Hidup adalah serangkaian pilihan yang kita buat.
Seringkali kita dihadapkan pada sebuah titik dimana kita harus membuat pilihan. Entah itu titik dimana kita harus memutuskan untuk meninggalkan perusahaan yang lama dan mencoba peruntungan di tempat yang sama sekali asing. Ataupun memutuskan untuk berkomitmen mengambil langkah selanjutnya dengan hubungan kita dengan pasangan.
Salah satu imbas dari luasnya pergaulan masa kini pun tak jarang kita ditempatkan pada posisi dimana kita harus memlih diantara dua wanita ataupun lelaki untuk kemudian dijajaki lebih lanjut. Saat kepala pusing mau pecah memikirkan langkah apa yang sebaiknya dijalani selanjutnya, kadang kita seakan berharap supaya Tuhan saja yang memilihkan yang terbaik untuk kita.
Maka doa kitapun terkadang berubah menjadi, ‘Ya Tuhan, tutup saja semua jalan yang buruk adanya, sehingga cukup yang terbaik untuk masa depanku saja yang tersisa.’ Baik memang adanya kepasrahan tersebut, namun tentunya bukan itu tujuan Allah pada awal mulanya memberikan kemampuan untuk berpikir dan berkehendak bebas.
Di saat-saat genting seperti ini justru kita diharapkan untuk menentukan sikap, memilah dan mempertimbangkan, lalu memutuskan dengan langkah kaki yang mantap. Dengan sesuai kehendakNya tentu, tetapi bukan artinya lalu kita bisa begitu saja lepas tangan atas apapun yang terjadi. Disitu pertanggung jawaban kita akan pilihan hidup kita masing-masing akan diuji.
Lalu bagaimanakah cara kita, sebagai manusia, mengetahui bahwa pilihan tersebut sesuai kehendak-Nya? Ada lima langkah yang dapat kita dalami lebih lanjut. Dalam bahasa Inggris langkah tersebut bisa disingkat menjadi Five Cs. Conformity to God’s will, Conversion to God, Consistency, Confirmation dan Conviction of the Heart sebagai berikut:
1. Conformity to God’s Will – Sesuai dengan kehendak Tuhan
Yang pertama, pilihan tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahwa pilihan itu masih dalam jalur-jalur sesuai apa yang telah diajarkan sepuluh perintah Allah, gereja dan sesuai pengajaran-pengajaran kitab suci yang telah kita dalami. Misalnya: Pilihan pekerjaan yang mengharuskan kita menanda-tangani berkas-berkas untuk menggelapkan uang bagaimanapun caranya, sudah jelas tidak sesuai dengan kehendakNya, sehingga apa yang tadinya bisa jadi salah satu opsi dalam pilihan hidup kita menjadi bukan suatu rute yang perlu dijajaki lagi.
2. Conversion to God – Mendekati Tuhan
Apakah pilihan tersebut akan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan atau menjauhi-Nya. Saat kita dihadapkan pada pilihan pergaulan yang beragam-ragam, pada suatu titik pastinya kita akan diharuskan untuk memilih di lingkungan mana kita akan menghabiskan sebagian besar waktu kita. Suatu lingkunan yang membawa kita semakin menjauhi keberadaan Tuhan, bahkan condong untuk menolak keberadaan-Nya, bukanlah lagi suatu pilihan. Pilihan-pilihan yang tepat akan membawa kita semakin mendekat kepada-Nya.
3. Consistency – Konsisten
Bagaimana cara Tuhan berbicara dengan kita biasanya konsisten. Saat mimpi dan tujuan kita sudah ditanam di lubuk hati kita terdalam, apa yang terbaik bagi kita biasanya tak akan jauh-jauh dari panggilan kita tersebut. Sehingga, seorang pemusik yang sejauh ini tekun mendalami pekerjaannya dan pada suatu pagi terbangun dan terpikir untuk mulai menggeluti dunia perbankan karena melihat siaran televisi di malam sebelumnya yang seakan memanggil namanya keras-keras, pastinya harus mendalami lebih lanjut lagi apakah yang sebenarnya dikehendaki Tuhan daripadanya.
4. Confirmation – Konfirmasi
Dalam proses pemilihan keputusan yang penting di dalam hidup kita, ada baiknya kita berbagi dilema kita tersebut ke seseorang yang sudah dewasa secara emosional dan spiritual. Seseorang yang kita yakini mempunyai hubungan intim dengan Tuhan dan telah menjalankan pilihan-pilihan hidupnya dengan komitmen penuh dan terbukti sesuai di jalanNya. Feedback mereka bisa menjadi peneguhan atas pilihan yang akan kita ambil. Yang perlu diwaspadai adalah menceritakan kepusingan kita ini kepada sesama teman yang juga masih labil dan goyah dalam pendirian hidupnya. Layaknya orang buta yang memimpin orang buta, tak ada yang tahu pasti kemana arah kaki mereka menapak.
5. Conviction of the Heart – Keyakinan Hati
Hal yang tak kalah pentingnya adalah keyakinan hati kita sendiri. Saat kita telah memutuskan untuk mengambil keputusan tersebut, cobalah untuk mengambil sejenak masa berdiam diri. Meresapkan keputusan itu dan merasakan jauh di lubuk hati kita apakah ketenangan dan kedamaian yang kita temui, atau justru badai dan ombak yang menggila? Beberapa keputusan yang menimbulkan riak-riak dalam hidup kita tidak seharusnya terjadi bila kita berhati-hati mendengarkan suara hati kita sendiri pada masa-masa genting di awal perjalanan tersebut. Suara ini yang sering kali teredam oleh kegirangan dan excitement kita dalam mengarungi sesuatu yang baru dan asing. Entah itu pacar baru ataupun pekerjaan baru.
Lima langkah C di atas tentunya hanya sebagian kecil saja dari berbagai macam cara untuk menentukan pilihan. Bila alam logika kita mempunyai segala macam cara dari Feasibility Analysis hingga Tabel Pemutusan Pilihan dengan segala hitungan rumitnya, pada akhirnya semua tergantung pada hati kita masing-masing. Namun, yang perlu diingat juga adalah, apapun pilihan yang kita pilih, ketahuilah bahwa Tuhan menyediakan berkat yang berbeda-beda di setiap jalan tersebut. Komitmen dan tanggung jawab akan terus diuji seiring berjalannya waktu, namun satu yang pasti, Tuhan tak akan berada jauh dari kita, ke arah manapun langkah kaki ini memilih untuk melangkah.








