Cinta Tak Harus Memiliki? Setuju? Tidak Setuju?

by: Felicia Sidharta

“Setuju! Kita bisa saja mencintai seseorang tanpa harus menjadi pasangan mereka.”

“Tidak setuju! Kalau sudah namanya cinta, kejar dong sampe mati! Cinta mati harus dijaga sampai mati, bukan?”

Apa pendapatmu?

Haruskah cinta memilki?

Coretan kali ini tidak akan mencoba untuk menggurui apalagi menguliahi. Coretan ini hanyalah serentetan pertanyaan yang mengusik dan tak jarang diperdebatkan. Sehingga, coretan kali ini adalah murni coretan alam pikirku yang kadang terjun payung bergandengan tangan dengan hati.
Menurutku, perasaan yang disebut cinta itu sebaiknya dipisahkan dengan perasaan ingin memiliki. Tapi bisa saja kita sedang meributkan konteks dan sintaks saja dalam kasus ini, karena bila menanyakan kepada seratus orang apa arti memiliki, maka jawabannyapun akan berbeda-beda.
Ada yang akan berkata bahwa memiliki adalah suatu keadaan dimana kita bertanggung jawab atas siapa atau apa yang dikatakan kita miliki tersebut. Suatu keadaan dimana kelangsungan hidup sesuatu tersebut bergantung sepenuhnya kepada diri kita. Disini bisa kita lihat bahwa ada relevansinya dengan hubungan pernikahan dimana setelah menikah sang istri akan mengatakan, memiliki suami dan nantinya memiliki anak dan juga sebaliknya. Disitulah sang istri merasakan tanggung jawab atas kelangsungan hidup suaminya dan anak-anaknya dimana penyataannya adalah dengan nurturing yang ia berikan hari demi hari.

Untuk konteks cinta-cintaan yang ingin memiliki, sepertinya ada sebuah nuansa yang berbeda dari hubungan suami , istri dan si anak. Memiliki dalam konsep asmara seakan lebih menuju pada kepemilikian dimana adalah menjadi hak si pemilik untuk ditemani, dimanjakan, diberi perhatian khusus dan ekslusif oleh yang dimiliki tersebut. Kepemilikan disini bergeser fungsinya menjadi sebuah hak dan bukan lagi kewajiban yang perlu dipertanggung jawabkan. Sehingga kadang terdengar jeritan hati yang kadang diamplifikasi oleh mulut yang tak sabaran, “Kamu kan udah jadi pacar aku, kok masih ngobrol sama tuyul-tuyul itu?”.
Bila ditelaah lebih lanjut dari arti cinta sesungguhnya, cinta yang memberi, maka konsep kepemilikan yang lebih pas tentunya kepemilikan yang pertama tadi. Kepemilikan yang bertanggung jawab, yang dikarenakan memiliki, hingga memberikan yang terbaik bagi yang sudah dimiliki. Cinta yang memberi tidak akan menuntut hak-haknya, karena memang cinta tidak akan memaksa.

Tentunya dalam kehidupan nyata, hak dan kewajiban lebih sering berjalan beriringan sehingga akan terjadi simbiosme mutualisme antara pemiliki dan yang dikatakan dimiliki tersebut. Benarkah itu cinta namanya? Atau sudah sekedar menjadi barter emosi dan jasa versi modern saja? Mungkin perlu dipikirkan, saat kita berbuat baik atas nama cinta kepada seseorang yang katanya kita miliki, apa benar kita masih pamrih? Atau justru akan datang saatnya dimana kita akan berdiri dan berkata ‘Sudah kulakukan itu semua, dianya tak pernah melakukan apa-apa. Aku muak. Sudah cukup sampai disini.’ Bila memang masih pada tahap pacaran, ya sah-sah sajalah untuk memutuskan cukup sampai disitu saja kelanjutan derita yang didera tersebut. Lalu bagaimana halnya dengan yang sudah menikah? Apa masih mungkin berkata demikian?

Bagaimana dengan yang masih pada masa pendekatan dan belum jadian? Apakah sah hukumnya untuk ngebet ‘memiliki’ dengan modal cinta yang membara? Mengejar sampai ke ujung dunia walau ada sekian banyak rintangan yang jelas-jelas mengatakan bahwa “hey, pikirkan seribu kali lagi deh untuk menyerahkan hatimu padanya”. Sah atau tidak sah hanya si pelaku yang bisa menilai. Mungkin bila pertanyaannya dikembalikan, “Setelah dimiliki, akan kauapakan dia itu? Apakah akan kau jadikan hak milik? Atau kau banjiri dengan cinta hingga ia luber kasih?” Dan pertanyaan lalu berlanjut lagi ke pemikiran bahwa bila memang dari awalnya kita sudah berkehendak untuk membanjiri dia dengan cinta, rasanya menjadi tidak relevan lagi apabila si penerima cinta tersebut adalah milik kita atau bukan. Atau justru cinta itu akan berhenti mengalir saat si penerima tak lagi mau menjadi “milik” kita? Lihatlah ke dalam dan jawab apakah benar itu yang namanya cinta.

Hanya kamu yang tahu jawabannya!

Tagged with:  

TLC8: Life is Good Summary

Speaker: Lia B. Ariefano

Sebelum teman-teman masuk ke dalam ruangan ini teman-teman dibagikan souvenir telur. Lalu ada kuesioner yang hasilnya menunjukkan angka-angka yang menarik. Saya bacakan pertanyaannya.

  1. Berdasarkan apa yang Anda telah alami sepanjang hidup Anda sampai detik ini, latar belakang keluarga Anda, luka-luka yang pernah terjadi, trauma juga kebahagiaan, apakah Anda merasa hidup Anda berharga dan bermakna? Puji Tuhan kebanyakan tema-teman di sini adalah orang-orang yang merasa hidupnya berharga dan bermakna. 96% mengatakan bahwa ya, hidup saya berharga dan bermakna.
  2. Apakah Anda setuju dengan penggunaan kontrasepsi dalam pernikahan? Jawabannya 48,8% jawabannya ya, setuju. Dan 51,2 % tidak setuju. Ini berimbang antara ya dan tidak.
  3. Menurut Anda, apakah kehadiran anak cukup penting dalam keluarga? 94% jawab ya. 5.9 % jawab tidak.
  4. Jika kehadiran Anak memang cukup penting dalam keluarga: mengapa? 2,4% bilang: sudah menikah kok tidak punya anak? 5% mengatakan: apa kata orang kalau tidak punya anak. Masa depan, hari tua dan investasi adalah 20,9 %. Ada 37,2 % mengatakan berapa pun pemberian Tuhan, akan saya terima.

Pengajaran ini berdasar pada Ensiklik Humane Vitae yang ditulis oleh Paus Paulus VI di tahun 1968. Humane Viate sendiri artinya adalah Human Life. Ensiklik ini menjelaskan tentang kehidupan. Bagaimana kita memandang kehidupan. Dalam ensiklik ini juga dibahas tentang kontrasepsi juga, euthanasia, dan isu-isu lain dalam kehidupan. Saat ini banyak sekali isu medis yang bertentangan dengan Ensiklik ini.

Pada pertemuan yang lalu tentang pernikahan, kita mempelajari dengan baik, bagaimana CINTA yang seharusnya ada dalam setiap manusia adalah cinta yang TOTAL, Free, Faithful dan Fruitful. Banyak pengertian tentang cinta saat ini yang tidak mengacu pada Total Free Faithful dan Fruitful ini, membuat banyak orang muda bertindak yang mereka anggap benar tetapi sebenarnya bertentangan dengan ajaran Gereja. Mari kita bersama melihat kualitas yang mestinya itu.

Pada pertemuan soal Dating saya sudah sedikit bercerita tentang hidup saya. Saya lahir sebagai anak pertama dari Keluarga Pentakosta, kemudian kami sekeluarga pindah ke Katolik. Puji Tuhan saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat mencintai saya, bahkan cenderung over protekif terhadap saya. Tetapi entah dari mana mulainya,  saya tumbuh menjadi anak remaja yang sangat minder. Saya mempercayai bahwa saya adalah seorang yang gemuk, jelek, bodoh, ubanan, muka saya juga tidak mulus seperti muka-muka orang Asia, banyak bintik di muka saya. Penampilan seperti itu bagi seorang gadis tentu tidak menyenangkan. Saya tumbuh menjadi anak yang minder dan punya gambar diri yang buruk.                                                                                                                             

Singkat cerita saya bertemu dengan seorang cowok di SMA yang membuat saya terkagum-kagum, bukan karena saya kagum sama dia, tetapi kagum karena kok dia mau sama saya. Bagi seorang yang punya gambar diri yang buruk, saya berpikir: mumpung ada yang mau sama saya, akhirnya kami jadian dan pacaran selama 10 tahun. 

Saya masuk ke bagian perkuliahan yang disebut Obstretry Ginekology, yang latihan prakteknya membantu ibu hamil dalam proses melahirkan. Suatu hari datanglah seorang ibu yang hendak melahirkan anaknya yang ke enam. Ibu ini punya badan yang cukup besar dan berasal dari ekonomi yang tidak mapan. Ibu ini memberikan arti dalam hidup saya. Selain saya mengingat dia karena teriakannya yang sangat keras (jangan-jangan terdengar sampai ke lapangan parkir!), tapi ada sesuatu yang terjadi dalam diri saya saat saya membantu ibu ini melahirkan anaknya. Proses melahirkan terjadi dengan mudah (mungkin karena ini sudah anak ke enam), tetapi buat saya pengalaman pertama menolong proses persalinan merupakan pengalaman yang bikin jantung saya rasanya mau jatuh ke lantai. Akhirnya bayi itu dilahirkan dan  saya pegang erat di tangan saya. Lahirlah seorang bayi itu laki-laki dengan berat hampir 4 kg. Bayi ini lahir dengan tangisan keras seperti teriakan ibunya, dengan muka masih berkerut-kerut dan hampir tidak kelihatan karena gendutnya. Saya mendengat satu sahabat saya yang menemani dalam proses persalinan ini berkata: “Jelek amat ni bayi!” Saya tersenyum tiap kali mengingat kejadian ini. Buat orang lain ini mungkin bayi yang ‘jelek’. Tapi buat ibu bayi ini dan buat saya saat itu, ini bayi yang paling tampan yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Mengapa? Ketika bayi itu ada di tangan saya,  terlintas di pikiran saya, bagaimana sebuah kehidupan manusia itu terjadi.  Saat itu saya ingat dosen saya menceritakan bagaimana kehidupan manusia terjadi. Peristiwa ini mengubahkan hidup saya selamanya.

Orang tua kita sebagai pasangan suami istri  yang saling mencintai melakukan hubungan suami isteri. Pada saat hubungan seksual terjadi Ayah mengeluarkan cairan semen yang isinya adalah sperma. Setiap ejakulasi dikeluarkan rata-rata 3-5 cc cairan ejakulat yang bernama semen. Dalam 1 cc semen terkandung 1.00.000.000 sperma. Sedangkan Ibu/Mama kita di masa suburnya, mengeluarkan 1 telur dalam siklusnya. Saya membayangkan bila dari ratusan ribu telur, hanya ada 1 telur yang dikeluarkan bulan itu, artinya telur itu adalah telur yang paling cantik, paling indah, paling sempurna, paling mengandung semua kualitas yang terbaik dari ibu saat itu. Telur hanya akan bertahan paling lama 2 hari di dalam tuba falopii dan rahim. Dari 3-5 juta sel sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi, hanya aka nada 1 sperma yang akan memenangkan telur tadi. Kembali saya membayangkan , pasti sperma itu menghadapi banyak tantangan dan rintangan, tetapi akhirnya dia menang mengalahkan 2.999.999 – 4.999.999 sel sperm lain dan berhasil memenangkan putri cantik yang sudah menunggunya di saluran reproduksi ibu.

Setelah saya mengingat semua itu, saya tertunduk dan melihat ke dalam diri saya yang selama ini selalu merasa tidak berharga. Dengan kenyataan keajaiban penciptaan saya, punya hatikah saya untuk mengatakan diri saya tidak berharga? Punya hatikah saya untuk mengatakan diri ini tidak bisa apa-apa dan tidak ada gunanya hidup di dunia ini? Punya hatikah saya untuk mengatakan bahwa saya tidak punya masa depan karena semua gambar diri yang begitu buruk melekat dalam diri saya?

Saat itu saya menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan menciptakan saya dengan suatu maksud istimewa. Tidak sembarangan! Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan teman-teman satu per satu di tempat ini dengan maksud yang mulia. Anda dan saya pasti punya peran di dunia ini. Tuhan pasti menyediakan masa depan yang indah bagi kita masing-masing!

Lewat keajaiban kejadian kita masing-masing di dunia ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat betapa dahsyat dan ajaib hidup bersama Tuhan. Tapi banyak pengertian saat ini yang demikian dipopulerkan menjadi sebuat gaya hidup, mengalihkan kita dari kebenaran akan penciptaan kehidupan. Kita memandang dunia sebagai tempat hidup yang makin lama makin tidak bersahabat, cara pandang keberadaan anak sebagai sesuatu yang memberi beban sehingga banyak pasangan yang memilih untu tidak punya anak karena hidup terasa jauh lebih mudah. Semua cara pandang itu seakan mulai melegalkan kontrasepsi. Kita mulai kehilangan nilai sebenarnya dari proses penciptaan. Nilai seks menjadi sangat direndahkan karena cara pandangan mengenai kehidupan mulai banyak beralih. Manusia kehilangan arti dari sebuah hubungan seks dan menjadikannya sebagai objek pemuas belaka. Saat itu semua kehancuran datang dan menghancurkan kehidupan manusia perlahan-lahan. Kontrasepsi adalah salah satu penghancurnya.

Kontra-sepsi, seperti namanya kontra yang artinya tidak mendukung, dan sepsi dari kata ception yang artinya pembuahan. Jadi sejak awal kontrasepsi sudah jelas dengan maksudnya yaitu menolak kehidupan. Ketika kontrasepsi ini mulai ada, sesuai tujuan dengan adanya kontrasepsi ini bahwa agar anak itu tidak ada dalam suatu keluarga, tapi kenyataannya kontrasepsi malah menimbulkan angka yang luar biasa mengejutkan. Terjadi peningkatan perceraian 20 kali, anak di luar nikah bertambah ratusa kali lebih banyak, angka aborsi meningkat berkali-kali lipat. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pemakaian kontrasepsi bukan hanya mempengaruhi angka kehamilan, tapi juga memperburuk cara pandang manusia tentang satu relationship, penghargaan akan kehidupan, dan menghancurkan arti cinta yang seharusnya total, setia, bebas, dan berbuah.

Yohanes Paulus ke II mengatakan bahwa kontrasepsi dan aborsi berhubungan erat, karena merupakan buah dari pohon yang sama. Orang yang aborsi pasti dia menolak kehidupan. Kontrasepsi itu pasti menolak kehidupan. Sebenarnya kedua hal ini adalah sikap hati yang sama. Aborsi membunuh seorang janin yang sudah ada di dalam kandungan ibunya, sedangkan kontrasepsi mencegah atau bahkan jenis kontrasepsi tertentu juga menghancurkan sel telur yang sudah bertemu dengan sel sperma. Jadi.. apa bedanya? Tidak ada!

Kimberly Hahn adalah isteri dari pendeta Protestan Scott Hahn yang pindah Katholik dan menghasilkan banyak buku tentang ajaran tentang Gereja Katholik. Bukunya: Life giving Love  telah mengubah hidup saya yang tadinya adalah seorang feminis yang berpadangan anak itu merepotkan, kalau saya menikah tidak ingin punya anak yang mungkin akan menghambat karir dan keinginan dalam hidup saya, memiliki anak adalah suatu kebodohan.

Buku yang  ditulis oleh Kimberly Hahn mengubah hidup saya sampai 180 derajat. Kalau hari ini kalau saya berdiri di sini, saya percaya itu karena Tuhan yang bekerja dalam diri saya. Melihat diri saya sendiri sebagai kemurahan kehidupan dari Tuhan. Karena banyak sekali dosa, kejatuhan dan kesalahan yang saya lakukan, tapi Tuhan Allah yang memaknai terus kegagalan saya dan memberikan suatu kehidupan yang baru setiap hari.

Kimberly Hahn berkata bahwa kontrasepsi itu kontra life, itu jelas! Lalu ia mengatakan konrasepsi itu contra-woman. Ini menarik. Khususnya bagiteman-teman perempuan di tempat ini. Kita dilahirkan sebagai perempuan bukan tanpa maksud. Laki-laki boleh berbangga atas apa pun. Tetapi kita perempuan diberi satu hal yang tidak dimiliki oleh lelaki, sekuat sehebat siapa pun mereka, Cuma perempuan yang memiliki rahim. Kita perempuan diberi tugas oleh Tuhan untuk melahirkan laskar-laskar Gereja, suatu mandate dan kepercayaan yang luar biasa. Saat kita memakai kontrasepsi artinya kita menurunkan makna panggilan keperempuanan kita dan jatuh pada kebohongan si jahat yang mematikan nilai indah seorang perempuan.

Saat suami ingin berhubungan dengan istri atau seorang pria hanya mau berhubungan seks, hanya karena ini menikmati badan tubuh, tanpa mau berbuah. Itu using. Karena cinta itu pasti berbuah. Cinta Allah Bapa yang luar biasa pada Allah Putra dihadirkan pribadi luar biasa yaitu Allah Roh Kudus. Jika kita melawan panggilan itu dengan menggunakan kontrasepsi itu artinya kita melawan diri kita sendiri sebagai prempuan. Jika tidak berbuah itu bukan cinta. Itu lust, itu nafsu. Ini penting kita ketahui sebagai seorang perempuan.

Saya ingat cerita teman saya yang meskipun sudah tahu semua konsep ini tetapi dia bersikeras memakai spiral. Ketika bicara bagaimana terbuka pada kehidupan, saya memberi masukan ke dia untuk terbuka pada kehidupan. Tetapi tanpa sepengetahuan kami, dia tetap pakai spiral. Beberapa waktu yang lalu dia telpon saya karena dia hamil lagi. Dia bilang: “Ci, sudah buat dosa tetap aja jadi.”  Saya cuman bilang ke dia: “Tuhan pasti punya rencana yang indah dan besar di balik ini semua. Pasti ada hal baik yang akan terjadi dalam hidup kalian sekeluarga.”  Untungnya dia bukan tipe orang yang berani melakukan aborsi.

Tahun 2004, ada 2,3 juta kasus aborsi per tahun. Artinya dalam 1 jam ada sekitar 266 bayi digugurkan. Dari awal kita memulau TLC ini, sampai detik ini sudah sekitar 1 ½ jam, artinya sudah ada sekitar 400 janin kehidupan yang digugurkan! Angka ini bukan angka main-main, dan angka ini mengajak kita semua untuk bersama-sama menyuarakan arti kehidupan bagi dunia. Mari berdiri di atas keyakinan bahwa tidak ada suatu kehidupan pun yang layak dimusnahkan karena kekuatiran, ketakutan atau kurang iman orang tuanya. Keprihatinan ini membuat saya berkomitmen untuk mewartakan kehidupan. Karena kehidupan adalah penciptaan yang sangat dicintai oleh Tuhan, punya arti dan makna.

Saya mau cerita sedikit bagaimana proses aborsi dilakukan.  Saat bayi diaborsi, bayinya dimatikan dulu. Ada cairan seperti cairan garam pekat yang dimasukkan ke dalam rahim dan efeknya membuat bayi menjadi seperti terbakar. Saat dikeluarkan bayi itu dipatahkan satu per satu bagian tubuhnya, karena jalan lahir ibu masih sempit karena memang belum saatnya dilahirkan, sehingga organ harus diperkecil dulu. Satu persatu dipatahkan, sampai terakhir kepalanya dijepit dan dikeluarkan. Bayi ini sudah cukup besar untuk merasakan sakit yang tak tertahankan, tapi masih terlalu kecil untuk dapat berteriak kesakitan.

Sebuah cerita, survival story dari seorang yang lolos dari aborsi. Saat ini ia sudah menjadi seorang wanita muda yang cantik. Ia keliling dunia mewartakan tentang kehidupannya. Ibunya ketika berumur 17 tahun hamil dengan pacarnya.  Lalu sang ibu masuk ke sebuah klinik untuk mengaborsi bayinya. Setelah dua kali diinjeksi cairan garam, ibu itu mengalami kontraksi yang hebat. Saat itu memang sudah menjelang pagi, dan rencananya sekitar jam 7 pagi dokter akan datang untuk mengeluarkan anak yang (seharusnya) sudah mati itu. Tetapi di luar prediksi, jam 5 pagi sang ibu mengalami kontraksi, akhirnya kelahiran terjadi. Betapa kagetnya bidan yang membantu persalinan, dan tentu sang ibu, karena pada saat anak itu dikeluarkan, terdengar rintihan dan tangisan lemah dari anak ini. Anak ini masih hidup!  Akhirnya bayi ini dibawa ke rumah sakit terdekat, ditolong, badannya terbakar dengan gangguan syaraf, lalu dirawat dan pada umur 4 tahun diadopsi oleh keluarga Kristen, begitu dicintai dan dihargai. Suatu hari di umur 12 tahun dia masuk ke dapur dengan terpincang-pincang karena ia menderita Cerebral Palsy akibat proses aborsi yang gagal tersebut.. Lalu dia tanya pada ibu adopsinya: “Mengapa saya pincang seperti ini, Ma?” “Kamu dulu mau diadopsi.” Pada hari ini dia sudah menjadi wanita yang cantik bernama Gianna Jensen, mewartakan pada dunia bahwa dia seorang yang bertahan dari aborsi, bukti bahwa Tuhan begitu mengasihi hidupnya dan menjadi kesaksian bagi begitu banyak orang.

Kembali ke cerita saat saya menolong melahirkan. Saat saya menengok ibu yang baru melahirkan anak ke enamnya, saya bilang ke ibu ini:

“Puji Tuhan anaknya sehat dan laki-laki.”

“Ini sudah anak ketiga yang laki-laki tadinya saya sudah mau aborsi.”

Kalau hari ini saya tahu ibu itu ada di mana, rasanya saya akan datang menghampiri dia dan saya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah bermurah hati pada kehidupan, karena tanpa kehadiran anak itu mungkin saya tidak ada di sini hari ini. Tanpa kelahiran anak itu saya akan tetap menjadi seorang Lia yang menyedihkan. Anak yang hampir diaborsi ibunya itu menyelamatkan hidup saya! 

Tidak seorang pun akan tahu apa yang akan terjadi kalau kita mempertahankan kehidupan. Sebab kehidupan menjadi bermakna dan menjadi kesaksian, tanpa kita sadari. Jangan pernah meremehkan kehidupan apa pun. Karena Tuhan ada dan berkarya di dalamnya.

Ada seorang penyanyi klasik dari Itali yang kita tebak bersama-sama apa yang terjadi pada hidupnya. [Movie played] Teman-teman tahu siapa orang ini? Andrea Bocelli. Satu hal yang menggembirakan ketika saya menemukan video ini: saya sering tersentuh dengan alunan suaranya. Kalau dia diaborsi tidak aka nada seorang Andrea Bocelli yang memberikan warna di dalam hati saya: memberi suka cita dan harapan.

Banyak orang yang bilang kalau orang diperkosa lalu hamil, dia tidak akan pernah mau anak itu. Jadi baiknya aborsi saja, daripada stess terus melihat anak itu dan mengingat kasus perkosaan itu. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa efek psikologis orang yang habis aborsi dengan yang habis diperkosa. Terjadi gangguan psikologis yang jauh lebih parah pada perempuan-perempuan yang melakukan aborsi daripada perempuan yang habis diperkosa.

Ada dua pilihan tentang kehidupan. Saya menyukai kata-kata Albert Einstein. Kita bisa memilih bagaimana memandang kehidupan. Memandang dengan mengatakan tidak ada satupun yang namanya keajaiban. Misalnya: namanya orang menikah ya punya anak, semua orang juga begitu. Tidak ada keajaiban. Kemarin saya  dan teman-teman pergi ke Lahurus sebuah daerah di pegunungan NTT. Satu malam saya memandan ke langit dan melihat yang namana bintang seperti pasir di laut. Ahhh… itu biasa saja. Itu bukan keajaiban. Atau… memandang kehidupan, semua aspek di dalamnya adalah keajaiban. Saya memilih untuk memandang apapun adalah keajaiban Tuhan dalam hidup saya.

[Movie about abortion]

Bila seorang ibu mampu membunuh anaknya, apa sulitnya bagi kita untuk saling membunuh? Ini adalah kata-kata dari Beata Teresia dari Calcutta. Memang benar, bila seorang ibu saja mampu membunuh artinya penilaian terhadap kehidupan sudah sangat rendah, apa sulitnya buat kita untuk saling membunuh?

Kalau teman-teman ada di tempat ini, mendengarkan pesan ini. Saya percaya itu karena kemurahan Tuhan yang hadir pada diri orang tuamu dan orang tua saya. Semua yang terjadi dan semua pertanyaan dalam hatimu, percayai satu hal, tidak ada suatu kehidupan pun yang tidak dijagai oleh Tuhan. Tidak ada kehidupan yang hadir di dunia ini tanpa maksud. Tidak ada satupun dari kita yang tidak punya andil dalam kehidupan di dunia ini. Saya mengajak teman-teman semua untuk berdiri teguh atas kehidupan, memperjuangkan kehidupan sampai kapan pun. Amien.

 Speaker: Lia B. Ariefano

For True Love Celebration #8: Life is Good!

Tagged with:  

Menari Seperti Ayah Menari

by: Felicia Sidharta

Enam wanita Australia silih berganti menari menirukan gerakan ayah mereka masing-masing. Kurang lebih itulah garis besar film dokumenter singkat berjudul Dance Like Your Old Man (Berdansa Seperti Ayahmu) karya Chunky Move dengan arahan Gideon Obarzanek.

Sebuah ide yang simpel tersebut ternyata mengandung muatan berlapis akan hubungan antara keenam wanita tersebut dengan ayah mereka. Keenam wanita yang sama sekali bukan aktris profesional berdansa sambil menjelaskan gerakan ayah mereka, lalu perlahan beralih menceritakan gambaran sosok ayah di mata mereka dan hubungan yang mereka miliki.

Entah memang kebetulan atau benar itu yang diharapkan sang direktur, film dokumenter tersebut sangat nyata menggambarkan gerak perubahan hubungan antara seorang gadis dengan ayahnya dari masa ke masa. Progresi hubungan tersebut digambarkan melalui kisah enam wanita yang tidak berkesinambungan namun bertautan.  

Gadis pertama berusia enam belasan. Ia menari riang sambil bercerita, menunjukkan kedekatannya dengan sang ayahnya bagaikan seorang teman saja sampai bahkan semua temannyapun mendambakan sesosok ayah seperti yang ia miliki. Wanita kedua berusia dua puluhan. Iapun berdansa dan menggambarkan eratnya hubungan mereka. Kedekatannya dengan sang ayah yang dikatakan belum berubah terlalu banyak semenjak ia kecil tergambar jelas melalui pilihan kata yang digunakan maupun caranya bercerita. (Kedua video tersebut dapat ditemukan di sini)

Dimulai dari tarian wanita ketiga, hubungan yang diceritakan bertambah semakin kompleks. Wanita ketiga, berusia dua puluhan akhir menceritakan betapa dekat hubungannya dengan sang ayah yang sering ke luar negeri saat ia masih kecil, sehingga ia membayangkan ayahnya adalah seorang Indiana Jones masa kini. Kisah indah itu berakhir saat ia menunjungi ayahnya dan menemukan bahwa sang ayah yang ia kagumi selama ini ternyata mempunyai wanita simpanan di luar negeri.

Cerita bernada sama pun bergulir dari wanita keempat dan kelima. Entah si ayah yang alkoholik, tidak setia, meninggalkan mereka sejak kecil atau apapun itu. Salah satu dari mereka ada yang berhasil merekonsiliasi hubungan mereka dan ada juga yang sampai saat pembuatan film tersebut masih menggambarkan ketegangan yang ada diantara mereka, bahkan tak lagi pernah bertemu.

Di tarian wanita keenam, berusia empat puluh dan tertua diantara keenam wanita tersebut, ia menggambarkan hubungannya yang sempat memburuk dengan ayahnya. Disitu ia melukiskan seorang ayah yang sering mengecewakan dirinya atas satu sebab dan lain hal, namun pada akhirnya ia menyadari bahwa ayahnya,  adalah juga manusia. Ia pada akhirnya memaafkan sang ayah, dan kini merawat sang ayah di masa tuanya.  

Di akhir pemutaran film tersebut, Direktur tari Gideon Obarzanek sendiri dengan passionate menjelaskan bahwa melalui dokumenter tersebut ia mencoba menggambarkan perubahan hubungan antara seorang wanita dan ayahnya dari waktu ke waktu. Pada awalnya si gadis kecil menganggap ayahnya adalah pahlawan segalanya, lalu perlahan menyadari bahwa ayahnya juga manusia yang bisa membuat kesalahan, dan akhirnya memaklumi segala dimensi baru yang sang ayah-juga-manusia miliki, lalu memutuskan untuk berusaha untuk lebih mengerti mereka. Menurut Obarzanek, beberapa anak-anak, secara general, tak pernah mampu menembus barikade situasi untuk melalui tahap-tahap perubahan tersebut. Mereka kadang tersangkut pada sakit hati yang disebabkan atas hancurnya bayangan ayah yang ideal dan serba sempurna, sehingga tak mampu menembus tembok perubahan untuk mengenal dan kembali belajar untuk mencintai ayah mereka yang sebenarnya.

Betapa jamaknya observasi Gideon Obarzanek tersebut. Sewaktu kecil sering kali dunia kita seakan diselimuti kekebalan dari segala yang buruk. Ayah, ibu dan orang dewasa di sekitar kita seringkali menyampaikan informasi ataupun berita setelah melalui berbagai macam filter. Sehingga dunia kecil kitapun menjadi begitu menyenangkan, indah dan mungkin juga penuh dengan sosok seorang ayah yang heroik dan kita kagumi, dan tak jarang, kita segani.

Beranjak dewasa, semakin tipis filter tersebut digunakan oleh lingkungan kita. Kadang bahkan mereka para ‘orang dewasa’ tersebutpun melibatkan kita dalam masalah dan problematika yang dulunya selalu dibungkus dengan “Kamu tak perlu tahu. Kalau kamu sudah besar pasti kamu juga akan mengerti.” Dunia yang dulu warna-warni kini penuh dengan area abu-abu. Apa yang dulunya begitu cemerlang kini menunjukkan cacat-cacatnya.

Beranjak dewasa, kita diajak untuk semakin mengerti dimensi orangtua kita yang dulu tak pernah menunjukkan wajahnya. Dengan sekeliling kita yang perlahan membuka borok dan keajaibannya hari demi hari, tentunya kita membutuhkan amunisi dan tameng yang juga tumbuh hari demi hari untuk mengimbangi. Menebalkan tembok iman dan kasih akan menjadi salah satu tameng yang selalu dapat diandalkan, dan di perkuat hari demi hari. Lalu senjatanya apa? Senjata pengertian dan kesabaran sepertinya cukup oke. Pelurunya? Pelurunya, bisa dimulai dengan sekotak forgiveness yang tak pernah habis butir-butir pemaafnya. Ah, beli dimana? Tidak usah dibeli, semuanya sudah dibayar dua ribu tahun yang lalu dengan darah dan air mata-Nya. Bayangkan saat kita hendak membayar barang belanjaan kita di kasir, dan tiba-tiba diberitahu bahwa semua belanjaan kita sudah dilunasi oleh orang di depanmu. Kita hanya tinggal menggunakan saja hasil belanjaan tersebut sebaik mungkin. Dicoba, dicoba, mari mencoba.

Images taken from Chunky Move website.

Tagged with:  

Takut Punya Anak?

by: Felicia

Fathers, be good to your daughters | Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers |So mothers, be good to your daughters too …

(Daughters by John Mayer)

Seringkali saat kita memikirkan masa depan calon anak cucu kita nanti, ada sebuah keresahan timbul. Ada sebuah keraguan apakah kita akan dapat membesarkan calon-calon anak kita nanti dengan baik. Apakah kita akan melukai mereka secara tidak sengaja dan menimbulkan bekas yang menyulitkan masa depan mereka. Atau justru kita mendidik mereka dengan cara-cara yang kita anggap benar tetapi malahan menjadikan mereka pribadi yang manja, penakut ataupun cepat menyerah.

Terkadang segala keraguan yang kita miliki tersebut berasal dari pengalaman kita masing-masing. Bagaimana cara orangtua kita mendidik kita dari bayi hingga dewasa menjadi penentu bagaimana kita akan membesarkan anak kita nanti. Sehingga, gaya membesarkan anak kita nanti kurang lebih adalah hasil campursari metode yang kita observasi dari orangtua, pengalaman kita sebagai terdidik dan tentunya hasil pengamatan dan evaluasi dari sekitar kita.

Bagi kita yang orangtuanya, secara sadar atau tidak sadar, pernah meninggalkan luka batin di pribadi kita masing-masing, saat ini mungkin sedang berusaha keras mencari satu alasan saja bahwa mempunyai anak adalah ide yang baik selain untuk memperlangsung keturunan dan menghentikan pertanyaan ‘Kapan mamah punya cucu?’. Yang belum menikah mungkin masih sibuk mencari pasangan yang juga seidealisme dalam hal mempunyai anak, yaitu semakin sedikit semakin baik.

Ya, tentunya semua orangtua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Lalu, mengapa tak jarang kita dapati cara mereka mendidik menimbulkan sekian banyak hal yang menyakitkan sehingga kita berjuang keras untuk tidak menjadi seperti mereka di masa depan nanti? Secara logika, tentunya bisa diargumentasikan bahwa dari sekian banyak mata pelajaran di dunia, tidak ada pelajaran wajib berjudul Parenting101 dimana yang lulus saja yang boleh mempunyai anak. Tak jarang pula kita dapati bahwa orangtua kita pun masih membawa luka batin mereka masing-masing dari masa lalu mereka. Mata-mata kita-kecil yang menangkap sekelibat bekas-bekas luka tersebut kadang tak mampu memproses bahwa luka-luka tersebut terjadi bukan karena kita-kecil nakal, melainkan bersumber dari masa lalu si orangtua itu sendiri. Dan sekian banyak alasan lainnya.

Cukupkah sekian alasan itu untuk menghambat kita untuk beranak-pinak? Guess what, friends. Luka batin bisa disembuhkan. Cara mendidik anak yang terbaikpun dapat kita pelajari bersama. There is hope afterall! Langkah pertama tentunya menyadari bahwa diri kita memang pernah terluka. Bukan menyalahkan dan juga mencari kambing hitam. Perlahan kita bisa mulai membawa semua luka-luka dan beban itu ke Tuhan. Hari demi hari terus kita bawa kepedihan dan tanda tanya kita kepada-Nya. Menyadari sepenuhnya bahwa apa yang sudah terjadi berada diluar kontrol kita. Terus buka hati kita pada kasih-Nya yang meluap-luap, sampai kita tiba pada satu titik dimana kita berani berkata ‘Ya, itu memang menyakitkan. And it sucked really bad. Tapi aku memilih untuk memaafkannya, dan menjalankan hidupku bebas dari rasa sakit itu. Pilihan kedepanku tak lagi ditentukan oleh apa yang terjadi di masa laluku’ Saat semua terasa terlalu berat untuk dijalani sendirian, carilah Retret Penyembuhan Luka Batin yang rutin diadakan. Carilah sebuah komunitas yang menerimamu apa adanya. Carilah bantuan. Sebelum terlambat.

Langkah yang kedua, berjuanglah untuk merumuskan cara mendidik anak yang sesuai dengan karakteristik keluarga anda (bila sudah menikah), bila belum, tentunya bisa dipikirkan sendiri dahulu. Lancarkan jalur komunikasi antara suami dan istri ataupun pacar (tidak dianjurkan pada saat yang bersamaan ya). Membicarakan values-values, prinsip dan pedoman hidup secara terbuka jauh sebelum si bayi lahir akan menghasilkan sebuah tiang pancang yang kokoh kedepannya. Kunjungan ke psikolog anakpun bukanlah sebuah hal yang tabu. Psikolog anak yang menyelami dunia anak-anak setiap harinya tentu akan menjadi partner diskusi yang inspiratif dalam mencari cara terbaik untuk membesarkan (calon) anak kita masing-masing. Pada akhirnya, kita semua pernahlah menjadi anak-anak. Dengan hati yang melimpah dengan kasih-Nya, bayangkan hal-hal terutama yang kita dambakan sebagai seorang anak. Kecilku selalu mendambakan keamanan, cinta dan stabilitas situasi keluarga. Bagaimana dengan Anda?

… On behalf of every man | Looking out for every girl
You are the guide and the weight of her world

Fathers, be good to your daughters | Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers |So mothers, be good to your daughters too …

Tagged with:  

Happily Ever After

Written by: Linda

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” Efesus 5:23-24

Pada waktu digereja (homili), pertanyaa mengelitik dari romo yang selalu terngiang-giang di telingaku adalah “Kenapa orang jaman dulu perkawinannya bisa awet padahal kebanyakan dari mereka adalah hasil dari penjodohan, tapi kenapa jaman sekarang sudah mencari sendiri tapi malah banyak yang cerai?” Aku jadi teringat akan pernikahan papa dan mama yang juga merupakan hasil dari penjodohan dimana papa adalah teman kelas dari kakak mama.

Selama perkawinan mereka, tidak pernah sekalipun aku melihat papa memukul ataupun memaki mama, bahkan kami sebagai anaknya pun tidak pernah melihat mereka bertengkar didepan mata sehingga tidak tahu kapan mereka bertengkar. Mereka bukan pasangan yang kelihatan mesra, tidak pernah sekalipun pegangan tangan, tapi aku tahu mereka saling menyayangi meskipun mereka jarang meluangkan waktu untuk berduaan.

Seingatku sewaktu kecil kami sekeluarga selalu meluangkan waktu bersama-sama, papa dan mama naik sepeda dan kami anak-anaknya duduk dibelakang sepeda, hari Sabtu dan Minggu biasanya digunakan untuk nonton video dirumah. Setiap liburan kami selalu jalan-jalan keluar kota walaupun kadang hanya piknik dipinggir danau bersama keluarga teman – teman mereka (sesuatu yang jarang sekali dilakukan pada jaman sekarang).

Beranjak SMP, siang hari mama sibuk dengan salonnya, belanja ke pasar, masak makan siang dan malam (seperti ibu RT kebanyakan). Sedangkan papa sibuk dengan tokonya. Malam hari kegiatan yang selalu dilakukan papa adalah membaca koran sedangkan mama mengajar kami mengerjakan PR dan terkadang memasak kue. Mereka jarang sekali duduk berdua meluangkan waktu untuk ngobrol.

SMA dan kuliah, aku sudah diluar kota tapi setiap pulang aku selalu melihat mereka melakukan hal yang sama dan ditambah dengan jalan-jalan ikut tur dimana papa selalu berduaan dengan mama.

Pada waktu mama menoupause adalah yang hal terberat karena mama sangat kesepian, kadang dia sampai mengajak anak saudara yang masih kecil untuk menginap di rumah, dan selalu mengeluh tidak bisa tidur dan kakinya sakit. Dia juga menjadi malas mandi dan dandan. Tapi papa tidak pernah mempersoalkannya, malahan papa yang mengguntingkan kuku jari tangan dan kaki mama. Setiap sore pulang dari toko, papa mengangkat baju-baju yang sudah kering dari jemuran dan setiap habis makan papa selalu membersihkan piring serta membuangkan sampah. Karena mama menopause kakinya pun mulai keropos. Setiap tahun papapun menemani mama medical check up, memasangkan kaki besi untuk mama dan malah membuatkan kamar dibawah untuk tidur siang (merelakan sebagian garasi mobil diubah jadi kamar) dan merombak kamar mandi dengan mengganti klosetnya agar mama mudah ke kamar kecil. Mama juga menjadi lebih sensitif karena merasa dirinya sudah tidak cantik dan papa yang biasanya tidak ada romantis-romantisnya, disaat itu mendadak jadi romantis dengan mengatakan “masih cantik seperti dulu”.

Pada tahun 2002 mama meninggal mendadak (1 minggu sebelum ulang tahunnya ke 50), pada saat pulang aku kaget karena biasanya papa gendut mendadak jadi kurus dan 1 pertanyaan dari papa (2 hari setelah meninggal mama) yang terasa membuatku sedih adalah, “Kenapa kamu selalu doain mama setiap hari supaya sembuh, tapi kog malah dipanggil Tuhan?” (Pada waktu itu papa masih belum mengenal Yesus). Dalam suasana sedih itu sulit memikirkan jawaban yang tidak membuat papa sedih untung juga adikku bisa memberi penghiburan, katanya “Di Surga tidak ada sakit penyakit, jadi mama tidak perlu tiap hari bilang sakit kaki, tidak bisa tidur.”.  

Sekarang sudah 8 tahun mama meninggal, hidup papa setiap hari diisi dengan ke toko dan naik sepeda, masih jalan-jalan tiap tahun dan berita menggembirakan adalah papa menjadi katolik 3 tahun setelah kematian mama.

Banyak yang berkata bahwa cinta barulah diuji sesungguhnya pada saat pasangan sudah menjadi tua dan kita masih mampu tetap berada disisinya walaupun pasangan tersebut sudah tidak bisa melayani kita.     

   Written by: Linda

 

Tagged with:  

I Wish for Four, now I still have Zero

By: Lia B. Ariefano

Mari kita simak bersama kisah suka duka dari salah satu teman kita, Lia, dalam menggenapi rencana Tuhan atas kehidupannya.

***

Waktu saya di bangku SMA, saya pernah berjanji dalam hati, saya tidak mau hidup saya dibebani dengan makhluk-makhluk kecil yang bernama: A N A K. Buat saya (saat itu), anak hanya menghalangi langkah saya untuk mencapai apa yang saya mau dalam hidup saya. Kebetulan saya juga bukan tipe perempuan yang suka akan anak dan mau dinilai orang keibuan.

Ini berlangsung sampai masa saya bekerja. Hati saya selalu berontak bila melihat kenyataan perempuan seakan-akan tidak punya pilihan. Semua kesialan, ketidak-beruntungan, bahkan ketidak-enakan selalu harus dijalani oleh perempuan. Saya percaya akan kontrasepsi, saya percaya akan pilihan-pilihan yang harus dibuat oleh perempuan, saya percaya kita perempuan bisa hidup tanpa lelaki. Satu-satunya yang belum bisa saya terima waktu itu adalah aborsi, karena biar bagaimanapun saya tahu itu adalah pembunuhan. Tapi…  kalau waktu itu saya mengalami kehamilan yang tidak saya inginkan, jangan-jangan… saya akan melakukannya juga! Who know’s…?

Sampai rahmat dan belas kasihan Tuhan tercurah deras atas hidup saya. Lewat sebuah buku yang ditulis oleh Kimberly Hahn: Live Giving Love, pandangan saya berubah 180°, dari seseorang yang menggunakan hidup, menjadi seseorang yang belajar mencintai kehidupan.Sejak itu ada kerinduan untuk memeluk anak-anak saya. Sampai sekarang saya masih belum bisa tahan kalau melihat anak-anak berlarian dan teriak-teriak, rasanya saya pengen menghampiri mereka dan menaruh plakban di mulut mereka dan mengikat kaki mereka (eehhh… *cartoon mode*) tetapi saya harus mengakui.. setiap kali memeluk Jovan dan Celine (anak2 dari pasangan Kusno&Anast dari komunitas kami) saya tidak bisa membohongi, ada kehangatan yang menyelimuti hati saya dan kadang tidak mau melepaskan mereka. Sejak membaca buku itu, saya selalu memimpikan 4 orang anak hadir dalam pernikahan kami.

Tahun ini kami melewati tahun ke 6 pernikahan kami. Seperti judul tulisan ini, I wish for 4 (children), tapi saat ini kami masih bertahan di angka Zero (atau nol!). Saya pernah melewati masa-masa sedih setiap kali mendengar seseorang hamil. Duluuuuu setiap kali saya bertemu dengan orang yang baru menikah, kalau ketemu kata basa-basi saya adalah: “Gimana? Sudah isi?”.. sampai saya mendapati pertanyaan itu begitu menyakitkan dan semua mata dan telunjuk seakan tertuju kepada saya dan mengatakan: “Kamu bukan perempuan krn kamu tidak bisa mempunyai anak!”

Rasanya saya mulai mengerti bagaimana perasaan St.Elisabet sebelum akhirnya ia mendapatkan Yohanes.

Tetapi saya memutuskan untuk tidak menjadi pahit dengan semua ini. Saya bersyukur dengan setiap pengalaman yang boleh saya jalani. Cara pandang saya sebagai seseorang yang dulunya adalah Pro Choice, justru membuat saya hari ini makin mencintai kehidupan dan keperempuanan saya.

Kalau saya membuka diri saya buat kehidupan, saya memilih untuk terbuka pada cinta, bukan kepahitan dan kebencian.

Kalau saya memilih untuk terbuka akan berapapun jumlah anak yang Tuhan berikan kepada kami, itu karena Ia mempercayakan kehidupan yang Ia ciptakan dengan sempurna, dan Ia sumber kehidupan dan kelimpahan akan memberikan dan mencukupi segala keperluan kami.

Kalau kami hari ini belum diberi satupun kehidupan, saya percaya ada hal lain yang harus kami kerjakan, dan membuat cinta kami tetap berbuah, berkelimpahan, dan menjadi berkat buat siapapun yang ada di sekeliling kami.

Beberapa waktu lalu saya nonton acara Oprah dengan The big family of Osmond.  Dari sepasang George dan Olive Osmond, mereka terbuka pada 9 anak yang diberikan kepada mereka, dari 9 anak, hari ini ada 55 cucu dan 48 (dan terus bertambah) cicit. Mereka berhasil mendidik anak-anak mereka dengan cinta dan terus hidup rukun sampai sekarang.

Waktu saya mendengar cerita ini, hati saya diliputi kehangatan, betapa cinta lebih besar dari apapun dan mampu mengalahkan apapun.

So, I was living my pro choice life with many (individual, egoist, and full of hate) choices.

I wish for four and we still have zero now! But we never doubt of whatever God has plan for us.

As we open ourselves to life He will create, we believe He will open the heaven’s door for us. Assuring that we will have the strength, the love, the blessing, the wisdom, happiness and everything we’ll need.

Yes I wish for Four and yet we still have Zero, but we believe if we generous enough to give our life, HE will give fo(u)rever generosity to us and you!

As posted By: Lia B. Ariefano at http://whittulipe.wordpress.com

Tagged with:  

The Fruit of the Gift

by: Monica

The “Gift”

God created human with the desire to love and to be loved. And God created human bodies as male and female, to help us to have the image of God’s love, where God loves us and we are loved by God. Therefore, the plan of the Creator is man and woman are destined to be a life-giving “gift”. Because, man’s body makes no sense by itself and so does the woman’s body. John Paul 2 said that God inscribed in our bodies as male and female a language. And the language of the body is “gift” and “self-gift”.

The gift itself is something given to us, not something we take over or we grasp. So, human body is also gifted to each other in the Sacrament of Marriage which later the vow of marriage is re-expressed without words in sexual union. Therefore the sexual union before marriage is not a gift, because his/her body and his/her partner’s body is not freely given yet to each other. Instead of giving “gift” for each other, they grasp the “gift” just like what Eve did in the Garden of Eden.

The fruit as “Gift”

Eve saw the fruit of knowledge of good and bad. She desired it. But she remembered what God, the Yahweh, said not to touch the fruit of knowledge. When God said that they were not to eat from the tree of knowledge of good and evil, it can’t be said that God didn’t want to give them the knowledge of good and evil. God certainly wants us to have the knowledge of what is good and what is evil. But this fruit of knowledge will be given by God Himself to human, instead of human took it by himself. The knowledge of what good and bad is something that we can’t invent by ourselves. We can only receive the knowledge from God, as a gift. Surely, we can’t grasp what is gifted to us.

The new Eve, Mary has redeemed the first Eve’s sin, not by refusing to eat the gift, but by refusing to grasp it. The old Eve doubted whether the gift will be given to her or not, but the new Eve believed and waited on the Lord in her yearning. Both of them desire in their heart the gift.

The Stolen Fruit vs The Given Fruit

Eve gave the stolen fruit to Adam, Eve’s fruit led to death. Mary also gives the given fruit to us, and her fruit flourishes, multiplies into an abundant harvest, and brings life to us. She brought Jesus to the world. The grasped gift led to sin, but the gift which is given to us by God bears fruit, the fruit of peace and joy in our heart.

 There is a fear in every woman (and man) during waiting for the pregnancy test after an out-of-wedlock sexual intercourse. Why? Because they are afraid of the fruit of grasped gift: death. But the tears of joy, abundant and inexpressible overflowing happiness come into every heart who was given the fruit by God, the Father.

source: Heaven’s Song chapter 5 — Christopher West

Tagged with:  

Never Ending Love of God

by: Rediningrum

 

1 Corinthians 13:8 “Love never fails…”

Cinta itu apa sih? Masih banyak karya seni dan sastra yang sampai sekarang masih berusaha mengungkap makna cinta. Jika cinta antara sesama manusia saja seperti laut, begitu luas untuk dapat digali pemahamannya, bagaimana dengan cinta Tuhan kepada ciptaanNya?

Jaman dulu, kuasa yang lebih besar yang sudah disadari oleh manusia yang primitif diwujudkan dan diungkapkan dengan bentuk animisme (roh) dan dinamisme (benda) yang diyakini mempunyai kekuatan lebih besar yang dapat menolong kesulitan manusia di dunia. Semakin beradab dan modern, manusia beragama dan menyembah monotheis. Kehendak Tuhan yang lebih besar yang melingkupi hidup manusia.

Kalau kita melihat memori kisah sengsara Tuhan Yesus menuju Golgota, Dia terjatuh beberapa kali, dia tetap meneruskan perjalananNya sampai tujuan, karena cintaNya, karena ketaatanNya. Bukankah ini contoh agar manusia yang jatuh ribuan kali tetap harus maju menuju  keselamatan yang Tuhan sediakan?

Hendaknya kita membesarkan hati seorang teman atau pun bahkan kita sendiri untuk mau hidup lebih baik meskipun pernah gagal, pernah salah jalan, pernah tidak percaya pada Tuhan, agar tetap meneruskan perjalanannya. Karena Tuhan itu cintaNya tidak pernah berhenti, tidak pernah gagal menyelamatkan manusia yang dikasihiNya. CintaNya sejati dan abadi.

by: Rediningrum

Tagged with:  

Menyadari Berkat Kita

by: Linda

Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.Amsal 18:24

Seringkali Kita melihat ukuran berkat dari Tuhan apabila kita memiliki materi, jabatan dan usaha yang berhasil, bahkan kita juga memperlakukan seseorang dengan baik berdasarkan materi dan jabatan yang mereka miliki. Awalnya aku juga menilai, Tuhan memberkati aku kalau aku sukses dalam karir dan keuangan, sampai suatu hari aku mendapatkan pencerahan dari teman yang mengatakan “Tuhan tidak pernah lho menuntut kita harus kaya, itu kan standar penilaian didunia” lalu dia juga mengatakan “aku diberi berkat dari Tuhan yaitu memiliki teman-teman yang baik”. Sepertinya aku diingatkan kembali hal ini dan mulai melihat kembali berkat yang aku miliki tetapi tidak tidak pernah aku sadari

Aku ingat-ingat lagi berkatku dalam hal ini ternyata banyak juga, aku memiliki orang-orang sekitarku yang menyayangiku dan ternyata Tuhan sudah mengirim berkat itu kepadaku sejak aku masih kecil.

Sedari kecil Tuhan sudah mengirimkan malaikat kecilnya padaku yaitu seorang sepupu yang seumuran denganku. Kami selalu bermain bersama dari kecil dan baru berpisah pada waktu kerja karena berbeda lokasi. Waktu kecil sepupuku diberi uang belanja empat  kali lipat lebih banyak dari yang kudapatkan sehingga dia bisa membelanjakan empat macam makanan, sedangkan aku hanya mampu membeli satu jenis makanan. Oleh sebab itu, setiap ia membeli makanan aku selalu dibagi ditambah juga makanan yang ia bawa dari rumahnya. Setiap Sabtu, tidak jarang aku menginap dirumanya. Aku juga sering mengikuti acara jalan-jalan, imlekan dan liburan dari keluarga sepupuku. Setiap tahun kami membuat gua natal dan menghias pohon natal dirumah sepupuku.

Contoh berkat yang lain adalah bahwa sedari kecil, setiap pulang kampong aku selalu diberi angpau oleh saudara-saudara papa dengan  alasan karena aku belum berkerja. Ada suatu bentuk angpau yang sangat berkesan saat adik papa menyuruhku menukarkan uang Euro di Money Changer terbesar di Jakarta, dan setelah ditukar dengan rupiah, ia tidak menginginkan lagi uang tersebut. Katanya buat aku aja, padahal nilainya waktu itu lumayan, paling tidak sama dengan 5 bulan gajiku.

Aku juga punya teman-teman kos yang baik. Setiap Sabtu malam kami suka nyanyi bareng dengan diiringi gitar atau nonton rame-rame dikamar kos. Sesudah kerusuhan Mei’98, aku selalu diantar dan dijemput juga oleh teman kos saat akan pergi ke Mall Taman Anggrek. Saat komputerku rusak, teman kos sebelah kamarlah yang akan rajin memperbaiki, termasuk order dan mencari spesifikasinya. Aku tinggal bayar pengeluarannya.

 Ada juga sejumlah berkat-berkat lain yang tak dapat kusebutkan satu persatu disini karena bisa panjang ceritanya nanti.  Yang jelas aku bersyukur dari kecil sampai sekarang punya orang-orang sekitarku yang baik sehingga membawa pergaulan yang baik juga

Apakah kamu sudah bersyukur hari ini? 

by: Linda

Tagged with:  

Testimonial : Tuhan Katakan Kasihilah Sesamamu. Benarkah?

written by: Anonymous

Cinta datang bagi siapa saja, kapan saja, pada siapa saja. Nampaknya semua mencari cinta sejati, apapun itu bentuknya, bagaimanapun itu menunjukkan dirinya. Simak kisah salah seorang teman kita, yang memilih untuk menyembunyikan identitasnya, dalam pergumulannya dan masa pencariannya.

***

Bulan pertama gue dateng ke True Love Celebration, di bulan itu juga cobaan gue dimulai. Gue gak tau itu kebetulan atau enggak, dan kayaknya gak gitu penting juga apakah iya atau enggak. Bulan-bulan itu gue mulai deket sama nih cewek satu. Cantik. Manis. Tomboy. Takut Tuhan. Dia ngajak gue berdoa tiap malem awalnya dan selalu ngajakin ke gereja. Seneng banget rasanya akhirnya punya temen deket lagi. Yang bisa diceritain macem-macem, yang sabar, yang perhatian dan yang hobi banget buat gue ketawa.  Masalah mulai datang saat kedekatan itu membawa kayak sebuah dimensi baru. Dari yang awalnya memang gue udah curiga dia agak-agak naksir gimana, akhirnya gue tepiskan jauh-jauh dan akhirnya gue anggap angin lalu, akhirnya gue sadar penuh bahwa dia emang bener-bener suka lebih dari teman, berdasarkan satu dan lain hal. Dan guepun perlahan mulai merasakan hal yang sama. Masalahnya dimana? Masalahnya gue cewek. Yang sumpah demi apapun yang boleh di sumpah, sejauh ini selalu suka cowok.

Susah sekali menggambarkan apa yang terjadi antara otak gue, perasaan dan kehidupan spiritual gue. Seakan lagi ada perang dunia keseribu di dalam.

Nyaman banget pastinya saat berdekatan dengannya. Berbagi hari, berbagi cerita. Pada awalnyapun, dan mungkin sampai sekarang, gue merasa bahwa Tuhan yang mengirimkan dia untuk membobol dinding yang gue bangun tinggi-tinggi untuk menjaga luka-luka lama gue sendiri. Saat itu, dan sampai saat ini juga, gue melihat dia sebagai seorang cewek yang saking sudah penuhnya dengan cinta Tuhan, sampai mencari-cari lubang terdalam yang dia bisa temuin untuk dia bagi cintanya itu. Tanpa pandang bulu.

Dan bukankah itu juga yang Tuhan mau? Kasihilah sesamamu, katanya. Dan itulah yang dia lakukan.

Bila hubungan berlanjut ke arah yang tidak diinginkanNya, wah, entahlah apa maksud dari semua itu. Emang guenya penasaran aja kali? Gak tau jugalah. Yang jelas sejak saat itu gue merasa jauh dari Tuhan. Seperti gak layak masuk ke dalam rumahNya. Berdoa di dalam kamar jadi nyiksa banget karena gue ngerasa Tuhan gak seneng dengan ini semua. Apalagi setelah session demi session dari TLC seakan mengingatkan gue bahwa hey.. gak bener ini semua. Ada sebabnya banget lelaki dan wanita diciptakan, dan bukannya wanita dan wanita.

Sudah dua kali gue ngaku dosa dan pulang dari acara TLC dengan tekad akan menyelesaikan segalanya. Sudah dua kali juga gue kayak lupa ingatan saat disambut oleh pelukannya. Oleh kehangatannya. Oleh penerimaannya akan diri gue apa adanya sampe sebobrok-bobroknya. Sampe rasionalitas gue kadang berpikir. Sebenernya mau Tuhan apa sih. Kenapa manusia dimampukan untuk suka sesama jenis kalau emang gak boleh? Kenapa manusia di beri kebebasan kalo sebenernya gak boleh. Tapi ya namanya niat, apapun juga bisa di rasionalkan. Hubungan kayak pacaran tapi bukan itu pun jadi terus berlanjut secara diam-diam dengan segala pembenaran pribadi yang gue lakukan setiap harinya.

Guepun sempet melakukan riset kecil-kecilan dengan browsing mengenai gaya hidup ini. Dan ternyata disitu gue temukan banyak pengalaman dimana mereka adalah hamba Tuhan yang taat yang kebetulan mencintai sesama jenis. Walopun kebanyakan hidup dalam kerahasiaan, gak sedikit juga yang ternyata adem tentram hidup bersama pasangannya masing-masing, dalam gaya hidup yang udah kayak hidup rumah tangga suami istri selayaknya. Di bulan-bulan itu gue banyak bergumul. Sebenernya maunya Tuhan apa sih? Mau curhat kesiapa ya gak ngerti juga, palingan dibilang salah, dosa dan seterusnya.  

Sampe pada suatu hari dimana gue dateng ke kawinan gereja temen gue sendiri. Disitu gue liat betapa indahnya dia dengan baju pengantinnya, dengan veilnya yang menjuntai, dan betapa sumringahnya wajahnya. Disitu gue liat betapa hepi wajah bokapnya saat menyerahkan anaknya. Disitu gue liat mata si lelaki saat ngeliat temen gue itu mengucapkan janji pernikahan. Disitu gue kayak di tabok. Kenceng banget. ‘Liat tuh. Katanya sayang sama cewekmu itu. Kamu gak mau dia ngerasain pernikahan kayak gini? Kamu sendiri juga gak mau ngerasain ini semua?’ Seakan gue diingatkan bahwa “hey… jangan egoislah. Kamu tau cewekmu itu kalo ketemu cowok yang menyayanginya sepenuh hati juga akan bahagia nantinya.”

Mulai hari itu perjuangan berat dimulai. Putus. Nyambung lagi. Mencoba jauh lagi. Marah-marahan. Ngambek-ngambekan. Berdekatan lagi. Menjauh lagi. Dan sampai saat ini, setiap hari demi hari, berjuang berat untuk gak manja-manja, gak nanyain apa kabarnya setiap menit dan memikirkan apakah dia sudah makan atau belum. Hal-hal yang sebelum semua ini tak pernah harus kupikirkan untuk seorang ‘teman’. Berat. Sepi. Dan pergumulan ini sepertinya masih panjang. Belum lagi serentetan pertanyaan kenapa ini semua mesti terjadi. Tuhan tau sendiri betapa pada awal-awalnya dulu gue bangun tembok tinggi-tinggi untuk menolak segala perhatiannya. Setelah sukses dirobohkan kok ternyata gak boleh juga kalo deket-deket amat.

Sepi. Kembali sendiri. Apalagi kalo mikirin kayaknya gak banyak orang yang akan simpatik-simpatik amat mendengarkan kisah ini. Siap di hujat. Siap di cerca. Tapi gue tau gue ngejalanin ini buat siapa. Sering disaat gue mulai ragu, goyah dan pengen menghalalkan segala cara supaya bisa kembali deket sama dia, pertanyaan yang sama selalu datang “Do you love Me more than you love her?”. Plak. Kena tabok lagi. Jadilah mantra gue “I love Jesus more than I love her.” And I do.

by: anonymous

***

Editor: Untuk pesan yang ditujukan kepada penulis secara pribadi dapat kami salurkan melalui info@truelovecelebration.org

Tagged with:  
Page 1 of 3123
© 2010 True Love Celebration