Bu Rina, tentu saja nama samaran, saat itu berumur kurang lebih tiga puluh lima tahun.
Dan dia belum mempunyai pacar.
Secara kebetulan, dia juga adalah guru ter-killer di Sekolah Dasar tempatku dulu belajar. Kebetulannya lagi, dia adalah satu-satunya guru yang selalu berjalan tegap, dengan dagu terangkat di angkasa dan bibir yang tak pernah tersenyum. Sama sekali. Dan lagi-lagi, tentunya juga secara kebetulan, dia satu-satunya guru yang pernah memberi angka nol besar untuk pekerjaan rumahku. Mengapa? Karena tulisan halusku yang untuk sekalinya itu kubuat dengan sepenuh hati, dianggapnya hasil karya orang lain. Menurutnya tak mungkin tulisanku bisa seindah itu. Semua itu diutarakannya dengan sinisnya sambil melempar si barang bukti berupa buku tulis bersampul cokelat kepunyaanku.
Apakah semua itu kebetulan ataukah ada sebab akibat antara baris pertama di atas dan kalimat-kalimat selanjutnya?
Tentu hanya Tuhan yang tahu.
Walau begitu, manusia selalu saja beranggapan bahwa mereka tahu segalanya. Tak jarang kudengar sekian banyak lentingan yang ditujukan pada wanita-wanita dewasa yang belum bersuami. Dewasa yang pada menurut pandangan masyarakat sudah selayaknya berkeluarga dan beranak pinak paling tidak selepas usia tiga puluh tahun.
Lentingan tersebut bisa ditujukan langsung pada orangnya. “Pacarnya mana?”.”Belum punya”.”Kenapa? Kamu sudah tiga puluh tahun. Rahimmu tidak bisa menunggu lama lagi lho. Ada kadaluarsanya.”. “Oh ya? Sejak kapan rahimku di samakan dengan makanan kaleng yang punya kadaluarsa hingga tahunan?”.”Siapa yang akan menjadi tempatmu berbagi nak. Nanti kamu simpan semua masalahmu menjadi jerawat.”
Lentingan yang lebih nyinyir biasanya ditujukan saat orangnya tak mendengar “Lihat dia uring-uringan terus. Galak. Makanya jadi wanita itu musti cepat-cepat cari suami. Supaya stress-nya dapat tersalurkan”. Biasanya disertai dengan kerlingan tahu sama tahu.”Mungkin dia frustasi tidak dapat pacar sejak ditinggal kawin mantannya tiga tahun lalu. Kasihan anak didiknya semua di makinya” Ehm Bu Rina, ehm.
Yang lebih pragamatis mungkin akan berkata “Memang, dimana mana kalau wanita sudah punya anak pasti akan lebih sabar menghadapi masalah. Bayangkan yang masih single. Mana dia tahu artinya penderitaan ataupun kompromi. Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit misuh-misuh. Lihat dong yang punya anak. Mana mereka punya waktu untuk mengurus hal-hal sepele” Yang mengucapkan kalimat tersebut tentunya mengambil kebebasan berasumsi bahwa saat wanita melahirkan, mereka otomatis mendapat karunia kesabaran dan ketabahan luar biasa.
Sekarang coba pikirkan keadaan teman-temanmu, atau mungkin dirimu sendiri, yang sudah di atas umur 25 tahun dan belum juga kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berpacaran, apalagi menikah. Benarkah demikian adanya? Apakah kebanyakan dari mereka berupa wanita-wanita pemarah yang mudah tersulut emosinya seperti asumsi-asumsi di atas? Apakah mereka lebih labil dan rapuh dibandingkan teman-temanmu yang sudah berpacaran ataupun menikah? Dapatkah kalian temukan di antara mereka, satu saja srikandi yang terus melaju dalam ‘kesendirian’ mereka namun tetap menebarkan harum kasih luar biasa semerbak ke sekelilingnya?
Aku bisa. Dan kutemukan tak hanya satu.
Sungguh ingin rasanya kupertemukan teman-teman luar biasaku itu dengan wanita-wanita nyinyir di atas, dan tentu dengan Bu Rina. Akan kubisikkan. Hai Ibu. Belajarlah dari teman-temanku ini, Bu. Sendiri tak artinya harus kau simpan semua bebanmu itu. Tak lagi harus kau luapkan amarahmu ke manusia-manusia yang tak mengerti apa-apa. Buka hatimu selebar-lebarnya dan penuhilah rongga-rongga kosong di hatimu dengan cinta-Nya. Penuhilah hingga meluap, meletup dan bergejolak seperti yang teman-temanku ini alami. Buatlah pancuran-pancuran supaya bebas cintamu itu memancar ke segala penjuru. Segala penjuru akan mulai belajar untuk melihat dirimu yang luber akan cinta. Dan segala penjuru juga yang akan memunculkan pintu-pintu baru yang tak pernah sebelumnya kau tahu ada. Pastinya saja di balik salah satu pintu itu menanti sebentuk kehidupan yang siap menerima seorang Rina. Seorang Rina si guru sekolah yang membutuhkan wadah tak berdasar untuk menampung luapan cintanya. Apakah wadah itu berupa seorang laki-laki yang menantinya? Atau Tuhan sendiri yang memanggilnya untuk hidup selibat? Coba dan buktikan Bu Rina. Dan jangan lagi lempar-melempar buku tulis kepunyaan anak didikmu yang tak bersalah (tentunya dalam konteks ini).






