Gebrakan Sebuah Gerakan

by: Felicia

True Love Celebration telah berlangsung selama sembilan kali.

Ratusan anak muda Jakarta telah datang dan berkumpul, bersama mendalami kembali arti dan tujuan tubuh mereka diciptakan sedemikian adanya. Gerakan True Love Celebration ini digulirkan dengan harapan dan mimpi besar untuk menawarkan sebuah gaya hidup akan keadaan seksualitas anak muda masa kini. Sebuah gaya hidup murni, chaste, yang sebelum-belumnya sering terdengar namun tak pernah betul-betul dikomunikasikan dengan segala pengertian yang terkandung didalamnya. Gaya hidup murni yang bukannya mengekang namun justru membebaskan. Gaya hidup murni yang bukan penuh aturan-aturan baku namun memberikan sebuah pengertian dan tujuan yang jelas dan konkrit, sehingga tak ada lagi aturan yang perlu di langgar.

Sembilan bulan telah berlalu. Sebuah novena telah dipersembahkan.

Hari ini, 30 November 2010, jam 7:30 malam, MetroTV memberitakan bahwa aktifitas seksual di kalangan orang muda semakin meningkat di seluruh penjuru Indonesia.  Ditayangkan, prosentase remaja yang melakukan seks pranikah: Jabodetabek – 51%, Surabaya – 54%, Medan – 52%, Bandung – 47%, Yogyakarta – 37%.

Sembilan bulan gerakan True Love Celebration telah bercerita, berdiskusi dan berdialog akan sebuah gaya hidup yang akan mengembalikan arti seksualitas sebagaimana dikehendaki oleh Sang Pencipta.

Kenyataan yang ada masih juga menggigit dan menguatirkan.

Sebuah novena telah berakhir. Akhir dari sebuah permulaan.

Gerakan True Love Celebration baru saja dimulai, dan pastikan kamu ambil bagian di gebrakan-gebrakan selanjutnya.

Tagged with:  

Article Link: Kemurnian Dalam Pernikahan

link to www.Katolisitas.org

Masih perlukah kita menjaga kemurnian dalam sebuah pernikahan? Bagaimanakah caranya?

Seksi Kerasulan Keluarga paroki Stella Maris baru-baru ini menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan seminar tentang “Kabar Baik tentang Seks dan Perkawinan”. Salah satu session yang dilaksanakan pada tanggal 9 November 2010 kemarin membahas habis-habisan mengenai bagaimana sepasang manusia dapat menjaga kemurnian dalam sebuah pernikahan.

Mengutip Kesimpulan dari sesion tersebut:

“Kemurnian merupakan penggabungan seksualitas di dalam kepribadian seseorang, dan ini melibatkan pengendalian diri ((lih. KGK 2395)). Dalam perkawinan, kemurnian hubungan suami istri dinyatakan dengan menjaga kesatuan esensial antara persatuan suami istri (union) dan kemungkinan penciptaan (procreation), sebab hanya dengan cara demikian hubungan suami istri dapat sampai pada kepenuhannya dalam hal kasih sejati yang timbal balik, dan orientasinya kepada panggilan mulia sebagai orang tua[2] yang menyalurkan kehidupan kepada anak- anak mereka dan mendidik anak- anak mereka. Hanya dengan melaksanakan hubungan kasih dalam kemurnian inilah, suami istri dapat menemukan arti panggilan hidup mereka dan menemukan kebahagiaan mereka yang sejati di dalam Tuhan.

Pada akhirnya, makna akhir dari penciptaan kita sebagai laki- laki dan perempuan ditemukan di dalam panggilan kita untuk menyatakan dalam di dalam tubuh kita, persekutuan kita dengan Allah Trinitas di dalam Kristus dan melalui Kristus. Perkawinan bukan merupakan tujuan akhir persekutuan manusia, tetapi hanya persiapan untuk perkawinan/ persatuan Ilahi kita dengan Allah di akhir nanti. Hubungan kasih suami istri di dunia ini hanya merupakan gambaran samar- samar akan persekutuan antara kita manusia dengan Allah, yang akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak.”

Artikel dari session yang ditulis oleh Stefanus Ingrid tersebut dapat ditemui di link berikut:

 http://katolisitas.org/2010/11/09/kemurnian-di-dalam-perkawinan/

Tagged with:  

Rekomendasi Buku : The Thrill of the Chaste

by: Dawn Eden

Dawn Eden, seorang kolumnis dan blogger kelahiran New York City, menulis buku ‘The Thrill of the Chaste’– Finding Fulfillment While Keeping Your Clothes. Melalui buku ini Dawn Eden menawarkan gaya hidup chastity atau lebih dikenal sebagai gaya hidup murni kepada para wanita dunia. Bermuara dari pengalaman pribadi, buku tersebut membeberkan langkah-langkah yang ia sendiri ambil untuk memulai hidup murni yang tentunya dapat di pertimbangkan oleh para pembaca. Sayangnya, untuk saat ini buku tersebut belum tersedia di Indonesia.

Review dari Publishers Weekly:

Kolumnis New York Daily News dan blogger Dawn Eden menawarkan gaya hidup Kristiani untuk hidup murni para lajang. Buku ini khusunya ditargetkan pada para wanita yang sudah muak dengan gaya hidup seperti yang di gambarkan oleh serial tv Sex and the City. Dawn Eden sendiri adalah seorang lajang di usia tiga puluhan yang mulai memeluk agama Katolik dan menjalani gaya hidup murni di usia dewasanya. Ia yakin menjalani hidup murni secara chastity akan lebih menghasilkan keseharian yang penuh harapan dan hidup daripada apa yang seks bebas hasilkan. Ia mengacu pada Teologi Tubuh dari Johanes Paulus II untuk menjelaskan mengapa umat Kristiani seharusnya menyimpan hubungan seks untuk pernikahan; “our bodies are living metaphors of God’s loving nature,” “tubuh kita adalah bukti hidup yang nyata akan cinta Tuhan,” katanya, dan untuk berhubungan seks pranikah sama artinya dengan membuat janji palsu terhadap komitmen yang total. Dawn tidak hanya berteologi saja, ia juga memberikan saran praktis bagaimana wanita seharusnya berhubungan dengan orangtuanya (kalau orangtua kalian bercerai, seperti orangtua Dawn, kalian seharusnya menahan kecenderungan untuk menyalahkan mereka atas keputusan-keputusan buruk kalian perihal kehidupan seksual kalian) dan masturbasi (hindarilah – kalian hanya akan merasa kesepian nantinya). Di antara sekian banyak buku mengenai hidup chastity dan kemurnian yang sepertinya ditulis hanya untuk pelajar, buku Dawn Eden akan menonjol sebagai buku yang lebih ditujukan pada wanita dewasa.

Komentar dari Yurika Agustina, pembicara True Love Celebration #4 : Single, Smart and Sexy

“Buku ini bagus dibaca oleh para lajang yang ingin mengambil keputusan untuk menjalani kehidupan bebas yang sejati dan bermartabat yaitu dengan menerapkan chastity and holy friendship dalam relasinya. “

Untuk informasi mengenai buku ini lebih lanjut, kunjungi di sini.

Buku dapat di beli melalui Amazon, harga second-hand terjangkau.

Tagged with:  

Single, Sexy and Smart Summary

Transcript by Mungky Kusuma
Edited by Yurika Agustina

TLC 4 – Single, Sexy and Smart

5 June 2010
Yurika Agustina
Ruang Melati, Wisma Indocement, Sudirman, Jakarta

5 Pertanyaan yang Mengganggu Para Lajang

Banyak juga  orang yang merasa kurang happy karena melihat saya masih single. Uniknya adalah pertanyaan atau pernyataan itu bukanlah keluar dari orang tua saya. Dan saya juga banyak bertemu beberapa single yang justru tak happy karena adanya pressure dari keluarga. Ketika mereka sedang senang-senangnya menikmati kelajangan atau kebalikannya ketika mereka sedang tidak bahagia dengan kelajangannya lalu muncul pertanyaan-pertanyaan semacam berikut :

  • “Mau tunggu sampe kapan? Tunggu sampe ketemu the perfect man datang pakai kuda putih dan membawa ke purinya yang indah lalu hidup happy ever after? Cobalah realistis sedikit…”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mudah muncul dan menjadikan tekanan bagi para single. Dan itu yang dialami oleh salah seorang sahabat saya yang cantik, pandai bergaul, juga pintar. Akibat tekanan social dan juga dari keluarga tiap pulang kampung akhirnya ketika jatuh cinta dengan seorang cowok, kenal baru 3 bulan sudah memutuskan untuk menikah. Apa yang terjadi setelah masuk dalam pernikahan? Dia banyak mengalami siksaan fisik dan juga batin. Dipukuli dan diselingkuhi. Keputusan yang dia ambil saat menikah, bukanlah keputusan yang bebas namun berada di bawah tekanan-tekanan tertentu.

Pertanyaan lain yang sering muncul dan biasanya ini sangat mengganggu bagi para single yang cukup berumur antara lain :

  • “Jangan terlalu pilih-pilih, jangan picky…”
  • “Berusaha lebih keras dong… jangan nunggu aja, masuk kek ke sebuah kelompok tertentu, kenalan kek, lebih ramah kek…”

Ketika saya usia 20-30 saya tak picky, saya terlibat dalam pelayanan-pelayanan di tengah orang muda maupun orang tua serta ketemu dengan  banyak cowok. Namun memang nggak ada, saya tidak mau memaksa diada-ada-in juga. Apalagi masa-masa itu, saya juga happy-happy saja, bahkan sedang semangat-semangatnya pergi ke sana-kemari melakukan banyak aktivitas dan pelayanan. Ke sana-ke sini berkenalan, berusaha membangun komunikasi, tapi memang belum bertemu yang cocok. Ada juga yang mengatakan saya kesannya galak, kurang berusaha, sombong. Soal memilih, tentu kita pasti akan memilih. Tak mungkin karena saking saya desperate pengen nikah maka ada cowok nyata-nyata playboy tapi kemudian saya paksain menikah, atau mungkin beda agama ya nggak apa-apalah, udah bagus dia mau sama saya. Itu udah berkat, belum tentu ada kesempatan ini lagi misalnya. Dengan kata lain, kita pasti memilih dan tidak menerima begitu saja setiap pria yang kita temui untuk kita jadikan suami.

Ada juga yang bilang  :

  • “Mendingan standard kamu jangan ketinggian… zaman sekarang gitu lho.. apalagi jumlah cewek lebih banyak daripada cowok,  jadi jangan tentukan standard yang tinggi.”
  • “Jangan di rumah terus…”

Tentu saja mereka memberi ungkapan semacam itu dengan maksud yang baik. Mereka ingin supaya hidup para lajang lebih bahagia, mungkin seperti mereka yang bahagia atau justru supaya tidak bahagia seperti mereka hahaha… namun bisa juga karena pandangan bahwa setiap orang itu harus menikah baru merasakan apa itu arti kebahagiaan sehingga perkiraan-perkiraan macam di atas itu muncul.

Saya pernah gencar berdoa minta jodoh ketika sebagian besar teman-teman seangkatan  satu-satu mulai menikah. Namun suatu hari Tuhan memberi saya sebuah pertanyaan yang kemudian membebaskan saya dari kerinduan untuk menikah atau tidak menikah. Ketika saya sedang makan siang di sekitar tahun 1998-1999: “Rika, kalo Aku tidak memberimu seorang suami, apakah Engkau tetap mengasihi-Ku?”. Hari itu seperti ada sesuatu yang dicabut dari dalam hati saya. Puas nangis bombay, lalu saya memilih berkata, “Tuhan, kalaupun Kau tak berikan aku seorang suami aku mau tetap mengasihi-Mu”. Setelah peristiwa itu saya merasa menjadi pribadi yang sungguh bebas, seperti ada beban yang diangkat dari pundak dan hati saya. Sejak saat itu saya hidup dengan sebuah passion, yaitu proclaim the good news, the love of God untuk semua orang dan terutama bagi orang-orang muda. Kemudian tahun 2000 saya diberkati untuk mengikuti World Youth Day di Rome. Entah mengapa juga terpilih dari banyak kontingen untuk membawa bendera besar Asia-Oceania berlari memasuki Basilica St. Petrus dalam  upacara pembukaan. Di situ pertama kali, saya aware dengan pribadi Yohanes Paulus II dan kemudian mendengar tentang Theology of The Body.

Karena itu marilah kita melihat apa yang dikatakan Teologi Tubuh tentang kesendirian asali atau yang disebut dengan Original Solitude.

 

Original Solitude

Kej 2:15, 18-20

Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden…

TOB membuka bahwa setiap kita, baik menikah atau tidak, dipanggil pertama-tama dalam kesendirian yang asali. Digambarkan seperti ketika Allah menciptakan Adam lalu menempatkan Adam – Adam bukan selalu berarti cowok melainkan artinya manusia – di taman Eden.  Apalagi yang dilakukan Adam ketika berada di taman Eden, mengungkapkan apa yang seharusnya terjadi di kala single:

  1. 1. Alone

Setiap dari kita lahir sendirian bahkan ketika mati juga kesendirian. Bisa juga dikubur satu lubang ramai-ramai tapi ya jangan sampai dikubur rame-rame. Namun intinya kita datang ke dunia sendirian seperti Adam dan nanti kembali lagi kepada Bapa di Surga juga sendirian. Dengan kata lain Adam menggambarkan setiap kita, bahwa setiap kita dipanggil dalam kesendirian yang asali. Lalu apa yang dilakukan oleh Adam dalam kesendirian asali-Nya ?

  1. 2. Intimacy with God

Adam menggunakan kesendiriaan asalinya dengan membangun relasi yang intim dengan Sang Pencipta-nya, yaitu Allah. Adam punya seseorang yang senantiasa 24 jam available bagi dia. Saya bersyukur mengembangkan kesendirian asali itu setelah peristiwa dilamar di usia 17 tahun lalu masuk ke usia saya bertemu pribadi yang membuat saya jatuh cinta setengah mati. Pertemuan itu terjadi di kamar pribadi, pada meja belajar saya . Saya jatuh cinta pada Yesus. Ini mengubah segala cerita hidup saya. Sejak itu saya coba bangun relasi dengan Yesus yang begitu indah. Mulai senang membaca Kitab Suci, belajar berdoa dan melayani sesama. Ini menjadi dasar kekuatan dan kedamaian dalam hidup saya. Ketika masuk  gonjang ganjing kehidupan, maka keintiman yang begitu dekat dengan Sang Pencipta menjadi modal kekuatan. Namun lebih dari itu, inilah panggilan bagi setiap single yang ingin happy dalam hidup kesendiriannya. Dia pertama-tama memang diciptakan untuk Allah, membangun keintiman bersama Allah sendiri, berbicara tentang segala hal dengan Dia seperti sahabat terdekat, kapanpun, dimanapun.

  1. 3. Knowing himself

Di Taman Eden,  Adam menamakan semua hewan dan mulai menyadari kalau bentuk tubuhnya berbeda dengan gajah atau harimau dan tak menemukan kesepadanan atau chemistry dengan gajah atau binatang lainnya. Di Taman Eden Adam mulai mengenali tubuhnya sendiri, sehingga muncul istilah teologi tubuh. Dalam masa-masa masih single, Adam melihat dan mulai mengenali  apa yang terjadi dengan dirinya, pada tubuh dan dalam tubuhnya. Dia berkomunikasi dengan Allah namun juga berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan mengeksplorasi dirinya: perasaan, pikiran dan keinginannya.

Namun banyak single sibuk atau pengen cepat-cepat menjadi double tapi tak kenal  siapa dirinya sendiri.  Akibatnya ketika masuk dalam sebuah hubungan, dia semakin bingung dan semakin tidak bahagia karena tidak mengenal siapa dirinya sendiri juga. Namun  Adam tahu persis bahwa dirinya dan tubuhnya berbeda dengan semua binatang yang diberinya nama itu sehingga dikatakan bahwa dia tidak menemukan penolong yang sepadan dengan dirinya.

  1. 4. Responsibilities

Adam diberi tanggung jawab untuk memelihara taman, menjaga taman dan mengusahakannya. Hal ini membuat seorang single menjadi happy. Dia harus punya tanggung jawab dan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakan dan keputusan-keputusan yang dibuatnya. Dia harus menjadi pribadi yang bisa diandalkan. Adam bisa diandalkan oleh Allah atas seluruh kesejahteraan Taman Eden. Allah percaya akan kemampuan Adam dan Adam bisa dipercaya atas tugas yang diberikan.

  1. 5. Busy

Adam sibuk. Bukan single yang bengong-bengong atau luntang lantung tak keruan. Dia  tak berjam-jam nonton tv, lalu menuju ke kulkas, balik lagi ke TV, lalu ke kamar kecil lalu nonton TV lagi. Menghabiskan waktu percuma dengan kegiatan-kegiatan yang sia-sia.  Adam sibuk harus memelihara taman, menjaga taman, mengusahakan taman dan bertugas  memberi nama para hewan-hewan yang ditemuinya. Dia harus  berpikir, ada aktivitas yang dia lakukan.

  1. 6. Enjoy life

Saya membayangkan bahwa Taman Eden so beautiful dan juga luas. Sehingga terkadang Adam bisa menuju ke utara dan menikmati tamannya, keindahannya, mau makan tinggal cari buah yang paling enak. Lalu mengeksplorasi kawasan itu dan menikmati hidupnya di sana.  Dia tak berkata “Why.. why.. why.. saya sendirian”. Dia menikmati segala yang diberikan Allah di taman itu. Dia menguasainya, mencintai apa yang dia miliki dan mencintai Allah yang menjadi sumber kehidupan-Nya.

  1. 7. Content

Adam bukan pribadi yang kosong , gelisah , ketakutan, tak punya damai dan tidak terpuaskan. Dia pribadi yang tenang, tahu apa yang dia mau. Dia puas akan dirinya sendiri, mengenal dirinya sendiri, mengenal siapa penciptanya dan tidak kekurangan apapun. Adam bertemu Eve bukan dalam keadaan kering kerontang atau kosong melompong. Justru karena dia puas, penuh dan siap untuk berbuah maka barulah Allah memberikan Eve sebagai penolongnya. Bulan depan kita akan lebih mendalami bagian ini, dalam tema TLC selanjutnya : Take Me Out. Hal ini akan dikupas tuntas.

Kesepian

Dalam penelitian ditemukan bahwa setiap orang – entah single atau menikah – dalam satu tahun pasti 48 hari orang itu akan merasa kesepian walaupun ada di tengah keramaian. Tak harus single, mereka yang satu tempat  tidurpun salah satu masih bisa merasakan kesepian. Jadi kesepian bukan hak orang single, tapi bisa dialami oleh setiap orang. Setiap orang bisa merasakan hal itu. Namun seorang lajang makin merasa kesepian kalau dia berada atau berhubungan langsung dengan lingkungan yang merasa kesepian juga.

Biasanya wanita yang paling banyak merasa kesepian. Dan kesepian itu timbul dalam jaringan pertemanan lebih terasa dibandingkan dalam relasi keluarga. Orang yang jauh dari keluarganya atau putus hubungan dengan keluarganya, lebih mudah merasa kesepian.

Kebenarannya adalah…

Pertama, kesepian hanyalah perception of being alone atau merasa terkucilkan atau dia merasa sendirian namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Hanya sebuah persepsi yang dipikirkan karena situasi dalam hidupnya.

Kedua, kesepian adalah condition that is completely curable. Bukan selama-lamanya,  tak sepanjang segala abad amin. Kalau ada masa-masa merasa kesepian it’s curable,  karena itu cuma perasaan sementara dan bukan kenyataan sesungguhnya. Dalam kesendirian, dia perlu diolah, mulai dengan mengenali diri kita, apa yang terjadi dalam perasaan dan pikiran kita.

Pelarian

Banyak yang terjadi adalah kurang lebih pelariannya mirip kisah “Sex and The City”.

Berusaha mengisi kekosongan dan kehampaan itu dengan mencari supaya ada kehangatan atau merasa hangat.  Namun pelarian bukanlah sebuah jawaban yang benar. Apalagi bila bentuk pelarian itu adalah seks sebelum pernikahan. Ini bukanlah keputusan yang benar, tepat dan bertanggung jawab menurut Teologi Tubuh. Selain pelarian dengan seks hanya akan menambah kehampaan dan kekosongan yang semakin dalam. Beberapa alasan untuk tidak melakukan seks sebelum pernikahan:

10 reasons to say no to sex

1. God says no

Tuhan dan Gereja tidak menyetujui hubungan seks sebelum pernikahan. Bukan hanya untuk melindungi kekudusan pernikahan itu sendiri namun juga untuk melindungi si pelaku dari penipuan terhadap tubuhnya sendiri.

2. Blessing of the wedding night

Allah senang dengan yang pertama. Yesus anak pertama. Persembahan pada Allah selalu the best, terutama, terbaik Pasti ada blessing di balik peristiwa pertama kali yang berkenan sesuai dengan standard-Nya Allah.

3. Spiritually healthier

Karena tidak akan muncul rasa malu, rasa bersalah dan luka batin.

4. Physically healthier

Sekarang di setiap studio 21 ada peringatan soal  cancer cervic . Didengungkan di Indonesia resiko ini sangat tinggi. Artinya bila kita say no to sex before marriage maka  secara fisik akan menjaga fisik kita.

5. Emotionally healthier

Mereka yang free sex mudah terjebak dalam masalah emosional yang up and down secara drastis dan masuk dalam depresi yang dalam.

6. Our partner’s well being

Saya pernah mendengar penjelasan seorang pakar moral dan seks yang mengatakan bahwa orang yang freesex sebelum menikah, maka ketika dia berhubungan seksual dengan isterinya setelah pernikahan sebenarnya tanpa sadar dia sedang membawa semua pasangan-pasangan seksualnya dulu di saat berhubungan intim, termasuk juga segala sejarah seksual dan penyakit yang dideritanya. Intinya adalah  yang pertama di dalam Tuhan dan satu-satunya pasangan seksual adalah yang terbaik.

7. A test of true love

Ini sudah dibahas dalam TLC pertama bahwa true love waits.

8. No negative consequences

Tidak perlu MBA atau dipenuhi ketakutan menjalankan aborsi misalnya.

9. Christian testimony intact

Kesaksian hidup kita sebagai orang Kristen menjadi kuat dan tak tergoyahkan.

10. No less than God’s perfect will

Tidak mau menurunkan standard yang sudah ditetapkannya.

Sebuah Harapan

Bagi mereka yang sudah aktif secara seksual dan ingin mulai menjalankan gaya hidup chastity, maka ada sebuah buku yang bagus untuk dibaca berjudul “The Thrill of The Chaste – Finding fulfillment while keeping your clothes on” yang ditulis oleh cewek bernama Dawn Eden. Sampai umur 30,  dia menjalani gaya hidup free sex, sampai satu saat dia mengenal Theology of The Body dan mendalaminya lalu mengambil keputusan untuk hidup chaste.

Dia mengatakan, “Melalui chastity dan hanya lewat chastity seluruh anugerah-anugerah sebagai seorang wanita dapat merekah secara penuh dalam diri Anda. Dengan kata lain, bukan soal bagaimana cara menemukan para pria melainkan tentang siapa Anda saat bertemu para pria. Jagalah  ’siapa’ Anda, maka ‘bagaimana’ akan  menemukan caranya sendiri.

Chaste and Holy Friendship

Jalan keluar bagi orang lajang yang ingin memiliki kebebasan sejati, happy, sexy and smart adalah dengan menerapkan gaya hidup “Chaste and Holy Friendship”.

1. Membangun persahabatan dengan Tuhan.

Lewat doa, kitab suci. Membangun persahabatan dengan Tuhan lewat sakramen-sakramen. Ini persahabatan saya sebagai single dengan Yesus, Tuhan saya.

2. Persahabatan dengan diri sendiri.

Ketika sendirian kenalilah dirimu sendiri. Berbicara dengan diri sendiri, bukan seperti orang gila namun explore apa perasaanmu. Mengapa perasaan seperti ini bisa timbul dalam kesepian. Mulailah berdamai dengan diri sendiri. Berdamailah dengan perasaan kesepian yang dirasakan. Bila timbul pertanyaan dalam diri sendiri, “Kok yang lain sudah married tapi saya belum” maka mulailah berdamai dengan diri sendiri temukan cara unik untuk membangun persahabatan dengan dirimu sendiri.

3. Persahabatan dengan para orang kudus.

Orang kudus diberikan oleh Tuhan untuk kita dan mereka ada bersama kita. Dalam Kitab Ibrani 12 ayat 1 dikatakan bahwa para orang kudus adalah para saksi iman yang begitu banyak seperti awan yang menemani kita. Artinya saya tak sendirian, saya bersama Tuhan dan ada orang-orang kudus yang bisa berdoa, menguatkan dan menghibur saya. Blessed John XXIII yang ketika muda bernama Angelo Roncalli suka menulis diary. Dalam satu satu tulisan diarynya, beliau menulis seperti ini :

From the saints I must take the SUBSTANCE, not the accidents of their virtues. I am not St. Aloysius, nor must I seek holiness in his particular way, but according to the requirements of my own nature, my own character and the different conditions of my life. I must not be the dry, bloodless reproduction of a model, however perfect. God desires us to follow the examples of the saints by absorbing the vital sap of their virtues and turning it into our own life-blood, adapting it to our own individual capacities and particular circumstances. If St. Aloysius had been as I am, he would have become holy in a different way.” (Journal of a Soul)

  1. Holy friendship dengan sesama jenis
  2. Holy friendship dengan lawan jenis
  3. Holy friendship dengan pasutri dan keluarga

Meskipun emak-emak dan bokap-bokap tapi kita bisa ngobrol dengan mereka tentang struggle dan pengalaman mereka dan juga kita sendiri.

  1. Holy friendship dengan kaum selibat

Kembangkanlah persahabatan yang tanpa hubungan seksual dan juga kudus ini sehingga apakah singleness kita itu sebuah blessing atau curse itu ditentukan oleh kita sendiri.

Definisi kata Single dari sebuah website ini bisa menjadi kesimpulan kita untuk tema hari ini :

S – elective friendship

I – ntimacy with God

N - urturing talents and gifts

G – rowth in social skills

L - earning from mistakes (jangan diulangi)

E – nvisioning a bright future

TALKSHOW

Feli: Kalau dapat undangan perkawinan, diundang sendirian, ngak punya teman, gimana pergi ke sana dan tak merasa kesepian?

Rika: Buat mereka yang mengenal saya cukup dekat biasanya sudah tahu. Tapi ini sekaligus anggap saja memberitahu bagi mereka belum menikah atau akan menikah dan ingin mengundang saya dalam pernikahannya. Biasanya saya hanya akan hadir di gereja saat upacara sakramen pernikahan. Pertama karena saya malas berdandan untuk pergi ke pesta namun bisa juga dianggap menghindari para ibu yang mengenal saya untuk bertanya “Kapan neeh?…jangan-jangan pilih-pilih dong…”. Karena itu saya lebih memilih datang di misa saja,  kecuali orangnya mengancam dan jauh lebih galak dari saya hahaha…Sedangkan buat teman semua yang masih lajang, bisa diantisipasi dengan janjian dengan teman-teman yang single juga, biasanya berangkat bareng atau bertemu di lokasi pesta.

Feli: Apa menggunakan pesta itu untuk ajang cari cowok?

Rika: Mungkin bagi yang berusia usia 20th an ya, tapi usia sekarang rasanya tidak tertarik lagi, kecuali kalau yang suka berondong ya hehehe…

Kevin: Teman-teman  gw bilang mereka happy, itu pas rame-rame, pas pulang lagunya sendiri lagi. The problem is banyak orang menganggap dirinya happy. The questions is definisi single loe bener ngak neh?  Gw dulu menganggap sebagai seorang single yang okay adalah yang powerful bisa ngapain sesuka hati, ngak perlu cewek dan asyik-asyik aja tapi pas lagi acara kumpul-kumpul pulang ke rumah, ada satu kekosongan. Bukan berarti gw harus cari cewek tapi gue harus mengakui walaupun single ada pertanyaan untuk kekosongan. Berani ngak memasuki pertanyaan itu dalam hatinya. Paling gampang utk menghindari masalah adalah run away for it.

Tanya: tadi kak Rika bilang pernah hati.  how to cure a broken heart?

Rika: untuk sembuh dari broken heart maka jawaban utamanya adalah  pasti soal waktu. Tips-tipsnya paling segala sesuatu yang berhubungan dengan dia jangan disimpan, jangan dipajang terus fotonya. Kalau parah banget broken heartnya, ngak perlu sampe diinjak-injak fotonya tapi dibuang aja atau dikembalikan ke orangnya. Soal perasaan hanya bisa berjalan lewat waktu. Intimacy-nya dengan Tuhan gimana? Itu perlu. Luka yang paling ampuh utk proses penyembuhan adalah cinta dan cinta yang utama adalah cinta Tuhan sendiri. Orang yang content dalam cinta dengan Tuhan masih bisa patah hati tapi tak sampai bunuh diri karena dia bisa terus melakukan aktifitasnya dan dengan move on akan hilang dengan sendirinya. Tergantung pada orangnya itu sendiri berapa lamanya proses broken heart itu sendiri. Yang penting jangan berlama-lama, jangan dibumbui, pergi ke tempat yang lama penuh kenangan itu, maka tak akan sembuh-sembuh dan prosesnya jadi panjang berlarut-larut.

Tanya: tadi ada urutan single, learning from mistake, mistake apa yang pernah dilakukan oleh kak Rika?

Rika : Learning from mistake  dalam masa-masa sebagai single itu banyak. Misalnya dalam membangun sebuah relasi, tapi mistake bukan dalam arti relasi saja melainkan kesalahan-kesalahan yang membuat kita tak happy sebagai single juga bisa. Misalnya menghabiskan waktu terlalu banyak dengan nonton film atau drama serial. Ketika berusia 20an saya juga sama , yaitu nonton semua film yang romantic, film korea, waktu habis di sana dan ternyata hal itu tak membuat saya happy sebagai single bahkan ada masa jadi merasa orang paling miserable di dunia. Seiring waktu saya melihat hal ini tak produktif, bukan berarti saya tak nonton film lagi, tetap bisa nonton tapi hanya sebagai selingan bila memang ada waktu yang memungkinkan untuk itu dan tidak menghabiskan hari demi mengejar itu.

Sedang belajar dalam relasi adalah harus adanya boundaries yang kita tahu. Seharusnya kita tak kasih kesempatan seperti itu misalnya, yang tadi dikatakan soal knowing yourself. Kenalilah di mana titik kelemahan dan kekuatan kita. Tiap orang itu pasti berbeda-beda. Kelemahan dan kekuatan Feli pasti berbeda dengan saya dan Kevin. Saya harus bisa mengenali itu supaya tak masuk ke dalam dangerous area. Misalkan hanya dengan duduk berdua di kafe, ditengah keramaian dan lampu terang benderang kok gw bisa merasa terangsang ya maka kenalilah hal itu. Tahu kesalahannya di mana lalu next time I am learning from my mistake dan jangan mau ke sana lagi atau ke arah itu lagi. Jadi kenali dulu kelemahan-kelemahan dan kekuatan diri sendiri dan belajar dari pengalaman kesalahan itu untuk tak mengulangi hal yang sama.

Tanya: tadi cerita single happy mungkin aktivitas padat pekerjaan membuat lupa, cowok jadi tak penting. Saat ini jika ada yang memang benar-benar muncul apakah masih tertarik utk memiliki relasi dengan pria. Kadang single juga kebiasaan jadi kalau sudah habit tak perlu lagi apakah itu baik juga?

Rika: Saya tetap membutuhkan seorang pria. Pointnya betul,  ada banyak yang menjadi single karena kebiasaan dan sudah berada dalam zona aman karena kelajangan yang sudah begitu lama. Tapi dalam perjalanan waktu, seorang perempuan yang terlalu independent sebenarnya bukan happy, melainkan ada something yang harus dia dealt with dalam dirinya karena seorang wanita pasti membutuhkan seorang pria. Bukan dalam hal seks maksudnya, karena walau bagaimanapun pria dan wanita diciptakan itu untuk saling melengkapi. Banyak wanita atau pria single yang merasa bisa melakukan apapun dan tidak saling membutuhkan, ini tidak sehat. Ada sesuatu atau alasan yang membuat dia sampai pada keputusan itu karena pada  awal mula manusia diciptakan tidaklah demikian. Tadi sudah dijelaskan bahwa Adam menemukan bahwa tak ada yang sepadan dengannya. Sehingga sayapun tetap membutuhkan pria, ada sesuatu dalam diri pria yang melengkapi saya, namun bukan hal yang menyangkut soal seks. Contohnya kalo genteng rumah saya bocor, saya tidak akan naik ke atas betulin sendiri, tapi kalo ada cowok yang bisa dimintai bantuan maka biarlah cowok yang  melakukannya dan saya akan senang sekali ditolong.

Kevin: biasanya blind spot dalam masalah cowok atau cewek yang single, mereka terlalu rohani.  Sering ada jawaban, yang lumayan balance. Tuhan kan udah siapin buat gue, gue tunggu aja. Ada yang pernah bahkan percaya destiny, pas destiny gw cewek, atau cowoknya akan datang sendiri. Misalnya krisna 24 th. Misalkan Tuhan bilang destiny krisna usia 25 akan ketemu cewek yang cantik, that is your destiny. Setahun kemudian ketemu tuh cewek tapi karena lu pake javelin dia pake onyx maka  lu diputusin. Terlalu rohani dalam arti kita tak bisa menunggu saja. Kalau ready, utk yang cewek jangan nongkrong di rumah saja, enrich yourself dengan aktivitas-aktifitas positif sehingga pas jalan, ada cowok yang liat pengen kenalan. Cowok-cowok kalau merasa ada cewek memukau, jangan cuma diam, be a man, turun minta no telpnya, simple.

Tanya: buat kak Rika, topic single, smart and sexy, boleh dijelasin sexy sbg single itu seperti apa?

Rika: Sexy itu kan soal image. Salah satu masalahnya adalah image kita itu terbentuk bahwa yang namanya sexy itu harus seperti ini, misalnya sedikit memperlihatkan,  misalnya , buah dada …wuah sexy, atau bagian tubuh tertentu tapi kemudian kita menjadi terperangkap pada ilusi. Juga pengaruh-pengaruh dari pornografi dan kita terbentuk untuk berpikir bahwa yang sexy itu yang seperti itu-itu atau hal itu baru sexy. Padahal sexy itu bisa juga menyangkut soal attitude. Mungkin dia berpakaian lengkap tapi behave-nya sexy. Buat saya Mother Teresa is sexy bukan karena keriputnya tapi bagaimana dedikasi dalam hidupnya, cintanya pada orang-orang miskin, attitudenya terhadap orang yang terbuang menjadikan dia seseorang yang sexy bagi saya. Sehingga sexy atau tidak sexy itu menyangkut persepsi kita. Pertanyaannya atau masalahnya adalah apakah persepsi kita dipengaruhi dengan apa yang ada di dunia ini atau murni dipengaruhi hal-hal yang baik, murni dan kudus. Setiap kita pasti punya pandangan sendiri tentang sexy itu, bukan melulu hanya dibatasi soal tubuh tapi ada sesuatu yang lebih dari itu. Jadi mulailah kenali dirimu sendiri. Dan sexy tidak berarti selalu kotor dan selalu  berhubungan dengan ranjang, buah dada dan kelamin namun mungkin ada hal atau perbuatan tertentu yang dia lakukan. Itulah sebabnya saya bilang setiap imam itu sexy. Bukan karena bentuk tubuh atau ketampanannya. Bisa jadi dia biasa atau jelek tampangnya tapi yang membuat dia terlihat seksi adalah pengabdiannya dalam memenuhi panggilan hidupnya. Seorang pria yang tulen ,sehat dan pandai namun mau memberikan hidupnya untuk Tuhan dan Gereja,  itu sexy.

Soal Smart. Smart atau tidaknya seseorang itu bukan soal pendidikannya tapi keputusan  yang dia ambil atau buat dalam hidupnya. Tubuhnya boleh seperti Megan Fox tapi kalo keputusan yang dia buat itu justru menghancurkan hidupnya maka dia tidak smart. Kita memang terbentuk oleh pandangan media dan segala gembar gembor modernisasi. Bila melihat pada  zaman renaisance, maka wanita yang sexy atau cantik adalah wanita dengan perut besar dan gemuk yang bisa dilihat dalam lukisan-lukisan di Roma,  itu yang sexy. Kalau dia single tapi jalan dengan suami orang itu tidak smart. Bila dia single berpendidikan lulus cum laude di luar negeri tapi memutuskan untuk mau menjadi simpanan konglomerat dengan menjalankan tiga perusahaan , buat saya dia tak smart. Bisa jadi dia dianggap sexy menurut ukuran dunia sekuler tapi itu bukan smart yang mau dibangun dalam TLC ini. Smart adalah bila dia membangun  relasi dengan Tuhan dalam kelajangannya, mengambil keputusan-keputusan yang benar dalam hidupnya, sehat secara emosional, fisik dan spiritual. Itu smart.

Feli: messagenya redefining the sexy and smart.

Feli : Bagaimana memulihkan kepercayaan sesudah ditipu?

Rika: Terapkan original solitude dalam diri sendiri.  Misalnya ditipu cowok atau cewek, maka jangan cepat-cepat masuk dalam relasi yang baru. Berjalanlah sendiri dulu, temukan diri sendiri, explore your talents and gifts. Bangun relasi dengan Tuhan dan terapkan point-point solitude, maka orang itu akan bisa move on dan pulih.

Kevin: biasanya kalau habis ditipu, atau diputusin secara tidak baik-baik , maka cowok dan cewek jadi pahit. Jangan jadi orang yang pahit. Sepahit-pahitnya apa yg telah dialami jangan mengeneralisasi dan percayalah karena original design yang Tuhan berikan bukan kepahitan tapi kebahagiaan sejati.

Tagged with:  

Keperawanan dan Kemurnian

by: Redi

Mzm. 119:176 Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan.

Saya mengingat suatu memori saat saya masih kelas 4 SD, di komunitas Putra Altar di tempat saya tumbuh, heboh akan berita pencurian. Kami sibuk mencari siapa di antara teman-teman Putra Altar yang kiranya menjadi pelaku pencurian yang korbannya teman-teman satu komunitas itu. Kejadiannya sudah berkali-kali. Akhirnya ditemuilah satu tersangka, meskipun belum tertangkap basah juga waktu itu.

Dalam rapat pleno, karena waktu itu ada penggabungan kepengurusan dengan koor anak-anak yang notabene perempuan semua, saya ikut di sana. Mayoritas anggota rapat menuntut agar teman kami yang sering mencuri ini supaya dikeluarkan dari organisasi. Frater pembimbing pada waktu itu melarang, hanya dia yang melarang agar kami tidak membuat teman kami ini makin terpuruk. Dia bilang, seperti Yesus yang mencari domba yang hilang, kita pun perlu membantu teman yang sesat ini untuk pulih.

Memori yang sudah tertimbun tersebut kembali muncul ke permukaan beberapa waktu lalu. Saat itu saya mengajak seorang teman, yang saat ini sudah janda beranak satu berusia 26 tahun untuk mengikuti serangkaian acara True Love Celebration. Tapi dia bilang, “Nggak ah Red, aku udah nggak murni lagi, aku udah nggak virgin.”

Apakah kemurnian itu identik dengan virginitas? Apakah yang harus kukatakan soal virginitas dan kemurnian pada temanku itu? Bukankah kemurnian itu suatu usaha hidup baru?

Tagged with:  

10 Cara Menuju Hidup Murni

-Tips and Tricks-

Cinta sejati menuntut mata yang selalu menuju kepada Tuhan. Cinta sejati bukan mainan ecek-ecek dengan tantangannya yang sungguh kelas berat. Cinta sejati menuntut kemauan baja dan mentalitas tinggi.

Namun, kemauan baja bisa tiba-tiba saja meleleh dalam sekejap.

Salah satu penyebabnya? Overdosis persepsi seksualitas yang sudah terlanjut disalah kaprahkan. Majalah, iklan tv dan juga dvd-dvd saat ini tak hentinya memborbardir kita dengan persepsi mereka tentang bagaimana gaya hidup seksual yang seharusnya dijalani pembaca ataupun penontonnya. Sekian kalinya dalam sehari kita disuguhi pemandangan ataupun bacaan yang terus mendistorsi kebenaran cinta sejati.

Niat baja pastinya adalah modal kita untuk memulai hidup murni. Simak sepuluh cara berikut untuk terus mengasah mata hati supaya tetap mengarah kepada Tuhan demi mendapatkan cinta sejati kita masing masing. 

  1. Berdoa mohon kemurnian setiap pagi.  Tiga kali Salam Maria kepada Bunda  biasanya membantu.
  2. Waspadai dan jauhi hubungan sepertinya akan menjadi hubungan tidak murni bahkan sebelum hubungan itu terjalin erat.
  3. Saat berpacaran, jauhi tempat ataupun situasi yang mengundang ‘bahaya’. Kuncinya adalah kenali ‘bahaya’mu masing-masing. Apakah itu tempat remang-remang, sepi, segala tempat yang menyediakan minuman beralkohol ataupun nomat berduaan di siang hari, kenali ‘bahaya’mu baik-baik dan jauhi dia sebisa mungkin.
  4. Diskusikan dengan pasanganmu akan batasan-batasan dan ekspektasi masing-masing pada masa awal pacaran. Yakinkan kalian mengerti pendirian masing-masing supaya tidak perlu ada perdebatan ‘aku kira kamu kira’ di kemudian hari.
  5. Carilah teman untuk saling mendukung gaya hidup murnimu itu.
  6. Double Date! Triple Date! Makin rame, makin asik. Pastinya pergilah dengan pasangan-pasangan yang bersama-sama mengupayakan hidup untuk cinta sejati.
  7. Jauhi lagu-lagu, majalah ataupun tontonan yang terus mengundangmu untuk hidup tidak murni. Tidak ada pernah kata terlambat untuk berputar arah walaupun kamu sudah sampai ke website yang kesekian ataupun menghabiskan majalah yang kesekian.  
  8. Dengarkanlah saran dari teman ataupun keluarga yang menjalankan hidup Kristiani sepenuhnya.
  9. Pengakuan dosa sekali sebulan akan terus mengingatkan akan niat dan kemauan kita. Jangan pernah malu untuk mengakukan dosa-dosa yang sama lagi dan lagi dan lagi karena percayalah kamu tak sendirian. 
  10. Jangan pernah ragu untuk berkata ‘TIDAK’ bila keadaan sudah berada diluar kendali.

Saat dirasa cobaan sungguh berat untuk hidup murni, jangan pernah bilang menyerah sebelum kamu coba sepuluh langkah diatas!

Sumber : Theology of The Body for Teens ­­– Jason & Crystalina Evert and Brian Butler

Tagged with:  

Melepas Seks bebas, Pornografi dan Masturbasi – A Testimonial

by: salah satu peserta True Love Celebration

Perjalanan meninggalkan adiksi adalah sebuah perjalanan panjang yang seakan tak berujung. Banyak yang merasa terintimidasi oleh tekanan sosial, himpitan hati maupun reaksi fisik saat adiksi mulai dilepaskan. Banyak juga yang belum menemukan alasan kuat untuk meninggalkan adiksi mereka. Simak perjuangan salah satu hadirin True Love Celebration yang telah menemukan sebuah alasan untuk berani mengambil langkah pertamanya menuju kemurnian sejati.

Pertama banget ikut TLC di bulan Maret, aku tidak begitu bisa enjoy. Namun ada beberapa tulisan dari Paus Johanes Paulus II yang ditampilkan di layar, cukup menolong aku. “Chastity frees us to love” dan “Chastity is the sure way to happiness.” Dua filosofi ini cukup mengagetkan aku dan membuat aku terus mengingat dan merenungkannya selama beberapa hari ke depan. Aku terus bertanya dalam hatiku, kalau Paus berkata begitu, lantas mengapa aku dalam upaya menggapai “kebahagiaan” harus lewat pornography, masturbasi dan free sex life style ? Mengapa bukan lewat kemurnian? Meskipun tulisan Paus JP II pelan-pelan mulai menerangi kegelapan budiku, aku terus tetap saja melanjutkan cara hidupku yang lama karena aku sudahter lanjur cinta dengan sex bebas. Keluar dari sex bebas, pornography dan masturbasi, sepertinya sesuatu yang mustahil bagiku.

Kedua kali ikut TLC di bulan April. Dalam perjalanan sampai masuk ke gedung Indocement, aku masih ogah dan terus bertanya dalam hati, bisa apa sih sebetulnya TLC ini berbuat bagiku ? Aku berharap TLC dapat menolongku yg sudah puluhan tahun terikat pornography, masturbasi dan sex bebas. Bagiku, daya tarik sex itu begitu powerful, sementara aku begitu powerless. Ketika sesi tanya jawab, aku dikasih tahu oleh Sdr. Riko, bahwa apa yang sedang saya lakukan selama ini adalah terus mengisi kekosongan dan kehausan jiwaku dengan pornography, tapi nantinya akan haus dan haus lagi. Riko juga bilang bahwa hanya “cinta Tuhan” lah yg mampu memuaskan hatiku, “oleh sebab itu saat berdoa bukalah hatimu, biarkanlah cinta Tuhan memuaskanmu.”, begitulah nasehat singkat darinya.

Sampai di rumah, aku merubah sikap doaku. Selama ini aku rajin mengikuti Misa Kudus dan rajin berdoa Rosario, namun rupanya aku lupa “membuka hatiku” bagi cinta Tuhan yang mampu memuaskan hati dan jiwaku. Sesudah membuka hatiku kepada cinta Tuhan di dalam doa-doa harianku, aku perlahan merasa dipulihkan dan disembuhkan. Aku merasa hidupku jauh lebih bahagia, jauh lebih damai tanpa butuh pornography, masturbasi dan sex bebas. Inikah mutiara hidup bahagia yang aku cari-cari selama ini? Aku kaget, aku pikir keluar dari keterikatan sex bebas adalah sesuatu yang mustahil seperti yang aku sebutkan di atas. Ternyata keluar dari keterikatan sex bebas itu adalah sesuatu yang mungkin, asalkan di dalam doa mau membuka hati kita akan cinta Tuhan yang mampu memuaskan hati dan jiwa kita. 

Pertemuan TLC yang ketiga, aku pergi mengaku dosa karena sudah ada setengah tahun aku tidak menyambut Tubuh Kristus meskipun masih tetap ikut Misa Kudus. Kini aku semakin rajin berdoa Rosario dan ikut Misa Kudus. Perjuanganku tentu saja belum selesai, hidupku yang dahulu begitu sensual masih sangat menggoda untuk come back lagi. Rasa rindu ini cukup mengganggu. Namun aku fight dengan doa-doa-ku. Syukur kepada Tuhan, rahmat Tuhan sangatlah menolong sehingga aku tetap hidup setia dan terus mencintai kemurnian.

Aku tidak tahu apakah tulisan ini membantu orang lain atau tidak.

Yang jelas sekarang aku sungguh percaya bahwa “Chastity is the sure way to happiness.”

Aku sedih mengapa baru sekarang aku tahu bahwa sebenarnya aku tidak butuh sex bebas, masturbasi dan pornography.

Sungguh sebuah kebenaran akan apa yg dikatakan oleh Paus JP II, bahwa hidup murni (kemurnian) bukanlah suatu beban.

Tuhan Yesus memberkati.

Sesuai yang disampaikan ke redaksi True Love Celebration oleh seorang peserta yang memilih untuk menyembunyikan identitasnya. Layangkan dukungan, tanggapan ataupun pertanyaan anda melalui comment box dibawah atau email ke info@truelovecelebration.org untuk selanjutnya kami sampaikan ke penulis.

Tagged with:  

Falling In (and Out of) Love

Written by Felicia

“He woke up one day and he just decided he does not love me anymore.” Susie said with hurt screaming from her eyes. This came straight from an episode of a popular TV series, but how often do you actually hear a version of such statements from your very own friends? “I’ve lost my feelings (ilfil to borrow the common Indo term) for him, so I’m trying to make him dump me so his ego won’t get bruised”. A girl confessed to me just a few months back. Or perhaps, listen to this 28 years old friend of mine who proclaimed he’d fallen in love with more than 30 girls (that he remembered) since he was 14 years old. That’s a rate of about 2 love found and lost per year. Imagine that.

Has it become that easy to fall in and out of love? Or are we all just so confused with the concept of love? We give all of our hearts with all the love that they’re capable of, and then we get hurt. Then somehow along the lines, intentionally or not, we hurt someone else.. Creating this endless cycle of hurt. It seems like everybody knows that nobody really knows how to make it work or how to ease the hurt, as John Legend would say.

Ask a random person on the street of any age what they think love means, and they will all have different answers. “Love is for the mushy kind”. “Love is everything”. “Love is the air that I breathe”. “Love is for boys band and Hollywood rom-coms”. Ask them what love lost is like, and they all seem to agree that it feels a lot more painful than toothache. How could this “love” that no one could agree the meaning of, can feel the same way when it’s robbed away from you? Or is it because we all have our own interpretation of love, we have so much heartaches in the world? Don’t you wish sometimes that they have a Love101 Class at school or even at University to explain really what love means? Perhaps with that we could’ve kept the one who got away. Perhaps with that we could avoid those dating mistakes we’ve done in the past. Perhaps with that we could’ve kept that beautiful relationship we once had going strong.

Everyone “Oooh” and “Aaah” when they see mature couples with graying hair, holding hands and ever so sweet teasing each other. Everyone wants to be the couple that could live out their wedding vows. Everyone wants to maintain the excitements and the spontaneous energies that youth romance seems to resemble. The thing is, most of us just don’t have a clue how to get there. We’re just walking in the dark, grabbing anything that looks promising enough to hold on to, and cling on for dear life. A quote from your wedding cards perhaps. A status update from your boyfriend perhaps. A promise. A smile. A hug. A beep-beep from your Blackberry Messenger showing a heart emoticon, maybe. Anything. We’ll hold on to anything to convince ourselves that we are still in love, or that they’re still in love with us. That “Hey, I do exist in this world for a reason, and that reason is none other than love.”

What if I tell you, there’s a solution to all of that? Some would argue that it’s THE solution, but for now, I’ll tell you that it’s a solution worth checking out. You can decide later whether it’s THE solution for you, or not.

True Love. Only the Chaste men and women are capable of true love. –JP II, Theology of the Body-

-Yes. Heard it. Got the jest of it. Not understanding any of it-

Let’s try this then. What if I tell you that love comes with responsibility? As every changes start with you, yes you, let’s start with you. Think about the person you love. Now suppose that you are responsible to their very well being, physical and emotional, at present and in the future. Remember that what you do today have a strong correlation to what will happen to both of you in the future. Will any of your actions toward them change? Will any of your activities be different? Have you considered how it is going to impact your loved one every single time you make a big decision for your own progression? Now imagine that your loved one consider the very same thing before they do anything for their own good.

- Okay….. that’s just common sense. So what does it have to do with being chaste?-

Chastity, my friend, is all about purity. It’s purity of the body, mind and soul. It’s a situation and a condition when we utilize them all to glorify God. It’s all about emptying our own selves, stripping ourselves from our own ego, and giving the best for our loved one. Practical wise, it’s what enables a couple of love-struck teenagers to wish the best for each other futures, including not adding unnecessary troubles such as unwanted pregnancy, giving false hopes, playing games with feelings and being flirting tornadoes to inflate one’s ego. It’s also what enables married couple to consciously love (notice: love as a verb) their partners even when they find no reason to.

- All words, no actions. I need living proof –

The beauty of chastity is that you can be one of the living (and breathing) proofs, starting from the minute you decide that yes, you’ve had enough with all the distorted views on love. Come and explore www.truelovecelebration.org for more information. Visit www.chastity.org for even more answers.

Tagged with:  

This Generation Speaks 3

This Generation Speaks 2

Page 1 of 212
© 2010 True Love Celebration