We Follow @Pontifex: Why Scandal Cannot Bring Down The Church [Liputan]

Liputan dari True Love Cellebration 4 Mei 2013

Kalau membaca atau mendengar topik True Love Celebration (TLC) kali ini, apa sih yang ada di pikiran kalian? Pasti ada yang berkata dalam hati, “Ngapain sih skandal gereja dibahas-bahas?” Atau malah ada yang jadi penasaran banget, “Wah bakal seru nih topiknya!” Dan juga pasti ada yang nggak tahu menahu, “Perasaan gereja Katolik adem ayem aja deh, kok tiba-tiba membahas skandal?”

Nah, kembali ke judul, disitu ada kata “cannot”! Berarti skandal apapun tidak bisa menjatuhkan atau meruntuhkan Gereja. Ah masa sih? Mau dibuktiin? Mari dibaca sampai habis ;p

Ngaku Dosa Dulu

Sejak siang hari seperti biasa, TLC diisi oleh anak muda – anak muda yang rindu akan curahan kebaikan Bapa lewat Sakramen Pertobatan. Saat itu, Sakramen Pertobatan dilayani oleh 2 orang Pastur yang hebat banget; Romo Agustinus Purwanto, SJ dan Romo Anton P. Hestasusilo, CICM. Pengakuan dosa saat itu berlangsung lancar dan sangat khusuk, mengingat TLC sempat skip 1 bulan, membuat para anak muda benar-benar meresapi setiap bagian dari acara TLC yang diawali dengan Sakramen Pertobatan.

Hari mulai sore dan makin banyak yang berdatangan. Dresscode kali ini adalah biru muda seperti warna logo Twitter. Ruang Melati di Wisma Indocement yang jadi tempat acara saat  itu langsung terasa bersuasana lembut dan kalem. Seperti hati Yesus yang lembut… J

Statistik Bicara

Selesai berdoa, bernyanyi, memuji dan memuliakan Tuhan, pengajaran langsung dimulai oleh Bro Violison. Bro enerjik ini memulai dengan pengantar makna dan juga statistik terlebih dahulu. Pertama-tama doi menjelaskan tentang scandal itu sendiri, yang diambil dari Wikipedia.com, yang artinya, tindakan kesalahan (baik dan buruk, benar dan salah) yang dilakukan secara umum (http://en.wikipedia.org/wiki/Scandal).

Setelah itu Bro Vio menambahkan, jika dilacak melalui Google, dari 4,7 juta hasil “Roman Catholic Scandal”, terdapat top 10 kasus sexual abuse. Berarti, benar dong di Gereja Katolik terdapat skandal? Eits, jangan terburu-buru dulu, yuk cek secara statistik; ternyata, Gereja Katolik termasuk yang mempunyai kasus sexual scandal paling sedikit secara worldwide. Selain itu, ternyata yang paling banyak melakukan sexual abuse adalah beberapa profesi di luar profesi sebagai pemimpin agama Katolik.

Memang banyak kasus-kasus skandal gereja yang dilaporkan dan kemudian dituntut oleh publik, tapi hal itu semata-mata karena masalah materi. Dan tidak berhenti disitu saja, kebijakan Gereka Katolik pun juga bertindak bijak dengan mempunyai keputusan untuk menghukum pemimpin gereja yang memang melakukan skandal sex.

Dengan data yang ada, walaupun dengan jumlah kecil, pasti ada yang bertanya, “Kenapa sih Roh Kudus tidak melindungi, kan pemimpin Gereja sangat diurapi?”

Catatan Sejarah

Nah, sekarang kita simak pembahasan dari sisi historisnya yang dibawakan oleh Bro Renaldo. Sebenarnya, skandal secara luas (tidak hanya sexual abuse saja), sudah ada semenjak dahulu kala. Dicontohkan skandal yang justru dilakukan oleh beberapa Paus, pada rentang abad 3-15. Dimulai oleh Paus Stefanus VI yang mengadili pendahulunya Paus Formosus yang sudah wafat. Kala itu, Paus Stefanus VI meminta untuk menggali kubur Paus Formosus dan kemudian diletakan di ruang pengadilan. Kemudian disusul oleh Paus Yohanes XII yang memberikan tanah untuk gundiknya dan juga membunuh seseorang yang menangkap basah Beliau dengan gundiknya. Ada skandal Paus Benediktus IX yang menjual tahta kepausan. Dan masih ada lagi kisah bad Popes yang bisa dicari infonya di dunia maya (http://en.wikipedia.org/wiki/Bad_Popes).

Dari sejarah di atas kita bisa menemukan fakta bahwa yang akan “diserang” pertama kali untuk menjungkirbalikan Gereja adalah justru pemimpin-pemimpinnya. Tidak heran mengapa Paus, Kardinal, Uskup dan Imam sering kali ditemukan memiliki kasus-kasus scandal. Tapi Tuhan kita yang Mahaajaib tidak tinggal diam lho. Sejarah menyatakan sekitar tahun 1300an, pada saat Paus Inosensius III bertahta, ia bermimpi Basilika Lateran akan roboh, tapi ditahan oleh seseorang. Orang itu ternyata adalah Fransiskus dari Asisi, yang dianggap sebagai utusan Allah dalam membangkitkan kembali Gereja yang sudah dalam suasana kacau balau.

Berkat Janji Tuhan

Benar adanya bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya yang indah. Dia berjanji bahwa maut tidak akan menjatuhkan Gereja-Nya (Mat 16: 18-19). Kepada Paus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya, Tuhan mempercayakan kunci Surga. Dalam pelaksanaannya, memang pelayanan mereka tidak mudah dan sering kali jatuh ke dalam pencobaan, tetapi janji Tuhan berkata bahwa maut tidak akan menjatuhkannya.

Joseph Ratzinger (Paus Benedictus XVI), berkata dalam sebuah wawancara dengan salah satu televisi Jerman sekitar tahun 1970-an, bahwa Roh Kudus tidak mendikte siapa Paus yang harus dipilih, melainkan seperti seorang pendidik yang baik, memberikan kebebasan kepada Gereja untuk belajar, namun tanpa meninggalkan kita sama sekali. Ia menjamin bahwa walau bagaimanapun terjadi, tidak segalanya akan runtuh.

Maka secara data statistik dan sejarah, walaupun Gereja dilanda banyak skandal, tapi nyatanya sekarang Gereja menjadi lebih besar dan makin bertumbuh. Setiap “remedial” diberikan oleh Tuhan sendiri untuk memulihkan Gereja kesayangannya. Dan dari 266 Paus hingga sekarang, sudah sekitar 70-80 Paus yang digelari orang kudus. Kalau kata Bro Vio, Gereja juga tidak menutup-nutupi skandal yang ada, maka jika memang pemimpin Gereja terbukti salah, Gereja membuka diri untuk memberikan hukuman yang setimpal. Sebagai contoh, saat Paus Benedictus XVI bertahta, Gereja mengeluarkan dana sekitar 1 trilyun dolar untuk memberi ganti rugi kepada para korban skandal sex yang dilakukan oleh para imam. Yes indeed, the gate of hell shall not prevail againts it!

Adorasi

Kemudian untuk meresapi kehadiran dan kebaikan Tuhan atas Gereja, kami semua dimanjakan dengan kehadiran Yesus sendiri melalui pentahtaan Sakramen Maha Kudus yang dipimpin oleh Romo Angeli Giovanny Battista Patty, MSC setelah pengajaran usai. Dengan penuh iman dan harapan, kita berdoa: Yesus yang Maha Baik, tolonglah kami, biarlah Engkau sendiri yang memulihkan Gereja-Mu.

Jangan lewatkan serunya TLC di bulan Juni mendatang yang akan membahas tentang party-nya umat Katolik, “We Love The Mass” di tempat yang sama di Wisma Indocement Ruang Melati jam 16.00. Seperti biasa akan ada pengakuan dosa jam 14.30 yang akan dilayani oleh dua Romo. Ajak teman-temanmu untuk merasakan dahsyatnya urapan Tuhan di True Love Celebration.

(Lia Agatha)

 

We Love the Mass, It’s Party Time! [Liputan]

Liputan dari True Love Celebration 1 Juni 2013

We Love the Mass, It’s Party Time! Sejak melihat judul tersebut dan gambarnya di prof-pic bb yang melukiskan siluet Sakramen Ekaristi yang sedang dikonsekrasikan oleh imam dengan warna berkelap-kelip seperti sedang pesta, saya semakin penasaran mengapa Ekaristi dikaitkan dengan suasana yang fun, menyenangkan, yang selalu dinantikan oleh banyak orang.

The Party Begin

Suasana siang itu mulai terasa lebih spesial dari biasanya ketika disambut oleh para usher yang berpakaian rapi, banyak panitia wanita yang mengenakan dress dan yang pria mengenakan kemeja rapi, seperti mau ke pesta. Masuk ke ruang Melati di Wisma Indocement, TLC diawali dengan sesi pengakuan dosa yang dilayani Romo Anselmus Jamelan, Msc dan Romo Petrus Mogie, Msc.

Romo Yance Laka, Pr., dari Atambua, Nusa Tenggara, yang juga salah satu Romo pendamping Domus Cordis, membuka pengajaran hari itu dengan sedikit cerita mengenai pengalamannya ketika pergi ke Korea Selatan. Kebanyakan umat di berbagai negara, termasuk Indonesia, dapat mengenal Kristus melalui para misionaris yang pergi ke negara tersebut. Lain dengan Korea Selatan yang mengenal Kristus melalui sharing iman dari para awam. Dimulai dari seseorang awam yang belajar di Cina, yang diminta menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa Cina, akhirnya ia sendiri terpesona akan Injil dan minta untuk dibaptis. Pulang ke kampung halamannya, ia menceritakan pengalaman imannya sehingga banyak teman-temannya ikut dibaptis. Menurut Romo Yance hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa umat Katolik di Korea Selatan terasa sangat hidup dan nyata dalam pelayanan antar umat.

Ekaristi Bagi Seorang Imam

Seperti apa sih Ekaristi bagi seorang imam? Jika banyak dari kita yang mungkin pernah merasa jenuh dengan rutinitas perayaan Ekaristi mingguan, bagaimana dengan para imam yang setiap pagi memimpin atau mengikuti Misa? Apakah Ekaristi menjadi hanya rutinitas belaka?

Dari semua rumusan teologi dan doktrin yang berusaha mendefinisikan Ekaristi dalam berbagai kalimat yang mengagumkan, Romo Yance paling tersentuh dengan arti Ekaristi sebagai “sumber dan puncak kehidupan”. Beliau kemudian menyampaikan makna “sumber kehidupan” melalui sebuah video mengenai proses dimulainya kehidupan, yaitu ketika sperma bertemu dengan sel telur yang kemudian hidup dan berkembang menjadi seorang bayi. Proses yang membawa kepada sebuah “kehidupan” itu sendiri.

Demikian halnya dengan yang kita rayakan dalam perayaan Ekaristi, Allah telah memberikan kepada kita sumber kehidupan yang terwujud dalam diri Yesus yang memberikan kekuatan untuk hidup. Dialah sumber kehidupan.

Mungkin semua orang dapat memimpin Misa, karena semua tata cara sudah tertulis lengkap dalam buku Tata Perayaan Ekaristi. Tapi yang paling berkesan bagi Romo Yance adalah pengalaman ketika dirinya yang tidak sempurna diberikan kuasa untuk mengubah roti menjadi Tubuh Kristus dan anggur menjadi Darah Kristus (transubstansi). Melalui peristiwa itulah Allah memberikan undangan bagi kita untuk mengalami pengalamaan dan perjumpaan dengan Dia. Itulah Undangan Kehidupan yang telah Yesus berikan.

Perayaan Kehidupan

Setiap orang tanpa terkecuali ada di dunia karena dikandung dan dilahirkan melalui rahim seorang ibu kepada kehidupan. Demikian juga setiap orang dipanggil dan diundang oleh Kristus kepada kehidupan melalui perjumpaan pribadi dengan-Nya lewat Ekaristi. Ekaristi menjadi perayaan bagi Kehidupan itu sendiri menanggapi Sang Sumber Kehidupan, Pencipta kita.

Seperti Kitab Suci yang merupakan tulisan para pengikut Yesus mengenai perjumpaan dan pengalaman iman mereka dengan Yesus, kita pun masing-masing dalam kehidupan akan menulis kitab yang berisi pengalaman kita sendiri: bagaimana kita akhirnya berjumpa dan menjadi pengikut Kristus, mengenai pergumulan dan perjalanan kita bersama-Nya, sharing mengenai apa yang kita alami bersama-Nya.

Setiap mulut yang menyambut Tubuh Kristus mempunyai cerita mereka tersendiri, bagaimana akhirnya mereka datang dan menyambut Sang Kehidupan. Tubuh Kristus yang masuk ke dalam sistem pencernaan seharusnya mengubah seseorang dari dalam diri mereka menjadi berpikir seperti Kristus, berbicara seperti Kristus, berperilaku seperti Kristus, dan pada saatnya nanti rela jika harus menderita dan mati seperti Kristus.

Rasa syukur merayakan kehidupan, itulah perayaan Ekaristi. Jiwa yang sungguh mensyukuri kehidupan pastilah akan membagikan pengalaman tersebut. Tidak membagikan syukur atas kehidupan mengindikasikan kurangnya rasa syukur terhadap kehidupan.

Mungkin saat kita menghadap Bapa nanti, kita tidak akan ditanya apa saja yang sudah kita perbuat, tetapi dengan siapa kita datang. Kita pun dapat membawa seseorang kepada Kristus dimulai dengan sharing yang kita lalukan karena kepenuhan syukur akan kehidupan itu sendiri.

Adorasi Sebagai Puncak Acara

Berlanjut ke acara pundak yaitu Adorasi, semua yang hadir diajak untuk bertemu & “merasakan” perjumpaan pribadi dengan Sang Mahakudus. Saya pun merasakan perjumpaan yang spesial dengan Tuhan, ditambah rasa syukur yang semakin bertambah melalui pengajaran yang telah diberikan, rasa penuh syukur akan anugerah kehidupan dari-Nya.

Rasanya jadi tidak sabar menunggu TLC bulan depan yang juga akan membahas iman Katolik sehubungan dengan perayaan Tahun Iman, apalagi dengan tema yang sangat menarik untuk dibahas: “We believe sex is so so so good! And we know what you did last night. Seperti perkataan Paus Benediktus XVI, semoga semua umat terlebih anak muda semakin memahami iman Katolik mereka, bahkan lebih dari generasi orang tua kita. (lui)

 

WE BELIEVE IN THE WORD OF GOD – and it’s more than just a bible [Liputan]

Liputan dari acara TLC February 2013

WE BELIEVE IN THE WORD OF GOD – and it’s more than just a bible

True Love Celebration, 02 Februari 2013

Biasanya, bulan Februari itu identik dengan Valentine. Di pintu masuk Ruang Melati Wisma Indocement, kita disambut oleh para usher berpakaian merah-merah seperti menyemarakkan suasana Chinese New Year, yang kebetulan terjadi di bulan Februari juga.  Buat yang menyangka di True Love Celebration (TLC) Sabtu, 2 Februari kemarin bakal membahas tentang yang berbau cinta-cinta atau malah membahas soal angpao, nah tebakannya melenceng nih.

Kalau TLC Januari kemarin temanya tentang “We Reject Relativism”, bahwa kebenaran adalah absolut, sekarang saatnya bertanya-tanya, “Kebenaran itu apa sih?” dan “Apakah letaknya kebenaran itu hanya pada sabda Tuhan, hanya biblikal saja?” Well, we have to say no. We believe in the word of God, and it’s more than just a bible.

Seperti biasa, sebelum pengajaran dimulai, diadakan Sakramen Tobat mulai  pukul 14.30 yang dipimpin oleh Romo Vincentius Prastowo, sdb dan Romo Mateus Wahyudi, MSF. Setelah Pengakuan Dosa selesai sekitar pukul 16.30 semakin banyak wajah-wajah berseri berdatangan. Ruang Melati, Wisma Indocement saat itu dipenuhi anak muda yang curious banget soal kebenaran sabda Tuhan.

Kenapa sih pada tema ini dituliskan, “… and it’s more than just a bible”? Di injil Yohanes 21:25, disebutkan bahwa “Masih banyak hal-hal yang lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.”

Dalam konteks inilah kita melihat Yesus mempercayakan Gereja-Nya kepada orang-orang yang dipilih-Nya untuk mengajar Gereja dengan otoritas. Dimulai dari para rasul, mandat ini diteruskan kepada para penggantinya. Otoritas ini disebut Magisterium (kuasa mengajar). Magisterium ini juga mewariskan kepada Gereja kesaksian, ibadah, doa, interpretasi yang berasal dan bersama Kitab Suci membentuk Tradisi. Ketiga kaki ini, Magisterium, Kitab Suci dan Tradisi berporos pada Yesus Kristus sendiri.

So, betapa kayanya Gereja Katolik itu. Untuk meyakinkan hal itu, Violison Matheo (Vio) diminta untuk memberikan sharing tentang pengalaman hidupnya mengenai kebenaran sabda Allah. Kecintaan Vio terhadap iman katolik berawal dari sebuah buku Rome Sweet Home karangan Scott & Kimberly Hahn. Sebelumnya bro Vio memang sudah menjadi Katolik sejak lahir, namun menurut pernyataannya, “Gue tahu Tuhan, tapi gua nggak  mengalami Tuhan.” Selama bertahun-tahun mencari akhirnya doi firm di Gereja Katolik yang membuatnya lively.

Banyak sekali kebenaran dari Gereja Katolik yang kaya akan tradisi-tradisi suci, yang banyak sekali membahas tentang semua persoalan serta isu-isu tentang keimanan, bahkan yang kini menjadi “trending topic” ternyata sudah dibahas berabad-abad lamanya. Contohnya saja tentang perpuluhan, di mana yang dijadikan patokan utama bukan 10 persennya, namun ketulusan dan keyakinan kita dalam memberi, berapapun.

Menariknya, menurut Hahn, tidak ada sampai seratus orang di Amerika yang benci Gereja Katolik, walaupun ada jutaan yang membenci apa yang secara salah mereka kira adalah Gereja Katolik dan ajarannya (Conversion Story, Scott Hahn. http://www.catholiceducation.org/articles/apologetics/ap0088.html).

Untuk lebih memperkuat kebenaran soal sabda Allah yang more than just a bible, kita bisa lebih tahu iman Katolik secara langsung dari Sang Paus Himself, Paus Benedictus XVI, gimana caranya? Langsung aja follow @Pontifex. Terus karena tahun ini adalah tahun iman, dihimbau untuk kita semua supaya membaca katekismus setiap hari, dengan cara yang lebih sederhana, tinggal ke www.flocknote.com/catechism

Kerasa kan, kaya banget Gereja Katolik itu. Salah satu kekayaan lainnya adalah adorasi, di mana Tuhan sendiri dalam bentuk Sakaramen Maha Kudus hadir di tengah-tengah kita, memberikan kebenaran bagi setiap hidup kita. Dalam Yohanes 14:6 dikatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Adorasi saat itu dipimpin oleh RD (Romo Diosan) Antonius Didit Soepartono dan berlangsung sangat kusuk. Acara puncak ini membawa banyak anak muda kembali berefleksi tentang kebaikan Tuhan dan tentunya kekayaan Gereja yang sudah mem-provide everything yang kita butuhkan untuk menjadi laskar-laskarnya Kristus. Be proud to be catholic.

Sampai jumpa lagi di TLC mendatang, tanggal 2 Maret 2013, mulai jam 16.00 di tempat yang sama, dengan tema yang mantap banget, “We confess to our priest! One man. One sinner. Unlimited forgiveness.”.  Disediakan pastur untuk yang mau mengaku dosa, mulai jam 14:30-15:30.

(Lia  Agatha)

 

Pictures from TLC 1 Sept

True Love Celebration: How to Handle Pain & never Lose Hope

 

Check out some Photos from TLC July 2012

3 things you should know about women…

Click on the photos below…..



 

Foto2 dari TLC – Juni 2012

TLC Juni 2012 – 6 Stages of Real Men

Langsung aja klik di foto ini:

 

Foto2 dari TLC – Mei 2012

TLC 5 Mei 2012 – Living God’s Dreams

Langsung aja klik di foto ini:

 

Foto2 dari TLC – Maret 2012

TLC Maret 2012 – 40 Days That Change Your Life

Langsung aja klik di foto ini:

 
 

Apa mimpimu terhadap Gereja Katolik di KAJ?

“Saya bermimpi satu hari nanti Gereja Katolik di KAJ menjadi Gereja yang…..”

Rekam video diri kamu selama 30 detik untuk menyampaikan, dimulai dengan kata-kata
“Saya bermimpi satu hari nanti Gereja Katolik di KAJ menjadi Gereja yang…..”

Lalu post video kamu di True Love Celebration Facebook Page

 
Page 1 of 712345...Last »
© 2010 True Love Celebration