Testimonial : Tuhan Katakan Kasihilah Sesamamu. Benarkah?

written by: Anonymous

Cinta datang bagi siapa saja, kapan saja, pada siapa saja. Nampaknya semua mencari cinta sejati, apapun itu bentuknya, bagaimanapun itu menunjukkan dirinya. Simak kisah salah seorang teman kita, yang memilih untuk menyembunyikan identitasnya, dalam pergumulannya dan masa pencariannya.

***

Bulan pertama gue dateng ke True Love Celebration, di bulan itu juga cobaan gue dimulai. Gue gak tau itu kebetulan atau enggak, dan kayaknya gak gitu penting juga apakah iya atau enggak. Bulan-bulan itu gue mulai deket sama nih cewek satu. Cantik. Manis. Tomboy. Takut Tuhan. Dia ngajak gue berdoa tiap malem awalnya dan selalu ngajakin ke gereja. Seneng banget rasanya akhirnya punya temen deket lagi. Yang bisa diceritain macem-macem, yang sabar, yang perhatian dan yang hobi banget buat gue ketawa.  Masalah mulai datang saat kedekatan itu membawa kayak sebuah dimensi baru. Dari yang awalnya memang gue udah curiga dia agak-agak naksir gimana, akhirnya gue tepiskan jauh-jauh dan akhirnya gue anggap angin lalu, akhirnya gue sadar penuh bahwa dia emang bener-bener suka lebih dari teman, berdasarkan satu dan lain hal. Dan guepun perlahan mulai merasakan hal yang sama. Masalahnya dimana? Masalahnya gue cewek. Yang sumpah demi apapun yang boleh di sumpah, sejauh ini selalu suka cowok.

Susah sekali menggambarkan apa yang terjadi antara otak gue, perasaan dan kehidupan spiritual gue. Seakan lagi ada perang dunia keseribu di dalam.

Nyaman banget pastinya saat berdekatan dengannya. Berbagi hari, berbagi cerita. Pada awalnyapun, dan mungkin sampai sekarang, gue merasa bahwa Tuhan yang mengirimkan dia untuk membobol dinding yang gue bangun tinggi-tinggi untuk menjaga luka-luka lama gue sendiri. Saat itu, dan sampai saat ini juga, gue melihat dia sebagai seorang cewek yang saking sudah penuhnya dengan cinta Tuhan, sampai mencari-cari lubang terdalam yang dia bisa temuin untuk dia bagi cintanya itu. Tanpa pandang bulu.

Dan bukankah itu juga yang Tuhan mau? Kasihilah sesamamu, katanya. Dan itulah yang dia lakukan.

Bila hubungan berlanjut ke arah yang tidak diinginkanNya, wah, entahlah apa maksud dari semua itu. Emang guenya penasaran aja kali? Gak tau jugalah. Yang jelas sejak saat itu gue merasa jauh dari Tuhan. Seperti gak layak masuk ke dalam rumahNya. Berdoa di dalam kamar jadi nyiksa banget karena gue ngerasa Tuhan gak seneng dengan ini semua. Apalagi setelah session demi session dari TLC seakan mengingatkan gue bahwa hey.. gak bener ini semua. Ada sebabnya banget lelaki dan wanita diciptakan, dan bukannya wanita dan wanita.

Sudah dua kali gue ngaku dosa dan pulang dari acara TLC dengan tekad akan menyelesaikan segalanya. Sudah dua kali juga gue kayak lupa ingatan saat disambut oleh pelukannya. Oleh kehangatannya. Oleh penerimaannya akan diri gue apa adanya sampe sebobrok-bobroknya. Sampe rasionalitas gue kadang berpikir. Sebenernya mau Tuhan apa sih. Kenapa manusia dimampukan untuk suka sesama jenis kalau emang gak boleh? Kenapa manusia di beri kebebasan kalo sebenernya gak boleh. Tapi ya namanya niat, apapun juga bisa di rasionalkan. Hubungan kayak pacaran tapi bukan itu pun jadi terus berlanjut secara diam-diam dengan segala pembenaran pribadi yang gue lakukan setiap harinya.

Guepun sempet melakukan riset kecil-kecilan dengan browsing mengenai gaya hidup ini. Dan ternyata disitu gue temukan banyak pengalaman dimana mereka adalah hamba Tuhan yang taat yang kebetulan mencintai sesama jenis. Walopun kebanyakan hidup dalam kerahasiaan, gak sedikit juga yang ternyata adem tentram hidup bersama pasangannya masing-masing, dalam gaya hidup yang udah kayak hidup rumah tangga suami istri selayaknya. Di bulan-bulan itu gue banyak bergumul. Sebenernya maunya Tuhan apa sih? Mau curhat kesiapa ya gak ngerti juga, palingan dibilang salah, dosa dan seterusnya.  

Sampe pada suatu hari dimana gue dateng ke kawinan gereja temen gue sendiri. Disitu gue liat betapa indahnya dia dengan baju pengantinnya, dengan veilnya yang menjuntai, dan betapa sumringahnya wajahnya. Disitu gue liat betapa hepi wajah bokapnya saat menyerahkan anaknya. Disitu gue liat mata si lelaki saat ngeliat temen gue itu mengucapkan janji pernikahan. Disitu gue kayak di tabok. Kenceng banget. ‘Liat tuh. Katanya sayang sama cewekmu itu. Kamu gak mau dia ngerasain pernikahan kayak gini? Kamu sendiri juga gak mau ngerasain ini semua?’ Seakan gue diingatkan bahwa “hey… jangan egoislah. Kamu tau cewekmu itu kalo ketemu cowok yang menyayanginya sepenuh hati juga akan bahagia nantinya.”

Mulai hari itu perjuangan berat dimulai. Putus. Nyambung lagi. Mencoba jauh lagi. Marah-marahan. Ngambek-ngambekan. Berdekatan lagi. Menjauh lagi. Dan sampai saat ini, setiap hari demi hari, berjuang berat untuk gak manja-manja, gak nanyain apa kabarnya setiap menit dan memikirkan apakah dia sudah makan atau belum. Hal-hal yang sebelum semua ini tak pernah harus kupikirkan untuk seorang ‘teman’. Berat. Sepi. Dan pergumulan ini sepertinya masih panjang. Belum lagi serentetan pertanyaan kenapa ini semua mesti terjadi. Tuhan tau sendiri betapa pada awal-awalnya dulu gue bangun tembok tinggi-tinggi untuk menolak segala perhatiannya. Setelah sukses dirobohkan kok ternyata gak boleh juga kalo deket-deket amat.

Sepi. Kembali sendiri. Apalagi kalo mikirin kayaknya gak banyak orang yang akan simpatik-simpatik amat mendengarkan kisah ini. Siap di hujat. Siap di cerca. Tapi gue tau gue ngejalanin ini buat siapa. Sering disaat gue mulai ragu, goyah dan pengen menghalalkan segala cara supaya bisa kembali deket sama dia, pertanyaan yang sama selalu datang “Do you love Me more than you love her?”. Plak. Kena tabok lagi. Jadilah mantra gue “I love Jesus more than I love her.” And I do.

by: anonymous

***

Editor: Untuk pesan yang ditujukan kepada penulis secara pribadi dapat kami salurkan melalui info@truelovecelebration.org

Tagged with:  

Cinta Tuhan adalah Mukjizat dalam Hidupku

Seperti yang diceritakan Antonius kepada Redi.

- Ini adalah sepenggal kisah dalam hidupku yang mengajarkan aku betapa berartinya sebuah kehidupan dalam hidupku.

Tahun 2006 tepatnya awal Mei aku menginjakkan kaki di ibu kota, berharap dari kampung mendapat kehidupan yang lebih baik. Ah, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Sambutan Ibu Kota tidak ramah. Uang yang aku bawa dari kampung tidak cukup untuk menyewa tempat tinggal. Bahkan untuk makan dua hari pun tidak cukup. Aku bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang teman yang mengajak aku mengamen. Akhirnya aku pun berbaur dengan kehidupan jalanan dan sejenak melupakan mimpiku karena aku memang sudah hanyut dalam keputusasaan.

Tahun 2007 akhirnya aku mendapatkan sebuah pekerjaan. Betapa senang hatiku. Mimpiku kembali dan aku banyak berharap dari pekerjaanku.  Karena begitu senangnya aku lupa dengan semuanya. Aku menjadi terbuai dengan sejumlah uang yang dipercayakan Boss kepadaku. Uang yang diamanatkan kepadaku diselewengkan, aku gunakan untuk berfoya-foya dan membeli sebuah sepeda motor.

Terjadilah suatu peristiwa yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku. Mungkin Tuhan marah padaku. Siang itu seperti biasa aku mengerjakan tugasku sebagai seorang Sales. Aku tidak punya firasat apa-apa. Seperti biasa aku dan teman-teman bertaruh adu cepat sampai ke kantor dengan uang taruhan Rp. 100.000,-. Aku menyanggupi tantangan itu. Memang hari itu pikiranku lagi semrawut. Aku tidak konsentrasi. Belum sampai ke kantor tiba-tiba di tengah jalan ada truk SPBU melintang. Dengan kecepatan tinggi aku pun tidak dapat menghentikan laju motorku yang memang sengaja tidak dilengkapi dengan rem. Aku pun menabrak truk itu dan tak sadarkan diri.

“Apa yang membuat kamu hidup?” tanya dokter ketika aku bangun dan tersadar. Ternyata aku koma selama dua minggu.
“Saya masih punya adik dan ibu di kampung,” jawabku dan aku ceritakan semua yang aku alami kepada dokter.

Setelah sembuh aku pun merenungkan apa yang telah aku lakukan, Aku menyesal atas semua perbuatanku. Dari situ aku mulai belajar bagaimana berartinya sebuah kehidupan dalam diriku. Aku berjanji tidak akan mengulang semua kesalahanku. Aku pun mulai mengubur semua masa laluku. Aku keluar dari perusahaan itu dan mulai dengan kehidupan baruku. Aku mulai percaya Tuhan menyertaiku dan cinta Tuhan adalah mukjizat dalam hidupku.

Seperti yang diceritakan Antonius kepada Redi.

Tagged with:  

Melepas Seks bebas, Pornografi dan Masturbasi – A Testimonial

by: salah satu peserta True Love Celebration

Perjalanan meninggalkan adiksi adalah sebuah perjalanan panjang yang seakan tak berujung. Banyak yang merasa terintimidasi oleh tekanan sosial, himpitan hati maupun reaksi fisik saat adiksi mulai dilepaskan. Banyak juga yang belum menemukan alasan kuat untuk meninggalkan adiksi mereka. Simak perjuangan salah satu hadirin True Love Celebration yang telah menemukan sebuah alasan untuk berani mengambil langkah pertamanya menuju kemurnian sejati.

Pertama banget ikut TLC di bulan Maret, aku tidak begitu bisa enjoy. Namun ada beberapa tulisan dari Paus Johanes Paulus II yang ditampilkan di layar, cukup menolong aku. “Chastity frees us to love” dan “Chastity is the sure way to happiness.” Dua filosofi ini cukup mengagetkan aku dan membuat aku terus mengingat dan merenungkannya selama beberapa hari ke depan. Aku terus bertanya dalam hatiku, kalau Paus berkata begitu, lantas mengapa aku dalam upaya menggapai “kebahagiaan” harus lewat pornography, masturbasi dan free sex life style ? Mengapa bukan lewat kemurnian? Meskipun tulisan Paus JP II pelan-pelan mulai menerangi kegelapan budiku, aku terus tetap saja melanjutkan cara hidupku yang lama karena aku sudahter lanjur cinta dengan sex bebas. Keluar dari sex bebas, pornography dan masturbasi, sepertinya sesuatu yang mustahil bagiku.

Kedua kali ikut TLC di bulan April. Dalam perjalanan sampai masuk ke gedung Indocement, aku masih ogah dan terus bertanya dalam hati, bisa apa sih sebetulnya TLC ini berbuat bagiku ? Aku berharap TLC dapat menolongku yg sudah puluhan tahun terikat pornography, masturbasi dan sex bebas. Bagiku, daya tarik sex itu begitu powerful, sementara aku begitu powerless. Ketika sesi tanya jawab, aku dikasih tahu oleh Sdr. Riko, bahwa apa yang sedang saya lakukan selama ini adalah terus mengisi kekosongan dan kehausan jiwaku dengan pornography, tapi nantinya akan haus dan haus lagi. Riko juga bilang bahwa hanya “cinta Tuhan” lah yg mampu memuaskan hatiku, “oleh sebab itu saat berdoa bukalah hatimu, biarkanlah cinta Tuhan memuaskanmu.”, begitulah nasehat singkat darinya.

Sampai di rumah, aku merubah sikap doaku. Selama ini aku rajin mengikuti Misa Kudus dan rajin berdoa Rosario, namun rupanya aku lupa “membuka hatiku” bagi cinta Tuhan yang mampu memuaskan hati dan jiwaku. Sesudah membuka hatiku kepada cinta Tuhan di dalam doa-doa harianku, aku perlahan merasa dipulihkan dan disembuhkan. Aku merasa hidupku jauh lebih bahagia, jauh lebih damai tanpa butuh pornography, masturbasi dan sex bebas. Inikah mutiara hidup bahagia yang aku cari-cari selama ini? Aku kaget, aku pikir keluar dari keterikatan sex bebas adalah sesuatu yang mustahil seperti yang aku sebutkan di atas. Ternyata keluar dari keterikatan sex bebas itu adalah sesuatu yang mungkin, asalkan di dalam doa mau membuka hati kita akan cinta Tuhan yang mampu memuaskan hati dan jiwa kita. 

Pertemuan TLC yang ketiga, aku pergi mengaku dosa karena sudah ada setengah tahun aku tidak menyambut Tubuh Kristus meskipun masih tetap ikut Misa Kudus. Kini aku semakin rajin berdoa Rosario dan ikut Misa Kudus. Perjuanganku tentu saja belum selesai, hidupku yang dahulu begitu sensual masih sangat menggoda untuk come back lagi. Rasa rindu ini cukup mengganggu. Namun aku fight dengan doa-doa-ku. Syukur kepada Tuhan, rahmat Tuhan sangatlah menolong sehingga aku tetap hidup setia dan terus mencintai kemurnian.

Aku tidak tahu apakah tulisan ini membantu orang lain atau tidak.

Yang jelas sekarang aku sungguh percaya bahwa “Chastity is the sure way to happiness.”

Aku sedih mengapa baru sekarang aku tahu bahwa sebenarnya aku tidak butuh sex bebas, masturbasi dan pornography.

Sungguh sebuah kebenaran akan apa yg dikatakan oleh Paus JP II, bahwa hidup murni (kemurnian) bukanlah suatu beban.

Tuhan Yesus memberkati.

Sesuai yang disampaikan ke redaksi True Love Celebration oleh seorang peserta yang memilih untuk menyembunyikan identitasnya. Layangkan dukungan, tanggapan ataupun pertanyaan anda melalui comment box dibawah atau email ke info@truelovecelebration.org untuk selanjutnya kami sampaikan ke penulis.

Tagged with:  

This Generation Speaks 9

 

This Generation Speaks 8

 

This Generation Speaks 7

 

This Generation Speaks 6

 

This Generation Speaks 5

 

This Generation Speaks 4

 

This Generation Speaks 3

Page 1 of 212
© 2010 True Love Celebration