Oxytocin si Lem Kuat Manusia

excerpted from: Theology of the Body for Teens by Brian Butler, Jason Evert, and Crystalina Evert

Tahukah kamu akan adanya sebuah hormon yang disebut oxytocin?

Oxytocin adalah sejenis hormon yang di keluarkan oleh kelenjar pituitari yang terletak di otak manusia, pada saat manusia melahirkan, menyusui dan berhubungan seksual. Hormon oxytocin bekerja layaknya lem kuat manusia. Hasil riset mengatakan bahwa hormon oxytocin dapat menguatkan intensitas ikatan antara dua manusia, mengurangi kemampuan berpikir kritis manusia dan juga menumbuhkan rasa kepercayaan.

Untuk ibu-ibu saat melahirkan dan dalam masa menyusui tentunya hormon ini akan menimbulkan kedekatan yang luar biasa antara ibu dan anak. Rasa percaya dan bertambahnya intensitas ikatan tersebut semakin mempererat jalinan emosional antara si ibu dan bayi kecilnya, dan efek kemampuan berpikir kritis yang berkurang akan membuat si ibu mengedepankan kebutuhan si anak di atas segala ketidak nyamanan, kerepotan dan segala rasa sakit yang dilaluinya untuk melahirkan si kecil.

Lalu apa jadinya saat hormon yang sama juga hadir ketika dua manusia berhubungan seksual? Tentunya kedua pasangan juga akan menjalin ikatan kuat, mempunyai kecenderungan untuk melupakah hal-hal buruk yang pernah terjadi di antara mereka dan juga bertambahnya rasa percaya di antara mereka. Ini tentunya sesuatu yang ideal untuk hubungan seksual yang dilakukan dalam ikatan pernikahan.

Bagaimana dengan mereka yang belum mengikat janji di depan altar?

Hormon oxytocin tersebut tentunya tidak pilih kasih. Hormon yang sama dengan efek yang sama akan tetap ada mempengaruhi hubungan antara kedua manusia yang melakukan hubungan seksual  tersebut. Badan yang terlanjur mengikat dirinya dengan sebentuk badan yang lain tanpa komitmen yang pasti bisa saja berarti kabar buruk untuk kelangsungan hubungan itu sendiri. Sepasang manusia yang telah merasakan keterikatan kuat di luar pernikahan kadang akan merasa  sudah cukup nyaman sehingga tidak lagi mempedulikan nilai-nilai penting yang diperlukan untuk membangun sebuah hubungan yang solid.

Tak jarang juga bila kita melihat pasangan-pasangan di sekeliling kita yang sepertinya adalah kabar buruk bagi satu sama lain entah karena frekuensi mereka saling menyakiti ataupun keintensitasan mereka menggunakan satu sama lain, bertahan dalam suatu hubungan yang tak sehat. Mereka seakan tak mempunyai kemampuan atau  keingingan untuk mengakhiri hubungan tersebut yang sesungguhnya mereka sendiripun tak tahu kemana tujuannya. Ini bisa jadi dikarenakan oleh hormon oxytocin itu tadi yang sudah bekerja membutakan segala kemampuan berpikir secara kritis. Oxytocin membutakan dan mengikat manusia dalam sebuah ikatan yang sesunggunya adalah amunisi tangguh bagi pasangan yang sudah menikah dengan segala problematikanya.

Karena estrogen memperkuat efek dari oxytocin, biasanya wanita jugalah yang akan mampu merasakan suatu ikatan yang jauh lebih kuat daripada yang lelaki mampu rasakan, wanita jugalah yang akan lebih menderita dari rusaknya sebuah ikatan. Menurut Drs. Diggs and Keroack, “Mereka yang telah menyalah gunakan seksualitas mereka dengan menjalin ikatan kuat dengan beberapa orang, akan mengurangi kekuatan si hormon oksitosin tersebut untuk menjaga sebuah ikatan permanen dengan satu orang saja.” Jadi, budaya masa kini yang membiarkan hubungan seksual sepuasnya yang penting sama-sama senang, sama saja membiarkan terlahirnya manusia-manusia yang nantinya harus melakukan usaha ekstra super amat sangat keras dalam menjalin ikatan yang kuat dengan pasangan hidupnya di kemudian hari. Seperti lem kuat yang merekat erat untuk pertama kalinya, setelah cabut pasang yang kesekian kalinya, tentunya tak akan bisa mampu mendapatkan daya erat seperti semula.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan desain yang sungguh mendetil dan komplit. Seperti layaknya mobil mainan rakitkan yang menyertakan lem kuat di dalam kotaknya, begitu juga manusia. Siapakah kita untuk mengabaikan karunia tersebut?

Tagged with:  

Jawaban Quiz

Diterjemahkan oleh Felicia

Jawaban dari Quiz Benar atau Salah minggu lalu:

1.  BENAR – Wanita lebih mudah terinfeksi oleh penyakit menular seksual.

2. SALAH –Hasil tes darah baru akan menunjukkan bahwa kamu adalah HIV positif setelah beberapa bulan setelah kamu terinfeksi virus HIV tersebut.

3. SALAH – Kondom memang dapat mengurangi resiko terjangkit beberapa penyakit menular. Namun, alasan sebenarnya kondom diciptakan adalah supaya wanita dapat menjadi lebih aktif secara seksual dengan mengurangi probabilitas terjadinya pembuahan.

4. SALAH – Perawan dapat juga menularkan penyakit menular seksual, karena seks oral, sentuhan tangan kea lat kelamin pun dapat menjadi medium penularan penyakit kelamin.

5. SALAH – Angka 99% didapatkan dari tes laboratorium dengan kondisi ideal. Di kehidupan nyata, kenyataannya 18.4% kondom yang digunakan pengguna berumur 15 hingga 25 tahun  ternyata gagal berfungsi seperti seharusnya.

6. SALAH – Delapan dari sepuluh orang yang terjangkit penyakit menular seksual tidak sadar bahwa mereka sudah terinfeksi.

7. SALAH – Setiap penyakit kelamin seksual dapat tertularkan walaupun kondom digunakan dengan cara yang benar.

8. BENAR – Sifilis dan herpes menimbulkan bisul dan nanah yang dapat mempermudah penularan HIV

9. BENAR – Pembunuh sperma mengandung bahan kimia Nonoxynol-9, yang dapat merusak alat reproduksi wanita, membuat mereka lebih rentan terhadap penularan HIV dan penyakit lainnya.

10. BENAR – Selama masa remaja, rahim wanita masih dalam masa pertumbuhan dan terselubungi oleh sebuah selaput yang terkenal dengan nama ectropion. Jaringan tersebut lebih rentan untuk infeksi oleh karena luasnya. Pada wanita umur 20-an, jaringan tersebut telah menyusut dan digantikan oleh selaput yang lebih kebal terhadap infeksi, walaupun tidak kebal sama sekali.

11. BENAR – Bila sperma di keluarkan di sekitar alat reproduksi wanita, ada probabilitas untuk kehamilan. Walaupun mereka tidak pernah berhubungan intim secara langsung.

12. BENAR – Hepatitis dapat mengarah ke kanker hati.

13. SALAH – Saat seseorang menggunakan alat kontrasepsi, ia berniat untuk menutup kemungkinan atas kehidupan yang baru. Semakin banyak mereka yang menggunakan kontrasepsi, semakin banyak orang yang berhubungan intim tanpa mengharapkan kehamilan. Bagi kebanyakan dari mereka, kehamilan adalah sesuatu yang harus di selesaikan, dan biasanya aborsi adalah jawabannya.

14. BENAR – 600 juta kondom di produksi di Amerika setiap tahunnya. Badan legal memperbolehkan kurang dari 1 kondom rusak untuk setiap 250 kondom yang beredar. Dihitung-hitung, ternyata 1 dari 250 dari 600 juta kondom adalah 2.4 juta kondom yang rusak, dan beredar.

 Jadi berapa skormu?

Diterjemahkan dari www.chastity.org

Tagged with:  

Quiz Time! Benar atau Salah

translated by Felicia

Benarkah kamu tahu kenyataan akan hubungan intim yang sebenarnya?

Coba tebak apakah pernyataan di bawah ini benar atau salah. Jawabannya dapat kamu temukan di website ini dalam beberapa hari mendatang.

  1. Wanita lebih mudah terinfeksi oleh penyakit kelamin menular.
  2. Hasil tes HIV-mu negatif. Artinya, kamu bebas dari virus HIV di tubuhmu.
  3. Kondom diciptakan untuk mencegah penularan penyakit menular melalui hubungan intim.
  4. Perawan tidak mungkin menularkan penyakit menular seksual.
  5. Kondom itu 99% efektif mencegah kehamilan.
  6. Kebanyakan dari mereka  yang mempunyai penyakit menular seksual pasti mengetahuinya.
  7. Menggunakan kondom menghilangkan resiko terkena penyakit menular seksual
  8. Bila kamu terkena herpes atau sifilis, kemungkinan besar kamu akan terkena HIV
  9. Menggunakan spermicide (alat kontrasepsi wanita untuk membasmi sperma) akan menaikan resiko tertular penyakit kelamin
  10. Remaja wanita lebih mudah tertular penyakit kelamin daripada wanita di umur dua puluhan
  11. Kamu bisa hamil tanpa berhubungan intim.
  12. Kami bisa mendapatkan kanker hati bila berhubungan intim dengan mereka yang mempunyai penyakit menular seksual.
  13. Semakin banyak orang memakai kontrasepsi, semakin sedikit aborsi yang akan terjadi.
  14. Perusahaan kondom dapat dengan legal menjual jutaan kondom cacat setiap tahunnya.

Diterjemahkan dari www.chastity.org

Tagged with:  

A Book Review: Seks, Selibat & Persahabatan Sebagai Karisma

Book Review by: Jani George Ginting/Hidup edisi 28 Maret

karangan: Al. Bagus Irawan, MSF

Selibat merupakan penolakan terhadap perkawinan dan memilih hidup dalam keperawanan baik secara implisit maupun eksplisit dengan tujuan mencapai kesempurnaan cinta Kasih. Tetapi masihkah hidup selibat dipandang sebagai jalan hidup yang memikat dan suatu keharusan bagi orang yang ingin melayani Tuhan?

Buku Seks, Selibat & Persahabatan Sebagai Karisma ini membahas arti dan nilai-nilai yang terkandung dalam selibat bakti. Mengacu dari tulisan Marry Malone, pada bagian pendahuluan, dipaparkan sejarah hidup selibat yang dimulai dari abad IV sampai abad XX.

Bagian inti buku ini diberi judul ‘Selibat Bakti sebagai Karisma’. Pastor Al. Bagus Irawan MSF, sebagai penulis, memaparkan bagian ini dengan mengacu pada tulisan Sandra M. Schneiders IHM, seorang biarawati yang mengajar pada Fakultas Teologi Yesuit di Barkeley, Amerika Serikat.

Adapun bagian yang penting dalam buku ini adalah penjernihan istilah selibat, motivasi hidup selibat, ciri dan karakteristik selibat bakti, dan tantangan-tantangan yang muncul dari praktik gaya hidup sekarang ini. “Menurut Schneiders, selibat religius dalam tradisi kekristenan berbeda dengan praktek selibat dalam tradisi-tradisi religius yang lain,” papar Pastor Irawan dalam bukunya ini.

Karena itu, dalam kekristenan, selibat dipahami sebagai komitmen kekal kepada Kristus sebagaimana ikatan perkawinan kekal adanya (hlm 37). Selibat merupakan pilihan bebas seorang pribadi dalam menanggapi panggilan Allah untuk membaktikan seluruh pribadinya kepada Allah secara intim dan total. Dengan demikian, seorang yang selibat tidak berhubungan seksual dan tidak menikah. Maka selibat sebagai karisma mengandung arti bahwa orang memilih hidup selibat memperoleh karunia dari Allah.

Akhirnya, buku ini baik digunakan untuk mengerti nilai-nilai yang terkandung dalam selibat bakti, beragam motivasi seseorang yang ingin hidup selibat , sejarah selibat, kritik dan tantangan dalam praktik hidup selibat para imam, biarawan-biarawati dalam sejarah Gereja.

written by: Jani George Ginting/ Hidup edisi 28 Maret

Dikutip dari website Penerbit dan Toko Rohani Obor

Tagged with:  

Chastity VS Abstinence

“Saya manusia biasa. Saya seorang Kristiani yang taat. Tapi… Bagaimanapun, saya akui, saya juga memiliki dorongan seksual.” Jadi gimana donk ? [Read More]

Percabulan merupakan dosa. Gereja mengajarkan demikian dan saya yakin semua orang setuju. Bahkan Yesus berkata, bila kita sudah mengingini perempuan atau laki-laki saja, kita sudah berbuat cabul dalam pikiran. Lalu kita mungkin bertanya : “bagaimana dengan hasrat seksual saya?”

Admit it : We have sexual desire

“Saya manusia biasa. Saya seorang Kristiani yang taat. Tapi… Bagaimanapun, saya akui, saya juga memiliki dorongan seksual.”

Selama ini mungkin kita berpikir bahwa dorongan seksual adalah dosa. Bila muncul pikiran soal seks, mungkin kita cenderung berkata pada diri kita, “Don’t think about sex! Don’t think about sex! Lupakan itu!” Kita cenderung menahan hasrat seksual kita, khususnya bagi yang belum menikah, kita tahu bahwa belum saatnya untuk melakukan hubungan seks. Dan kita berpikir bahwa untuk menjadi seorang yang baik, yang kudus, yang suci, kita harus melupakan seks.

Mari buang semua pikiran lama, dan akuilah, kita memiliki keinginan seksual. Siapapun kita, laki-laki atau perempuan, seorang biarawan maupun awam, seorang pelayan Tuhan maupun umat biasa, semua manusia memiliki keinginan seksual.

Seksualitas kita merupakan suatu GIFT atau karunia dari Tuhan. Dan dorongan seksual bukanlah suatu dosa. Sebab seksualitas manusia diciptakan Tuhan juga. Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang buruk. Dengan adanya seks, suatu kehidupan baru dapat muncul. Tuhan menciptakan manusia dan Ia berkata, “amat sangat baik”, Tuhan juga berkata demikian terhadap seksualitas kita.

Dalam menghadapi dorongan seksual kita, terdapat 2 jenis pandangan, yaitu :

1. Abstinence

Di sekolah maupun di keluarga, bila ada pertanyaan mengenai seks, mungkin guru dan orang tua kita akan berkata : “itu hanya untuk yang sudah menikah.” atau “tidak boleh sebelum married!” Apa yang guru dan orang tua itu katakan, mengajarkan anak-anaknya tentang abstinence.

Jika kita lihat di kamus, abstinence artinya menahan nafsu. Seperti halnya ketika sedang berpuasa, kita menahan nafsu untuk tidak makan atau seperti berpantang, kita menahan nafsu untuk makan makanan kesukaan kita.

Namun, bila abstinence ini kita terapkan terhadap dorongan seksual. Seseorang tidak akan sepenuhnya bebas dari dorongan seksualnya. Yang ada ia malah menahan, menahan dan menahan hasrat seksualnya.  Akibatnya dapat muncul bentuk pelampiasan seksual seperti ketergantungan pada pornografi dan masturbasi. Dan, bila seseorang sudah mencapai suatu kebebasan untuk melakukan hubungan seksual, segala dorongan yang terpendam itu akan BOOOM meledak. Akibatnya dorongan seksual menjadi tidak murni.

2. Chastity

Chastity berbeda dengan abstinence. Tepatnya, chastity jauh lebih indah daripada abstinence. Bila abstinence mengajarkan kita untuk berkata TIDAK pada seks, chastity tidak hanya mengajarkan kita untuk berkata TIDAK, tetapi juga berkata YA pada cinta sejati dan segala keinginannya.

Chastity tidak mengajarkan kita untuk menahan atau mengabaikan segala hasrat seksual alamiah kita, tetapi membantu kita mengarahkan hasrat seksual kita. Sebab Tuhan menginginkan kita untuk mampu mengendalikan dorongan seksual kita dan mengarahkannya kepada dorongan yang lebih dalam yaitu mencintai dengan murni.

“When you decide firmly to lead a clean life, chastity will not be a burden on you: it will be a crown of triumph.” St. Josemaria Escriva

Tuhan memberikan manusia akal budi. Akal dan budi kita seharusnya mampu mengendalikan semua yang kita inginkan, termasuk mengendalikan dan mengarahkan hasrat seksual kita. Manusia berbeda dari binatang. Akal dan budi inilah membedakan kita dari binatang. Binatang hidup berdasarkan naluri atau insting atau keinginannya saja.

Chastity ialah gaya hidup baru yang dapat kita terapkan untuk menemukan cinta sejati. Karena cinta sejati bukan hanya soal seks, melainkan cinta sejati adalah soal pengorbanan diri, pemberian diri secara total, bebas, setia dan berbuah. Dan hanya orang-orang yang mampu mengendalikan hasrat seksualnya yang mampu untuk menemukan makna cinta sejati itu.

Let’s make chastity as our lifestyle!

“Only the chaste man and the chaste woman are capable of true love.” Pope John Paul II

Tagged with:  

Young people are the Solution

Dari waktu ke waktu, Tuhan memanggil orang muda untuk bergerak membawa pembaharuan.  Lihat saja Yosua yang membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian. Atau Samuel yang mendengar Tuhan memanggil namanya. Atau Gideon yang dipilih untuk memimpin 300 umat Allah menghancurkan ribuan pasukan musuh. Atau bayangkan Daud yang paling muda di antara saudaranya, namun justru dipilih [...]

Dari waktu ke waktu, Tuhan memanggil orang muda untuk bergerak membawa pembaharuan.  Lihat saja Yosua yang membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian. Atau Samuel yang mendengar Tuhan memanggil namanya. Atau Gideon yang dipilih untuk memimpin 300 umat Allah menghancurkan ribuan pasukan musuh. Atau bayangkan Daud yang paling muda di antara saudaranya, namun justru dipilih Tuhan untuk mengalahkan raksasa Goliath.

Hari ini ada raksasa lain yang berdiri besar di hadapan sebuah generasi yang sedang memasuki ambang hari esok. Raksasa ini adalah sex lies, atau kebohongan seksual! Kebohongan ini merasuki jutaan penduduk dunia lewat pengertian yang salah tentang artinya menjadi cowok, menjadi cewek, dan bagaimana membangun  relasi yang sehat di antara mereka.

Akibatnya, kecanduan pornografi dan masturbasi jadi kebiasaan normal di kalangan remaja. Jutaan dollar dihabiskan untuk industri pornografi, hubungan seks di luar nikah semakin menggila, dan tingkat perceraianpun meningkat terus.

Lebih menyedihkan lagi adalah kenyataan para pelakunya yang nggak menyadari bahwa sex lies melumpuhkan kemampuan mereka  untuk mencintai. Pacaran dan hubungan seks bukan menjadi ungkapan cinta yang sejati lagi, tapi sekedar sarana pemuas napsu belaka. Sikap ini lalu terbawa ke dalam pernikahan, dan perlahan-lahan menghancurkannya. Atau jangan-jangan para pelakunya nggak keburu menikah karena virus HIV lebih cepat menggerogoti tubuh mereka. Mau dibawa ke mana dunia ini kalau generasi mudanya kayak gini?

But this is not the end of the story.

Orang muda bukan perusak generasi ini!

Orang muda justru solusinya terhadap tantangan yang ada hari ini.

Kenapa? Karena kalau orang muda memahami benar apa yang sesungguhnya memuaskan hati mereka dan membuat hidup mereka berarti, bukan hanya mereka akan meninggalkan sex lies dan berjuang untuk hidup yang baru dalam kemurnian seksual (chastity), tapi juga mereka akan mewartakan kebenaran ini sehingga wajah generasi ini menjadi baru!

Waktu orang-orang muda berubah, gerak duniapun berubah – because young people today determine the direction of the world today and tomorrow!

Seperti gelap selalu lenyap apabila terang datang, demikian juga kebohongan selalu kalah apabila kebenaran datang. Ini janji Tuhan, dan ini jaminan bahwa chastity atau kemurnian seksual pada akhirnya pasti menang. Seperti Daud menumbangkan raksasa Goliath dengan sebuah batu, demikian orang muda akan menumbangkan kebohongan seks dengan true love yang dari Tuhan.

Nggak heran kalau Paulus berpesan pada Timotius “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu dan dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Tim 4:12).

Mungkin Paulus juga tahu, bahwa orang-orang muda seperti Timotius inilah solusi yang akan menumbangkan raksasa-raksasa jaman kita. Atau orang-orang muda seperti Maria, yang rahimnya dipilih Allah menjadi Ruang Maha Kudus bagi sumber keselamatan bangsa-bangsa.

Young people are not the problem, they are indeed the solution

 

Tagged with:  
© 2010 True Love Celebration