Oxytocin si Lem Kuat Manusia

excerpted from: Theology of the Body for Teens by Brian Butler, Jason Evert, and Crystalina Evert

Tahukah kamu akan adanya sebuah hormon yang disebut oxytocin?

Oxytocin adalah sejenis hormon yang di keluarkan oleh kelenjar pituitari yang terletak di otak manusia, pada saat manusia melahirkan, menyusui dan berhubungan seksual. Hormon oxytocin bekerja layaknya lem kuat manusia. Hasil riset mengatakan bahwa hormon oxytocin dapat menguatkan intensitas ikatan antara dua manusia, mengurangi kemampuan berpikir kritis manusia dan juga menumbuhkan rasa kepercayaan.

Untuk ibu-ibu saat melahirkan dan dalam masa menyusui tentunya hormon ini akan menimbulkan kedekatan yang luar biasa antara ibu dan anak. Rasa percaya dan bertambahnya intensitas ikatan tersebut semakin mempererat jalinan emosional antara si ibu dan bayi kecilnya, dan efek kemampuan berpikir kritis yang berkurang akan membuat si ibu mengedepankan kebutuhan si anak di atas segala ketidak nyamanan, kerepotan dan segala rasa sakit yang dilaluinya untuk melahirkan si kecil.

Lalu apa jadinya saat hormon yang sama juga hadir ketika dua manusia berhubungan seksual? Tentunya kedua pasangan juga akan menjalin ikatan kuat, mempunyai kecenderungan untuk melupakah hal-hal buruk yang pernah terjadi di antara mereka dan juga bertambahnya rasa percaya di antara mereka. Ini tentunya sesuatu yang ideal untuk hubungan seksual yang dilakukan dalam ikatan pernikahan.

Bagaimana dengan mereka yang belum mengikat janji di depan altar?

Hormon oxytocin tersebut tentunya tidak pilih kasih. Hormon yang sama dengan efek yang sama akan tetap ada mempengaruhi hubungan antara kedua manusia yang melakukan hubungan seksual  tersebut. Badan yang terlanjur mengikat dirinya dengan sebentuk badan yang lain tanpa komitmen yang pasti bisa saja berarti kabar buruk untuk kelangsungan hubungan itu sendiri. Sepasang manusia yang telah merasakan keterikatan kuat di luar pernikahan kadang akan merasa  sudah cukup nyaman sehingga tidak lagi mempedulikan nilai-nilai penting yang diperlukan untuk membangun sebuah hubungan yang solid.

Tak jarang juga bila kita melihat pasangan-pasangan di sekeliling kita yang sepertinya adalah kabar buruk bagi satu sama lain entah karena frekuensi mereka saling menyakiti ataupun keintensitasan mereka menggunakan satu sama lain, bertahan dalam suatu hubungan yang tak sehat. Mereka seakan tak mempunyai kemampuan atau  keingingan untuk mengakhiri hubungan tersebut yang sesungguhnya mereka sendiripun tak tahu kemana tujuannya. Ini bisa jadi dikarenakan oleh hormon oxytocin itu tadi yang sudah bekerja membutakan segala kemampuan berpikir secara kritis. Oxytocin membutakan dan mengikat manusia dalam sebuah ikatan yang sesunggunya adalah amunisi tangguh bagi pasangan yang sudah menikah dengan segala problematikanya.

Karena estrogen memperkuat efek dari oxytocin, biasanya wanita jugalah yang akan mampu merasakan suatu ikatan yang jauh lebih kuat daripada yang lelaki mampu rasakan, wanita jugalah yang akan lebih menderita dari rusaknya sebuah ikatan. Menurut Drs. Diggs and Keroack, “Mereka yang telah menyalah gunakan seksualitas mereka dengan menjalin ikatan kuat dengan beberapa orang, akan mengurangi kekuatan si hormon oksitosin tersebut untuk menjaga sebuah ikatan permanen dengan satu orang saja.” Jadi, budaya masa kini yang membiarkan hubungan seksual sepuasnya yang penting sama-sama senang, sama saja membiarkan terlahirnya manusia-manusia yang nantinya harus melakukan usaha ekstra super amat sangat keras dalam menjalin ikatan yang kuat dengan pasangan hidupnya di kemudian hari. Seperti lem kuat yang merekat erat untuk pertama kalinya, setelah cabut pasang yang kesekian kalinya, tentunya tak akan bisa mampu mendapatkan daya erat seperti semula.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan desain yang sungguh mendetil dan komplit. Seperti layaknya mobil mainan rakitkan yang menyertakan lem kuat di dalam kotaknya, begitu juga manusia. Siapakah kita untuk mengabaikan karunia tersebut?

Tagged with:  

TLC8: Life is Good Summary

Speaker: Lia B. Ariefano

Sebelum teman-teman masuk ke dalam ruangan ini teman-teman dibagikan souvenir telur. Lalu ada kuesioner yang hasilnya menunjukkan angka-angka yang menarik. Saya bacakan pertanyaannya.

  1. Berdasarkan apa yang Anda telah alami sepanjang hidup Anda sampai detik ini, latar belakang keluarga Anda, luka-luka yang pernah terjadi, trauma juga kebahagiaan, apakah Anda merasa hidup Anda berharga dan bermakna? Puji Tuhan kebanyakan tema-teman di sini adalah orang-orang yang merasa hidupnya berharga dan bermakna. 96% mengatakan bahwa ya, hidup saya berharga dan bermakna.
  2. Apakah Anda setuju dengan penggunaan kontrasepsi dalam pernikahan? Jawabannya 48,8% jawabannya ya, setuju. Dan 51,2 % tidak setuju. Ini berimbang antara ya dan tidak.
  3. Menurut Anda, apakah kehadiran anak cukup penting dalam keluarga? 94% jawab ya. 5.9 % jawab tidak.
  4. Jika kehadiran Anak memang cukup penting dalam keluarga: mengapa? 2,4% bilang: sudah menikah kok tidak punya anak? 5% mengatakan: apa kata orang kalau tidak punya anak. Masa depan, hari tua dan investasi adalah 20,9 %. Ada 37,2 % mengatakan berapa pun pemberian Tuhan, akan saya terima.

Pengajaran ini berdasar pada Ensiklik Humane Vitae yang ditulis oleh Paus Paulus VI di tahun 1968. Humane Viate sendiri artinya adalah Human Life. Ensiklik ini menjelaskan tentang kehidupan. Bagaimana kita memandang kehidupan. Dalam ensiklik ini juga dibahas tentang kontrasepsi juga, euthanasia, dan isu-isu lain dalam kehidupan. Saat ini banyak sekali isu medis yang bertentangan dengan Ensiklik ini.

Pada pertemuan yang lalu tentang pernikahan, kita mempelajari dengan baik, bagaimana CINTA yang seharusnya ada dalam setiap manusia adalah cinta yang TOTAL, Free, Faithful dan Fruitful. Banyak pengertian tentang cinta saat ini yang tidak mengacu pada Total Free Faithful dan Fruitful ini, membuat banyak orang muda bertindak yang mereka anggap benar tetapi sebenarnya bertentangan dengan ajaran Gereja. Mari kita bersama melihat kualitas yang mestinya itu.

Pada pertemuan soal Dating saya sudah sedikit bercerita tentang hidup saya. Saya lahir sebagai anak pertama dari Keluarga Pentakosta, kemudian kami sekeluarga pindah ke Katolik. Puji Tuhan saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat mencintai saya, bahkan cenderung over protekif terhadap saya. Tetapi entah dari mana mulainya,  saya tumbuh menjadi anak remaja yang sangat minder. Saya mempercayai bahwa saya adalah seorang yang gemuk, jelek, bodoh, ubanan, muka saya juga tidak mulus seperti muka-muka orang Asia, banyak bintik di muka saya. Penampilan seperti itu bagi seorang gadis tentu tidak menyenangkan. Saya tumbuh menjadi anak yang minder dan punya gambar diri yang buruk.                                                                                                                             

Singkat cerita saya bertemu dengan seorang cowok di SMA yang membuat saya terkagum-kagum, bukan karena saya kagum sama dia, tetapi kagum karena kok dia mau sama saya. Bagi seorang yang punya gambar diri yang buruk, saya berpikir: mumpung ada yang mau sama saya, akhirnya kami jadian dan pacaran selama 10 tahun. 

Saya masuk ke bagian perkuliahan yang disebut Obstretry Ginekology, yang latihan prakteknya membantu ibu hamil dalam proses melahirkan. Suatu hari datanglah seorang ibu yang hendak melahirkan anaknya yang ke enam. Ibu ini punya badan yang cukup besar dan berasal dari ekonomi yang tidak mapan. Ibu ini memberikan arti dalam hidup saya. Selain saya mengingat dia karena teriakannya yang sangat keras (jangan-jangan terdengar sampai ke lapangan parkir!), tapi ada sesuatu yang terjadi dalam diri saya saat saya membantu ibu ini melahirkan anaknya. Proses melahirkan terjadi dengan mudah (mungkin karena ini sudah anak ke enam), tetapi buat saya pengalaman pertama menolong proses persalinan merupakan pengalaman yang bikin jantung saya rasanya mau jatuh ke lantai. Akhirnya bayi itu dilahirkan dan  saya pegang erat di tangan saya. Lahirlah seorang bayi itu laki-laki dengan berat hampir 4 kg. Bayi ini lahir dengan tangisan keras seperti teriakan ibunya, dengan muka masih berkerut-kerut dan hampir tidak kelihatan karena gendutnya. Saya mendengat satu sahabat saya yang menemani dalam proses persalinan ini berkata: “Jelek amat ni bayi!” Saya tersenyum tiap kali mengingat kejadian ini. Buat orang lain ini mungkin bayi yang ‘jelek’. Tapi buat ibu bayi ini dan buat saya saat itu, ini bayi yang paling tampan yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Mengapa? Ketika bayi itu ada di tangan saya,  terlintas di pikiran saya, bagaimana sebuah kehidupan manusia itu terjadi.  Saat itu saya ingat dosen saya menceritakan bagaimana kehidupan manusia terjadi. Peristiwa ini mengubahkan hidup saya selamanya.

Orang tua kita sebagai pasangan suami istri  yang saling mencintai melakukan hubungan suami isteri. Pada saat hubungan seksual terjadi Ayah mengeluarkan cairan semen yang isinya adalah sperma. Setiap ejakulasi dikeluarkan rata-rata 3-5 cc cairan ejakulat yang bernama semen. Dalam 1 cc semen terkandung 1.00.000.000 sperma. Sedangkan Ibu/Mama kita di masa suburnya, mengeluarkan 1 telur dalam siklusnya. Saya membayangkan bila dari ratusan ribu telur, hanya ada 1 telur yang dikeluarkan bulan itu, artinya telur itu adalah telur yang paling cantik, paling indah, paling sempurna, paling mengandung semua kualitas yang terbaik dari ibu saat itu. Telur hanya akan bertahan paling lama 2 hari di dalam tuba falopii dan rahim. Dari 3-5 juta sel sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi, hanya aka nada 1 sperma yang akan memenangkan telur tadi. Kembali saya membayangkan , pasti sperma itu menghadapi banyak tantangan dan rintangan, tetapi akhirnya dia menang mengalahkan 2.999.999 – 4.999.999 sel sperm lain dan berhasil memenangkan putri cantik yang sudah menunggunya di saluran reproduksi ibu.

Setelah saya mengingat semua itu, saya tertunduk dan melihat ke dalam diri saya yang selama ini selalu merasa tidak berharga. Dengan kenyataan keajaiban penciptaan saya, punya hatikah saya untuk mengatakan diri saya tidak berharga? Punya hatikah saya untuk mengatakan diri ini tidak bisa apa-apa dan tidak ada gunanya hidup di dunia ini? Punya hatikah saya untuk mengatakan bahwa saya tidak punya masa depan karena semua gambar diri yang begitu buruk melekat dalam diri saya?

Saat itu saya menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan menciptakan saya dengan suatu maksud istimewa. Tidak sembarangan! Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan teman-teman satu per satu di tempat ini dengan maksud yang mulia. Anda dan saya pasti punya peran di dunia ini. Tuhan pasti menyediakan masa depan yang indah bagi kita masing-masing!

Lewat keajaiban kejadian kita masing-masing di dunia ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat betapa dahsyat dan ajaib hidup bersama Tuhan. Tapi banyak pengertian saat ini yang demikian dipopulerkan menjadi sebuat gaya hidup, mengalihkan kita dari kebenaran akan penciptaan kehidupan. Kita memandang dunia sebagai tempat hidup yang makin lama makin tidak bersahabat, cara pandang keberadaan anak sebagai sesuatu yang memberi beban sehingga banyak pasangan yang memilih untu tidak punya anak karena hidup terasa jauh lebih mudah. Semua cara pandang itu seakan mulai melegalkan kontrasepsi. Kita mulai kehilangan nilai sebenarnya dari proses penciptaan. Nilai seks menjadi sangat direndahkan karena cara pandangan mengenai kehidupan mulai banyak beralih. Manusia kehilangan arti dari sebuah hubungan seks dan menjadikannya sebagai objek pemuas belaka. Saat itu semua kehancuran datang dan menghancurkan kehidupan manusia perlahan-lahan. Kontrasepsi adalah salah satu penghancurnya.

Kontra-sepsi, seperti namanya kontra yang artinya tidak mendukung, dan sepsi dari kata ception yang artinya pembuahan. Jadi sejak awal kontrasepsi sudah jelas dengan maksudnya yaitu menolak kehidupan. Ketika kontrasepsi ini mulai ada, sesuai tujuan dengan adanya kontrasepsi ini bahwa agar anak itu tidak ada dalam suatu keluarga, tapi kenyataannya kontrasepsi malah menimbulkan angka yang luar biasa mengejutkan. Terjadi peningkatan perceraian 20 kali, anak di luar nikah bertambah ratusa kali lebih banyak, angka aborsi meningkat berkali-kali lipat. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pemakaian kontrasepsi bukan hanya mempengaruhi angka kehamilan, tapi juga memperburuk cara pandang manusia tentang satu relationship, penghargaan akan kehidupan, dan menghancurkan arti cinta yang seharusnya total, setia, bebas, dan berbuah.

Yohanes Paulus ke II mengatakan bahwa kontrasepsi dan aborsi berhubungan erat, karena merupakan buah dari pohon yang sama. Orang yang aborsi pasti dia menolak kehidupan. Kontrasepsi itu pasti menolak kehidupan. Sebenarnya kedua hal ini adalah sikap hati yang sama. Aborsi membunuh seorang janin yang sudah ada di dalam kandungan ibunya, sedangkan kontrasepsi mencegah atau bahkan jenis kontrasepsi tertentu juga menghancurkan sel telur yang sudah bertemu dengan sel sperma. Jadi.. apa bedanya? Tidak ada!

Kimberly Hahn adalah isteri dari pendeta Protestan Scott Hahn yang pindah Katholik dan menghasilkan banyak buku tentang ajaran tentang Gereja Katholik. Bukunya: Life giving Love  telah mengubah hidup saya yang tadinya adalah seorang feminis yang berpadangan anak itu merepotkan, kalau saya menikah tidak ingin punya anak yang mungkin akan menghambat karir dan keinginan dalam hidup saya, memiliki anak adalah suatu kebodohan.

Buku yang  ditulis oleh Kimberly Hahn mengubah hidup saya sampai 180 derajat. Kalau hari ini kalau saya berdiri di sini, saya percaya itu karena Tuhan yang bekerja dalam diri saya. Melihat diri saya sendiri sebagai kemurahan kehidupan dari Tuhan. Karena banyak sekali dosa, kejatuhan dan kesalahan yang saya lakukan, tapi Tuhan Allah yang memaknai terus kegagalan saya dan memberikan suatu kehidupan yang baru setiap hari.

Kimberly Hahn berkata bahwa kontrasepsi itu kontra life, itu jelas! Lalu ia mengatakan konrasepsi itu contra-woman. Ini menarik. Khususnya bagiteman-teman perempuan di tempat ini. Kita dilahirkan sebagai perempuan bukan tanpa maksud. Laki-laki boleh berbangga atas apa pun. Tetapi kita perempuan diberi satu hal yang tidak dimiliki oleh lelaki, sekuat sehebat siapa pun mereka, Cuma perempuan yang memiliki rahim. Kita perempuan diberi tugas oleh Tuhan untuk melahirkan laskar-laskar Gereja, suatu mandate dan kepercayaan yang luar biasa. Saat kita memakai kontrasepsi artinya kita menurunkan makna panggilan keperempuanan kita dan jatuh pada kebohongan si jahat yang mematikan nilai indah seorang perempuan.

Saat suami ingin berhubungan dengan istri atau seorang pria hanya mau berhubungan seks, hanya karena ini menikmati badan tubuh, tanpa mau berbuah. Itu using. Karena cinta itu pasti berbuah. Cinta Allah Bapa yang luar biasa pada Allah Putra dihadirkan pribadi luar biasa yaitu Allah Roh Kudus. Jika kita melawan panggilan itu dengan menggunakan kontrasepsi itu artinya kita melawan diri kita sendiri sebagai prempuan. Jika tidak berbuah itu bukan cinta. Itu lust, itu nafsu. Ini penting kita ketahui sebagai seorang perempuan.

Saya ingat cerita teman saya yang meskipun sudah tahu semua konsep ini tetapi dia bersikeras memakai spiral. Ketika bicara bagaimana terbuka pada kehidupan, saya memberi masukan ke dia untuk terbuka pada kehidupan. Tetapi tanpa sepengetahuan kami, dia tetap pakai spiral. Beberapa waktu yang lalu dia telpon saya karena dia hamil lagi. Dia bilang: “Ci, sudah buat dosa tetap aja jadi.”  Saya cuman bilang ke dia: “Tuhan pasti punya rencana yang indah dan besar di balik ini semua. Pasti ada hal baik yang akan terjadi dalam hidup kalian sekeluarga.”  Untungnya dia bukan tipe orang yang berani melakukan aborsi.

Tahun 2004, ada 2,3 juta kasus aborsi per tahun. Artinya dalam 1 jam ada sekitar 266 bayi digugurkan. Dari awal kita memulau TLC ini, sampai detik ini sudah sekitar 1 ½ jam, artinya sudah ada sekitar 400 janin kehidupan yang digugurkan! Angka ini bukan angka main-main, dan angka ini mengajak kita semua untuk bersama-sama menyuarakan arti kehidupan bagi dunia. Mari berdiri di atas keyakinan bahwa tidak ada suatu kehidupan pun yang layak dimusnahkan karena kekuatiran, ketakutan atau kurang iman orang tuanya. Keprihatinan ini membuat saya berkomitmen untuk mewartakan kehidupan. Karena kehidupan adalah penciptaan yang sangat dicintai oleh Tuhan, punya arti dan makna.

Saya mau cerita sedikit bagaimana proses aborsi dilakukan.  Saat bayi diaborsi, bayinya dimatikan dulu. Ada cairan seperti cairan garam pekat yang dimasukkan ke dalam rahim dan efeknya membuat bayi menjadi seperti terbakar. Saat dikeluarkan bayi itu dipatahkan satu per satu bagian tubuhnya, karena jalan lahir ibu masih sempit karena memang belum saatnya dilahirkan, sehingga organ harus diperkecil dulu. Satu persatu dipatahkan, sampai terakhir kepalanya dijepit dan dikeluarkan. Bayi ini sudah cukup besar untuk merasakan sakit yang tak tertahankan, tapi masih terlalu kecil untuk dapat berteriak kesakitan.

Sebuah cerita, survival story dari seorang yang lolos dari aborsi. Saat ini ia sudah menjadi seorang wanita muda yang cantik. Ia keliling dunia mewartakan tentang kehidupannya. Ibunya ketika berumur 17 tahun hamil dengan pacarnya.  Lalu sang ibu masuk ke sebuah klinik untuk mengaborsi bayinya. Setelah dua kali diinjeksi cairan garam, ibu itu mengalami kontraksi yang hebat. Saat itu memang sudah menjelang pagi, dan rencananya sekitar jam 7 pagi dokter akan datang untuk mengeluarkan anak yang (seharusnya) sudah mati itu. Tetapi di luar prediksi, jam 5 pagi sang ibu mengalami kontraksi, akhirnya kelahiran terjadi. Betapa kagetnya bidan yang membantu persalinan, dan tentu sang ibu, karena pada saat anak itu dikeluarkan, terdengar rintihan dan tangisan lemah dari anak ini. Anak ini masih hidup!  Akhirnya bayi ini dibawa ke rumah sakit terdekat, ditolong, badannya terbakar dengan gangguan syaraf, lalu dirawat dan pada umur 4 tahun diadopsi oleh keluarga Kristen, begitu dicintai dan dihargai. Suatu hari di umur 12 tahun dia masuk ke dapur dengan terpincang-pincang karena ia menderita Cerebral Palsy akibat proses aborsi yang gagal tersebut.. Lalu dia tanya pada ibu adopsinya: “Mengapa saya pincang seperti ini, Ma?” “Kamu dulu mau diadopsi.” Pada hari ini dia sudah menjadi wanita yang cantik bernama Gianna Jensen, mewartakan pada dunia bahwa dia seorang yang bertahan dari aborsi, bukti bahwa Tuhan begitu mengasihi hidupnya dan menjadi kesaksian bagi begitu banyak orang.

Kembali ke cerita saat saya menolong melahirkan. Saat saya menengok ibu yang baru melahirkan anak ke enamnya, saya bilang ke ibu ini:

“Puji Tuhan anaknya sehat dan laki-laki.”

“Ini sudah anak ketiga yang laki-laki tadinya saya sudah mau aborsi.”

Kalau hari ini saya tahu ibu itu ada di mana, rasanya saya akan datang menghampiri dia dan saya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah bermurah hati pada kehidupan, karena tanpa kehadiran anak itu mungkin saya tidak ada di sini hari ini. Tanpa kelahiran anak itu saya akan tetap menjadi seorang Lia yang menyedihkan. Anak yang hampir diaborsi ibunya itu menyelamatkan hidup saya! 

Tidak seorang pun akan tahu apa yang akan terjadi kalau kita mempertahankan kehidupan. Sebab kehidupan menjadi bermakna dan menjadi kesaksian, tanpa kita sadari. Jangan pernah meremehkan kehidupan apa pun. Karena Tuhan ada dan berkarya di dalamnya.

Ada seorang penyanyi klasik dari Itali yang kita tebak bersama-sama apa yang terjadi pada hidupnya. [Movie played] Teman-teman tahu siapa orang ini? Andrea Bocelli. Satu hal yang menggembirakan ketika saya menemukan video ini: saya sering tersentuh dengan alunan suaranya. Kalau dia diaborsi tidak aka nada seorang Andrea Bocelli yang memberikan warna di dalam hati saya: memberi suka cita dan harapan.

Banyak orang yang bilang kalau orang diperkosa lalu hamil, dia tidak akan pernah mau anak itu. Jadi baiknya aborsi saja, daripada stess terus melihat anak itu dan mengingat kasus perkosaan itu. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa efek psikologis orang yang habis aborsi dengan yang habis diperkosa. Terjadi gangguan psikologis yang jauh lebih parah pada perempuan-perempuan yang melakukan aborsi daripada perempuan yang habis diperkosa.

Ada dua pilihan tentang kehidupan. Saya menyukai kata-kata Albert Einstein. Kita bisa memilih bagaimana memandang kehidupan. Memandang dengan mengatakan tidak ada satupun yang namanya keajaiban. Misalnya: namanya orang menikah ya punya anak, semua orang juga begitu. Tidak ada keajaiban. Kemarin saya  dan teman-teman pergi ke Lahurus sebuah daerah di pegunungan NTT. Satu malam saya memandan ke langit dan melihat yang namana bintang seperti pasir di laut. Ahhh… itu biasa saja. Itu bukan keajaiban. Atau… memandang kehidupan, semua aspek di dalamnya adalah keajaiban. Saya memilih untuk memandang apapun adalah keajaiban Tuhan dalam hidup saya.

[Movie about abortion]

Bila seorang ibu mampu membunuh anaknya, apa sulitnya bagi kita untuk saling membunuh? Ini adalah kata-kata dari Beata Teresia dari Calcutta. Memang benar, bila seorang ibu saja mampu membunuh artinya penilaian terhadap kehidupan sudah sangat rendah, apa sulitnya buat kita untuk saling membunuh?

Kalau teman-teman ada di tempat ini, mendengarkan pesan ini. Saya percaya itu karena kemurahan Tuhan yang hadir pada diri orang tuamu dan orang tua saya. Semua yang terjadi dan semua pertanyaan dalam hatimu, percayai satu hal, tidak ada suatu kehidupan pun yang tidak dijagai oleh Tuhan. Tidak ada kehidupan yang hadir di dunia ini tanpa maksud. Tidak ada satupun dari kita yang tidak punya andil dalam kehidupan di dunia ini. Saya mengajak teman-teman semua untuk berdiri teguh atas kehidupan, memperjuangkan kehidupan sampai kapan pun. Amien.

 Speaker: Lia B. Ariefano

For True Love Celebration #8: Life is Good!

Tagged with:  

TLC7: Celibacy Talk Summary

by: FR. DESHI RAMADHANI, SJ

FR. DESHI RAMADHANI, SJ

Saya ingin cerita sedikit tentang kehidupan selibat. Sedikit tentang dasar kitab sucinya. Sebelum saya mulai tolong titip doa karena mungkin ada imam yang saat ini tengah bergulat,  mungkin romo di paroki, mungkin suster di sekolah yang saat ini bergulat dan bertanya: “Tuhan benarkah Engkau memanggil aku sebagai seorang selibat? Kalau ya, kenapa sekarang saya jatuh cinta pada orang ini, orang yang baik dan bisa dipercaya dan menjanjikan masa depan yang begitu luar biasa?”

Hasil Survei pada acara True Love Celebration ke 7 yang terbuka untuk umum:

Apa godaan terberat untuk selibat?

  1. Seks: 29%
  2. Sepi: 54%
  3. Mendua hati: 18%

Komentar: Jadi mayoritas menganggap yang paling berat untuk hidup selibat adalah rasa sepi. Kalau kita bertanya pada orang yang selibat, maka jawabannya akan berbeda-beda. Buat saya yang berat adalah sikap mendua hati, jika salah satu dari pasangan suami istri bersikap aneh, pasangannya akan segera tahu. Bagi kami para imam, ini tidak berlaku: Saya persembahkan hidup pada Tuhan, tetapi kalau saya mulai aneh-aneh, Tuhan toh tak terlihat.

Bagi kamu apa yang paling memikat dari diri orang selibat?

  1. Kebebasan 37%
  2. Kedamaian 61%
  3. Keceriaan 2%

Komentar: Hanya dua persen yang menjawab “keceriaan.” Kita punya keprihatinan sama, sering dilihat sebagai orang yang mukanya berlipat sedih. Akibatnya, kabar gembira menjadi kabar sedih kalau dibawakan oleh orang selibat yang mukanya sedih terus.

Mengapa romo tak menikah?

  1. Dipaksa: 2%
  2. Praktis karena pindah tugas: 0
  3. Fokus: 98%

Komentar: Lucu juga. Menurut orang banyak, selibat kami pilih supaya kami bisa lebih fokus. Namun, kami ini ternyata kurang menampakkan keceriaan. Hehehe….

Tema kita adalah tentang selibat, tetapi ini tak bisa lepas dari kenyataan bahwa saya seorang laki-laki, selibat, imam. Mungkin berbeda dari selibat suster atau awam. Waktu saya kelas 1 SMP ada teman yang bertanya: “Dengar-dengar loe menjadi pastor?” Lalu saya katakana: “Mana enak jadi pastor? Gak bisa kawin!” Ini adalah jawaban paling spontan. Di kemudian hari saya sering bercanda dengqan teman-teman cowok, anak muda yang kelihatannya bisa ditantang. Jawaban yang didapat sama persis: “Gue gak bakal bisa jadi pastor, soalnya gak bisa kawin!” Tapi hati-hati. Banyak panggilan mulai dengan jawaban seperti itu. Kalau ada yang pernah bilang begitu, lihat saja, sekian tahun lagi yang berdiri di sini adalah kamu.

Mengapa jadi selibat?

1.      Selibat gak laku.  Banyak orang bilang dia gak laku. Misalnya suatu hari kamu pulang lewat seminari, dan merasa jangan-jangan tanda dari Tuhan, lalu mengajukan lamaran dan diterima, mau keluar malu.

2.      Selibat biar lebih praktis. Banyak orang bilang bakal lebih praktis. Kalau pindah gak usah bikin macam-macam hal, gak perlu omong sama istri dan anak, gak perlu mikir anak sekolah di mana. Hari ini dikasih tugas besok siap berangkat

3.      Selibat biar lebih fokus.

4.      Selibat karena mau jadi imam (terpaksa karena aturan). Banyak imam dan calon imam yang kalau ditanya mengapa selibat, menjawab bahwa mereka tak menikah karena mau jadi imam. Bahkan ada yang berpikir bahwa seandainya saja boleh menikah, mereka akan menikah. (Kita tahu dalam tradisi gereja Ortodoks mereka punya imam yang boleh nikah).

5.      Selibat karena lebih romantis. Selibat punya hubungan dekat dengan Yesus. Hidup saya hanya untuk Yesus: bangun tidur Yesus, makan Yesus, kerja Yesus. Sampai-sampai ada orang mau meninggal minta dilayani, terus dijawab, “Tunggu sebentar saya sedang berdoa pada Yesus.” Hehehe…

6.      Selibat demi totalitas dan kesetiakawanan dalam peperangan (Misalnya, Uriah).

Saya memilih selibat pada awalnya cuma iseng-iseng masuk seminari: jawab seadanya, eh diterima. Yang lain malah gak kerasan, keluar. Yang tinggal malah saya. Baru di kemudian hari saya berpikir tentang hidup selibat. Dulu saya berpikir saya mau hidup dengan Yesus: membayangkan hidup selibat amat manis, doa, doa dan doa. Tapi dalam perjalanan waktu hidup selibat adalah soal totalitas dan kesetiaan dalam peperangan. Uriah memilih tak melakukan apa yang disuruh Daud yaitu pulang ke rumah bertemu dengan istrinya.

Ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan terkait jelas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki selibat bisa punya krisis ketika menyadari bahwa ia tidak bisa “menaburkan” benihnya, sedangkan seorang perempuan selibat bisa punya krisit ketika sadar bahwa ia tak pernah menerima benih.

Perbedaan lain dalam hal spiritualitas dan karisma. Spiritualitas Karmelit berbeda dari Spiritualitas Yesuit. Selibat untuk Karmelit adalah ungkapan dari sebuah “mistik cinta.” Hubungan antara seorang selibat dengan Tuhan adalah seperti sepasang kekasih. Saya tak dipanggil untuk selibat dengan cara itu. Saya dipanggil untuk hidup selibat dengan “mistik pengabdian.” Hubungan saya dengan Yesus bukanlah seperti sepasang kekasih. Bagi Yesuit, Yesus adalah komandan, panglima perang. Saya membayangkan naik kuda, sementara Yesus memimpin di depan.

Bulan Lalu Riko mengatakan tentang perkawinan, fellowship of the ring. Ketika suami bersatu dengan istrinya dia menjadi seperti Kristus yang memberikan hidup-Nya sepenuhnya bahkan kalau perlu disalib untuk Gereja-Nya. Hubungan antara suami dan istri dan perkawinan adalah sakramen. Selibat bukan sakramen.

Sakramen adalah tanda. Tanda rahmat yang memberikan sebuah kenyataan yang lebih dalam yang sudah dialami saat ini. Hubungan suami istri menjadi tanda hubungan Kristus dengan Gereja-Nya. Kelak akan ada perkawinan Anak Domba. Tetapi, selibat bukan sakramen, bukan tanda. Di ruangan ini, tak ada tanda panah jalan Sudirman. Di ruangan ini tak ada tanda yang menunjuk arah ke gedung Wisma Indocement. Di ruangan ini tak ada tanda yang mengatakan di sini ruang Anggrek. Mengapa? Karena kita tak butuh. Kita tak butuh tanda, karena sudah sampai. Tapi coba keluar sebentar. Ada tanda: ruang Melati, ruang Anggrek. Sakramen adalah tanda.

Selibat bukan sakramen, karena orang selibat dipanggil untuk sudah hidup di dunia ini seolah-olah dia sudah hidup di surga. Maka, kalau orang melihat saya, orang melihat “wah seperti itu ya hidup di surga.” Realitas di surga harusnya, atau setidaknya panggilan saya, kharisma saya, kekuatan khusus dari Tuhan untuk saya, adalah supaya saya bisa hidup di dunia ini seolah-olah hidup di surga.

Dasar kitab suci:

Ada banyak simbol tentang surga.

1. Surga adalah gambaran-gambaran tentang perkawinan. Bisa diambil dari Wahyu 19:7. Maka kalau kamu merasa Tuhan memanggil kamu untuk hidup dalam perkawinan, sudah menikah, atau belum dapat pasangan tapi yakin Tuhan panggil saya untuk hidup perkawinan, gambaran surga dijelaskan dalam hidup perkawinan itu.

2. Tetapi dalam Kitab Suci juga ada tanda lain. Ketika Yesus ditanya tentang perkawinan, kepada-Nya diajukan kasus: ada cewek menikah dengan cowok, tapi cowok itu mati belum punya anak. Menurut peraturan, adiknya kedua harus nikah dengan cewek ini. Tapi, yang kedua nikah dan mati juga. Menurut peraturan harus begitu terus sampai habis garisnya. Tujuh kakak beradik cowok semua sudah menikahi satu cewek itu. Semuanya mati dan tak punya keturunan. Lalu Yesus ditanya: “Ketika di surga, ketika bangkit, siapa yang akan jadi suami dari cewek ini?” Yesus jawab dalam Lukas 20:35. Gambaran sorga nanti, menurut gambaran ini, tak ada lagi soal kawin dan dikawinkan. Jadi kalau Anda sedang sibuk mengurus buku misa untuk sakramen pernikahan, mencari bacaan misa perkawinan, proses penelitian, cari gedung, untuk the very special day (semua tukang foto, video yang membantu adalah the best for the very special day), it is good tapi pada dunia kebangkitan tak ada pikiran itu, karena manusia sudah dipuaskan ketika bertemu dengan Tuhan. Jadi kalau suami istri sekarang saling cinta benar dan pengen setia sampai mati, setiap hari doa, ngaku dosa, ketika sampai di surga harapannya bisa kumpul lagi dalam kebangkitan. Bad news! Ketika masuk surga, dalam kebangkitan suami terpesona pada Kristus. Istri colak-colek juga gak digubris. Tapi istrinya sebenarnya juga tak mau colak-colek lagi, karena fokus pada Yesus. Pada dunia kebangkitan orang tak kawin dan tak dikawinkan. Semua akan hilang. Karena itu selibat bukan tanda, bukan sakramen. Orang selibat ingin hidup seolah seperti sudah dalam dunia kebangkitan.

Banyak yang mengumpamakan demikian. Kami memilih selibat, karena menginginkan the real thing. Bayangkan demikian. Kalau kamu diundang makan, dari makanan pembukaan, salad, sate, spaghetti, semua dihidangin, dan yang terakhir babi guling – menu utama, the main course. Bayangkan di meja berdatangan makanan. Semua diambil, begitu babi guling datang dia tak bisa makan karena kenyang. Tapi ada yang menanti real thing. Tidak mengambil segala makanan pengantar, tidak ambil appetizer, karena nunggu kambing guling, the real thing, the main course, menu utama. Orang yang menikah adalah seumpama orang  yang sudah memakan appetizer, sedangkan romo adalah orang  yang nunggu main course. So, kalau mau menikmati surga, tunggu main coursenya! Jadilah selibat! Hehehe…

Selibat sulit dimengerti, kata Yesus. Jadi, kalau malam ini saya tak bisa membuat kamu mengerti, ya tak apa-apa. Yesus saja tak berhasil membuat murid-murid-Nya mengerti kok. Setelah Yesus bilang soal perkawinan, para murid bilang: “Kalau gitu tak usah kawin aja!” Lalu Yesus mengatakan dalam Mat 19:11-12. Ungkapan dalam kata aslinya sangat keras, ada laki-laki yang “perangkat”-nya itu, alat kelaminnya sebagai laki-laki tak bisa berfungsi karena dia lahir begitu, ada laki-laki yang perangkatnya dibuat tak berfungsi oleh orang lain. Ingat, waktu itu ada tradisi sida-sida. Tapi ada laki-laki yang hidup seolah-olah perangkatnya itu tak bisa berfungsi. Ia melakukan ini dengan sadar demi kerajaan sorga. Nah, itulah orang-orang yang selibat. Orang selibat adalah orang yang berfungsi baik. Yes, we need real men untuk jadi imam.

Kalau tak mengerti, tidak apa-apa. Tapi kalau mengerti, kalau murid-murid ada yang bergetar, ikuti getaran itu. Mengertilah karena tak semua orang mengerti. Waktu saya masuk seminari, teman ibu saya langsung datang tergopoh-gopoh, “Tante, tahun 1982, ada orang masih mau jadi selibat, kok bisa? Tak rugi?” Nenek saya Muslim, kalau sungkem lebaran, saya sungkem dan nenek doakan saya: “Iya, kamu jangan jadi pastor, nanti tak bisa punya cucu dari kamu!” Tiap tahun nasehatnya sama. Benar! Tak banyak yang bisa mengerti tentang selibat. Jadi kalau kamu mengerti, hati-hati! Itu tanda baik buat Gereja, tapi mungkin tanda buruk buat kamu. Hehehe…

Apakah berat? Yes. Ada saat di mana benar-benar berat. Ada saat di mana kita berkeluh kesah: “Tuhan kenapa saya jadi selibat? Kenapa dulu tak cepat-cepat kirimkan saya cewek supaya bisa pacaran dan menikah?” Ya, memang ada saat seperti itu. Tapi kalau melihat pasangan suami istri sedang menghadapi anaknya yang lagi rewel, saya berterimakasih pada Tuhan karena tak menikah. Memang ada saat berat, dan harus berdoa. Lagipula, komitmen bukanlah soal perasaan, tetapi komitmen adalah sebuah pilihan. Sayangnya, apa yang banyak terjadi dalam pernikahan? Kalau tak ada rasa lagi, tak cinta lagi, tinggalkan saja. Komitmen disamakan dengan perasaan. Komitmen buikanlah perasaan, tetapi komitmen adalah pilihan. Butuh bersandar pada Tuhan. Segala macam diusahakan untuk menghindari segala hal yang bisa memancing ke arah itu. Lakukan apapun untuk menghindari itu, dan serahkan pada Tuhan.

Perumpamaan penutup: main basket

Saya dulu hobby main basket. Tiga hari ini saya ingin benar main basket dan akhirnya main sendirian. Memasukkan bola ke jaring, mencetak skor. Saya membayangkan hidup selibat seperti itu. Pemain basket terkenal Michael Jordan, misalnya, menjadi terkenal karena membuat skor. Tapi pemain-pemain lain yang memberi umpan tak begitu diingat. Hanya yang buat skor yang diingat. Bayangkan ini: Sebagai selibat, pelatihnya adalah Yesus. Pemain-pemain 4 orang adalah yang menikah. Saya sendiri selibat. Tugas saya hanyalah seperti mengoper bola itu untuk mereka. Tuhan memberkati.

Tagged with:  

Piramida Hubungan – Relationship Pyramid

writing by: Felicia

Relationship Pyramid – Piramida Hubungan

Langkah-langkah dalam menjalin hubungan menurut Teologi Tubuh atau Theology of the Body ajaran John Paul II dapat digambarkan melalui piramid hubungan seperti yang terlihat di atas. Hubungan yang dapat bertahan lama mengarungi berbagai cobaan biasanya berawal dengan persahabatan. Berlanjut ke pengenalan lebih dalam satu sama lain dan juga lingkungan keluarga maupun pergaulan masing-masing, baru kemudian beranjak ke hubungan secara eksklusif dimana sering disebut pacaran. Pada tahap ini juga banyak dari kita yang sering melewati blok fondasi ke dua dan ketiga. Dari berkenalan, tiba-tiba berubah menjadi hubungan eksklusif tanpa banyak waktu bahkan untuk bersahabat.

Setelah pacaran ekslusif, tentunya bisa beranjak ke pertunangan dan selanjutnya pernikahan. Piramida teratas tentunya hubungan seks dimana dilakukan setelah semua fondasi terbangun lengkap. Sayangnya, kecenderungan masa kini justru menunjukkan gambaran piramida yang timpang. Perkenalan yang dimulai dengan hubungan seks, lalu berlanjut ke pacaran yang dipaksakan, mengenal teman-teman si pasangan, menikah karena keterpaksaan, dan baru mengenal satu sama lain secara lebih dalam setelah semua itu terjadi. Dan persahabatan itu sendiri baru mulai dijajaki setelah sekian banyak problema datang menghampiri. Seperti susahnya menyeimbangkan piramida yang terbalik, suatu hubungan yang difondasikan pada balok terkecil akan lebih mudah terombang ambing saat terkena badai hidup. Tidak mau toh, kita hidup seperti itu?

Summary TLC: Fellowship of the Ring

Teaching by: Riko Ariefano

Sore ini kita bicara tentang the Fellowship Of The Ring. Pertanyaan untuk survey sore ini untuk wanita “Apa artinya mempercayakan seluruh hidupmu ke dalam keputusan calon suamimu atau suamimu?” Yang jawab ya 59, tidak 23 orang. Untuk yang pria “Apakah kamu memahami artinya mencintai dan menguduskan calon istrimu dalam Tuhan serta siap melaksanakannya?” Yang jawab ya 19, tidak 23. Kita lebih banyak punya wanita yang siap nikah daripada pria di tempat ini menyebabkan harga cowok melambung tinggi karena komoditas langka.

Saya menikah tahun 2004 dengan istri saya yang barusan nyanyi suaranya seperti malaikat. Saya berkenalan dengan dia tahun 95 waktu itu kami masing-masing punya pacar, hang out bareng, dia pacaran selama 9 tahun dengan cowoknya. Tahun ke 9 dia tunangan, yang mana saya dan mantan saya jadi MC-nya.

Setelah tunangan tak sampai 1 tahun putus. Saya sendiri setelah 6 tahun pacaran bubar, saya single selama 4 tahun ke depan, sementara dia sempat 2 atau 3 kali pacaran. Akhirnya tahun 2003 kami pacaran, dan tahun 2004 kami menikah.

Hari ini kita akan telusuri tentang pernikahan, ada beberapa hal yang sangat penting dalam pernikahan.  

Ef 5:21-33 Dan rendahkanlah dirimu seorang ada pada yang lain..

Kita akan banyak bicara soal ayat-ayat ini. Bagi yang masih ingat yang datang bulan lalu, ini yang kita bicarakan dari Maret (menunjuk pada powerpoint). Bulan Maret pertama kali acara ini diadakan kita bicara dasar teologi body, memahami Allah lewat tubuh kita, dan kita bicara apa artinya mencintai. Mencintai adalah giving, dan bukan menggunakan. Misalnya saya sudah berusia 30 tahun dan saya belum punya pacar. Sementara orang tua saya setiap hari terus mengingatkan saya kapan, kalau cewek usia 30 tahun ke kawinan pertanyaan yang diajukan sama, undangannya kapan, karena pressure terus menerus, karena sering ditekan akhirnya berpikir siapa saja, yang penting segera dapat cowok supaya oom dan tante nggak berisik tanyain terus menerus. Akhirnya siapa saja yang baik dan punya uang langsung ya jadian. Dia pacaran apakah benar-benar mencintai cowok itu? Tidak karena dia butuh cowok itu supaya statusnya aman. Using, dia menggunakan tubuh si cowok, ke beradaan fisik ada di sebelahnya supaya orang pikir dia punya cowok. It’s not love karena cinta selalu memberi, bukan menggunakan.

Bulan April kita bicara tentang pornografi, kalau cowok lihat cewek cakep langsung bisik-bisik ke temannya, sssttt barang bagus, atau ada cowok yang melihat cewek dan bisik-bisik tentang bagian tubuhnya, ini keren, itu pas, itu kepanjangan, itunya kegedean atau kekecilan dikit, yang dilihat hanya bagian anggota tubuh. Kalau cewek itu tubuhnya mampu membuat si cowok on, semangat, maka si cowok menyimpukan cewek ini cakep. Dengan kata lain kriteria cantik dsb hanya seberapa jauh mampu membuat si cowok tergerak.

Jadi dia dekati, supaya orang lain puji dia ceweknya cakep, dia menggunakan tubuh si cewek. Atau cowok lihat gambar-gambar cewek telanjang dan masturbasi, menggunakan tubuh perempuan untuk kepuasanku. Using, not loving.

Di bulan berikutnya kita bicara tentang sex abuse. Sedemikian nafsunya, dia punya power, orang yang lebih lemah powernya digunakan untuk kepentinganku. Lagi-lagi dia nggak loving tapi using.

Terus berlanjut pada singleness dan pacaran, bagaimana single harus dipenuhi oleh cinta Tuhan. Kenyataannya nggak banyak yang melewati hidupnya sungguh penuh dalam Tuhan. Karena bingung terus menerus akhirnya dia pacaran, dan pertanyaannya selalu batasannya ada di mana. Saya tanya suatu batasan di mana itu tujuannya supaya tak jatuh, dan ini juga berarti saya sedang berjalan menuju ke sana atau ke batas itu. Artinya kalau kita tanya pacaran batasnya di mana yang mulai dosa, maka kita sebetulnya sedang berjalan menuju dosa itu. Kalau memang mau pacaran yang bener, kenapa pertanyaannya tak dibalik, yaitu gimana pacaran untuk memuliakan Tuhan. Selama kita bertanya batasannya di mana, kita mau memakai space itu seoptimal mungkin, mau using, gue mau pegang cewek gue sampai mana supaya gak dosa. Kalau di leher ya sampai leher, artinya dia mau mendapatkan kenikmatan sebanyaknya. Lagi-lagi itu bukan loving tapi using.

Bulan lalu kita share pyramid dalam berhubungan. Dalam pacaran kita seringkali tak mau memikirkan atau tak peduli dengan area-area lain yang penting. Kebanyakan langsung masuk ke exclusive relationship. Suka lihat, pdkt, tembak, secepatnya jadian. Dia nggak melewati proses friendship yang berkualitas. Dia tak kenal keluarganya, langsung masuk exclusive relationship, lalu baru berteman, dan ternyata tak cocok. Tapi karena sudah membangun exclusive relationship duluan, maka emotionally sudah nempel. Waktu ternyata gak cocok, mau putus gak bisa, karena sudah emotionally lengket, mau jalan terus juga ga bisa karena tak cocok. Akhirnya jadi masalah. Ini problemnya karena tak mau menjalani friendship dulu. Kenali dulu keluarganya baru exclusive relationship, baru pertunangan, dan married. Waktu step-step pyramid ini dilewati dan tak diperhatikan, kita punya potensi masalah yang besar dalam perkawinan.

Maka kualitas hidup sebagai jomblo sangat mempengaruhi kualitas pernikahan kita. Kualitas persahabatan dengan pasangan juga sangat mepenguaruhi kualitas perkawinan. Baru yang paling atas judulnya seks.

TOB bicara tentang perkawinan sebagai sebuah sakramen

Kalau ingat pelajaran agama, sakramen adalah tanda yang kelihatan dari rahmat Tuhan yang tak kelihatan. Tadi dikatakan bahwa hubungan suami dan istri adalah rahasia tentang hubungan Kristus dan mempelai-Nya sehingga setiap kali melihat pasutri, mereka berdua sebetulnya seperti icon dari sebuah misteri besar. Begitu di klik iconnya, ada jauh lebih banyak program yang kompleks didalamnya. Maka icon mau menggambarkan apa yang sebetulnya mau diungkapkan.

Pernikahan adalah tanda kelihatan dari realitas yang tak kelihatan, yaitu Kristus dan mempelaiNya. Selain itu laki-laki dan perempuan menjadi sakramen bagi satu sama lain. Sakramen-sakramen lain dalam gereja diberikan oleh imam, kecuali pernikahan, karena pasangan saling menerimakan sakramen pernikahan. Jadi di samping pasutri menjadi lambang Kristus dan mempelai-Nya, mereka juga menjadi tanda yang kelihatan dari realitas Allah yang tak kelihatan bagi satu sama lain.

Suami menjadi gambar dan rupa yang kepenuhan cinta Allah bagi pasangannya, demikian pula sebaliknya istri juga menjadi gambar dan rupa dengan kepenuhan cinta Allah bagi pasangannya. Masing-masing menjadi tanda bagi satu sama lain. Mutual.

Ayat “Hai istri tunduklah pada suami…” sering dipakai cowok sebagai alasan kamu jadi istri harus nurut dan mengikuti kata-kataku padahal sebelumnya ada dasarnya, muncul respek satu sama lain, saling merendahkan diri satu sama lain, menjadi subyek bagi satu sama lain. Ada perbedaan besar antara pernikahan sebagai covenant dan kontrak.

Kontrak, saya beli barang, kamu kasih saya barang, saya kasih uang, barang ini menjadi milik saya uang menjadi milik kamu, this will become mine and this will become yours. Yang terjadi dalam perkawinan bukan kontrak tapi covenant. I will became yours and you will become mine, pasangan kamu itu will become totally yours but you will become totally hers, it’s not an exchange of goods it’s an exchange of person, of life.

Dulu waktu kuliah di Amerika, seorang dosen mengatakan marriage is a better form of prostitution karena dalam pelacuran you give sex you get cash, tapi dalam pernikahan you give sex, you get sex, you get a man, you get a house, it’s a better form of prostitution.

Sebagai suami istri, masing2 pasangan dipanggil untuk memberikan diri sepenuhnya dan seutuhnya bagi pasangannya.

Ayat berikutnya mengatakan hai suami kasihilah istrimu. Perintah buat suami banyak, mengasihi seperti Kristus , menyelamatkan, menguduskan, menyucikan, mengasihi istri seperti mengasihi tubuhnya sendiri. Kalau cowok-cowok seringkali bertolak pinggang dan berkata hai istri tunduklah pada suami, tapi ayat berikutnya perintah buat suami jauh lebih berat karena suami dipanggil untuk menjadi seperti Kristus bagi jemaat. Pertanyaannya berapa banyak suami atau calon suami yang siap menjadi Kristus bagi calon istrinya, berapa banyak cowok yang mengambil tanggung jawab untuk memimpin doa dalam sebuah hubungan, berapa banyak cowok yang ingetin cewek untuk doa, ngaku dosa, ajak ke gereja, bersikap sopan waktu komuni, berapa banyak cowok yang ambil waktu setiap hari bersekutu dengan Tuhan, ‘casue he has to be just like Jesus to his wife. Itu sebabnya istri tunduk pada suami karena suaminya harus serupa dengan Yesus.

Berangkat dari hasil survey ada 19 pria yang siap menjadi seperti Kristus bagi jemaat-Nya. Sementara ada 59 wanita telah siap memperebutkan 19 pria di ruangan ini. ..:-)

Apa artinya menjadi seperti Kristus, apakah cowok-cowok itu mengambil tanggungjawab rohani dalam hubungannya? Seringkali karena alasan bahwa gereja itu urusan cewek, karena di rumah dia melihat nyokap lebih rajin doa daripada bokap, ibu lebih rajin mimpin doa makan, doa novena, Rosario sementara bapak cuma sibuk daripagi sampai malam, tak peduli gereja sehingga banyak yang berpikir church and Jesus adalah bagan wanita. Kalau kamu merasa gereja hanyalah urusan wanita, kamu tak siap untuk menikah!

Beberapa waktu yang lalu, saya kerja di sebuah perusahaan, saya di hire satu company, saya masuk, 2 minggu kemudian ada laporan yang saya harus tandatangani, yaitu laporan keuangan di perusahan itu dan laporan pajak. Setelah saya cek angka yang dilaporkan adalah angka yang salah, saya panggil staf saya. Saya bilang “Kemarin yang saya tandatangani angkanya segini, padahal sebetulnya beda ya”. Dia jawab “Sudah biasa boss kasih laporan yang tak benar. Kalau kasih yang benar bayar pajaknya mahal”. Saya bergumul dalam doa, ini tak jujur, kalau melanggar saya bisa dipecat sementara saya dapat tawaran di perusahaan itu dengan gaji 3x gaji saya di perusahaan sebelumnya. Akhirnya satu hari saya memberanikan diri menghadap boss, dan saya katakana “Pak saya bukan orang suci tapi ceritanya kita mau belajar hidup benar, boleh gak lain kali laporan pajak kita laporkan yang jujur?” Boss saya geleng-geleng kepala. “Riko..Riko.. hampir semua firman Tuhan saya bisa ikuti kecuali yang satu itu” Saya pikir hebat juga, semua bisa diikuti kecuali yang satu itu. Lalu boss saya bilang lagi “Kita kasih ke pajak dikit, selisihnya, kita nyumbang panti asuhan, kalau kita kasih semua ke pajak nanti juga dikorupsi”. Saya katakan “Yesus bilang berikan pada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikan Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan. Masalah korupsi urusan dia dan Tuhan, yang penting kita jujur” Anyway, hari itu saya memuji Tuhan bahwa saya nggak dipecat.

Bulan berikut, beberapa hari sebelum laporan, saya bergumul, 2-3 hari sebelum tandatangan, saya menghadap boss dan resign. Saya keluar, waktu keluar, saya belum punya kerjaan, saya nganggur tapi sampai hari ini Tuhan tak pernah membiarkan saya kekurangan sedikitpun dalam hidup sekalipun saya memilih untuk jujur seperti Kristus. Cowok dipanggil untuk menjadi serupa Kristus, untuk hidup dalam kebenaran, kalau tak siap hidup dalam kebenaran Tuhan berarti tak siap untuk menikah. Kepada istri-istri diperintahkan untuk tunduk pada suami seperti tunduk pada Kristus, maka ya cowok2 harus berusaha menjadi serupa Kristus.

Istri tunduk pada suami, saya suka bahasa Inggris woman should be in submission to husband, bagian dari missi suaminya yang adalah mencintai, menyelamatkan, memandikan dengan air dan firman, mengasihi istrinya. Itu misinya dan istri harus menjadi bagian dari misi suaminya dengan membiarkan dirinya dicintai, dilayani, dikasihi, diselamatkan, disucikan dalam Firman. Maka kalau buat cewek tak akan ada masalah kalau punya calon suami yang memandikan dengan firman dan air, menguduskan, menyucikan, menyelamatkan, semua dilakukan suami untuk istri, buat istri tidak ada masalah untuk tunduk pada suami. Banyak kali yang terjadi adalah masalah suaminya.

Ef 5:31 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Suami dipanggil untuk meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istri dan menjadi satu daging, analogi yang sama, suami seperti Kristus, analogi Kristus meninggalkan Bapa-Nya dan segala kemegahan kerajaan untuk bersatu dengan mempelai-Nya, kita ,dan menjadi satu daging dengan kita. “Inilah tubuh-Ku” kita sambut komuni dan jadi satu tubuh dengan Kristus.

Arti nupsial laki-laki adalah memberi.  Nupsial artinya perkawinan. Bayangkan Kristus dan mempelaiNya, suami dan istrinya, serta Tuhan sebagai mempelai pria dan umat-Nya sebagai mempelai wanitaNya. Itu sebabnya dalam perkawinan, waktu suami melakukan hubungan seks dengan istri, suami berada pada posisi memberikan sperm, istri yang menerima. Suami dipanggil untuk member. Tubuh cowok didesign sedemikian rupa sehingga dalam kaitannya dengan wanita (fungsi nupsial) ia mempunyai fungsi memberi.

Wanita di sisi lain memiliki arti nupsial tubuh untuk menerima. Maka laki-laki menunjukkan cintanya dengan memberikan. Dengan memberi cinta ia menerima cinta. Seperti Allah memberi kehidupan. Cewek dengan menerima cinta, ia memberikan cinta.

Seks

Orang suka bilang seks enak, saya bilang gak enak. Yang enak pulang dari sini cari makan. Orang suka bilang seks seru, saya bilang gak seru. Piala dunia itu baru seru. Seks bukan sekadar enak atau seru. Sex is holy, bukan sekadar masalah enak atau seru karena waktu suami dan istri melakukan hubungan seks ini adalah peristiwa mewujudnya janji di atas altar. Cowok janji bakal sayang dalam sehat, senang dan sukses, cewek bilang aku cinta kamu..bla bla bla. Seluruh janji di atas altar hanya kata-kata, tapi waktu memberikan diri secara utuh dalam pernikahan janji ini mewujud dalam hubungan seks suami istri, sehingga seks menjadi perwujudan total pemberian suami dan istri, seks menjadi perwujudan tanda cinta kasih.

Seks sebagai persatuan cinta kasih artinya waktu suami memberikan diri untuk mencintai istrinya, dia memberikan diri sepenuhnya dan tidak menggunakan tubuh istri untuk kepuasan sendiri – tapi dengan cinta lewat tubuh seutuhnya. Begitu juga istri memberikan cinta lewat tubuh seutuhnya bagi suaminya. Maka seks menjadi ungkapan cinta satu sama lain. Familiaris Consortio mengatakan bahwa hubungan suami dan istri adalah peringatan tetap akan apa yang terjadi di atas salib, karena di atas salib Yesus telanjang dan memberikan cinta-Nya secara utuh bagi memelai-Nya. Maka dalam arti tertentu kayu salib adalah seperti ranjang pengantin bagi Kristus dan umat-Nya, karena di atas salib Dia rapuh dan memberikan diri-Nya seutuh-Nya bagi kita. Seperti suami dalam hubungan suami istri, dia telanjang, dan memberikan diri secara utuh bagi istrinya. Konsekuensinya kalau ini cinta kasih yang seperti cinta Tuhan, maka akan selalu berbuah kehidupan yang baru. Waktu kita menerima cinta Tuhan kita terus menerus diperbarui. Maka hubungan suami istri yang mencerminkan cinta Tuhan harus selalu terbuka pada kehidupan. Artinya seks harus memiliki dua unsur, yaitu persatuan cinta kasih dan prokreasi.

Kesimpulan

Marriage love = God’s love = true love = free, total, faithful, dan fruitful. Pemberian diri sepenuhnya, cinta yang total tak menahan apapun, semuanya buat pasanganku. Kadang-kadang orang bilang cintanya total kenyataannya tidak. Misalnya aku berikan diriku seutuhnya untukmu kecuali spermaku. Ini terjadi kalau pasangan menggunakan kontrasepsi, pakai kondom, dsb. Atau istrinya bilang aku memberikan diriku seutuhnya semuanya untukmu, kecuali kesuburanku. Jadi pakai kontrasepsi dan tak mau punya anak berarti tak mau berbuah kehidupan. Waktu kita tak mau berbuah kehidupan, ini bermasalah karena cinta Tuhan selalu terbuka pada kehidupan.

Faithfullness berarti memilih untuk mencintai terus menerus. Memilih mencintai orang yang sama setiap hari seumur hidup. Seringkali permasalahan dalam pernikahan bukan masalah prinsipil yang besar tapi seringkali masalah kecil jadi besar. Contoh, saya kalau suruh angkat kursi ini saya kuat, perbedaan kecil dalam satu hubungan kecil tak ada masalah karena saya kuat menanggungnya. Waktu pikul 1 menit saya masih kuat, cobain 3 menit akan gemetaran. Makin lama makin turun tangan saya, dan menit ke limabelas saya taruh.  Sebetulnya enteng, tapi kalau yang enteng harus dipikul setiap hari seumur hidup ceritanya akan beda. Faithfullness bicara tentang setia mau memikul perbedan kecil, kelemahan, semua seumur hidup walaupun lama kelamaan terasa berat.

Kalau kita bisa siap dalam sebuah hubungan pernikahan, buat cowok atau cewe artinya masing-masing dari  kita siap secara bebas memberikan diri secara seutuhnya, total, mencintai terus menerus menanggung segala perbedaan dan terbuka pada kehidupan. Waktu kita siap menjalankan ini – cowok-cowok menjadi seperti Kristus dan cewek-cewek menjadi seperti umat yang tunduk pada mempelai Kristus, maka kita siap untuk menikah.

Teaching by: Riko Ariefano

Wisma Indocement – 7 Agustus 2010

Transcript by: Mungky & Redi

Tagged with:  

The Fruit of the Gift

by: Monica

The “Gift”

God created human with the desire to love and to be loved. And God created human bodies as male and female, to help us to have the image of God’s love, where God loves us and we are loved by God. Therefore, the plan of the Creator is man and woman are destined to be a life-giving “gift”. Because, man’s body makes no sense by itself and so does the woman’s body. John Paul 2 said that God inscribed in our bodies as male and female a language. And the language of the body is “gift” and “self-gift”.

The gift itself is something given to us, not something we take over or we grasp. So, human body is also gifted to each other in the Sacrament of Marriage which later the vow of marriage is re-expressed without words in sexual union. Therefore the sexual union before marriage is not a gift, because his/her body and his/her partner’s body is not freely given yet to each other. Instead of giving “gift” for each other, they grasp the “gift” just like what Eve did in the Garden of Eden.

The fruit as “Gift”

Eve saw the fruit of knowledge of good and bad. She desired it. But she remembered what God, the Yahweh, said not to touch the fruit of knowledge. When God said that they were not to eat from the tree of knowledge of good and evil, it can’t be said that God didn’t want to give them the knowledge of good and evil. God certainly wants us to have the knowledge of what is good and what is evil. But this fruit of knowledge will be given by God Himself to human, instead of human took it by himself. The knowledge of what good and bad is something that we can’t invent by ourselves. We can only receive the knowledge from God, as a gift. Surely, we can’t grasp what is gifted to us.

The new Eve, Mary has redeemed the first Eve’s sin, not by refusing to eat the gift, but by refusing to grasp it. The old Eve doubted whether the gift will be given to her or not, but the new Eve believed and waited on the Lord in her yearning. Both of them desire in their heart the gift.

The Stolen Fruit vs The Given Fruit

Eve gave the stolen fruit to Adam, Eve’s fruit led to death. Mary also gives the given fruit to us, and her fruit flourishes, multiplies into an abundant harvest, and brings life to us. She brought Jesus to the world. The grasped gift led to sin, but the gift which is given to us by God bears fruit, the fruit of peace and joy in our heart.

 There is a fear in every woman (and man) during waiting for the pregnancy test after an out-of-wedlock sexual intercourse. Why? Because they are afraid of the fruit of grasped gift: death. But the tears of joy, abundant and inexpressible overflowing happiness come into every heart who was given the fruit by God, the Father.

source: Heaven’s Song chapter 5 — Christopher West

Tagged with:  

Celibacy???

by: Francisca Monica

Ketika anak remaja ditanyai mengapa tidak berminat jadi pastor/suster? Sebagian besar akan menjawab : ‘ntar ga bisa kawin’. Is it the right answer?

Celibacy and Marriage Analogy

Saya pernah makan dimsum sepuasnya dengan teman-teman saya. Menu yang kami tunggu-tunggu adalah ‘hakau’, menu dimsum favorit kebanyakan orang. hakau sangat laku karena sangat disukai, so, harus memesan dan menunggu. Sebelum hakau datang, bakpau, lumpia, somay sudah tersedia.

Ada beberapa teman yang walaupun menunggu hakau, mereka tetap menikmati bakpau, somay, dll. ada juga teman yang hanya minum dan menunggu sang hakau datang, karena tidak ingin kenyang terlebih dulu oleh makanan selain hakau. Ketika hakau datang, teman-teman yang sudah makan terlebih dulu, mungkin sudah merasa sedikit kenyang, karena hakau datangnya lama banget. Sementara yang menunggu hakau, langsung dengan lahap menikmati seperti orang kelaparan. Anyway, kami semua puas, makan enak dan kenyang.

Teman-teman yang menunggu hakau merupakan analogi para selibater. Mereka menunggu perkawinan surgawi. Mereka tidak puas dan tidak mau menikmati perkawinan duniawi. Mereka mengkhususkan dan mempersiapkan dirinya khusus untuk perkawinan surgawi.

Sementara mereka yang makan terlebih dulu merupakan analogi orang-orang yang menikah. Mereka menikmati terlebih dulu perkawinan surgawi itu di bumi. Dan nantinya, mereka juga akan menikmati perkawinan surgawi itu.

Anyway, di Surga, kita akan mengikuti dan mengambil bagian dalam perjamuan kawin Anak Domba Allah. Yaitu Yesus, sebagai mempelai laki-laki akan menikah dengan Gereja-Nya, kita.

Celibacy VS Sexual Excitement

Banyak orang berpikir bahwa, dengan hidup selibat maka hidup akan menjadi boring dan tidak dapat merasakan nikmatnya seks. Wait! Sexuality is not just about intercourse, but it reveals who we are. Seks bukan hanya soal hubungan intim dan kenikmatannya. Seks berbicara soal diri kita. Lewat seksualitas kita sebagai pria dan wanita, kita dapat semakin memahami diri kita dan memahami Tuhan. Pilihan untuk selibat bukan hanya berarti tidak berhubungan seks.

Yang akan membawa joy dalam hidup kita bukanlah sex, tetapi love.

Celibacy doesn’t reject sexuality

Jika anda berpikir selibat adalah pilihan untuk tidak melakukan hubungan seks maka, you lose the point of celibacy. Mereka yang memilih untuk selibat, tidak menolak seksualitas mereka.

Sebaliknya, mereka malah menggambarkan tujuan dan makna utama dari seksualitas manusia, yaitu pemberian secara utuh kepada Tuhan. Mereka berfokus pada suatu hidup yang lebih menyenangkan di Surga. Lewat pemberian diri secara utuh ini, mereka berfokus pada persatuan dengan Tuhan di Surga. Mereka menjadi saksi bahwa terdapat sukacita yang lebih besar daripada sukacita di dunia ini, yaitu sukacita surgawi.

Celibacy is not repressing and Marriage is not releasing

Selibat tidak menahan dan memendam dorongan seksual. Dan di sisi lain, marriage atau pernikahan bukanlah suatu zona aman melampiaskan dorongan seksual.

Para selibater menikmati seksualitas mereka dan mengalihkan segala dorongan seks mereka kepada persatuan utuh dengan Tuhan dan pemberian diri secara utuh. Pasangan yang menikah mengucapkan janji pernikahan mereka dan mereka mengucapkannya tanpa kata lewat penyerahan diri secara utuh, murni dan bebas lewat hubugan seks.

Baik memilih untuk menikah maupun selibat, seseorang tetap harus menjaga kemurnian diri masing-masing dan menjadi memenuhi panggilan dirinya yaitu untuk memberi. Baik dengan memberikan diri secara utuh kepada pasangan, maupun mempersembahkan diri lewat selibat.

Baik menikah, maupun selibat, seseorang dewasa juga dapat dipanggil sebagai orang tua. Ayah dan ibu sebagai orang tua bagi anak-anak mereka dan Imam dan biarawati dipanggil menjadi gembala bagi umat-umat-Nya.

The GIFT of Celibacy

Selibat merupakan suatu panggilan khusus dari Tuhan. Mereka seperti halnya kaum non-religious, mencintai Tuhan. Hanya saja mereka mengambil keputusan radikal, yaitu dengan bebas memilih untuk mempersembahkan diri mereka.

Tetapi hal penting yang perlu diingat, bahwa selibat bukanlah GIFT dari para selibater kepada Tuhan, melainkan GIFT dari Tuhan pada pilihan-Nya.

Am I called?

‘sepertinya saya dipanggil’ bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul. Dan ‘ sepertinya saya tidak terpanggil’ bukanlah sesuatu yang dengan mudah kita katakan. Setiap orang harus meneliti hatinya dan bertanya pada Tuhan, apa yang menjadi panggilannya. Diperlukan waktu dan proses untuk mengetahui panggilan seseorang.

Berikut tanda-tanda / gejala yang umumnya dialami oleh orang-orang yang terpanggil dalam panggilan khusus ini  (taken from Fr. George, CSE notes on facebook):

  1. Senang ikut kegiatan di gereja. Senang kumpul-kumpul dengan teman-teman di gereja. Senang kalau berada di gereja.
  2. Suka melihat orang-orang yang berjubah. Pernah berpikir: “Kalau aku pakai jubah, seperti apa, ya?”
  3. Punya keinginan yang kuat untuk melayani Tuhan. “Kalau gak nikah, aku bisa lebih intensif melayani Tuhan!”
  4. Ada orang yang pernah bilang ke kamu: “Kau cocok jadi romo, deh!” atau “Kelihatannya engkau cocok jadi suster.” Dan yang ngomong gak hanya satu orang saja!

Bila anda memang merasa dipanggil, jangan ragu, kenali panggilanmu lebih lagi.

Jika anda merasa tidak terpanggil, benarkah anda tidak terpanggil??? Baiklah, mohon doamu untuk para selibater.

Source : Theology of the Body for teens by Jason Evert chapter 9, TOB leadership training by Brian Butler video chapter 9.

Tagged with:  

Take Me Out Summary

Transcript by Mungky Kusuma (talk) & Rediningrum Setyarini (talkshow)
Edited by Lia B. Ariefano

TLC 5 – Take Me Out

3 July 2010
Lia B. Ariefano
Ruang Melati, Wisma Indocement, Sudirman, Jakarta

TLC memberikan satu materi yang berkesinambungan, bulan lalu Single, Sexy and Smart mengenai bagaimana kehidupan sebagai seorang single, dan bulan ini soal Take Me Out, kita akan membahas bagaimana kita memulai suatu relationship dan apa yang seharusnya kita lakukan selama masa perkenalan dan pacaran.

Flyer bulan ini gambarnyanya Mario Bros dan Princess. Ceritanya Mario Bros yang mau menyelamatkan seorang Princess, mereka melakukan adventure bersama, adventure apa yang dilalui oleh orang-orang yang pacaran? Mengapa itu dikatakan adventure?

Dari hasil kuestioner yang tadi dibagikan dan diisi oleh teman-teman,  60% respondennya adalah  perempuan dan 31% laki-laki. 69%  menyatakan siap pacaran, yang tidak siap 14%. Pertanyaan berikut menurut teman-teman kapan usia yang paling baik atau siap untuk mulai pacaran? 1.4% menjawab SMP, 25% SMA, 46% menjawab kuliah, dan 25% berpendapat saat bekerja.

Pyramid – sebuah dasar yang penting untuk mulai hubungan.

Saya akan mulai dengan cerita pribadi, kalau berdiri di sini bukan saya selalu benar tapi karena saya banyak melakukan kesalahan di masa lalu saya. Tapi saya bersaksi lewat kehidupan saya bahwa hidup dalam Tuhan adalah hidup berkemenangan. Tidak ada satupun kesalahan bila kau bawa pada Tuhan, tidak akan diubah menjadi kesaksian dan kemenangan. Bila anda hidup benar itu adalah rahmat, tapi kalau masih ada yang harus diperbaiki, mari minta rahmat yang benar, maka Ia akan mengubah kesalahan menjadi berkat.

Definisi pacaran

Menurut anda, apa definisi pacaran?

Peserta cowok: menurut salah seorang peserta kita berbagi suka dan duka.

Peserta cewek: mengenal pasangan lebih dekat.

Peserta cewek: pacaran adalah meluangkan waktu dengan orang yang kita suka. Dan memperhatikan dia.

Kita banyak sekali dibombardir dengan film-film romantic. Akhir-akhir ini ada film Letters of Juliet misalnya. Tanpa sadar itu mempengaruhi pendapat kita mengenai suatu hubungan, terutama ‘romantisme’.

Saya sendiri mulai pacaran sejak usia 15 tahun, waktu itu baru lulus SMP dan 2 bulan masuk SMA. Saya pacaran selama 10 tahun sebelum akhirnya putus. Setelah itu ada banyak Mario Bros-Mario Bros berikutnya dalam kehidupan saya, seperti dalam sebuah game, mati satu, bisa dengan mudah memulai lagi. Saya tak mengerti arti pacaran sesungguhnya sampai akhirnya saya mengalami banyak kejatuhan dan belajar dari kesalahan-kesalahan itu.

Waktu usia 15 tahun kalau ditanya apa siap menikah, jawabannya saya mau menikah tapi pastinya saya belum siap.

Pacaran bukan hanya status tapi sebuah persiapan, yang artinya kalau saya memulai suatu relationship berarti saya mempersiapkan diri untuk menikah dengan dia.

Waktu SMA saya memiliki gambar diri yang buruk, dari dulu bobot dan bentuk tubuh saya sudah besar seperti ini, bukan ukuran badan orang Asia yang ramping putih, bermuka mulus, saya juga menilah diri saya tidak pintar, sehingga saya tidak pernah berpikir ada yang ‘mau’ sama saya. Saya ingin pacaran seperti anak-anak SMA lain lain tapi tidak berani bermimpi. Boro-boro nikah, ada yang mau macarin saya saja sudah bagus. Pandangan saya terhadap diri saya sendiri yang demikian buruk berdampak pada cara saya menila satu hubungan atau bahkan mempertahankan satu hubungan dengan alasan yang salah.

Banyak orang dengan mudahnya jadian dan mudahnya putus, kenapa?

Teman-teman pernah punya sandal jepit merk Swallow yang beli di pasar, harganya sekitar sepuluh ribuan, bandingkan bila kita beli sandal Crocs, yang harganya sekitar Rp. 300.000 (itu sudah diskon). Waktu pakai sandal Swallow, yang bila keinjak yang keinjak sedikit saja mudah putus, waktu putus apakah kita simpan atau kita reparasi ke Stop and Go? Rasanya tidak, ya kita buang saja sandal yang putus itu.

Tapi kalau sandal Crocs-mu rusak, kira-kira apa yang teman-teman lakukan? Apakah dengan mudahnya teman-teman buang sandal itu ke tong sampah seperti kita membuang sandal Swallow tadi?  Kita pasti  punya attitude yang berbeda waktu sandal Swallow putus dan waktu  Crocs putus.

Teman-teman sendiri yang tahu bagaimana  menilai hubungannya dengan kekasihmu.

Kira-kira sikap hatimu seperti apa. Apakah engkau perlakukan pasanganmu seperti sandal Swallow atau Crocs? Apakah kau punya effort untuk bawa atau mempertahankan hubunganmu seperti kau membawa Crocs-mu ke Stop and Go atau hubunganmu hanya seharga Swallow yang dengan mudahnya kau buang ke tong sampah?

Apakah engkau menghargai dirimu seperti Swallow yang dengan mudahnya masuk ke satu hubungan ke hubungan lain atau bahkan mempertahankan suatu hubungan yang abusive? Atau engkau menghargai dirimu untuk menunggu sampai dirimu siap untuk memulai suatu hubungan yang serius dan membawa berkat? Hanya kau yang tahu bagaimana sikap hatimu dan menentukan bagaimana kau masuk ke satu hubungan.

Waktu kita masuk ke dalam satu hubungan kita menaruh  hati kita dalam posisi yang fragile. Posisi di mana hati itu ada pada situasi siap terluka. Sehingga banyak yang perlu dipertimbangkan waktu kita hendak memutuskan masuk dalam suatu hubungan pacaran. Tapi pada kenyataannya banyak kondisi yang salah dalam memulai satu hubungan. Dalam masa pendekatan seharusnya banyak yang harus dicari tahu dan dipertanyakan. Tapi banyak kesalahan yang dilakukan waktu memutuskan akan pacaran. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:

1. Kita tidak banyak bertanya.

    Waktu PDKT perasaan kita sangat terbuai dengan sensasi deg-degan. Buat yang cowok merasa:  cewek oke banget, ini tipe idealku, sexiest girl yang pernah gw kenal dan ngasi respon ke gw. Buat yang cewe: wow ini cowok sixpack, keren, beken di sekolah/kampus, merhatiin gw bangt, dsb. Waktu itu jantung mulai dug-dug-dug, mulai dekat dan tak sempat tanya apa-apa karena yang terasa hanya debaran jantung dan berusaha untuk tampil memikat di hadapannya. Kemarin ada teman yang cerita bahwa seorang temannya pdkt dan kemudan jadian. Di satu pergi makan setelah jadian, tiba-tiba pasangannya buat tanda salib sebelum makan. Teman dari teman saya ini (yang bukan Katolik) kaget dan langsung bertanya pada pacar nya: “Lhooo.. kamu Katolik?”  Inilah contoh yang terjadi kalau waktu pdkt tak tanya apa-apa, tapi lansung ‘nyamber’, tak sempat tanya latar belakang keluarganya bagaimana, hubungan dengan keluarganya bagaimana, apakah pernah pacaran sebelumnya? Kalau pernah, putusnya karena apa? Semua mungkin pernah ditanyakan tapi tak diolah dan dipikirkan dengan serius karena sibuk dengan hati yang deg-degan, dan ketakutan kehilangan dia, tanpa pernah tahu apakah ada hal-hal yang bisa mempertahankan hubungan ini bila kalian sudah bersama dan menemukan banyak perbedaan.

    2. We ignore warning signs of potential problems.

      Kalaupun sempat bertanya, kita tahu misalnya dia seorang drug addict, dia seorang pemakai narkoba,tapi karena terlalu terbuai dengan perasaan sehingga tak dipedulikan. Kita berpikir tak apa-apalah entar juga berubah, namanya juga orang, nanti kan ada aku yang mengubah dia, aku mampu mengubahnya. Kita ignore, merasionalisasikan banyak hal, atau bahkan menyangkal apa yang kita tahu.

      3. We make premature compromise.

        Karena perasaan begitu intense, kita membuat kompromi yang premature, banyak keadaan di mana orang baru berteman dekat sudah melakukan hubungan seks. Dengan hubungan seks ini rasanya yang lain menjadi tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Atau kita mengetahui ada hal yang salah yang dilakukan pasangan kita, mis: awalnya kita tahu bahwa pria itu sudah beristri tapi berkompromi dengan kenyataan itu dengan mengatakan bahwa ini hanya ‘persahabatan’ dan tidak akan pergi ke manapun.

        4. We give in to lust blindness.

          Asal suka sama suka, tak apa-apa, apa salahnya? Semua dilakukan hanya berdasarkan insting seksual.

          5. We give in to material seduction

            Waktu uang, penampilan, reputasi, kekuasaan, atau tuntutan gaya hidup mengacaukan kemampuan untuk melihat apakah cowok/cewek ini cocok dengan saya?

            6. We put commitment before compatibility

              Membuat komitmen sebelum tahu cocok atau tidak.Misalnya: melalukan hubungan seks tanpa mengenal dengan baik pasangan kita, atau karena perasaan yang begitu intens langsung memutuskan mau menikah tanpa mengenal dengan baik pasangannya.

              Dari hal-hal ini saja kita bisa melihat, begitu banyak hal yang harus di settle bahkan sebelum kita memulai satu komitmen untuk pacaran. Sudahkah kita mengenal diri kita sendiri? Atau sudahkan kita belajar mengenal lawan jenis kita? Sudahkah kita mengerti bagaimana mereka bertindak atau memandang sesuai dengan gender mereka. Hal ini penting untuk diketahui karena akan sangat berpengaruh dalam interaksi suatu hubungan.

              Laki-laki rasional:

              Communicate himself in systematic logical flow, step by step, arguments, solutions oriented. Lelaki mengkomunikasikan diri dengan cara sistematis, cowok kalau punya masalah tak seperti perempuan. Kalau perempuan punya masalah biasanya dia tinggal angkat telpon, dan cerita ke salah satu sahabatnya, dan kalau sudah cerita masalah seolah selesai (padahal belum). Cowok tidak seperti itu. Kadang cewek merasa tak disayang/dianggap karena kalau cowok punya masalah dia tak cerita, cowok kadang perlu waktu untuk mengolah itu semua, ia perlu masuk ke ‘gua’ nya. Kalau sudah tahu bisa solve problem atau paling tidak ia sudah tahu bagaimana mengontrol dirinya,  dia baru bisa share/ngomong. Ia akan makin stress bila dipaksa berbicara pada saat dia masih bergumul dengan masalahnya.

              Lelaki sight sensitive:  dari system di otaknya, cowok memang sudah sight sensitive. Jadi teman-teman perempuan harus membantu teman lelaki supaya bisa menjaga situasi hatinya dengan berpakaian rapi, jangan seperti kurang bahan. Karena kadang perempuan sendiri yang tak tahu diri,dan menyodorkan dirinya sebagai ‘objek’, dia tak tahu bagaimana cara berpakaian. Sebagai perempuan hendaknya kita menjaga integritas kita dengan berpakaian dan bersikap secara modest.

              Perempuan emotional:

              Communicate herself by expressing her emotional condition and needs, dengan berbicara perempuan merasa setidaknya setengah sudah beres. Waktu mulai sharing satu sama lain perempuan merasa stress dan tekanan perlahan-lahan berkurang.

              Waktu cewek ketemu cowok kadang bete. Kita dekati dia maksudnya pengen sharing tapi belum selesai ngomong, cowok sudah bilang sebaiknya gini… gini.. gini.. akhirnya cewek merasa salah, padahal cowok bermaksud baik dalam arti memberi solusi. Tetapi yang diperlukan perempuan kadang hanya ingin didengarkan bukan minta solusi. Hal-hal seperti ini harus diketahui sebelum masuk dalam relasi pacaran supaya banyak hal dalam pacaran bisa dibicarakan dan diolah bersama.

              Buat teman-teman cowok, perempuan sangat sensitive dengan kata-kata. Sehingga tolong jangan membombardiri perempuan dengan kata-kata/perhatian yang tidak pada tempatnya. Tetapi teman-teman perempuan juga jangan mudah ke GR-an. Contoh, ada satu teman kami yang waktu Valentine mau membelikan bunga untuk mamanya. Tetapi  karena tak ada kembalian, dia beli satu lagi, akhirnya ketika ketemu seorang teman ceweknya, dia kasih bunga itu tanpa bercerita bahwa bunga itu dibeli gara-gara tidak ada kembalian, si cewek berbunga-bunga dan berpikir cowok ini suka pada dia, dsbnya.

              Cowok bisa memberikan sesuatu tanpa berpikir panjang dan mungkin tanpa maksud apapun, hanya niat baik. Kita kaum perempuan harus bisa menempatkan semuanya pada porsinya.

              BERPACARAN

              Pertanyaan yang paling sering didapatkan bila membicarakan soal pacaran adalah: sampai di mana ‘batasan’ nya dalam pacaran? Apakah pegang-pegang kepala, hidung, tangan saja, atau sampai di mana batasannya?

              Yang membuat saya suka bingung, kenapa orang menanyakan di mana batasannya? Bila kita menyetir mobil misalnya ke Puncak dengan jalannya berkelok-kelok dan kita tahu di ujung sana jurang, apakah kita mau bertanya di mana batasan jurangnya dan mencoba-coba mendekati batas jurang itu? Yang kita lakukan adalah berhati-hati dan menyetir sebaik mungkin sehingga kita sampai di tujuan dengan selamat dan tidak kurang satu apapun.

              Pertanyaan sampai di mana batasan pacaran sebenarnya menunjukkan bahwa sikap hati kita sudah menuju ke arah yang salah. Sikap hati kita menuju pada ‘jurang’ kesalahan satu hubungan pacaran. Kita terfokus pada jurang itu dalam pacaran, padahal banyak sekali yang harus dikerjakan untuk memperoleh satu hubungan yang benar-benar mempersiapkan suatu pernikahan. Instead of asking how far is too far, kenapa tak bertanya bagaimana  melakukan pertemanan/relasi yang sehat sehingga hubungan ini dipersiapkan ke pernikahan yang membawa berkat dan menyenangkan hati Tuhan? Karena seharusnya pacaran itu tak hanya nonton, makan, nonton makan, nonton makan, atau berpelukan, bergandengan.

              Waktu terjadi satu keintiman, terutama hubungan seks, ada satu hormon dalam tubuh kita yang disebut oksitosin yang berefek seperti superglue/ perekat. Waktu melakukan sesuatu hubungan yang cukup dekat/intim dengan pasangan kita, tubuh wanita mengeluarkan hormon ini, yang menjadi perekat yang sangat kuat. Sehingga bila terjadi apa-apa, kerusakan yang diakibatkan akan sangat buruk. Mis: triplek yang direkatkan dengan aica aibon ada triplek lain. Bila hendak dibuka perekatnya pasti akan menimbulkan kerusakan pada salah satu (atau kedua) triplek itu..

              Dari pengalaman, saya sendiri tak pernah berpikir ketika di SMA, tak pernah menyangka kalau banyak kesalahan yang saya buat membuat saya terluka, hati menjadi baal, sehingga sebagai akibatnya, mungkin kita tidak dapat merasakan/ bonding yang sama di hubungan berikutnya. Akibatnya dalam hubungan berikutnya orang tak merasakan seperti yang pertama.  Ini harus diperhatikan: waktu memulai hubungan kita menaruh hati pada posisi itu, posisi siap terluka, hati yang hancur, tak berasa lagi ke depannya. Hal ini menjadi masalah bila ternyata kita tidak menikah dengan partner tersebut, dan akhirnya suami/istri kita yang menanggung karung-karung masa lalu. Kalaupun kita menikah, apakah benar dia cowok/cewek yang cocok untuk kita, atau hanya karena premature compromise seperti yang kita bahas di depan tadi?

              Pertanyaan yang harus didiskusikan waktu ketemu:

              -      apa sih tujuan hidupmu,

              -      hidup seperti apa yang kau mau, hidup seperti apa yang kau bayangkan,

              -      keluarga seperti apa yang kau bayangkan ingin kau bentuk dengan aku,

              -      mampukan membawa calon suami atau istri untuk menuju tujuan itu?

              -       mampukah saling membantu, bekerjasama untuk saling membawa dan menjadi the best of each other, menjadi pasangan yang saling support sehingga setiap pribadi bisa menampilkan potensi terbaik dari dirinya masing-masing.

              Saya pribadi waktu pacaran selama 10 tahun, saya sendiri tak memperhatikan hal-hal ini. Boro-boro memperhatikan, kepikiran pun tidak tapi kemudian saya melihat setelah 9 tahun dan kemudian bertunangan, saya mulai memikirkan hal ini dan parahnya ternyata tak ada satupun yang saya rasa bisa cocok di antara kami.Tetapi kenapa ini bisa bertahan 10 tahun? Jawabannya karena saya pribadi tidak tahu apa yang saya mau. Saya tidak tahu apa yang saya suka, suami seperti apa yang saya mau, saya tidak tahu bagaimana saya ingin diperlakukan, keluarga seperti apa yang saya mau, semuanya saya tidak tahu. Saya tidak mengenal diri saya. Sehingga saat itu 10 tahun bisa berjalan karena saya mengkompromi apapun yang dilakukan oleh mantan saya, karena saya berpikir, itu juga yang saya mau. Ternyata tidak! Sehingga saat ini, bahkan tidak pernah ada kata terlambat, eksplorelah dirimu, cari apa yang kau mau dan diskusikan itu dengan pasanganmu.

              -      Gimana caranya kau handle pacar kalau lagi PMS (pre menstrual syndrome)  katanya cewek jadi moody, bête. Para cowok, apakah kalian mengerti bagaimana menyikapi hal ini?

              -       Bagaimana menghandle finance bersama-sama?

              -      Buat para cowok apakah sudah memikirkan dan tahu bagaimana caranya membawa istri dan anak menjadi keluarga kudus dihadapan Tuhan? Karena ini adalah tugasmu menjadi imam dalam keluarga.

              -      Buat cewek apakah engkau taat dengan keputusan yang dibuat oleh calon suamimu? Apakah engkau cukup percaya pada pasanganmu untuk membuatkan keputusan untuk hidupmu dan anak-anak kalian di depan sana?

              Hal-hal in perlu dipikirkan karena dalam kehidupan akan banyak hal yang muncul. Bila ini tidak dibicarakan sejak awal kejutan-kejutan akan makin banyak kita temui. Masa pacaran adalah masa pengenalan dan menimbang bersama apakah hubungan ini bisa dilanjutkan terus dalam pernikahan?  Keputusan menikah adalah keputusan yang dibicarakan bersama melalui proses bukan she’s the one, he’s the one lalu yuk menikah.

              Banyak hal yang perlu dibicarakan bersama dan kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikenali. Bayangkan kondisi yang paling anda tidak sukai dari pasangan anda hari ini, dari kebiasaan kecil sampai yang besar, atau bahkan prinsip. Lalu bayangkan dalam pernikahan kebiasaan itu tidak berubah seperti yang anda mau, tapi makin parah 10x lipat misalnya. Apakah dengan hal seperti itu engkau mau terus mencintai pasangan?

              Di awal acara ini kita melihat semua pyramid relationship.

              Dulu tidak ada mobil, sehingga yang namanya cowok kalau datang ke rumah cewek, tak ada tempat lain, duduk di situ, pacaran ditonton/ berkumpul bersama mama, papa, adik, dan keluarga pihak wanita. Sehingga dari awal sang cowok sudah berpikir dalam konteks serius dengan wanita yang dikunjungi dan dipacarinya ini.Tapi saat ini waktu mobil diciptakan, konteks pacaran sudah beralih dari yang serius menjadi sebuah rekreasi. Bahkan ada pasangan yang sudah 4 tahun pacaran, orang tua sang cewek tidak pernah melihat muka pacar anaknya, karena tiap kali menjemput ke rumah, sang cowok tinggal mengklakson dan kemudian menbawa sang pacar keluar rumah, bahkan tanpa meminta ijin pada orang tua perempuan. Hal-hal ini membuat nilai dari pacaran menjadi turun dan tidak dianggap serius. Saat degradasi nilai ini terjadi, hal yang dilakukan dalam pacaran pun makin lama menjadi makin tidak serius dan tidak berkualitas.

              Dalam pyramid yang benar terlihat bahwa tingkat dasar yang pertama harus dilakukan adalah friendship. Waktu saya SMA, mama saya selalu menasehati saya untuk tidak berpacaran dahulu, bertemanlah sebanyak mungkin. Saat itu saya menganggap ibu saya adalah ibu yang paling kolot se dunia. Berteman terus sampai kapan? Kayaknya dari saya kecil sampai hari itu (di saat saya SMA) saya sudah berteman.

              Saat itu saya memandang enteng arti berteman. Tetapi setelah  setelah makin dewasa, keluar dari satu ke alahan ke kesalahan berikutnya saya sadar bahwa mama saya benar dan pyramid ini benar!

              Awalnya dimulai dari persahabatan, kita tertarik dan kenal kebiasaan dalam berteman. Misalnya:  ini cowok kalau makan kakinya diangkat, kalau makan bakmi disedot sampai minyak beterbangan ke mana-mana, kalau bicara suka menyumpah. Atau: ini cewek kalau makan belepotan, buang ingus sembarangan. Kita mulai melihat dan mulai kenal sahabat kita kalau berbicara soal bola langsung bersemangat atau bicara soal belanja langsung berbinar matanya. Ini semua kita ketahui waktu kita bersahabat. Dengan bersahabat, sang cowok bisa beramai-ramai main ke rumahnya dan kenalan dengan orang tua serta kakak/adiknya. Melihat apakah engkau bisa cocok dengan keluarga ini, dsbnya.

              Saya dan suami bersahabat 8 tahun, waktu kami kenalan dia masih dengan mantannya, saya masih dengan mantan saya. Kami bersahabat bersama-sama. Dia sering main ke rumah saya dan kenal dengan orang tua saya karena sering memakai rumah saya untuk doa bersama. Saya pun karena bersahabat suka menelpon dia ke rumahnya dan kebetulan yang angkat mamanya, kadang suka ngobrol sedikit, tanpa pernah tahu bertahun-tahun kemudian, dia akan jadi mama mertua saya. Setelah persahabatan dan melihat hubungan ini visible di tahab bersahabat, barulah masuk ke dalam pdkt lebih, ekslusive relationship, pertunangan dan pernikahan, baru sexual intimacy.

              Jika pernah menonton film Back-up Plan, terbolakbalik, pertama kali hamil duluan karena inseminasi, karena JLo tak percaya cinta dan lelaki yang cocok, tapi setelah inseminasi ketemulah dia dengan lelaki yang dia suka, sehingga semua akhirnya jadi kacau balau.

              Waktu posisi piramid terbalik atau dibolak balik, landasan menjadi tipis dan runcing sehingga mudah hancur karena landasannya tidak kuat.

              Waktu membuat seks menjadi dasar suatu hubungan akan banyak prematur compromise yang dibuat, akan banyak kesalahan yang mengikuti,  banyak luka penderitaan yang berkepanjangan waktu masuk ke pernikahan banyak hal yang harusnya dibicarakan supaya tidak ada penyesalan yang terjadi di depan sana.

              Ada studi yang mengatakan hormon yang membuat perasan menjadi berbunga-bunga itu hanya bertahan 3 bulan. Saat perasaan berbunga-bunga/ fall in love berakhir, cinta menjadi sebuah keputusan yang dibuat hari demi hari. Inilah yang disebut sebuah adventure bersama, terutama dalam pacaran. Mario Bros tidak hanya menyelamatkan sang puteri, tetapi berjuang bersama sesuai dengan panggilannya sebagai lelaki dan perempuan untuk mengerjakan suatu hubungan yang benar terutama di hadapan Tuhan, sehingga saat masuk ke dalam pernikahan, pernikahan itu mempunyai dasar yang kuat dan membawa berkat, dan terutama menyenangkan hati Tuhan.

              TALK SHOW

              [Moderator] Kevin

              Teman-teman siapkan pertanyaan tentang pacaran. Sebelumnya saya undang hot couple of the month: Ryan dan Vera.  Oke teman-teman, ada yang mau tanya tentang pacaran atau relationship?

              [Peserta] ….

              Pacaran beda agama boleh nggak sih? Tapi kita bisa menghargai agama masing-masing.

              [Pembicara] Lia

              Bayangkan bagaimana kita dari kecil kita dididik dengan cara yang berbeda. Ada banyak prinsip yang berbeda. Kalau mau bicara soal larangan, tidak ada yang bisa melarang, keputusan ada di tanganmu. Tapi ada banyak hal yang harus dipikirkan dalam pernikahan yang berbeda agama. Adik saya sendiri menikah dengan seorang muslim. Sebelum pernikahannya saya membombardir dia dengan banyak pertanyaan dan meminta dia banyak berpikir, dan yang saya tahu dalam pernikahan Katholik dan luar Katolik/ nikah campur, pihak yang bukan Katolik diminta menanda-tangani persetujuan bahwa anak-anak dari pernikahan itu harus dididik secara Katholik. Jika pihak yang berbeda agama tidak mau menandatangani, maka Gereja tidak dapat meluluskan permintaan mereka menikah secara Katholik. Gereja menjunjung tinggi nilai pernikahan Katholik tetapi Gereja tidak dapat melarang bilang ada pasangan campur yang ingin menikah secara Katolik. Jadi tidak ada larangan, tetapi dalam pernikahan akan banyak perbedaan nilai yang harus dijalani bersama. Ini harus dipertimbangkan sebelum pernikahan. Jangan berpikir bahwa jika hari ini ada perbedaan, suatu hari itu akan berlalu begitu saja. Saat pacaran akan mudah rasanya membayangkan menghargai perbedaan prinsip, tapi setelah menikah, apalagi setelah anak-anak lahir, dengan banyak factor yang mempengaruhi apakah benar kalian bisa menjalani ini, dan pihak yang Katolik benar-benar bisa menjalani janjinya untuk mendidik anak-anak secara Katolik?

              Sekali lagi  tidak ada larangan,  tapi ada salib yang harus dipikul. Kalau ada perbedaan agama bawalah dalam doa, mintalah pada Tuhan menjagai setiap keputuskanmu, terutama supaya engkau tetap setia kepada Tuhan dan bersedia menaati perintahNya.

              [Moderator] Kevin

              Cukup komprehensif. Apakah sudah cukup menjawab? Untuk teman-teman yang lain, apakah masih ada pertanyaan? Apakah ada pertanyaan untuk hot couple ini? Oke. Tadi kita sudah banyak bicara soal dream, relasi dan fisik. Saya mau tanya nih, kalau lagi pacaran, kalau lagi makan, harusnya siapa sih yang bayar? Saya punya pertanyaan, kalau pacaran mestinya siapa yang bayarin?

              [Pembicara] Lia

              Saya bisa bilang itu kembali ke pribadi masing-masing tapi saya mau memberi pandangan begini. Saya pribadi tidak suka dibayarin karena saya merasa bisa kok bayar sendiri, saya berpenghasilan, atau saya dapat uang saku, atau saya ngga mau dibilang perempuan matre. Tapi dalam pacaran, kita harus memberikan peran itu kepada cowok karena nantinya seorang cowok harus belajar untuk bertanggung jawab menghidupi keluarganya. Jadi yang terpenting bukan siapa yang bayar tetapi memberikan peran pada cowok untuk membuktikan dirinya kalau dia mampu bertanggung jawab atas keputusannya. Dia memutuskan untuk berani pacaran, artinya dia merasa mampu untuk belajar berbagi hidup dengan seseorang. Bukan hanya uang, tapi waktu, prioritas, perhatian, dll. Tapi yanh cewek juga jangan jadi cewek matre mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sebagai perempuan dalam konteks pacaran yang benar, artinya juga calon istri, si perempuan juga harus tahu, si cowok ini gajinya seberapa dan mulai menyesuaikan diri dengan gajinya dia. Kalau pun misalnya gaji cewek 2 kali lipat dari gaji cowok, si cewek harus mau menghormati dan belajar bergaul sesuai dengan kemampuan si cowok.

              Memang dalam pacaran ngga harus ‘pleg-pleg’ musti ngikutin gaji si lelaki, tapi paling tidak si perempuan tahu hidup seperti apa yang akan dia jalani bila ia menikah dengan cowok ini nantinya.

              Mis: dia berasal dari keluarga kaya, mungkin keluarga nya bisa menghidupi dia 7 turunan, dia pacaran dengan cowok yang latar belakangnya berbeda. Apakah sang perempuan mau menjalani perbedaan ini?

              Waktu pacaran, masalah financial seperti ini dianggap angin lalu. Tapi dalam pernikahan hal ini banyak menjadi cikal bakal terjadinya perceraian.

              [Moderator] Kevin

              Jadi kalau saya tidak salah menangkap, cewek harus mau benar-benar mengerti  cowok.

              [Pembicara] Lia

              Buat cewek ini juga jadi suatu point check list pada diri sendiri. Misalnya kalau ceweknya dari keluarga berkecukupan berpacaran dengan cowok dari keluarga yang biasa-biasa aja, lalu tiap pacaran complain terus. Lebih baik nggak usah aja.  Kita harus peka terhadap point check list kita dan peka terhadap itu. Sekali lagi masalah ekonomi bisa jadi masalah yang cukup pelik.

              [Moderator] Kevin

              Oke. Sekarang, supaya lebih real, kita tanya langsung pada the hot couple of the month, Ryan dan Vera. Pada saat PDKT, yang ngajak makan duluan siapa?

              [DI] Ryan

              Pada saat PDKT yang ngajak makan duluan siapa? Pada saat PDKT, saya sedang jadi seorang yang workhaholic. Selama masa PDKT itu kami ketemu di telpon dari jam 1 sampai jam 4 pagi. Sesudah itu saya kadang mengajak dia makan, tetapi lebih sering dia karena dia tahu gue kadang-kadang suka lupa makan.

              [Moderator] Kevin

              Oke. Itu pada masa PDKT kan? Nah tapi yang paling duluan ngajak makan siapa? Salah satu aja.

              [DI] Ryan

              Bingung juga. Ya gantian, kadang gue kadang dia.

              [DI] Vera

              Gantian. Biasanya abis nonton trus makan.

              [Moderator] Kevin

              Oke. Soal uang kadang jadi sensitive dalam suatu hubungan. Padahal tidak mesti seseorang itu pas ada uang banyak terus. Jadi penting untuk sedini mungkin bersikap apa adanya. Pertanyaan berikutnya?

              [Peserta] Yosep

              Ada yang bilang kata hati itu suara Tuhan, seringlah mendengar suara hatimu. Tapi bagaimana jika kata hati kita salah? Apakah kata hati itu bisa dipertanggungjawabkan? Karena kalau kita dengar kata orang, kita jalan, kita bisa salahkan orang. Tapi kalau kita ikuti kata hati kita untuk jalan sama orang, tepi ternyata salah, apakah kata hati kita itu bisa dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawaban? Karena kalau kata hati kita itu salah, kita bisa terpuruk dalam rasa sedih. Dan bagaimana kita menyikapi keterpurukan itu atas kesalahan dari kata hati kita sendiri?

              [Moderator] Kevin

              Oke. Saya sudah menangkap. Jadi kalau kita mengikuti kata hati dan ternyata salah bagaimana kita menyikapi kata hati dan keterpurukan itu? Tetapi ini dalam konteks relationship, betul?

              [Peserta] Yosep

              Bisa juga dalam berhubungan kita mencari kelemahan dia. Thank you, Kevin.

              [Pembicara] Lia

              Tadi saya bilang bahwa saya banyak membuat keputusan yang salah karena kata hati saya. Contohnya dengan mantan saya dulu, kami sama-sama pelayanan, aktif di Mudika, dia orang baik, keluarganya juga keluarga baik-baik, sama-sama Katholik, apa yang kurang dari itu? Di awal hubungan saya, kata hati saya seperti meluluskan semuanya. Ini hubungan yang sempurna! Tapi kemudian saya juga tahu kami mengalami banyak perbedaan ini tidak bisa diteruskan. Dalam mendengar kata hati kita, bisa dari Tuhan, tapi kita harus berproses untuk benar-benar tahu apakah kata hati itu benar dari Tuhan atau tidak. Sehingga saya setuju dengan kamu perlu ada proses yang panjang, untuk akhirnya menyadari bahwa kita salah. Siapa yang tahu sesuatu itu datang dari Tuhan untuk kita, kalau bukan kita sendiri? Kalau memang harus terjatuh dan terpuruk ya sudah. Saya sendiri waktu terpuruk, kalau mau jujur lukanya masih ada sampai hari ini. Maka saya bilang, jangan terburu-buru memutuskan sesuatu bila sedang dalam kondisi emotional karena bisa merancukan semuanya. Kadang kita membuat keputusan berdasarkan rasa.

              Kalau sampai kita melakukan kesalahan, saya percaya bahwa lewat proses ada cinta kasih dan  rahmat Tuhan yang akan membantu kita bangkit dan melangkah lagi. Apakah langkah berikutnya itu dari Tuhan? Ya belum tentu juga. Tapi percayalah, bila kita menggantungkan hidup kita pada Tuhan, Dia akan memberikan rahmat kekuatan untuk melalui semua hal dalam hidup kita. Termasuk membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup kita.

              [Moderator] Kevin

              Ngomong-ngomong soal kata hati. Love at the first sight. Kalian percaya nggak pada cinta pada pandangan pertama. Atau tanya pada Vera dulu, kalian jatuh cinta pada pandangan pertama atau jatuh cinta karena sudah tidak ada lainnya? [Peserta tertawa.] Maksud saya kalian jadian karena proses atau sebelumnya udah tahu bahwa saling suka satu sama lain?

              [ID] Vera

              Mmmmmm… Aku mungkin percaya cinta pada pandangan pertama. Pertama kali ketemu dan lihat Ryan di acara Springtime, aku suka. [Peserta berseloroh.] Nggak tahu kenapa ya padahal baru pertama kali ketemu. Awalnya memang kami berteman karena tidak ada tujuan pacaran dan sebagainya. Setelah kita ngobrol, cerita masalah dan masa lalu satu sama lain, akhirnya kita jalan.

              [ID] Ryan

              Kalau dibilang cinta pada pandangan pertama, ya mungkin lebih tepat kalau dibilang suka pada pandangan pertama, karena kalau cinta itu levelnya di atas suka.

              Aku mau share, tadi ada peserta yang menyebutkan soal kata hati. Kata hati dan emosional itu beda tipis. Aku pernah pacaran sama cewek yang  setelah 3 bulan pacaran, aku tahu dari teman kampusnya dia, ternyata dia sudah punya cowok. Tapi karena kata hati gue bilang cewek itu sangat mencintai gue, jadinya hubungan itu aku pertahankan. Dan begitu aku tinggalin dia menangis dan terus-terusan telpon gue, dan ini yang membuat emosi aku seperti dicubit-cubit. Sekarang aku udah bisa bedain mana cinta dan emosi. Karena masa pendekatan aku ke cewek itu cuma dua minggu terus kita pacaran.

              [Moderator] Kevin

              Apakah ada tanggapan dari peserta setelah mendengar sharing dari Vera atau Ryan?

              [Peserta] …

              Kalau kita pernah salah, slanjutnya gimana?

              [Pembicara] Lia

              Kalau sudah terjadi ya sudahlah, mau apa lagi? Kita ngga bisa melihat ke depan kalau kita terus menengok ke belakang. Tapi yang pasti kita musti sadar kesalahan kita dan belajar (dalam konteks positive, bukan jadi trauma/kepahitan) untuk melangkah ke depan. Hidup lebih dekat dengan Tuhan.

              Banyak hal memang membuat saya merasa takut untuk melangkah. Padahal tahu kalau salah. Mis: takut nanti nggak ada yang mau sama aku lagi dan sebagainya. Merasa takut karena sudah terlalu banyak kompromi yang aku buat. Tapi kalau sudah sadar akan kesalahan yang dibuat, bangkit dan ambil keputusan. Jangan pernah takut soal umur atau pressure sosial. Pressure ini memang banyak timbul di Negara Timur. Orang tua akan tanya, “Kok belum punya cewek/ cowok? Kapan menikah? Kapan nyusul? Kok belum punya anak?” Kalau pun kita sudah terlanjur membuat banyak kompromi dalam hubungan, jangan takut untuk pergi dan mengambil keputusan. Kenali dirimu, kenali apa yang kamu mau. Kenali benar-benar apa yang menjadi tujuan hidupmu. Kalau pernah salah, minta ampun pada Tuhan lalu berdiri dan berjalan lagi. Jujur pada diri sendiri itu lebih susah, karena engkau berhadapan dengan ketakutan, luka-lukamu dan trauma-traumamu. Jujur pada orang lain lebih mudah karena kita menutupi perasaan kita.

              Percayalah pada pengampuna Tuhan, kalau ia memberikan kesempatan kedua, ketiga, keempat kepada kita, bertobatlah dan jangan berbuat dosa lagi. Tentu saja tidak mudah. Tapi saya mau bersaksi atas hidup saya yang banyak jatuh bangun, Dia Tuhan yang saya percayai tidak pernah gagal mengangkat hidup saya. Tuhan yang sama akan selalu ada bersama teman-teman sekalian.

              [Moderator] Kevin

              Sudah menjawab? Tadi ada lagi di sana.

              [Peserta] Berna

              Terima kasih atas kesempatannya. Saya pernah mendengar teori tentang mendapatkan jodoh yang sepadan, misalnya kalau kita mau mendapatkan jodoh yang takut pada Tuhan, kita juga perlu menjadikan diri kita seperti itu.  Mungkin Kak Lia bisa sharing setelah Kak Lia mungkin pernah mengalami kejatuhan di masa muda, bagaimana cara-cara kita mempersiapkan diri untuk mendapatkan jodoh yang sepadan.

              [Pembicara] Lia

              Setelah 10 tahun pacaran dan putus, saya pacaran dan putus beberapa kali. Keadaan ini membuat saya terluka. Untuk mendapatkan jodoh yang sepadan, satu hal yang penting: jangan menurunkan standarmu! Karena terluka, saya tergoda untuk menurunkan standar, yang tadinya saya menginginkan suami yang Katholik dan mencintai Tuhan lebih dari segala sesuatu, pelayanan bersama, kemudian ada kompromi Katholik saja sudah bagus tidak pelayanan juga nggak apa-apa deh.

              Tapi waktu saya jujur, Saya tidak happy dengan ini keputusan ini. Saya ambil waktu sendiri, saya memutuskan untuk tidak pacaran selama beberapa tahun. Lalu yang saya lakukan adalah memperbaiki kualitas diri saya dulu, saya berusaha berdamai dengan diri saya, luka-luka dan trauma saya, mendekatkan diri lebih lagi kepada Tuhan, berkarier, doing things I like, pokoknya explore my life. Saya menyadari kelemahan-kelemahan saya mis: saya ini seorang perempuan yang nggak bisa kalau saya nggak pacaran/ bergantung pada lelaki. Saya merasa jelek, nggak laku-laku, itu yang membuat saya hanya merasa aman bila ada lelaki yang mau sama saya, karena itu menutupi ketakutan saya. Kalau kita ingin mendapatkan suami yang setinggi standard kita, kita juga harus improve diri.

              Kalau kita ingin mendapatkan jodoh yang sepadan, kita terus meningkatkan diri kita, belajar terus, mendekatkan diri dan setia dengan Tuhan dari waktu ke waktu.

              Setelah menunggu sekian lama, Puji Tuhan saya jadian dengan seseorang yang sudah 8 tahun menjadi sahabat saya. Kami mempraktekan tingkat-tingkat dalam pyramid itu bersama-sama. Dia selalu ada di samping saya selama itu. Dia ada saat saya putus dari mantan saya yang 10 tahun. Dia ada di saat saya dekat dengan pacar saya yang kedua, ketiga, keempat. Dia ada waktu saya mengalami jatuh bangun, dan ternyata akhirnya saya menikah dengan dia. [Moderator meminta suami Lia berdiri] Puji Tuhan, berkat dia sebagai sahabat yang selalu menguatkan saya pada saat kami bersahabat, saya tidak menurunkan standar saya. D

              Kalau ngomong caranya percaya (bahwa akan ada jodoh yang sepadan) saya juga nggak tahu bagaimana caranya percaya. Saya hanya menjalani dari waktu ke waktu. Saya sempat menangis terus setiap hari, “Kawin nggak ya gue?.” Ada masanya begitu, ada masanya juga gue bilang dalam hati, “Ga usah kawin juga gue bisa.” Tetapi teruslah setia dan percaya pada Allah yang selalu rindu melihat anak-anakNya berbahagia, Ia Allah yang selalu menggenapi janji-janjiNya.

              Buat teman-teman cewek, jangan takut, jangan pernah menurunkan standarmu. Percaya pada kasih dan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupmu. Akan datang seorang yang tepat buatmu!

              [Moderator] Kevin

              Terima kasih, Lia. Terima kasih atas sharing-nya. Kita udah ngomong soal pacaran, pacaran yang bener itu gimana, sampai soal bayar-bayaran. Sekarang kita mau mundur dikit nih. Ngomongin friendship. Misalnya yang ada di ruangan ini, baru ketemu. Gimana kita bisa mengenal seseorang lebih baik kalau kita nggak kenalan. Ryan & Vera gimana caranya kenalan? [Ryan share tapi tidak terdengar.] Ada teman gue yang banyak ketemu teman baru tapi malu untuk kenalan. Padahal untuk mengenal orang itu sangat penting. Bagaimana mengenal orang kalau dijadiin teman aja nggak. Ada cowok-cowok yang ngajakin kenalan aja nggak berani, tapi ada juga yang sebaliknya paling berani ngajak kenalan. Oke nggak kalau cewek yang ngajak kenalan duluan?

              [ID] Ryan

              Kalau gue lebih setuju kalau cowok ngajak kenalan duluan. Di mana-mana kalau cowok itu kalau apa-apa mesti duluan.

              [Pembicara] Lia

              Kita punya bagian yang berbeda. Dalam pergaulan, bukan pantangan untuk berkenalan. Nggak apa-apa sih kalau cewek ngajak kenalan duluan dan berteman sebanyak-banyaknya. Kalau untuk tahap selanjutnya saya lebih setuju kalau cowok yang maju lebih dulu.  Terutama buat yang masih single, bertemanlah sebanyak-banyaknya dan bukalah hatimu lebar-lebar.

              [Moderator] Kevin

              Bagaimana kalau cewek kasih tanda duluan?

              [Pembicara] Lia

              Aku kurang setuju kalau cewek kasih nomor hape duluan. Jadi cewek juga harus belajar menghargai dirinya sendiri. Kalau kita (cewek) jadi teman yang menyenangkan, cowok akan tertarik dan senang. Kalau kita bisa bawa diri, bisa jadi sparing partner yang enak untuk ngobrol, cowok akan tertarik. Jadilah perempuan-perempuan positif, menyenangkan, yang nggak cuma cemberut, mengkomplain semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tingkatkan kualitas diri dulu, lalu percayalah cowok-cowok yang berkualitas akan datang dan memperkenalkan diri lebih dulu.

              [Moderator] Kevin

              Kalau ada acara hang out antara sepasang cowok dan cewek. Seringkali ada bisikan, ‘Jangan ah nanti aku kasih harapan semu’. Atau, ‘Nggak ah dia bukan tipe gue.’ Sebaiknya gimana nih, lihat dulu check list kita tentang kriteria cewek atau cowok yang kita suka atau dikasih coba atau mempercayai early judgement, misalnya ‘Ah nih cewek atau cowok ngopi mulu’. Itu gimana Li?

              [Pembicara] Lia

              Makanya pyramid ini penting. Misalnya mulai dengan friendship, jangan pergi langsung berdua, pergilah rame-rame dulu. Rame-ramenya nggak perlu sekampung ya, berempat atau berlima. Pada waktu jalan rame-rame itu kita bisa melihat, ‘Bisa nggak ya gue jalan sama dia?’ Ini jadi penting. Lalu misalnya pada saat bersama teman-teman main ke rumahnya, kenal keluarganya, kita juga menilai, ‘Bisa nggak ya gue masuk ke keluarganya dia?’ Kalau semua itu sudah dilalui dengan cukup baik, baru pergilah berdua, syukur-syukur kalau jadian. Ini adalah suatu proses pengenalan. Jadi kita perlu mengetahui dengan frekuensi pyramide yang sama, ‘Ini sampai di mana sekarang?’

              Maka acara seperti ini bagus untuk saling berkenalan. Puji Tuhan kalau dengan acara ini kita ada yang jadian, karena kita sedang sama-sama belajar dengan frekuensi pyramide yang sama.

              [Moderator] Kevin

              Kata penutup untuk Talk Show ini. Ryan ada saran nggak untuk cowok-cowok dalam soal berkenalan dan sebagainya?

              [ID] Ryan

              Buat para cowok, bener, untuk PDKT sama cewek, awali hubungan dengan friendship dulu. Setelah ngobrol dan lain-lain baru jadian. Buat gue, kalau pacaran itu berantem terus-terusan itu baiknya diputusin, bubar. Karena masa pacaran itu waktunya untuk saling mengenal dan menerima kekurangan satu sama lain, sebagai pasangan. Daripada nanti udah nikah berantem terus-terusan akhirnya cerai.

              [Moderator] Kevin

              Oke, saran dari Ryan, kalau kita pacaran tapi berantem terus-terusan mendingan bubar. Kalau dari Vera bagaimana?

              [ID] Vera

              Tadi juga sudah dikatakan sama Kak Lia, cewek jangan takut sama umur. Cewek itu kalau sudah mendekati umur 30 itu panik.  Jadi asal milih kekasih padahal di hati nggak sreg. Umur gue 35 tahun, gue pacaran sama dia 3 tahun lebih, memang kita nggak langsung memutuskan untuk menikah. Mendingan aku lama-lama pacaran sama dia untuk lebih saling mengenal atau putus, daripada pada saat nanti aku menikah, aku berada di neraka dunia. [Aplaus dari peserta.]

              [Moderator] Kevin

              Oke yang gue tangkap dari Vera, biar nikah ditunda daripada hidup neraka di bumi. Untuk Lia, Ryan dan Vera, terima kasih, berikan sekali lagi aplausnya.

               

              Marriage

              by: Francisca Monica

              Kasus perceraian selebriti selalu menjadi topik utama setiap infotainment. Kasus-kasus selebriti saja sudah banyak, berapa banyak lagi yang tidak diketahui publik? Kekerasan rumah tangga selalu ada, kata-kata selingkuh sudah menjadi vocabulary sehari-hari anak-anak SD. Dunia ini sepertinya menanamkan suatu image baru terhadap perkawinan. Marriage menjadi sesuatu yang nampak indah diawal-awal dan menyakitkan setelah itu.

              Should I get married?

              Akibatnya banyak orang bertanya, “Haruskah saya menikah?”  Jawabannya bukanlah boleh atau tidak, atau harus atau tidak. Setiap orang memiliki panggilan hidup masing-masing. Bila Tuhan memanggilnya untuk hidup selibat, maka ia memilih untuk mempersembahkan seluruh hidupnya melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dan melayani umat-Nya di bumi ini. Tetapi selain itu, Tuhan juga memanggil anak-anak-Nya untuk membangun keluarga, melahirkan dan membesarkan anak dan juga melayani Tuhan dalam keluarganya.

              Pilihan untuk tidak menikah hanya boleh dipilih bila seseorang sungguh bertanya pada dirinya sendiri dan bertanya kepada Tuhan jika ia terpanggil untuk hidup selibat. Dan bukan merupakan kesimpulan dari kasus-kasus rumah tangga yang ia alami atau ia dengar. God created a union  between man and women that is known as a marriage. Tuhan tidak pernah merancangkan sesuatu yang buruk bagi anak-anak-Nya.

              Why marriage should be spiritual?

              Pernikahan merupakan sesuatu yang kudus, sakral. Tuhan menciptakan pernikahan antara pria dan wanita di bumi ini dengan menaruh suatu makna besar dibaliknya. Yohanes Paulus 2 mengatakan bahwa dalam pernikahan, Tuhan menyampaikan misteri ke-Ilahi-an-Nya. Pernikahan menjadi sesuatu yang spiritual, bukan sekedar persatuan dua insan semata.

              Pernikahan pria dan wanita menjadi analogi pernikahan Tuhan dengan Gereja-Nya, mempelai wanita. Diantaranya terdapat kegiatan saling mencintai. Pria mencintai wanita dan wanita mencintai pria. Cinta yang seperti apa? Yaitu seperti yang dikatakan Efesus 5:25, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”  Dengan kata lain seperti cinta yang diberikan disepanjang Kalvari.

              Maka, pernikahan yang otentik haruslah dimulai dengan menyadari panggilan setiap manusia, yaitu untuk mencintai. Tubuh kita diciptakan Tuhan untuk dicintai dan mencintai dengan cinta yang sempurna, yaitu cinta yang total, berbuah, setia dan bebas. Maka pernikahan tidak pernah antara sesama jenis, karena tidak akan pernah berbuah. Maka, hubungan seksual tidak boleh dilakukan sebelum menikah, karena tidak menunjukkan totalitas cinta itu. Maka, pernikahan itu adalah satu, setia untuk selamanya. Dan bukanlah suatu paksaan.

              Dalam pernikahan, pria memilih istrinya dan mencintainya seperti Tuhan mencintai Gereja-Nya, dengan cinta yang penuh pengorbanan, pengampunan dan kesetiaan yang tak terbatas. Pernikahan menjadi tempat bagi pria dan wanita untuk membayangkan dan mengecap cinta agape yang Tuhan berikan bagi umat-Nya. Dan Sakramen Perkawinan menjadi suatu tanda yang membuat cinta Tuhan yang tidak kelihatan itu menjadi kelihatan.

              Marriage : hell or heaven?

              Kembali kepada kenyataan, Sakramen Perkawinan hanya seperti suatu kewajiban semata jika ingin menikah. Tidak sedikit pasangan-pasangan Katolik yang bubar. Pernikahan bagi anak muda hanya nampak seperti neraka karena bukannya cinta tetapi benci yang ada ditengah-tengahnya. Semua ini adalah tanda bahwa ada pergeseran makna pernikahan yang sesungguhnya.  Pergeseran ini terjadi karena banyaknya orang-orang yang lupa untuk saling mencintai sepenuhnya, lupa untuk mengampuni, lupa untuk setia dan lupa membawa keluarganya menjadi keluarga yang kudus dan berkenan bagi Tuhan.

              Pernikahan-pernikahan yang selama ini kita lihat mungkin tidak sesuai harapan kita. Mungkin orang tua kita bercerai? Mungkin ayah atau ibu kita meninggalkan kita begitu saja? Mungkin orang tua saya terus melakukan KDRT di rumah? Semua itu dapat terjadi. Tetapi bila kita terus menyatukan diri dan keluarga kita dengan cinta sejati dari Tuhan, kita akan terus diingatkan dan dipenuhi serta dimampukannya. Dan apa yang terjadi pada orang tua dan generasi diatas kita sekarang biarlah terjadi, tetapi masa depan generasi ini dan bangsa ini berada ditangan kita. Kitalah yang dapat mengubah kembali image-image bahwa pernikahan itu seperti ‘hell’ menjadi pernikahan adalah ‘heaven’.

              Marilah kita mulai bertanya, apakah saya terpanggil untuk menikah? Apakah pandangan saya tentang pernikahan sudah benar? Apakah saya sudah membawa keluarga saya semakin kudus? Dan apakah saya sudah mencintai atau siap untuk mencintai psangan dan keluarga saya seperti dalam Efesus 5:22-33?

              Tagged with:  

              Single, Sexy and Smart Summary

              Transcript by Mungky Kusuma
              Edited by Yurika Agustina

              TLC 4 – Single, Sexy and Smart

              5 June 2010
              Yurika Agustina
              Ruang Melati, Wisma Indocement, Sudirman, Jakarta

              5 Pertanyaan yang Mengganggu Para Lajang

              Banyak juga  orang yang merasa kurang happy karena melihat saya masih single. Uniknya adalah pertanyaan atau pernyataan itu bukanlah keluar dari orang tua saya. Dan saya juga banyak bertemu beberapa single yang justru tak happy karena adanya pressure dari keluarga. Ketika mereka sedang senang-senangnya menikmati kelajangan atau kebalikannya ketika mereka sedang tidak bahagia dengan kelajangannya lalu muncul pertanyaan-pertanyaan semacam berikut :

              • “Mau tunggu sampe kapan? Tunggu sampe ketemu the perfect man datang pakai kuda putih dan membawa ke purinya yang indah lalu hidup happy ever after? Cobalah realistis sedikit…”

              Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mudah muncul dan menjadikan tekanan bagi para single. Dan itu yang dialami oleh salah seorang sahabat saya yang cantik, pandai bergaul, juga pintar. Akibat tekanan social dan juga dari keluarga tiap pulang kampung akhirnya ketika jatuh cinta dengan seorang cowok, kenal baru 3 bulan sudah memutuskan untuk menikah. Apa yang terjadi setelah masuk dalam pernikahan? Dia banyak mengalami siksaan fisik dan juga batin. Dipukuli dan diselingkuhi. Keputusan yang dia ambil saat menikah, bukanlah keputusan yang bebas namun berada di bawah tekanan-tekanan tertentu.

              Pertanyaan lain yang sering muncul dan biasanya ini sangat mengganggu bagi para single yang cukup berumur antara lain :

              • “Jangan terlalu pilih-pilih, jangan picky…”
              • “Berusaha lebih keras dong… jangan nunggu aja, masuk kek ke sebuah kelompok tertentu, kenalan kek, lebih ramah kek…”

              Ketika saya usia 20-30 saya tak picky, saya terlibat dalam pelayanan-pelayanan di tengah orang muda maupun orang tua serta ketemu dengan  banyak cowok. Namun memang nggak ada, saya tidak mau memaksa diada-ada-in juga. Apalagi masa-masa itu, saya juga happy-happy saja, bahkan sedang semangat-semangatnya pergi ke sana-kemari melakukan banyak aktivitas dan pelayanan. Ke sana-ke sini berkenalan, berusaha membangun komunikasi, tapi memang belum bertemu yang cocok. Ada juga yang mengatakan saya kesannya galak, kurang berusaha, sombong. Soal memilih, tentu kita pasti akan memilih. Tak mungkin karena saking saya desperate pengen nikah maka ada cowok nyata-nyata playboy tapi kemudian saya paksain menikah, atau mungkin beda agama ya nggak apa-apalah, udah bagus dia mau sama saya. Itu udah berkat, belum tentu ada kesempatan ini lagi misalnya. Dengan kata lain, kita pasti memilih dan tidak menerima begitu saja setiap pria yang kita temui untuk kita jadikan suami.

              Ada juga yang bilang  :

              • “Mendingan standard kamu jangan ketinggian… zaman sekarang gitu lho.. apalagi jumlah cewek lebih banyak daripada cowok,  jadi jangan tentukan standard yang tinggi.”
              • “Jangan di rumah terus…”

              Tentu saja mereka memberi ungkapan semacam itu dengan maksud yang baik. Mereka ingin supaya hidup para lajang lebih bahagia, mungkin seperti mereka yang bahagia atau justru supaya tidak bahagia seperti mereka hahaha… namun bisa juga karena pandangan bahwa setiap orang itu harus menikah baru merasakan apa itu arti kebahagiaan sehingga perkiraan-perkiraan macam di atas itu muncul.

              Saya pernah gencar berdoa minta jodoh ketika sebagian besar teman-teman seangkatan  satu-satu mulai menikah. Namun suatu hari Tuhan memberi saya sebuah pertanyaan yang kemudian membebaskan saya dari kerinduan untuk menikah atau tidak menikah. Ketika saya sedang makan siang di sekitar tahun 1998-1999: “Rika, kalo Aku tidak memberimu seorang suami, apakah Engkau tetap mengasihi-Ku?”. Hari itu seperti ada sesuatu yang dicabut dari dalam hati saya. Puas nangis bombay, lalu saya memilih berkata, “Tuhan, kalaupun Kau tak berikan aku seorang suami aku mau tetap mengasihi-Mu”. Setelah peristiwa itu saya merasa menjadi pribadi yang sungguh bebas, seperti ada beban yang diangkat dari pundak dan hati saya. Sejak saat itu saya hidup dengan sebuah passion, yaitu proclaim the good news, the love of God untuk semua orang dan terutama bagi orang-orang muda. Kemudian tahun 2000 saya diberkati untuk mengikuti World Youth Day di Rome. Entah mengapa juga terpilih dari banyak kontingen untuk membawa bendera besar Asia-Oceania berlari memasuki Basilica St. Petrus dalam  upacara pembukaan. Di situ pertama kali, saya aware dengan pribadi Yohanes Paulus II dan kemudian mendengar tentang Theology of The Body.

              Karena itu marilah kita melihat apa yang dikatakan Teologi Tubuh tentang kesendirian asali atau yang disebut dengan Original Solitude.

               

              Original Solitude

              Kej 2:15, 18-20

              Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden…

              TOB membuka bahwa setiap kita, baik menikah atau tidak, dipanggil pertama-tama dalam kesendirian yang asali. Digambarkan seperti ketika Allah menciptakan Adam lalu menempatkan Adam – Adam bukan selalu berarti cowok melainkan artinya manusia – di taman Eden.  Apalagi yang dilakukan Adam ketika berada di taman Eden, mengungkapkan apa yang seharusnya terjadi di kala single:

              1. 1. Alone

              Setiap dari kita lahir sendirian bahkan ketika mati juga kesendirian. Bisa juga dikubur satu lubang ramai-ramai tapi ya jangan sampai dikubur rame-rame. Namun intinya kita datang ke dunia sendirian seperti Adam dan nanti kembali lagi kepada Bapa di Surga juga sendirian. Dengan kata lain Adam menggambarkan setiap kita, bahwa setiap kita dipanggil dalam kesendirian yang asali. Lalu apa yang dilakukan oleh Adam dalam kesendirian asali-Nya ?

              1. 2. Intimacy with God

              Adam menggunakan kesendiriaan asalinya dengan membangun relasi yang intim dengan Sang Pencipta-nya, yaitu Allah. Adam punya seseorang yang senantiasa 24 jam available bagi dia. Saya bersyukur mengembangkan kesendirian asali itu setelah peristiwa dilamar di usia 17 tahun lalu masuk ke usia saya bertemu pribadi yang membuat saya jatuh cinta setengah mati. Pertemuan itu terjadi di kamar pribadi, pada meja belajar saya . Saya jatuh cinta pada Yesus. Ini mengubah segala cerita hidup saya. Sejak itu saya coba bangun relasi dengan Yesus yang begitu indah. Mulai senang membaca Kitab Suci, belajar berdoa dan melayani sesama. Ini menjadi dasar kekuatan dan kedamaian dalam hidup saya. Ketika masuk  gonjang ganjing kehidupan, maka keintiman yang begitu dekat dengan Sang Pencipta menjadi modal kekuatan. Namun lebih dari itu, inilah panggilan bagi setiap single yang ingin happy dalam hidup kesendiriannya. Dia pertama-tama memang diciptakan untuk Allah, membangun keintiman bersama Allah sendiri, berbicara tentang segala hal dengan Dia seperti sahabat terdekat, kapanpun, dimanapun.

              1. 3. Knowing himself

              Di Taman Eden,  Adam menamakan semua hewan dan mulai menyadari kalau bentuk tubuhnya berbeda dengan gajah atau harimau dan tak menemukan kesepadanan atau chemistry dengan gajah atau binatang lainnya. Di Taman Eden Adam mulai mengenali tubuhnya sendiri, sehingga muncul istilah teologi tubuh. Dalam masa-masa masih single, Adam melihat dan mulai mengenali  apa yang terjadi dengan dirinya, pada tubuh dan dalam tubuhnya. Dia berkomunikasi dengan Allah namun juga berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan mengeksplorasi dirinya: perasaan, pikiran dan keinginannya.

              Namun banyak single sibuk atau pengen cepat-cepat menjadi double tapi tak kenal  siapa dirinya sendiri.  Akibatnya ketika masuk dalam sebuah hubungan, dia semakin bingung dan semakin tidak bahagia karena tidak mengenal siapa dirinya sendiri juga. Namun  Adam tahu persis bahwa dirinya dan tubuhnya berbeda dengan semua binatang yang diberinya nama itu sehingga dikatakan bahwa dia tidak menemukan penolong yang sepadan dengan dirinya.

              1. 4. Responsibilities

              Adam diberi tanggung jawab untuk memelihara taman, menjaga taman dan mengusahakannya. Hal ini membuat seorang single menjadi happy. Dia harus punya tanggung jawab dan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakan dan keputusan-keputusan yang dibuatnya. Dia harus menjadi pribadi yang bisa diandalkan. Adam bisa diandalkan oleh Allah atas seluruh kesejahteraan Taman Eden. Allah percaya akan kemampuan Adam dan Adam bisa dipercaya atas tugas yang diberikan.

              1. 5. Busy

              Adam sibuk. Bukan single yang bengong-bengong atau luntang lantung tak keruan. Dia  tak berjam-jam nonton tv, lalu menuju ke kulkas, balik lagi ke TV, lalu ke kamar kecil lalu nonton TV lagi. Menghabiskan waktu percuma dengan kegiatan-kegiatan yang sia-sia.  Adam sibuk harus memelihara taman, menjaga taman, mengusahakan taman dan bertugas  memberi nama para hewan-hewan yang ditemuinya. Dia harus  berpikir, ada aktivitas yang dia lakukan.

              1. 6. Enjoy life

              Saya membayangkan bahwa Taman Eden so beautiful dan juga luas. Sehingga terkadang Adam bisa menuju ke utara dan menikmati tamannya, keindahannya, mau makan tinggal cari buah yang paling enak. Lalu mengeksplorasi kawasan itu dan menikmati hidupnya di sana.  Dia tak berkata “Why.. why.. why.. saya sendirian”. Dia menikmati segala yang diberikan Allah di taman itu. Dia menguasainya, mencintai apa yang dia miliki dan mencintai Allah yang menjadi sumber kehidupan-Nya.

              1. 7. Content

              Adam bukan pribadi yang kosong , gelisah , ketakutan, tak punya damai dan tidak terpuaskan. Dia pribadi yang tenang, tahu apa yang dia mau. Dia puas akan dirinya sendiri, mengenal dirinya sendiri, mengenal siapa penciptanya dan tidak kekurangan apapun. Adam bertemu Eve bukan dalam keadaan kering kerontang atau kosong melompong. Justru karena dia puas, penuh dan siap untuk berbuah maka barulah Allah memberikan Eve sebagai penolongnya. Bulan depan kita akan lebih mendalami bagian ini, dalam tema TLC selanjutnya : Take Me Out. Hal ini akan dikupas tuntas.

              Kesepian

              Dalam penelitian ditemukan bahwa setiap orang – entah single atau menikah – dalam satu tahun pasti 48 hari orang itu akan merasa kesepian walaupun ada di tengah keramaian. Tak harus single, mereka yang satu tempat  tidurpun salah satu masih bisa merasakan kesepian. Jadi kesepian bukan hak orang single, tapi bisa dialami oleh setiap orang. Setiap orang bisa merasakan hal itu. Namun seorang lajang makin merasa kesepian kalau dia berada atau berhubungan langsung dengan lingkungan yang merasa kesepian juga.

              Biasanya wanita yang paling banyak merasa kesepian. Dan kesepian itu timbul dalam jaringan pertemanan lebih terasa dibandingkan dalam relasi keluarga. Orang yang jauh dari keluarganya atau putus hubungan dengan keluarganya, lebih mudah merasa kesepian.

              Kebenarannya adalah…

              Pertama, kesepian hanyalah perception of being alone atau merasa terkucilkan atau dia merasa sendirian namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Hanya sebuah persepsi yang dipikirkan karena situasi dalam hidupnya.

              Kedua, kesepian adalah condition that is completely curable. Bukan selama-lamanya,  tak sepanjang segala abad amin. Kalau ada masa-masa merasa kesepian it’s curable,  karena itu cuma perasaan sementara dan bukan kenyataan sesungguhnya. Dalam kesendirian, dia perlu diolah, mulai dengan mengenali diri kita, apa yang terjadi dalam perasaan dan pikiran kita.

              Pelarian

              Banyak yang terjadi adalah kurang lebih pelariannya mirip kisah “Sex and The City”.

              Berusaha mengisi kekosongan dan kehampaan itu dengan mencari supaya ada kehangatan atau merasa hangat.  Namun pelarian bukanlah sebuah jawaban yang benar. Apalagi bila bentuk pelarian itu adalah seks sebelum pernikahan. Ini bukanlah keputusan yang benar, tepat dan bertanggung jawab menurut Teologi Tubuh. Selain pelarian dengan seks hanya akan menambah kehampaan dan kekosongan yang semakin dalam. Beberapa alasan untuk tidak melakukan seks sebelum pernikahan:

              10 reasons to say no to sex

              1. God says no

              Tuhan dan Gereja tidak menyetujui hubungan seks sebelum pernikahan. Bukan hanya untuk melindungi kekudusan pernikahan itu sendiri namun juga untuk melindungi si pelaku dari penipuan terhadap tubuhnya sendiri.

              2. Blessing of the wedding night

              Allah senang dengan yang pertama. Yesus anak pertama. Persembahan pada Allah selalu the best, terutama, terbaik Pasti ada blessing di balik peristiwa pertama kali yang berkenan sesuai dengan standard-Nya Allah.

              3. Spiritually healthier

              Karena tidak akan muncul rasa malu, rasa bersalah dan luka batin.

              4. Physically healthier

              Sekarang di setiap studio 21 ada peringatan soal  cancer cervic . Didengungkan di Indonesia resiko ini sangat tinggi. Artinya bila kita say no to sex before marriage maka  secara fisik akan menjaga fisik kita.

              5. Emotionally healthier

              Mereka yang free sex mudah terjebak dalam masalah emosional yang up and down secara drastis dan masuk dalam depresi yang dalam.

              6. Our partner’s well being

              Saya pernah mendengar penjelasan seorang pakar moral dan seks yang mengatakan bahwa orang yang freesex sebelum menikah, maka ketika dia berhubungan seksual dengan isterinya setelah pernikahan sebenarnya tanpa sadar dia sedang membawa semua pasangan-pasangan seksualnya dulu di saat berhubungan intim, termasuk juga segala sejarah seksual dan penyakit yang dideritanya. Intinya adalah  yang pertama di dalam Tuhan dan satu-satunya pasangan seksual adalah yang terbaik.

              7. A test of true love

              Ini sudah dibahas dalam TLC pertama bahwa true love waits.

              8. No negative consequences

              Tidak perlu MBA atau dipenuhi ketakutan menjalankan aborsi misalnya.

              9. Christian testimony intact

              Kesaksian hidup kita sebagai orang Kristen menjadi kuat dan tak tergoyahkan.

              10. No less than God’s perfect will

              Tidak mau menurunkan standard yang sudah ditetapkannya.

              Sebuah Harapan

              Bagi mereka yang sudah aktif secara seksual dan ingin mulai menjalankan gaya hidup chastity, maka ada sebuah buku yang bagus untuk dibaca berjudul “The Thrill of The Chaste – Finding fulfillment while keeping your clothes on” yang ditulis oleh cewek bernama Dawn Eden. Sampai umur 30,  dia menjalani gaya hidup free sex, sampai satu saat dia mengenal Theology of The Body dan mendalaminya lalu mengambil keputusan untuk hidup chaste.

              Dia mengatakan, “Melalui chastity dan hanya lewat chastity seluruh anugerah-anugerah sebagai seorang wanita dapat merekah secara penuh dalam diri Anda. Dengan kata lain, bukan soal bagaimana cara menemukan para pria melainkan tentang siapa Anda saat bertemu para pria. Jagalah  ’siapa’ Anda, maka ‘bagaimana’ akan  menemukan caranya sendiri.

              Chaste and Holy Friendship

              Jalan keluar bagi orang lajang yang ingin memiliki kebebasan sejati, happy, sexy and smart adalah dengan menerapkan gaya hidup “Chaste and Holy Friendship”.

              1. Membangun persahabatan dengan Tuhan.

              Lewat doa, kitab suci. Membangun persahabatan dengan Tuhan lewat sakramen-sakramen. Ini persahabatan saya sebagai single dengan Yesus, Tuhan saya.

              2. Persahabatan dengan diri sendiri.

              Ketika sendirian kenalilah dirimu sendiri. Berbicara dengan diri sendiri, bukan seperti orang gila namun explore apa perasaanmu. Mengapa perasaan seperti ini bisa timbul dalam kesepian. Mulailah berdamai dengan diri sendiri. Berdamailah dengan perasaan kesepian yang dirasakan. Bila timbul pertanyaan dalam diri sendiri, “Kok yang lain sudah married tapi saya belum” maka mulailah berdamai dengan diri sendiri temukan cara unik untuk membangun persahabatan dengan dirimu sendiri.

              3. Persahabatan dengan para orang kudus.

              Orang kudus diberikan oleh Tuhan untuk kita dan mereka ada bersama kita. Dalam Kitab Ibrani 12 ayat 1 dikatakan bahwa para orang kudus adalah para saksi iman yang begitu banyak seperti awan yang menemani kita. Artinya saya tak sendirian, saya bersama Tuhan dan ada orang-orang kudus yang bisa berdoa, menguatkan dan menghibur saya. Blessed John XXIII yang ketika muda bernama Angelo Roncalli suka menulis diary. Dalam satu satu tulisan diarynya, beliau menulis seperti ini :

              From the saints I must take the SUBSTANCE, not the accidents of their virtues. I am not St. Aloysius, nor must I seek holiness in his particular way, but according to the requirements of my own nature, my own character and the different conditions of my life. I must not be the dry, bloodless reproduction of a model, however perfect. God desires us to follow the examples of the saints by absorbing the vital sap of their virtues and turning it into our own life-blood, adapting it to our own individual capacities and particular circumstances. If St. Aloysius had been as I am, he would have become holy in a different way.” (Journal of a Soul)

              1. Holy friendship dengan sesama jenis
              2. Holy friendship dengan lawan jenis
              3. Holy friendship dengan pasutri dan keluarga

              Meskipun emak-emak dan bokap-bokap tapi kita bisa ngobrol dengan mereka tentang struggle dan pengalaman mereka dan juga kita sendiri.

              1. Holy friendship dengan kaum selibat

              Kembangkanlah persahabatan yang tanpa hubungan seksual dan juga kudus ini sehingga apakah singleness kita itu sebuah blessing atau curse itu ditentukan oleh kita sendiri.

              Definisi kata Single dari sebuah website ini bisa menjadi kesimpulan kita untuk tema hari ini :

              S – elective friendship

              I – ntimacy with God

              N - urturing talents and gifts

              G – rowth in social skills

              L - earning from mistakes (jangan diulangi)

              E – nvisioning a bright future

              TALKSHOW

              Feli: Kalau dapat undangan perkawinan, diundang sendirian, ngak punya teman, gimana pergi ke sana dan tak merasa kesepian?

              Rika: Buat mereka yang mengenal saya cukup dekat biasanya sudah tahu. Tapi ini sekaligus anggap saja memberitahu bagi mereka belum menikah atau akan menikah dan ingin mengundang saya dalam pernikahannya. Biasanya saya hanya akan hadir di gereja saat upacara sakramen pernikahan. Pertama karena saya malas berdandan untuk pergi ke pesta namun bisa juga dianggap menghindari para ibu yang mengenal saya untuk bertanya “Kapan neeh?…jangan-jangan pilih-pilih dong…”. Karena itu saya lebih memilih datang di misa saja,  kecuali orangnya mengancam dan jauh lebih galak dari saya hahaha…Sedangkan buat teman semua yang masih lajang, bisa diantisipasi dengan janjian dengan teman-teman yang single juga, biasanya berangkat bareng atau bertemu di lokasi pesta.

              Feli: Apa menggunakan pesta itu untuk ajang cari cowok?

              Rika: Mungkin bagi yang berusia usia 20th an ya, tapi usia sekarang rasanya tidak tertarik lagi, kecuali kalau yang suka berondong ya hehehe…

              Kevin: Teman-teman  gw bilang mereka happy, itu pas rame-rame, pas pulang lagunya sendiri lagi. The problem is banyak orang menganggap dirinya happy. The questions is definisi single loe bener ngak neh?  Gw dulu menganggap sebagai seorang single yang okay adalah yang powerful bisa ngapain sesuka hati, ngak perlu cewek dan asyik-asyik aja tapi pas lagi acara kumpul-kumpul pulang ke rumah, ada satu kekosongan. Bukan berarti gw harus cari cewek tapi gue harus mengakui walaupun single ada pertanyaan untuk kekosongan. Berani ngak memasuki pertanyaan itu dalam hatinya. Paling gampang utk menghindari masalah adalah run away for it.

              Tanya: tadi kak Rika bilang pernah hati.  how to cure a broken heart?

              Rika: untuk sembuh dari broken heart maka jawaban utamanya adalah  pasti soal waktu. Tips-tipsnya paling segala sesuatu yang berhubungan dengan dia jangan disimpan, jangan dipajang terus fotonya. Kalau parah banget broken heartnya, ngak perlu sampe diinjak-injak fotonya tapi dibuang aja atau dikembalikan ke orangnya. Soal perasaan hanya bisa berjalan lewat waktu. Intimacy-nya dengan Tuhan gimana? Itu perlu. Luka yang paling ampuh utk proses penyembuhan adalah cinta dan cinta yang utama adalah cinta Tuhan sendiri. Orang yang content dalam cinta dengan Tuhan masih bisa patah hati tapi tak sampai bunuh diri karena dia bisa terus melakukan aktifitasnya dan dengan move on akan hilang dengan sendirinya. Tergantung pada orangnya itu sendiri berapa lamanya proses broken heart itu sendiri. Yang penting jangan berlama-lama, jangan dibumbui, pergi ke tempat yang lama penuh kenangan itu, maka tak akan sembuh-sembuh dan prosesnya jadi panjang berlarut-larut.

              Tanya: tadi ada urutan single, learning from mistake, mistake apa yang pernah dilakukan oleh kak Rika?

              Rika : Learning from mistake  dalam masa-masa sebagai single itu banyak. Misalnya dalam membangun sebuah relasi, tapi mistake bukan dalam arti relasi saja melainkan kesalahan-kesalahan yang membuat kita tak happy sebagai single juga bisa. Misalnya menghabiskan waktu terlalu banyak dengan nonton film atau drama serial. Ketika berusia 20an saya juga sama , yaitu nonton semua film yang romantic, film korea, waktu habis di sana dan ternyata hal itu tak membuat saya happy sebagai single bahkan ada masa jadi merasa orang paling miserable di dunia. Seiring waktu saya melihat hal ini tak produktif, bukan berarti saya tak nonton film lagi, tetap bisa nonton tapi hanya sebagai selingan bila memang ada waktu yang memungkinkan untuk itu dan tidak menghabiskan hari demi mengejar itu.

              Sedang belajar dalam relasi adalah harus adanya boundaries yang kita tahu. Seharusnya kita tak kasih kesempatan seperti itu misalnya, yang tadi dikatakan soal knowing yourself. Kenalilah di mana titik kelemahan dan kekuatan kita. Tiap orang itu pasti berbeda-beda. Kelemahan dan kekuatan Feli pasti berbeda dengan saya dan Kevin. Saya harus bisa mengenali itu supaya tak masuk ke dalam dangerous area. Misalkan hanya dengan duduk berdua di kafe, ditengah keramaian dan lampu terang benderang kok gw bisa merasa terangsang ya maka kenalilah hal itu. Tahu kesalahannya di mana lalu next time I am learning from my mistake dan jangan mau ke sana lagi atau ke arah itu lagi. Jadi kenali dulu kelemahan-kelemahan dan kekuatan diri sendiri dan belajar dari pengalaman kesalahan itu untuk tak mengulangi hal yang sama.

              Tanya: tadi cerita single happy mungkin aktivitas padat pekerjaan membuat lupa, cowok jadi tak penting. Saat ini jika ada yang memang benar-benar muncul apakah masih tertarik utk memiliki relasi dengan pria. Kadang single juga kebiasaan jadi kalau sudah habit tak perlu lagi apakah itu baik juga?

              Rika: Saya tetap membutuhkan seorang pria. Pointnya betul,  ada banyak yang menjadi single karena kebiasaan dan sudah berada dalam zona aman karena kelajangan yang sudah begitu lama. Tapi dalam perjalanan waktu, seorang perempuan yang terlalu independent sebenarnya bukan happy, melainkan ada something yang harus dia dealt with dalam dirinya karena seorang wanita pasti membutuhkan seorang pria. Bukan dalam hal seks maksudnya, karena walau bagaimanapun pria dan wanita diciptakan itu untuk saling melengkapi. Banyak wanita atau pria single yang merasa bisa melakukan apapun dan tidak saling membutuhkan, ini tidak sehat. Ada sesuatu atau alasan yang membuat dia sampai pada keputusan itu karena pada  awal mula manusia diciptakan tidaklah demikian. Tadi sudah dijelaskan bahwa Adam menemukan bahwa tak ada yang sepadan dengannya. Sehingga sayapun tetap membutuhkan pria, ada sesuatu dalam diri pria yang melengkapi saya, namun bukan hal yang menyangkut soal seks. Contohnya kalo genteng rumah saya bocor, saya tidak akan naik ke atas betulin sendiri, tapi kalo ada cowok yang bisa dimintai bantuan maka biarlah cowok yang  melakukannya dan saya akan senang sekali ditolong.

              Kevin: biasanya blind spot dalam masalah cowok atau cewek yang single, mereka terlalu rohani.  Sering ada jawaban, yang lumayan balance. Tuhan kan udah siapin buat gue, gue tunggu aja. Ada yang pernah bahkan percaya destiny, pas destiny gw cewek, atau cowoknya akan datang sendiri. Misalnya krisna 24 th. Misalkan Tuhan bilang destiny krisna usia 25 akan ketemu cewek yang cantik, that is your destiny. Setahun kemudian ketemu tuh cewek tapi karena lu pake javelin dia pake onyx maka  lu diputusin. Terlalu rohani dalam arti kita tak bisa menunggu saja. Kalau ready, utk yang cewek jangan nongkrong di rumah saja, enrich yourself dengan aktivitas-aktifitas positif sehingga pas jalan, ada cowok yang liat pengen kenalan. Cowok-cowok kalau merasa ada cewek memukau, jangan cuma diam, be a man, turun minta no telpnya, simple.

              Tanya: buat kak Rika, topic single, smart and sexy, boleh dijelasin sexy sbg single itu seperti apa?

              Rika: Sexy itu kan soal image. Salah satu masalahnya adalah image kita itu terbentuk bahwa yang namanya sexy itu harus seperti ini, misalnya sedikit memperlihatkan,  misalnya , buah dada …wuah sexy, atau bagian tubuh tertentu tapi kemudian kita menjadi terperangkap pada ilusi. Juga pengaruh-pengaruh dari pornografi dan kita terbentuk untuk berpikir bahwa yang sexy itu yang seperti itu-itu atau hal itu baru sexy. Padahal sexy itu bisa juga menyangkut soal attitude. Mungkin dia berpakaian lengkap tapi behave-nya sexy. Buat saya Mother Teresa is sexy bukan karena keriputnya tapi bagaimana dedikasi dalam hidupnya, cintanya pada orang-orang miskin, attitudenya terhadap orang yang terbuang menjadikan dia seseorang yang sexy bagi saya. Sehingga sexy atau tidak sexy itu menyangkut persepsi kita. Pertanyaannya atau masalahnya adalah apakah persepsi kita dipengaruhi dengan apa yang ada di dunia ini atau murni dipengaruhi hal-hal yang baik, murni dan kudus. Setiap kita pasti punya pandangan sendiri tentang sexy itu, bukan melulu hanya dibatasi soal tubuh tapi ada sesuatu yang lebih dari itu. Jadi mulailah kenali dirimu sendiri. Dan sexy tidak berarti selalu kotor dan selalu  berhubungan dengan ranjang, buah dada dan kelamin namun mungkin ada hal atau perbuatan tertentu yang dia lakukan. Itulah sebabnya saya bilang setiap imam itu sexy. Bukan karena bentuk tubuh atau ketampanannya. Bisa jadi dia biasa atau jelek tampangnya tapi yang membuat dia terlihat seksi adalah pengabdiannya dalam memenuhi panggilan hidupnya. Seorang pria yang tulen ,sehat dan pandai namun mau memberikan hidupnya untuk Tuhan dan Gereja,  itu sexy.

              Soal Smart. Smart atau tidaknya seseorang itu bukan soal pendidikannya tapi keputusan  yang dia ambil atau buat dalam hidupnya. Tubuhnya boleh seperti Megan Fox tapi kalo keputusan yang dia buat itu justru menghancurkan hidupnya maka dia tidak smart. Kita memang terbentuk oleh pandangan media dan segala gembar gembor modernisasi. Bila melihat pada  zaman renaisance, maka wanita yang sexy atau cantik adalah wanita dengan perut besar dan gemuk yang bisa dilihat dalam lukisan-lukisan di Roma,  itu yang sexy. Kalau dia single tapi jalan dengan suami orang itu tidak smart. Bila dia single berpendidikan lulus cum laude di luar negeri tapi memutuskan untuk mau menjadi simpanan konglomerat dengan menjalankan tiga perusahaan , buat saya dia tak smart. Bisa jadi dia dianggap sexy menurut ukuran dunia sekuler tapi itu bukan smart yang mau dibangun dalam TLC ini. Smart adalah bila dia membangun  relasi dengan Tuhan dalam kelajangannya, mengambil keputusan-keputusan yang benar dalam hidupnya, sehat secara emosional, fisik dan spiritual. Itu smart.

              Feli: messagenya redefining the sexy and smart.

              Feli : Bagaimana memulihkan kepercayaan sesudah ditipu?

              Rika: Terapkan original solitude dalam diri sendiri.  Misalnya ditipu cowok atau cewek, maka jangan cepat-cepat masuk dalam relasi yang baru. Berjalanlah sendiri dulu, temukan diri sendiri, explore your talents and gifts. Bangun relasi dengan Tuhan dan terapkan point-point solitude, maka orang itu akan bisa move on dan pulih.

              Kevin: biasanya kalau habis ditipu, atau diputusin secara tidak baik-baik , maka cowok dan cewek jadi pahit. Jangan jadi orang yang pahit. Sepahit-pahitnya apa yg telah dialami jangan mengeneralisasi dan percayalah karena original design yang Tuhan berikan bukan kepahitan tapi kebahagiaan sejati.

              Tagged with:  
              Page 1 of 212
              © 2010 True Love Celebration