak saya inginkan, jangan-jangan… saya akan melakukannya juga! Who know’s…?

Sampai rahmat dan belas kasihan Tuhan tercurah deras atas hidup saya. Lewat sebuah buku yang ditulis oleh Kimberly Hahn: Live Giving Love, pandangan saya berubah 180°, dari seseorang yang menggunakan hidup, menjadi seseorang yang belajar mencintai kehidupan.Sejak itu ada kerinduan untuk memeluk anak-anak saya. Sampai sekarang saya masih belum bisa tahan kalau melihat anak-anak berlarian dan teriak-teriak, rasanya saya pengen menghampiri mereka dan menaruh plakban di mulut mereka dan mengikat kaki mereka (eehhh… *cartoon mode*) tetapi saya harus mengakui.. setiap kali memeluk Jovan dan Celine (anak2 dari pasangan Kusno&Anast dari komunitas kami) saya tidak bisa membohongi, ada kehangatan yang menyelimuti hati saya dan kadang tidak mau melepaskan mereka. Sejak membaca buku itu, saya selalu memimpikan 4 orang anak hadir dalam pernikahan kami.

Tahun ini kami melewati tahun ke 6 pernikahan kami. Seperti judul tulisan ini, I wish for 4 (children), tapi saat ini kami masih bertahan di angka Zero (atau nol!). Saya pernah melewati masa-masa sedih setiap kali mendengar seseorang hamil. Duluuuuu setiap kali saya bertemu dengan orang yang baru menikah, kalau ketemu kata basa-basi saya adalah: “Gimana? Sudah isi?”.. sampai saya mendapati pertanyaan itu begitu menyakitkan dan semua mata dan telunjuk seakan tertuju kepada saya dan mengatakan: “Kamu bukan perempuan krn kamu tidak bisa mempunyai anak!”

Rasanya saya mulai mengerti bagaimana perasaan St.Elisabet sebelum akhirnya ia mendapatkan Yohanes.

Tetapi saya memutuskan untuk tidak menjadi pahit dengan semua ini. Saya bersyukur dengan setiap pengalaman yang boleh saya jalani. Cara pandang saya sebagai seseorang yang dulunya adalah Pro Choice, justru membuat saya hari ini makin mencintai kehidupan dan keperempuanan saya.

Kalau saya membuka diri saya buat kehidupan, saya memilih untuk terbuka pada cinta, bukan kepahitan dan kebencian.

Kalau saya memilih untuk terbuka akan berapapun jumlah anak yang Tuhan berikan kepada kami, itu karena Ia mempercayakan kehidupan yang Ia ciptakan dengan sempurna, dan Ia sumber kehidupan dan kelimpahan akan memberikan dan mencukupi segala keperluan kami.

Kalau kami hari ini belum diberi satupun kehidupan, saya percaya ada hal lain yang harus kami kerjakan, dan membuat cinta kami tetap berbuah, berkelimpahan, dan menjadi berkat buat siapapun yang ada di sekeliling kami.

Beberapa waktu lalu saya nonton acara Oprah dengan The big family of Osmond.  Dari sepasang George dan Olive Osmond, mereka terbuka pada 9 anak yang diberikan kepada mereka, dari 9 anak, hari ini ada 55 cucu dan 48 (dan terus bertambah) cicit. Mereka berhasil mendidik anak-anak mereka dengan cinta dan terus hidup rukun sampai sekarang.

Waktu saya mendengar cerita ini, hati saya diliputi kehangatan, betapa cinta lebih besar dari apapun dan mampu mengalahkan apapun.

So, I was living my pro choice life with many (individual, egoist, and full of hate) choices.

I wish for four and we still have zero now! But we never doubt of whatever God has plan for us.

As we open ourselves to life He will create, we believe He will open the heaven’s door for us. Assuring that we will have the strength, the love, the blessing, the wisdom, happiness and everything we’ll need.

Yes I wish for Four and yet we still have Zero, but we believe if we generous enough to give our life, HE will give fo(u)rever generosity to us and you!

As posted By: Lia B. Ariefano at http://whittulipe.wordpress.com

Tagged with:  

Never Ending Love of God

by: Rediningrum

 

1 Corinthians 13:8 “Love never fails…”

Cinta itu apa sih? Masih banyak karya seni dan sastra yang sampai sekarang masih berusaha mengungkap makna cinta. Jika cinta antara sesama manusia saja seperti laut, begitu luas untuk dapat digali pemahamannya, bagaimana dengan cinta Tuhan kepada ciptaanNya?

Jaman dulu, kuasa yang lebih besar yang sudah disadari oleh manusia yang primitif diwujudkan dan diungkapkan dengan bentuk animisme (roh) dan dinamisme (benda) yang diyakini mempunyai kekuatan lebih besar yang dapat menolong kesulitan manusia di dunia. Semakin beradab dan modern, manusia beragama dan menyembah monotheis. Kehendak Tuhan yang lebih besar yang melingkupi hidup manusia.

Kalau kita melihat memori kisah sengsara Tuhan Yesus menuju Golgota, Dia terjatuh beberapa kali, dia tetap meneruskan perjalananNya sampai tujuan, karena cintaNya, karena ketaatanNya. Bukankah ini contoh agar manusia yang jatuh ribuan kali tetap harus maju menuju  keselamatan yang Tuhan sediakan?

Hendaknya kita membesarkan hati seorang teman atau pun bahkan kita sendiri untuk mau hidup lebih baik meskipun pernah gagal, pernah salah jalan, pernah tidak percaya pada Tuhan, agar tetap meneruskan perjalanannya. Karena Tuhan itu cintaNya tidak pernah berhenti, tidak pernah gagal menyelamatkan manusia yang dikasihiNya. CintaNya sejati dan abadi.

by: Rediningrum

Tagged with:  

TLC On The Road – Diskusi Pernikahan

TLC OTR – AUG 2010

Sedang mempersiapkan pernikahan?

Sudah siap menikah?

Mengerti akan arti pernikahan?

Ingin menikah dan mau tau apa saja yang mesti di persiapkan?

Pesta pernikahan semalam ceria bukanlah puncak dari pernikahan itu sendiri, betapapun investasi yang telah di kerahkan untuk melangsungkan acara tersebut. Investasi yang sebenarnya ada pada iman, keyakinan dan ketulusan pribadi-pribadi yang mengatakan sumpah pernikahan mereka di depan altar. Di depan saudara, di depan teman. Di depan Bapa.

Soooo jangan ampe ketinggalan,.. kita akan sharing dan diskusi lebih banyak lagi mengenai pernikahan  dalam acara :

Minggu, 22 Agustus 2010

1 PM – 4 PM

The Platters - Setiabudi One 1st Floor, Jl. HR Rasuna Said Kav. 62, Jakarta

Map: click here

Mari bersama kita selaraskan lagi pengertian pernikahan di hidup kita, baik yang sudah menikah maupun yang tidak, dengan pengertian yang dikehendaki Bapa kita sendiri.

Jangan ragu untuk datang sendirian, berdua ataupun sekampung. It’s going to be fun guys and girls!

Contact Person: Ricca 0818-08250591 | Fenny 0858-13898755

Info acara TLC ini juga bisa dilihat & RSVP disini :)

Tagged with:  

Celibacy???

by: Francisca Monica

Ketika anak remaja ditanyai mengapa tidak berminat jadi pastor/suster? Sebagian besar akan menjawab : ‘ntar ga bisa kawin’. Is it the right answer?

Celibacy and Marriage Analogy

Saya pernah makan dimsum sepuasnya dengan teman-teman saya. Menu yang kami tunggu-tunggu adalah ‘hakau’, menu dimsum favorit kebanyakan orang. hakau sangat laku karena sangat disukai, so, harus memesan dan menunggu. Sebelum hakau datang, bakpau, lumpia, somay sudah tersedia.

Ada beberapa teman yang walaupun menunggu hakau, mereka tetap menikmati bakpau, somay, dll. ada juga teman yang hanya minum dan menunggu sang hakau datang, karena tidak ingin kenyang terlebih dulu oleh makanan selain hakau. Ketika hakau datang, teman-teman yang sudah makan terlebih dulu, mungkin sudah merasa sedikit kenyang, karena hakau datangnya lama banget. Sementara yang menunggu hakau, langsung dengan lahap menikmati seperti orang kelaparan. Anyway, kami semua puas, makan enak dan kenyang.

Teman-teman yang menunggu hakau merupakan analogi para selibater. Mereka menunggu perkawinan surgawi. Mereka tidak puas dan tidak mau menikmati perkawinan duniawi. Mereka mengkhususkan dan mempersiapkan dirinya khusus untuk perkawinan surgawi.

Sementara mereka yang makan terlebih dulu merupakan analogi orang-orang yang menikah. Mereka menikmati terlebih dulu perkawinan surgawi itu di bumi. Dan nantinya, mereka juga akan menikmati perkawinan surgawi itu.

Anyway, di Surga, kita akan mengikuti dan mengambil bagian dalam perjamuan kawin Anak Domba Allah. Yaitu Yesus, sebagai mempelai laki-laki akan menikah dengan Gereja-Nya, kita.

Celibacy VS Sexual Excitement

Banyak orang berpikir bahwa, dengan hidup selibat maka hidup akan menjadi boring dan tidak dapat merasakan nikmatnya seks. Wait! Sexuality is not just about intercourse, but it reveals who we are. Seks bukan hanya soal hubungan intim dan kenikmatannya. Seks berbicara soal diri kita. Lewat seksualitas kita sebagai pria dan wanita, kita dapat semakin memahami diri kita dan memahami Tuhan. Pilihan untuk selibat bukan hanya berarti tidak berhubungan seks.

Yang akan membawa joy dalam hidup kita bukanlah sex, tetapi love.

Celibacy doesn’t reject sexuality

Jika anda berpikir selibat adalah pilihan untuk tidak melakukan hubungan seks maka, you lose the point of celibacy. Mereka yang memilih untuk selibat, tidak menolak seksualitas mereka.

Sebaliknya, mereka malah menggambarkan tujuan dan makna utama dari seksualitas manusia, yaitu pemberian secara utuh kepada Tuhan. Mereka berfokus pada suatu hidup yang lebih menyenangkan di Surga. Lewat pemberian diri secara utuh ini, mereka berfokus pada persatuan dengan Tuhan di Surga. Mereka menjadi saksi bahwa terdapat sukacita yang lebih besar daripada sukacita di dunia ini, yaitu sukacita surgawi.

Celibacy is not repressing and Marriage is not releasing

Selibat tidak menahan dan memendam dorongan seksual. Dan di sisi lain, marriage atau pernikahan bukanlah suatu zona aman melampiaskan dorongan seksual.

Para selibater menikmati seksualitas mereka dan mengalihkan segala dorongan seks mereka kepada persatuan utuh dengan Tuhan dan pemberian diri secara utuh. Pasangan yang menikah mengucapkan janji pernikahan mereka dan mereka mengucapkannya tanpa kata lewat penyerahan diri secara utuh, murni dan bebas lewat hubugan seks.

Baik memilih untuk menikah maupun selibat, seseorang tetap harus menjaga kemurnian diri masing-masing dan menjadi memenuhi panggilan dirinya yaitu untuk memberi. Baik dengan memberikan diri secara utuh kepada pasangan, maupun mempersembahkan diri lewat selibat.

Baik menikah, maupun selibat, seseorang dewasa juga dapat dipanggil sebagai orang tua. Ayah dan ibu sebagai orang tua bagi anak-anak mereka dan Imam dan biarawati dipanggil menjadi gembala bagi umat-umat-Nya.

The GIFT of Celibacy

Selibat merupakan suatu panggilan khusus dari Tuhan. Mereka seperti halnya kaum non-religious, mencintai Tuhan. Hanya saja mereka mengambil keputusan radikal, yaitu dengan bebas memilih untuk mempersembahkan diri mereka.

Tetapi hal penting yang perlu diingat, bahwa selibat bukanlah GIFT dari para selibater kepada Tuhan, melainkan GIFT dari Tuhan pada pilihan-Nya.

Am I called?

‘sepertinya saya dipanggil’ bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul. Dan ‘ sepertinya saya tidak terpanggil’ bukanlah sesuatu yang dengan mudah kita katakan. Setiap orang harus meneliti hatinya dan bertanya pada Tuhan, apa yang menjadi panggilannya. Diperlukan waktu dan proses untuk mengetahui panggilan seseorang.

Berikut tanda-tanda / gejala yang umumnya dialami oleh orang-orang yang terpanggil dalam panggilan khusus ini  (taken from Fr. George, CSE notes on facebook):

  1. Senang ikut kegiatan di gereja. Senang kumpul-kumpul dengan teman-teman di gereja. Senang kalau berada di gereja.
  2. Suka melihat orang-orang yang berjubah. Pernah berpikir: “Kalau aku pakai jubah, seperti apa, ya?”
  3. Punya keinginan yang kuat untuk melayani Tuhan. “Kalau gak nikah, aku bisa lebih intensif melayani Tuhan!”
  4. Ada orang yang pernah bilang ke kamu: “Kau cocok jadi romo, deh!” atau “Kelihatannya engkau cocok jadi suster.” Dan yang ngomong gak hanya satu orang saja!

Bila anda memang merasa dipanggil, jangan ragu, kenali panggilanmu lebih lagi.

Jika anda merasa tidak terpanggil, benarkah anda tidak terpanggil??? Baiklah, mohon doamu untuk para selibater.

Source : Theology of the Body for teens by Jason Evert chapter 9, TOB leadership training by Brian Butler video chapter 9.

Tagged with:  

Never Ending Love of God

by: Redi

1 Corinthians 13:8 “Love never fails…”

Cinta itu apa sih?

Masih banyak karya seni dan sastra yang sampai sekarang masih berusaha mengungkap makna cinta. Jika cinta antara sesama manusia saja seperti laut, begitu luas untuk dapat digali pemahamannya, bagaimana dengan cinta Tuhan kepada ciptaanNya?

Jaman dulu, kuasa yang lebih besar yang sudah disadari oleh manusia yang primitif diwujudkan dan diungkapkan dengan bentuk animisme (roh) dan dinamisme (benda) yang diyakini mempunyai kekuatan lebih besar yang dapat menolong kesulitan manusia di dunia. Semakin beradab dan modern, manusia beragama dan menyembah monotheis. Kehendak Tuhan yang lebih besar yang melingkupi hidup manusia.

Kalau kita melihat memori kisah sengsara Tuhan Yesus menuju Golgota, Dia terjatuh beberapa kali, dia tetap meneruskan perjalananNya sampai tujuan, karena cintaNya, karena ketaatanNya. Bukankah ini contoh agar manusia yang jatuh ribuan kali tetap harus maju menuju  keselamatan yang Tuhan sediakan?

Hendaknya kita membesarkan hati seorang teman atau pun bahkan kita sendiri untuk mau hidup lebih baik meskipun pernah gagal, pernah salah jalan, pernah tidak percaya pada Tuhan, agar tetap meneruskan perjalanannya. Karena Tuhan itu cintaNya tidak pernah berhenti, tidak pernah gagal menyelamatkan manusia yang dikasihiNya.

CintaNya sejati dan abadi.

Tagged with:  

10 Cara Menuju Hidup Murni

-Tips and Tricks-

Cinta sejati menuntut mata yang selalu menuju kepada Tuhan. Cinta sejati bukan mainan ecek-ecek dengan tantangannya yang sungguh kelas berat. Cinta sejati menuntut kemauan baja dan mentalitas tinggi.

Namun, kemauan baja bisa tiba-tiba saja meleleh dalam sekejap.

Salah satu penyebabnya? Overdosis persepsi seksualitas yang sudah terlanjut disalah kaprahkan. Majalah, iklan tv dan juga dvd-dvd saat ini tak hentinya memborbardir kita dengan persepsi mereka tentang bagaimana gaya hidup seksual yang seharusnya dijalani pembaca ataupun penontonnya. Sekian kalinya dalam sehari kita disuguhi pemandangan ataupun bacaan yang terus mendistorsi kebenaran cinta sejati.

Niat baja pastinya adalah modal kita untuk memulai hidup murni. Simak sepuluh cara berikut untuk terus mengasah mata hati supaya tetap mengarah kepada Tuhan demi mendapatkan cinta sejati kita masing masing. 

  1. Berdoa mohon kemurnian setiap pagi.  Tiga kali Salam Maria kepada Bunda  biasanya membantu.
  2. Waspadai dan jauhi hubungan sepertinya akan menjadi hubungan tidak murni bahkan sebelum hubungan itu terjalin erat.
  3. Saat berpacaran, jauhi tempat ataupun situasi yang mengundang ‘bahaya’. Kuncinya adalah kenali ‘bahaya’mu masing-masing. Apakah itu tempat remang-remang, sepi, segala tempat yang menyediakan minuman beralkohol ataupun nomat berduaan di siang hari, kenali ‘bahaya’mu baik-baik dan jauhi dia sebisa mungkin.
  4. Diskusikan dengan pasanganmu akan batasan-batasan dan ekspektasi masing-masing pada masa awal pacaran. Yakinkan kalian mengerti pendirian masing-masing supaya tidak perlu ada perdebatan ‘aku kira kamu kira’ di kemudian hari.
  5. Carilah teman untuk saling mendukung gaya hidup murnimu itu.
  6. Double Date! Triple Date! Makin rame, makin asik. Pastinya pergilah dengan pasangan-pasangan yang bersama-sama mengupayakan hidup untuk cinta sejati.
  7. Jauhi lagu-lagu, majalah ataupun tontonan yang terus mengundangmu untuk hidup tidak murni. Tidak ada pernah kata terlambat untuk berputar arah walaupun kamu sudah sampai ke website yang kesekian ataupun menghabiskan majalah yang kesekian.  
  8. Dengarkanlah saran dari teman ataupun keluarga yang menjalankan hidup Kristiani sepenuhnya.
  9. Pengakuan dosa sekali sebulan akan terus mengingatkan akan niat dan kemauan kita. Jangan pernah malu untuk mengakukan dosa-dosa yang sama lagi dan lagi dan lagi karena percayalah kamu tak sendirian. 
  10. Jangan pernah ragu untuk berkata ‘TIDAK’ bila keadaan sudah berada diluar kendali.

Saat dirasa cobaan sungguh berat untuk hidup murni, jangan pernah bilang menyerah sebelum kamu coba sepuluh langkah diatas!

Sumber : Theology of The Body for Teens ­­– Jason & Crystalina Evert and Brian Butler

Tagged with:  

How do you know when to end a relationship?

by: Monica

Pertama, untuk wanita. Ada 16 sikap, perilaku dan tindakan, yang bila salah satunya saja dilakukan oleh pasangan anda, kamu memiliki cukup alasan untuk mengakhiri hubungan yang anda jalani. Atau setidaknya, pikirkanlah baik-baik dalam hatimu tentang kelanjutan hubunganmu dengan pria itu.

The ‘dump’ him list:
1. Kamu harus berkali-kali memberitahunya untuk berhenti melakukan sesuatu.
2. Kamu merasa ingin ‘memperbaiki’ dia
3. Dia mengkonsumsi pornografi
4. Dia memukul kamu, mendorongmu, dan melakukan hal-hal yang membuatmu takut.
5. Dia peminum dan ketergantungan obat-obat terlarang.
6. Dia tidak peduli bila kamu berbohong kepada keluargamu.
7. Dia membawa kamu menjauh dari Tuhan
8. Dia mengejek atau menjelek-jelekanmu, walaupun ia berkata, “Cuma becanda kok…”
9. Dia menipu kamu
10. Dia berbohong padamu
11. Dia menggoda perempuan lain
12. Dia membuat kamu bersalah supaya kamu melakukan apa yang ia inginkan
13. Dia membuat waktu bersama keluargamu berkurang
14. Dia bersikap buruk dan menyalahkan orang lain atas perbuatannya
15. Dia tidak bisa lepas daripadamu dan emosinya seperti tidak dapat berfungsi dari dirinya sendiri
16. Kamu tidak tahan dengannya dan tidak dapat ‘stay pure’.

Dan berikut ini untuk para pria. Bila sikap dan tindakan dibawah ini ditunjukkan oleh pasanganmu, lepaskanlah.

The ‘dump’ her list:
1. Dia menipumu dan menggoda laki-laki lain
2. Dia materialistic dan sepertinya hanya suka padamu bila membelikannya barang-barang saja
3. Dia menggoda anda secara seksual dan dengan seksualitasnya
4. Dia secara emosional bergantung padamu : dia benar-benar tidak dapat hidup tanpamu
5. Dia peminum dan bermasalah dengan obat-obat terlarang
6. Dia berbohong padamu dan pada keluarganya
7. Dia membuatmu jauh dari Tuhan
8. Ia membesar-besarkan hal yang tidak penting dan menyepelekan hal yang penting
9. Dia aktif dalam gossip orang lain dan merendahkan orang lain
10. Dia memaksamu dengan mengancam akan memutuskanmu
11. Dia benar-benar tidak memiliki motivasi dan apatis, tidak peduli tentang apapun.
12. Hubungan kalian hanya berdasarkan ketertarikan saja, bukan pada kesesuaian atau kecocokan
13. Kamu tidak dapat membayangkan kamu menikahinya
14. Kamu merasa ingin memperbaikinya
15. Dia lebih menginginkan kamu menghabiskan waktu bersamanya daripada bersama keluargamu
16. Anggota keluarga atau sahabat dekatmu tidak tahan dengannya dan benar-benar merasa ia tidak baik untukmu

Ini bukan saja hanya kesalahan-kesalahan kecil, tetapi ini dapat menjadi masalah besar bila dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Jika pasanganmu menunjukkan sikap dan tindakan seperti diatas, sangat direkomendasikan untuk segera mengakhiri hubunganmu. Ingat, dirimu masih jauh lebih berharga daripada harus dihabiskan dengan hubungan yang tidak harmonis ini. Mengapa tetap bersama dengan orang yang tidak dapat menghargai dirinya sendiri dan menghargaimu?

“Only chaste man and chaste woman are capable of true love” JP2

Girls section is taken from: Pure Womanhood by Crystalina Evert
Guys section is taken from: Theology of the Body for teens by Jason Evert.

Tagged with:  

Dan Dia Belum Mempunyai Pacar

Written by Felicia

Bu Rina, tentu saja nama samaran, saat itu berumur kurang lebih tiga puluh lima tahun.

Dan dia belum mempunyai pacar.

Secara kebetulan, dia juga adalah guru ter-killer di Sekolah Dasar tempatku dulu belajar. Kebetulannya lagi, dia adalah satu-satunya guru yang selalu berjalan tegap, dengan dagu terangkat di angkasa dan bibir yang tak pernah tersenyum. Sama sekali. Dan lagi-lagi, tentunya juga secara kebetulan, dia satu-satunya guru yang pernah memberi angka nol besar untuk pekerjaan rumahku. Mengapa? Karena tulisan halusku yang untuk sekalinya itu kubuat dengan sepenuh hati, dianggapnya hasil karya orang lain. Menurutnya tak mungkin tulisanku bisa seindah itu. Semua itu diutarakannya dengan sinisnya sambil melempar si barang bukti berupa buku tulis bersampul cokelat kepunyaanku.

Apakah semua itu kebetulan ataukah ada sebab akibat antara baris pertama di atas dan kalimat-kalimat selanjutnya?

Tentu hanya Tuhan yang tahu.

Walau begitu, manusia selalu saja beranggapan bahwa mereka tahu segalanya. Tak jarang kudengar sekian banyak lentingan yang ditujukan pada wanita-wanita dewasa yang belum bersuami. Dewasa yang pada menurut pandangan masyarakat sudah selayaknya berkeluarga dan beranak pinak paling tidak selepas usia tiga puluh tahun.

Lentingan tersebut bisa ditujukan langsung pada orangnya. “Pacarnya mana?”.”Belum punya”.”Kenapa? Kamu sudah tiga puluh tahun. Rahimmu tidak bisa menunggu lama lagi lho. Ada kadaluarsanya.”. “Oh ya? Sejak kapan rahimku di samakan dengan makanan kaleng yang punya kadaluarsa hingga tahunan?”.”Siapa yang akan menjadi tempatmu berbagi nak. Nanti kamu simpan semua masalahmu menjadi jerawat.”

Lentingan yang lebih nyinyir biasanya ditujukan saat orangnya tak mendengar “Lihat dia uring-uringan terus. Galak. Makanya jadi wanita itu musti cepat-cepat cari suami. Supaya stress-nya dapat tersalurkan”. Biasanya disertai dengan kerlingan tahu sama tahu.”Mungkin dia frustasi tidak dapat pacar sejak ditinggal kawin mantannya tiga tahun lalu. Kasihan anak didiknya semua di makinya” Ehm Bu Rina, ehm.

Yang lebih pragamatis mungkin akan berkata “Memang, dimana mana kalau wanita sudah punya anak pasti akan lebih sabar menghadapi masalah. Bayangkan yang masih single. Mana dia tahu artinya penderitaan ataupun kompromi. Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit misuh-misuh. Lihat dong yang punya anak. Mana mereka punya waktu untuk mengurus hal-hal sepele” Yang mengucapkan kalimat tersebut tentunya mengambil kebebasan berasumsi bahwa saat wanita melahirkan, mereka otomatis mendapat karunia kesabaran dan ketabahan luar biasa.

Sekarang coba pikirkan keadaan teman-temanmu, atau mungkin dirimu sendiri, yang sudah di atas umur 25 tahun dan belum juga kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berpacaran, apalagi menikah. Benarkah demikian adanya? Apakah kebanyakan dari mereka berupa wanita-wanita pemarah yang mudah tersulut emosinya seperti asumsi-asumsi di atas? Apakah mereka lebih labil dan rapuh dibandingkan teman-temanmu yang sudah berpacaran ataupun menikah? Dapatkah kalian temukan di antara mereka, satu saja srikandi yang terus melaju dalam ‘kesendirian’ mereka namun tetap menebarkan harum kasih luar biasa semerbak ke sekelilingnya?

Aku bisa. Dan kutemukan tak hanya satu.

Sungguh ingin rasanya kupertemukan teman-teman luar biasaku itu dengan wanita-wanita nyinyir di atas, dan tentu dengan Bu Rina. Akan kubisikkan. Hai Ibu. Belajarlah dari teman-temanku ini, Bu. Sendiri tak artinya harus kau simpan semua bebanmu itu. Tak lagi harus kau luapkan amarahmu ke manusia-manusia yang tak mengerti apa-apa. Buka hatimu selebar-lebarnya dan penuhilah rongga-rongga kosong di hatimu dengan cinta-Nya. Penuhilah hingga meluap, meletup dan bergejolak seperti yang teman-temanku ini alami. Buatlah pancuran-pancuran supaya bebas cintamu itu memancar ke segala penjuru. Segala penjuru akan mulai belajar untuk melihat dirimu yang luber akan cinta. Dan segala penjuru juga yang akan memunculkan pintu-pintu baru yang tak pernah sebelumnya kau tahu ada. Pastinya saja di balik salah satu pintu itu menanti sebentuk kehidupan yang siap menerima seorang Rina. Seorang Rina si guru sekolah yang membutuhkan wadah tak berdasar untuk menampung luapan cintanya. Apakah wadah itu berupa seorang laki-laki yang menantinya? Atau Tuhan sendiri yang memanggilnya untuk hidup selibat? Coba dan buktikan Bu Rina. Dan jangan lagi lempar-melempar buku tulis kepunyaan anak didikmu yang tak bersalah (tentunya dalam konteks ini).

Tagged with:  
Page 1 of 212
© 2010 True Love Celebration