Apa mimpi Tuhan buat hidupku?

Living God’s Dream…..

Apa mimpi Tuhan buat hidupku?

Living God’s Dreams adalah hidup yang penuh passion, penuh tantangan, dan penuh perjuangan, karena dari waktu ke waktu selalu diundang oleh rahmatNya untuk bersatu dengan Yesus sendiri.
Nggak semua orang berani menanggapi tantangan ini, tapi buat yang berani, mereka selalu menemukan hidup yang juga penuh berkat, dan paling berarti.

Why Adoration?
Karena dalam adorasi suci, kita nggak cuma mendengar tentang Tuhan, kita nggak cuma melihat pekerjaan Tuhan, tapi kita mengalami perjumpaan pribadi langsung dengan Yesus sendiri, yang bangkit mengalahkan maut! Seperti para rasul, pengalaman berjumpa dengan Yesus yang bangkit akan menggerakkan kita masuk ke dalam mimpi-mimpi Tuhan sendiri buat hidup kita.

Hadiri TLC, satukan dirimu dengan mimpi Tuhan, dan bersiaplah untuk jadi orang muda dengan hidup yang paling berarti, paling happy, dan paling jadi berkat buat dunia ini.

Pembunuh jadi pembebas bangsa (baca: Musa), gembala jadi raja Israel (baca: Daud), gadis sederhana jadi Bunda Allah (baca: Maria), nelayan jadi paus pertama (baca: Petrus), prajurit jadi pendiri konggregasi (baca: St.Ignatius), dan ribuan nama lainnya…
Kalau Tuhan punya mimpi atas hidup kita, apapun yang mustahil dibuatNya terjadi. Bahkan dari dalam kuburpun Dia bangkit untuk menyerukan kepada dunia bahwa Dia Tuhan yang berkuasa.

It all starts when you meet Jesus!

LIVING GOD’S DREAMS

Hari/Tanggal: Sabtu, 5 Mei 2012
Waktu: Pk. 16.00 – Pk. 18.00 WIB
Tempat: Wisma Indocement, Ruang Melati
Jl. Jend. SudirmanKav. 70 – 71, Jakarta Pusat.

http://maps.google.co.id/maps/ms?msa=0&msid=213800202181217008667.0004b9f11b62e9fa55775

(Sakramen Tobat dilayani oleh 2 orang Romo pada jam 14.30 – 15.45)

Informasi
Bram : 0818 0691 3004 / b.bram88@gmail.com

Hati-hati, hidupmu bisa berubah total! #TLC2012
See you all in TLC!

 

TLC – 5 Mei 2012

 

Liputan TLC Workshop – OMK Peduli Bangsa: Berbagi Dengan Bangsaku

Diliput oleh Theo @theo_nih

Sesi dari OMK Peduli Bangsa dibuka oleh pembacaan puisi oleh Ajeng yang berjudul “Aku”. Suatu  refleksi dari Bhineka Tunggal Ika, yang dengan tegas menyerukan bahwa Indonesia bukan dibentuk oleh 1, 2 orang atau dari 1, 2 suku melainkan dari banyak orang dan banyak suku. Begitu pula dengan kepedulian terhadap bangsa, tidak bisa dikerjakan oleh 1,2 orang saja.

Acara dilanjutkan dengan ice breaking menangkap jari telunjuk dengan telapak tangan. Hasil dari permainan ini pun cukup menarik, bahwa lebih banyak yg menghindar daripada menangkap.  Menurut Michell Suharli sang narasumber, kecenderungan untuk menghindar dari bahaya karena resiko atau bahaya yang terbayang adalah buah dari sistem pendidikan dimana orang tua umumnya selalu menasehati anak-anaknya, “Jangan main di luar rumah yah”, “Gak boleh pergi jauh-jauh loh”, Eeeh, jangan dekat-dekat situ..” dan masih banyak laranga-larangan yang lain yang sebearnya bermaksud bak, yatu menghindarkan sang anak dari resiko sekecil apapun. Namun di sisi lain, sistem ini memberikan efek jangka panjang kepada para anak, khususnya pada pola pikir mereka; untuk berjalan menjauhi kesengsaraan.

Melihat fenomena yang sudah mendarah-daging ini, narasumber menanggapi, “Jika anda tidak sedang mengejar nikmat, maka seharusnya anda menghindari sengsara.”

OMK Peduli Bangsa mengajak semua kaum muda untuk menjadi peduli secara nyata kepada bangsa ini dengan membagikan cinta yang sejati. Cinta yang tanpa pamrih, yang tidak membedakan dan mau berkorban, sebab besarnnya perngorbanan seseorang terhadap sesuatu mencerminkan besarnya cinta orang tersebut.

Michell Suharli juga mengutip pernyataan Alm Mgr. Sugiyapranata yang sangat terkenal, 100% Indonesia dan 100% Katolik. Serta menunjukkan bebrapa sumbangsih para pejuang Katolik di kancah perpolitikkan Indonesia mulai dari IG Kasimo sampai Frans Seda yang dengan teguh memegang prinsip kekatolikkan walaupun berkarya di tempat yang penuh dengan gesekan sekalipun karena mereka mempunyai impian yang jelas. Impian tersebut dirumuskan oleh sang narasumber sebagai DREAM yang kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam langkah-langkah nyata perwujudan cita-cita. Dimulai dengan proses penulisan cita-cita tersebut agar terekam di dalam alam bawah sadar manusia, dirumuskan secara positif, dievaluasi secara periodik, diamati pencapaiannya serta disusun rencana yang riil.

Narasumber yang juga menjadi staf pengajar di Unika Atma Jaya, menekankan unsur-unsur pembentuk nasionalisme seseorang, mulai dari Pancasila, Trias Politica, ekonomi, hukum, teknologi dan pendidikan. Di akhir sesi sdr. Michell sempat menjawab pertanyaan mengenai bagaimana seorang Katolik harus bersikap jika berada di lingkungan (politik), dimana lingkungan tersebut bagi kebanyakan orang sudah dianggap buruk, penuh dengan kecurangan. Namun sebagai respon terhadap pertanyaan tersebut, Michell Suharli mengajak audiens yang ada untuk berpikir bersama, melihat lebih jauh ke dalam pola pikir masing-masing dan kemudian memberikan pertanyaan retoris mengenai lentera yang menyala yang dibawa seorang pemuda ke jalanan pada siang hari. Pada kenyataannya, orang yang berakal sehat tidak akan membawa lentera yang menyala pada siang hari, karena tidak akan memberikan kegunaan hampir sama sekali.

Begitulah seharusnya kita berkarya dan berbagi, di tempat dimana karya kita dibutuhkan untuk menerangi setiap ruang yang gelap.

Tagged with:  

Liputan Workshop TLC – TOBIT: Save Sex

Diliput oleh Luisa (@georgialuisa) dan Irene (@sihijau)

Satu per satu peserta mulai berdatangan ke ruangan tempat diselenggarakan topik “Save Sex” yang dibawakan oleh TOBIT (Theology of The Body InsighT), salah satu lembaga pewartaan Teologi Tubuh (Theology of The Body) dari komunitas Domus Cordis. MC langsung mencairkan suasana dengan mengajak peserta saling bersalam-salaman. Tidak lama, acara langsung dibuka, “Haleluya ku memujiMu Tuhan..” peserta semakin bertambah dengan ajakan puji-pujian yang meriah. Kemudian dilanjutkan dengan pujian Yesus yang membuat suasana semakin mencair.\(^o^)/

Acara dimulai dengan doa, dan suasana menjadi hening. “Dan ku ingin mengenalMu Tuhan, lebih dalam dari s’mua yang kukenal…,” begitulah lagu dikumandangkan dan para peserta mulai masuk dalam penyembahan.

Dr. Lia B. Ariefano membuka session dengan perkenalan kak Rika, sapaan akrab dari Yurika, sebagai pembicara session ini yang menjabat sebagai salah satu direksi dari TOBIT. Kak Yurikapun memulai dengan pertanyaan “Kenapa kita akan membicarakan tentang Save Sex?” Sex biasanya menjadi topik yang utama yang ada dalam pertimbangan dan pilihan-pilihan kita.

Paus Yohanes Paulus II pada Yubelium tahun 2000 memberikan suatu permenungan berjudul “Culture of Death”. Dari permenungan ini disampaikan bahwa terdapat budaya kematian di sekitar orang muda. Kak Yurika mengajak peserta melihat gambar pada slide yang cukup membuat dia shock. Pada slide tersebut terdapat gambar Paris Hilton dan dibawah gambar tersebut ada suatu yaitu , “Kalo Yesus mati buat dosa-dosa lo, kenapa juga nggak nikmatin aja semuanya?” Jadi, pernyataan ini banyak dikutip orang-orag muda karena mereka menganggap tidak ada yang pasti di dunia ini (budaya relativisme) : “If you feel It, just do it”.

Menurut hasil survey mengenai Perilaku Seksual Remaja dari Komisi Perlindungan Anak yang pernah ditayangkan di SCTV, disampaikan bahwa 93,7% pernah ciuman, petting, dan oral seks; 62,7% remaja SMP tidak perawan; 21,2% remaja SMU pernah aborsi, dan 97% pernah nonton film porno. Ini berarti, seks bebas di Indonesia sudah menjadi hal yang umum bagi orang muda usia remaja. Pada kesimpulan berikutnya dinyatakan bahwa 63% remaja berhubungan seks di luar nikah, dan tiga juta kasus aborsi ditemukan.

Fakta lainnya yaitu dari hasil survey di Amerika, para remaja saat pertama kali masuk kampus, 47% mereka menentang aborsi. Setelah selesai kuliah, hanya 27% yang menentang aborsi.  Hal ini cukup menunjukkan bahwa seks menjadi sebuah hal yang tidak lagi berharga dimata mereka sehingga seks “seperti” bisa dibeli di pinggir jalan. Terlihat sekarang bahwa anak di bawah usia, sudah dapat dengan mudah mengakses internet dimana internet telah  menjadi suatu media yang menyediakan semuanya hal termasuk pornografi.

Ketika seseorang melakukan seks bebas, maka ia secara tidak langsung menempatkan dirinya sebagai seseorang yang ingin bunuh diri dengan satu peluru. Tidak tahu kapan peluru akan meletus tapi tiba-tiba dia bisa mati. Seks bebas bisa membuat mereka merasa tidak berharga, bersalah, dan sebagainya.

Di dalam World Youth Day, demikian didengung-dengungkan mengenai hal ini: “Tubuh, sesungguhnya, dan hanya Tubuh, mampu membuat terlihat apa yang tidak terlihat; yang spiritual dan yang ilahi. “ Tubuh manusia dikatakan dalam Alkitab sungguh amat baik adanya yaitu bahwa manusia adalah ciptaan yang secitra dan segambar dengan Allah.

Sejak saat itu juga manusia telah memiliki dorongan untuk keinginan bersatu dengan sesamanya. Adam tidak melihat macan seperti Ia melihat Hawa, yang serupa dan sepadan dengannya, ciptaan yang secitra dengan Allah.

Dengan melihat tubuh orang-orang di sekeliling, maka kita telah melihat citra Allah yang tergambar dalam diri sesama. Sebenarnya bahwa seks itu tidak kotor, karena telah diciptakan segambar dan secitra dengan adanya kita. Faktanya ketika kita berhubugan badan secara bebas, sebenarnya kita telah memanipulasi tubuh kita.  Jadi, kebenarannya adalah sex akan menjadi kebahagiaan sejati kalau kita menempatkan sex di dalam rencana Allah yang sesungguhnya.

Tubuh kita berbicara tentang cinta sejati. Ada sesuatu yang spiritual dan Ilahi yang sudah dicetak dalam tubuh manusia, yang disebut bahasa cinta sejati. Bahasa tubuh ini memiliki empat ciri. Jika empat ciri tidak dipenuhi, maka persatuan tubuh (seks) akan menghancurkan diri kita, diri orang lain, baik rohani ataupun jasmani. Empat ciri tersebut adalah Bebas, Total, Setia, dan Berbuah. Persatuan tubuh sesuai dengan desain yang diciptakan oleh Allah mempunya arti nupsial tubuh  dengan keempat ciri tersebut. Ketika seseorang menghindari salah satu cirinya, misalnya berbuah, dengan penggunaan alat kontrasepsi, maka membuat tubuh kita bukan menjadi gambar Tubuh Allah (Image of God).

Kak Rika memberikan kita sebuah quotes yang dikutip dari Paus Yohannes Paulus II yaitu “Real love is demanding. I would fail in my mission if I didn’t tell you so. Love demands a personal commitment to the will of God. Dan sebuah kutipan lainnya yang diambil Mother Theresa yaitu bahwa “Hadiah yang paling berharga bagi pasangan Anda di hari pernikahan adalah hadiah keperawanan.”

Kak Rika juga menyampaikan , “ Chastity is not about our past.” Artinya, kalau kita tahu kebenarannya yang sejati, itu kembali pada pilihan kita saat ini, apakah kita ingin kembali kepada Image of God yang telah Tuhan berikan kepada kita. Bahkan ketika kita sudah tidak virgin secara jasmani, Allah tertarik dengan kemurnian (virginity) dari hati kita.

Terakhir ia menyampaikan yaitu Chastity is the sure way to happiness. Melalui kemurnian seksual-dan hanya lewat kemurnian seksual-seluruh augerah sebagai seorang wanita akan merekah dalam dirimu. Jagalah “siapa” kamu, maka “bagaimana” akan menemukan caranya sendiri. Nilai yang mengarahkan keinginan dorongan dan sikap seksual kita pada arti kebenaran dari cinta. Bahwa cinta tidak pernah mengambil, merampas untuk kepuasanku, kesenanganku. Tetapi cinta selalu bersifat “giving” atau memberi.  

Acara ditutup kak Rika dengan menjawab 2 pertanyaan dari peserta yaitu:

Membahas soal kemurnian seks. Bagaimana bila seseorang memiliki kecenderungan homoseksual? Bukankah sebenarnya ada kelainan seksual?”

Kak Rika pun menjawab bahwa dorongan seksual seseorang terhadap sesama jenis bukan sesuatu yang dosa. Karena hal ini terjadi dari berbagai sebab. Pada dasarnya manusia memiliki original solitude (kesendirian asali). Tetapi hal tersebut akan menjadi dosa kalau dituangkan dalam aktivitas. Karena tidak memenuhi 4 ciri arti nupsial tubuh. Tidak bebas, belum tentu total dan setia, apalagi berbuah. Allah digambarkan dalam gereja sebagai gambaran laki-laki. Karena dalam tubuhnya ketika bersatu, yang bisa memberi (sperma) hanya pria dan yang menerima adalah wanita. Sehingga jika dilakukan dengan  sesama jenis, maka batallah ciri yang ke empat.

“Di Indonesia persepsi tentang seks adalah tabu. Bagaimana cara menerapkan pendidikan seks di indo dengan budaya kita?”

Sebenarnya, permasalahan ini terjadi hamper di semua Negara. Di Negara baratpun yang terbuka berbicara tentang seks pun memiliki problem yang sama dalam menangani seks bebas. Seks dianggap jadi nothing, bukan precious gift yang ada diperuntukkan sesuai dengan kehendak Allah.  Setelah berita tentang chastity di beritahukan di Amerika, itu membawa perubahan gaya hidup.

PERKENALAN KOMUNITAS: GROPESH

Workshop diakhiri dengan pengenalan dari Gropesh yaitu merupakan sebuah gerakan orang muda peduli sampah. Awalnya  Gropesh terbentuk dari beberapa kampus katolik, bersama romo Andang. Kegiatan ini disosialisasikan ke sekolah dan kampus dengan tujuan untuk meningkatkan kepeduli tentang sampah.

 

Liputan Workshop TLC – KTM: Lord, I offer my life

Diliput oleh Monica @m0njc

Workshop ‘Lord, I Offer My Life’ dibawakan oleh Tante Olly Sutjiadi dari Komunitas Tritunggal Mahakudus. Workshop kali ini mengajak kita untuk mengetahui mengapa dan bagaimana kita dapat sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan dan dalam Tuhan.

‘Bagaimana kita dapat menyerahkan hidup kita kepada Tuhan?’ Tante Olly Sutjiadi mengingatkan kita caranya, yaitu panggilan kekudusan yang kita miliki. Maksudnya, setiap dari kita dipanggil untuk menjadi kudus. Mengapa kita harus menjadi kudus? Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang kudus bukan? Hidup didalam Tuhan berarti hidup didalam kekudusan. Agar kita dapat sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kita harus hidup didalam kekudusan-Nya.

Untuk hidup dalam kekudusan, kita dapat mulai dengan mengamalkan 3 kebajikan teologi dalam hidup kita. Tiga kebajikan teologi tersebut adalah iman, harapan dan kasih. Tante Olly Sutjiadi memberikan 4 point penting untuk hidup dalam kebajikan teologi.

Pertama adalah percaya dan menerima kasih Allah yang menyelamatkan. Percaya kepada Tuhan tidak hanya sekedar percaya, tetapi juga menerima Tuhan sebagai penyelamat dan menerima kasih-Nya yang tidak bersyarat. Tuhan menerima dan mengasihi semua manusia.

Selanjutnya, setelah menerima kasih Allah, setiap orang Kristen yang hidup, wajib menjalin hidup pribadi dengan Allah. St. Don Bosco pernah mendapat vision bagaimana orang Kristen harus hidup, yaitu dengan memegang pilar kehidupan Ekaristi dan Bunda Maria. Tante Olly mengajak peserta workshop untuk mengikuti Ekaristi dengan sungguh-sungguh.

Karena kita manusia yang hidup bersama manusia lain, tentu kita juga harus memiliki kasih kepada sesama. Jika kita memiliki relasi yang baik dengan Tuhan, kita juga wajib memiliki relasi yang baik dengan sesama.

Poin terakhir yang terpenting adalah lepas dan bebas menyerahkan hidup kita yaitu dengan kebebasan kita untuk memilih Tuhan. Ketika kita lepas dan bebas, kita tidak lagi terikat dengan hal-hal dunia. Kita juga dengan sepenuh hati melayani Tuhan tanpa memikirkan diri sendiri. Apalagi di zaman seperti sekarang, tante Olly mengingatkan anak-anak muda untuk mau lepas dan bebas mengikuti Tuhan.

Orang Kristen yang mau menyerahkan hidup kepada Tuhan juga turut mengambil bagian dalam pelayanan-pelayanan. Pelayanan bukan tentang tampil di depan atau dikenal banyak orang, pelayanan juga bukan tentang mencari mukjizat belaka. Pelayanan adalah soal hati hamba yang mau melayani Tuhan lewat sesama.

Menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan hanya pada saat-saat tertentu, tetapi pada setiap saat hidup kita, dalam setiap apapun yang kita lakukan. Mari kita semakin dekat dengan Tuhan dan hidup dalam rahmat dan karunia-Nya, agar hidup kita sungguh layak kita persembahkan kepada Tuhan! Amin.

PERKENALAN KOMUNITAS KTM

KTM (Komunitas Tritunggal Mahakudus) adalah suatu komunitas awal yang berafiliasi dengan Ordo Putri Karmel dan CSE yang didirikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, O. Carm. Para KTM memiliki spiritualitas Karmelit dan spiritual karismatik. Spiritualitas Karmel mengajak para KTM untuk mau benar-benar mengenal Tuhan secara mendalam. Spiritual karismatik mengajak para KTM untuk terbuka pada karunia-karunia Roh Kudus. Hidup para KTM berbasis pada sel (komunitas kecil) yang membangun. KTM yang berpusat di Lembah Karmel Cikanyere, tidak hanya berada di Indonesia, tetapi juga sudah mendunia. KTM tersebar di Australia, China dan Amerika.

Moto KTM adalah ‘Vivit Dominus In Cuius Conspectu Sto’ (Allah hidup dan aku berdiri di hadirat-Nya)

 

Liputan Workshop TLC – Emmanuel: Spiritual + Kerja ?

Diliput oleh Clarissa (Icha) @claricha_ & Cheryl @cherylbudiarto

Di kelas workshop ke dua ini di isi oleh tim dari Emmanuel dengan tema “ Spiritualitas Kerja = Spritualitas + Kerja ?”,,pembicara di ruang Sapphire (2a) adalah Budi Huang. Suasana di kelas wokshop yang ke dua ini sangat meriah,,pengisi acaranya masih muda dan seru. Di awal ada 3 lagu gerak dan 1 lagu untuk membuka sesi. Masih banyak anak orang yang masuk kedalam ruangan ini untuk mengikuti sesi ini. Di ruangan ini kebanyakan anak muda yang datang. Sedikit latar belakang dari pembicara kita,,bapak Budi Huang. Pak Budi Huang adalah seorang dosen,,seorang guru.

Apakah anda sudah pernah mendengar tentang Spiritualitas ? Tentunya sudah pernah,,lalu apakah yang di maksud dengan spiritualitas itu ? Apakah sama dengan Spiritualitas dengan kerja ?  Spirit = roh. Macam – macam dari Spiritualitas,,antara lain : Spiritualitas hati,, spiritualitas awam,, spiritualitas kristiani,, spiritualitas modern,,dan spiritualitas kerja. Dan  yang akan kita bahas dalam workshop ini adalah Spiritualitas Kerja.

Jika dilihat dari kamus,, kerja umumnya kerja adalah memenuhi ekonomi. Komponen kerja : ada pekerja,,bahan yang akan dikerjakan,,orang yang member pekerjaan,,ada hasil dari kerja,,ada dampak yang di rasakan oleh orang yang bekerja. Gereja katolik memaknai kerja : ensiklik dari bapak Paus II tentang kerja manusia. Kerja tidak hanya di lihat dari sisi manusia,,tetapi juga di lihat dari sisi Tuhan. Inti dari kej 1 : 1 – 2 : 3 adalah martabat manusia merupakan citra Allah,, sehingga kerja merupakan martabat manusia. Kerja manusia berbeda dengan kerja binatang,, karena manusia memiliki akal budi,,pengetahuan,,kreatifitas. Kristus juga merupakan pekerja,,dulunya Yesus adalah seorang tukang kayu ( Mrk 6: 2 – 3 ). Apakah kita pernah menyapa orang yang tidak kenal yang sedng bekerja ?? Apakah kita juga pernah berterima kasih dengan orang tua kita ??

Kerja manusiawi dalam terang Salib dan kebangkitan Kristus. Pada zaman adam dan hawa,, apakah ia dikutuk ?? Tidak.. yang di kutuk adalah tanah ( kej 3 : 17 – 19 ).  Jika kita tidak menyukai pekerjaan kita maka hendaklah kita berbicara kepada Tuhan. Tuhan menginginkan usaha dan niat dari kita sebagai manusia dalam bekerja. Jika di saat kita jatuh dalam bekerja janganlah kita tidak mensyukuri apa yang telah di berikan oleh-Nya kepada kita,, tetapi kita arus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan.

Selanjutnya dalam kelas workshop ini sedang perkenalan komunitas “ Emmanuel”. Pendiri Emmanuel ada dua orang,, ke duanya adalah seorang awam. Berdiri di Perancis tahun 1972. Awalnya hanya sebuah persekutuan kecil,, yang lama kelamaan semakin banyak orang. Ketika mereka berpikir untuk membuat komunitas yang bernama Emmanuel. Dalam komunitas Emmanuel ini memiliki banyak yang terpilih untuk menjadi uskup. 8 desember 1992,, komunitas Emmanuel di akui oleh vatikan. Kata Emmanuel berarti : “Tuhan Beserta Kita”. Mulai ada di Indonesia pada tahun 1996.

 

Liputan Workshop TLC – Choice: Melayani, Kecewa –> Mutung

Diliput oleh Yenny @mfryenny

Romo widi merupakan angkatan pertama dari choice dan sebagai coordinator Choice distrit Jakarta.

Mutung = patah arang.
Patah arang itu mirip dengan patah hati.

Ada gambar Yesus, Martha dan maria (Luk 10:38-42)

Kalau tidak mau mutung / kecewa ya tidak usah melayani.
Semua orang melayani tanpa perasaan kecewa atau mutung, orang itu pasti melayani hanya sekedar melayani saja.
Penghalang utama dalam melayani adalah mengeluh, bahkan mencaci maki orang.

Hampir dari semua anak muda semangat melayani, tetapi banyak dari anak-anak muda yang punya semangat seperti Martha.

Cara mengatasi tidak mengeluh dengan hanya menutup mulut kita masing-masing.
Bukan berarti tidak boleh mengeluh, tetapi bagaimana cara kita mengendalikan diri kita masing-masing.

Menurut penyelidikan psikolog kalau orang tidak bisa mengendalikan diri, justru orang tersebut tidak dapat menjadi dewasa. Tidak ada hubungannya dengan stress. Justru yang sering mengeluarkan kata-kata negatif, akan lebih mudah merasa stress daripada orang yang mengendalikan dirinya.
Ketika kita mengeluh, aura negatif bertambah dalam diri kita. Kata-kata yang dapat dirumuskan dengan baik dapat menjadi energi positif dalam diri kita. So be positive!!!

Jika ingin melayani, lebih baik mulut kita ditutup saja sehingga dapat melayani dengan lebih baik.

Kalau Tuhan saja masih melayani kita sampai saat ini, masa kan kita tidak mau melayani Tuhan?
Semakin banyak melayani, masalah juga akan semakin banyak. Jika tidak ingin ada masalah, lebih baik tidur saja dirumah.

Berbahagialah orang yang punya masalah karna menunjukkan orang ini hidup. Kalau tidak ingin punya masalah, jadilah kere saja. Orang tersebut hanya punya masalah di perut. Jika perut kosong akan jadi masalah. Jika perut kenyang, masalah selesai.
Semakin banyak kegiatan yang dibuat semakin banyak masalah. Kemanapun anda pergi, masalah tetap akan timbul.

Kalau anda bisa menghadapi banyak masalah, maka anda harus merubah mindset anda. Jika tidak mempunya masalah, maka tidak dtempa, dibentuk, dikembangkan pribadi anda.

Menyenangkan belum tentu baik. Baik pasti berguna bagi perkembangan diri kita sendiri. Sebenarnya jika kita mengalami banyak masalah, justru lewat masalah itu ditunjukkan bagaimana cara mengembangkan pribadi kita sendiri.

Jika orang yang beragama lain melayani, kecewa dan mutung, dan kita orang katolik juga mengalamai hal yang sama? Apa yang harus kita ambil untuk mengatasi hal tersebut agar tetap bersemangat?
Ingatlah ketika kita melayani sebagai orang katolik, sesungguhnya kita melayani siapa ya? Tuhan-lah yang pertama kita layani.
Persoalannya didunia ini ada begitu banyak agama. Agama mana yang hanya menyembah 1 Tuhan? Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiga agama besar tersebut disebut monotheisme. Sedangkan yang menyembah banyak Tuhan disebut polytheisme.

Apakah setiap agama punya Tuhan?
Siapakah Tuhan yang benar? Tuhan Yesus. Kenapa kita mengatakan 1 Allah yaitu Tuhan Yesus? Setiap perasaan kecewa, mutung kita punya makna. Buat orang yang tidak mengenal Allah dan tidak mengenal Yesus, perasaan kecewa dan mutung tidak mempunya makna. Kita bersyukur karna perasaan kecewa dan mutung kita dipersatukan oleh Allah dengan salib Tuhan Yesus.

Allah yang tidak tampak harus turun ke dunia menampakkan dirinya. Kalau Allah tidak turun menampakkan dirinya, kita tidak dapat mengenal Allah itu siapa. Hebatnya ketika Allah menampakkan dirinya, Yesus lahir dari Roh Kudus melalui Bunda Maria.

Allah telah menyiapkan segalanya, untuk penyelamatan umat manusia. Maka Maria telah disiapkan bahkan sebelum manusia diciptakan. Tuhan telah mengetahui semuanya, Dia tahu bahwa manusia akan jatuh kedalam dosa sehingga Allah telah menyiapkan rencanaNya untuk menyelamatkan manusia. Dia tahu ketika manusia akan jatuh kedalam dosa sehingga manusia tidak dapat naik ke Surga bertemu dengan Allah, makanya Allah turun ke dunia menjelma sebagai manusia lewat Yesus sehingga kita, manusia yang berdosa dapat bertemu dengan Allah.

P : Jika tidak ingin mengeluh adalah tutup mulut. Jika kita tutup mulut = kita berdiam diri. Bagaimana orang tahu cara kita menyelesaikan masalah kita
J : Anda mengeluh bukan berarti menyimpan terus, tetapi jangan mengatakan sesuatu secara emosi sehingga secara spontan malah menjadi pertengkaran.
Jika menghadapi orang yang menuntun jawaban saat itu juga, maka kita jangan menjawabnya dengan emosi juga. Harus diurai dengan kepala dingin.

9,999% konflik terjadi karna salah paham. Belum diterangi sudah mengambil kesimpulan sendiri. Jadi sebelum komentar lebih baik didengerin sampai selesai dulu permasalahannya apa baru diputuskan solusinya.

PERKENALAN KOMUNITAS: CHOICE – Felix

Suatu gerakan kategorial Katolik yang membina dan mengembangkan muda-mudi
Program W.E. Choce mengajak pesertanya untuk merefleksikan RELASI KASIH dengan keluarga ; sesama dan PAROKI-nya.

Motto : Mengenal; mencintai dan melayanimu terindah dalam hidupku

 

Liputan Workshop TLC – BPK PKK KAJ: Proclaiming the Gospel to Teens: Challenge and Creativity

Diliput oleh Theo @theo_nih

Sesi dibuka dengan sebuah cerita humor pendek tentang si jenius Einstein. Suatu hari saat Einstein merasa jenuh dalam memberikan presentasi, sang sopir setia menawarkan jasa untuk bertukar tempat. Ya. Menjadi sang jenius Einstein. Walaupun sempat bingung, namun sang ilmuwan mengikuti saran sang supir karena memang sudah letih dan bosan. Sesi berlangsung dengan sangat lancer dan mulus, terlebih karena sang supir telah hapal segala teori yang pernah dibawakan majikannya dalam setiap kesempatan. Termasuk dalam menjwab pertanyaan-pertanyaan yang lucunya sama persis dengan pertanyaan di sesi-sesi terdahulu. Terakhir, pertanyaan diajukan oleh seorang ilmuwan tua yag merupakan rival dari sang jenius Einstein. Pertanyaan sepanjang 15 menit tersebut ditanggapi sang Einstein gadungan dengan santai dan penuh senyum. Menggebark meja, sang penanya pun menggertak Einstein palsu untuk menjawag pertanyaan yang ia berikan. Dengan enteng sang Einstein palsu menjawab, “Ah, pertanyaan anda mudah sekali. Bahkan supir saya pun di belakang dapat menjawabnya!” Berlari ke depan panggung, sang Einstein asli pun langsung menjawab pertanyaan tersebut.
Cerita ringan tersebut menjadi andalan Ferdi cs dalam menghadapi kaum muda yang umumnya apatis, resistan serta mungkin jenuh terhadap pewartaan Injil yang tidak mengena pada pribadi remaja masa kini. Ferdi kemudian menjelaskan, walaupun kaum remaja hamper tidak pernah disebut secara khusus di dalam kisah hidup Yesus dan pewartaanNya, namun buka berrati Yesus tidak perduli pada kaum remaja. Lebih lanjut, sang ketua bidang persekutuan doa dan komunitas KAJ ini memaparkan beberapa ciri khas kaum muda. Mulai dari perubahan mood (mood swing) yang drastic yang dapat terjadi dalam 45 menit, pertumbuhan mental yang belum stabil, pencarian identitas secara perubahan fisik karena pubertas. Hal-hal tersebut kadang menuntun remaja masa kini kea rah gaya hidup yang apatis, atau sekarang lebih dikenal dengan istiah “galau”.
Dalam kehidupan pribadinya, Fredi sendiri pernah merasakan kegalauan seorang remaja melalui akun twitternya. Samapai-sampai ia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memfollow akun twitter sang remaja tersebut karena tingkat kegalauannya sudah melewati batas. Bayangkan, ia memposting pernyataan-pernyataan bertema galau sterus-menerus selama 6 bulan!
Namun, apakah fenomena umum semacam ini membuat remaja tidak dipriotaskan daam pewartaan Injil. Dengan tegas Ferdi menolak. Menyinggung Amanat Agung lewat Matius 28:19-20, ia menegaskan tentang kerinduan Tuhan untuk menjadikan segala bangsa mengenal kasih serta menjadi murid-Nya, termasuk didalamnya para remaja. Selain itu, Ferdi meyakini bhwa Yesuslah jawaban dari segala kegalauan remaja. Termasuk sumber keselamatan kekal dan sumber jawaban bagi segala permasalahan remaja.
Untuk itulah, pewartaan Injil kepada remaja masa kini menghadapi tantangan tersebar karena dituntut untuk lebih menjadi kreatif. Anggapan bahwa pewartaan Injil itu membosankan, hanyauntuk orang dewasa serta tidak cocok dengan keseharian remaja telah membuat banak remaja menjadi apatis begitu mendengar kata Injil. Hal ini banyak disebabkan oleh cara pendekatan tentang Injil yang kurang tepat, yang kurang menitik beratkan pada keseharian para remaja.
Ferdi menjelaskan bhwa pewartaan Injil kepada remaja wajib disesuaikan dengan kebutuhan, bukan lagi mengikuti tren yang lama yang memang sekarang sulit diterima oleh pola pikir da kebiasaan kamu muda msaa kini. Gospel should be proclaimed environmetally comfortable for teens.  Kegiatan seperti rekoleksi dengan gaya santai anak muda, memakai musik yang sedang tren, mewadahi hobi remaja masa kini (photography, sport, film watching, talent show, dsb) serta lewat permainan-permainan interaktif merupakan sedikit dari usaha-usaha kreatif yag dapat dilakukan untuk memancing minat kaum muda untuk lebih dekat denga Tuhan. Namu yang paling penting lagi adalah kasih dan perhatian yang tulus, bukan sekedar lips service. “Teens don’t care how much you know, until they know how much you care. That’s how the Gospel works”, ujar Ferdi seraya meyakinkan semua yang hadir siang itu. Namun kegiata-kegiatan tersebut wajib dilanjutkan dengan doa dan kegiatan religi lainnya yang dapat memebrikan keteduhan jiwa bagi para remaja. Kasih Yesus sangat tulus kepada anak-anak, itulah mengapa meraka menjadi nyaman dekat dengan Yesus. Begitulah seharusnya remaja. Ferdi menutup sesi denganmencontohkan beberapa permainan interaktif seperti silent killer, mortal angel, guard your keys dan menampilkan video kreatif komunitas Imag Dei yang berpartisipasi dalam acara World Youth Day 2011. Ia sangat berharap sesi singkat tersebut dapat membuka wacana yang hadir dalam memberikan pendpakatan yang tepat tentang Injil terhadap remaja, agar remaja pun jauh dari kegalauan namum dekat secara rohani dengan Yesus.
 

Liputan Workshop TLC – KKMK: Pencuri Impian: Sudahkah anda mengenalinya?

Diliput Oleh Monica @m0njc

Lebih dari 50 anak muda berkumpul untuk mengikuti workshop TLC Conference 2011 dengan tema ‘Pencuri Impian: Sudahkah Anda Menyadarinya?’ Workshop ini dibawakan oleh om William Wiguna dibantu dari tim KKMK. Beliau sering membawakan workshop serupa dan seminar-seminar dengan topik serupa di paroki-paroki.  Workshop dibuka dengan puji-pujian singkat, agar suasana lebih cair dan santai.
Workshop dibuka dengan cerita-cerita pengantar yang seringkali kita alami dalam kehidupan kita. Om William menekankan pada 5 attitude yang salah yang seringkali kita pilih ketika menghadapi masalah, yaitu kesalahpahaman, salah persepsi, mencari kambing hitam, kecerobohan dan kecelakaan. Selain itu, Om William juga menekankan mengenai pentingnya attitude yang baik yang penting untuk kita miliki. Orang yang memiliki attitude yang baik memandang masalah sebagai ujian yang harus kita lalui yang akan membuat kita lebih baik.
Dalam mengejar impian kita, tentu kita bertemu dengan orang-orang lain. Mereka dapat mengambil peran sebagai penghalang atau pembantu kita dalam meraih impian. Apakah benar demikian? Om William mengajak peserta workshop untuk menyadari adanya kesalahpahaman, kesalahan persepsi dan pandangan antar orang yang berbeda-beda. Seringkali kita menerjemahkan maksud baik orang sebagai suatu kesalahan.Tidak jarang orang lain yang membawa masalah, kita anggap sebagai kambing hitam bagi kegagalan-kegagalan kita. Kelemahan-kelemahan kita pun sering menjadi kambing hitam.
Tujuan yang jelas dalam mengejar impian kita pun penting. Apakah kita hanya ingin tampil atau kita benar-benar ingin menang dan meraih impian? Memiliki attitude yang benar membantu kita untuk tidak mudah putus asa ketika mengejar impian. Kita tidak mudah menyerah ketika kita tidak tampil sebaik orang lain. Dan kita tidak juga menggantungkan keberhasilan kita pada kata-kata dan pujian-pujian orang lain.
Orang lain dan masalah-masalah yang ada dalam hidup kita dapat menjadi batu loncatan bagi kita untuk mencapai impian, tetapi dapat juga menjadi penghambat kita. Apakah semua itu membantu atau menghambat kita dalam mengejar impian kita? Sekali lagi ditekankan bahwa semua ditentukan oleh attitude kita menghadapi kehidupan ini. Siapakah yang dapat mencuri impian-impian kita? Ya, jawabannya hanya satu, yaitu diri kita sendiri. Mari kita miliki attitude dan cara pandang yang positif. Jangan sampai kita menjadi pencuri impian kita sendiri!
 

Liputan Workshop TLC- Antiokhia: Persekutuan Umat Kristiani

Diliput oleh Luisa (@georgialuisa) dan Irene (@sihijau)

Brrrr.. ACnya dingin sekali di ruangan A1, basecamp workshop Antiokhia di TLC 2011. Tiba-tiba, MC mulai menyapa, “Selamat pagiii!” Acarapun dimulai dengan salam khas Antiokhers (sebutan bagi para anggota Antiokhia) : “Apa kabar? Bapa, Putra, Roh Kudus, Amin!” dengan saling berpasangan dan menyapa satu sama lain, dilanjutkan bernyanyi lagu “Hari ini kurasa bahagia” dan suasana pun mulai mencair^^. Sesudah ice breaking, workshop dilanjutkan dengan Praise & Worship oleh Team PDKK St.Yakobus.

Sesi perkenalan dimulai dengan perkenalan singkat dari perwakilan anggota dari Antiokhers dari berbagai kota : Cirebon, Paroki Trinitas (Cengkareng), Paroki MBK, dan lain-lain. Dilanjutkan dengan perkenalan  oleh seluruh peserta yang hadir. Pesertanya adalah orang-orang muda dari berbagai paroki, sampai  seorang ibu yang sedang mencari referensi komunitas buat anaknya. Dan presentasi dimulai oleh kak Yofie Setiawan.

Yofie memulai presentasi dengan mengingatkan kembali tentang Gereja. Bahwa sebenarnya Gereja  dibangun berdasarkan adanya persekutuan umat Kristen yang percaya kepada Yesus. Bedanya  antara perkumpulan dan persekutuan adalah, persekutuan memiliki Yesus di dalamnya, sedangkan dalam perkumpulan belum tentu. Lalu, Yofie melanjutkan, sebenarnya apa sih pentingnya membangun persekutuan? Menurutnya, di dalam persekutuan ada 5 hal yang penting antara lain : kita perlu saling melayani, harus punya komitmen, perlu mempunyai target yang jelas, semuanya dibawa ke dalam doa, dan yang terakhir adalah action. “Waktu itu saya dan team menyelenggarakan suatu event. Kesulitan yang saya hadapi tidak sedikit. Dari waktu istirahat yang kurang, harus mengantar ini-itu, ditambah dengan hujan yang lebat di hari itu. Dalam pelayanan tidaklah mudah, tapi di sanalah saya belajar berdoa dan bersandar pada Tuhan,” sharing kak Yofie. Terakhir, Yofie menambahkan bahwa dalam sebuah persekutuan kita tidak dapat mengandalkan orang lain untuk berubah, tetapi perubahan itu justru harus dimulai dari diri kita, action dari kita sendiri.

“Telah lama kucari-cari langkah hidup yang lebih pasti….. Bukan sembarang pekerja aaaa-, Yesusku luar biasa aaa-…. sungguh sangat istimewa kujadi pekerja Kristus yang mulia“, itulah salah satu cuplikan lagu khas Antiokhia yang dinyanyikan dengan gayanya yang lucu, sebagai permulaan dari session Talk Show Antiokhia. Dalam talk show ini, mereka mengundang beberapa Guest Star antara lain Papi Basuki dan Mami Yeyen, Papi dan Mami Antiokhia (sebutan sayang untuk orang tua pembimbing Antiokhia), Vicky dari Antiokhia MKK, dan Jan dari Antiokhia Paroki St.Yakobus.

PERKENALAN KOMUNITAS

Talk Show dimulai dengan beberapa pertanyaan antara lain:

Bagaimana rasanya berada di dalam komunitas Antiokhia?

Vicky: “Di Antiokh, bukan cuma seneng-seneng aja, tapi juga sharing iman.”

Bagaimana rasanya Mami setelah bergabung?

Mami Yeyen: “Pertamanya, agak kecewa karena anak-anak sekarang kurang sopan. Tapi lama kelamaan, saya bahagia sekali karena mereka berubah, banyak anak-anak Antiokh, sekarang jadi lebih PD, dan juga sukses dalam sekolah dan pekerjaannya.”

Papi Basuki :“Dulu kalo sama anak-anak sendiri, kan kita marah-marah. Tapi sama anaknya orang lain mana berani marah-marah. Disitu saya belajar bahwa ada cara lain untuk berkomunikasi dengan anak-anak.”

Hal apa yang berkesan waktu acara weekend?

Vicky :“Biasanya, waktu weekend, saat makan malam, ada tema team melayani peserta, dan kemudian kebalikannya. Di sini kita belajar saling melayani dengan cara yang beda dari di tempat lain.”

Mama Yeyen :“Ada juga suatu waktu, tadinya saya tidak mau pesta pernikahan perak, tetapi tidak menyangga anak-anak rohani kami di Antiokhia sudah menyiapkannya. Dari sini kita bisa merasa kalau hubungan para Antiokhers dengan Papi Mami sebagai pembimbing mereka sangat erat sekali meskipun kita bukan orang tua kandung mereka.”

Gimana suka duka selama ikut Antiokhia, dan apa hal yang berkesan?

Jan: “Ada sih, misalnya saat ga cocok sama pembimbing. Tapi overall, di sini saya belajar banget selain hal rohani, tapi juga “How to become a Leader”.

Vicky : “Saya jadi orang yang lebih berani. Saya sendiri jadi ga malu lagi untuk sharing di depan umum karena kalau di Antiokh kita diajarkan untuk presentasi.“

Dan talk showpun diakhiri dengan sedikit penjelasan oleh Papi Basuki tentang komunitas Antiokhia. Bahwa sebenarnya, ada beberapa Weekend dengan visi dan misi yang hampir mirip dengan komunitas ini. Weekend adalah sebutan retret yang diadakan oleh Antiokhia. Antara lain, untuk anak-anak SMP, namanya Roses, kemudian lanjut ke Antiokhia yang kebanyakan untuk anak SMA. Dilanjutkan Choice untuk umur sekitar 21-30, usia kerja, dan bisa berlanjut ke Marriage Encounter sebagai komunitas pasangan yang sudah menikah. Tujuan dari komunitas yang berlanjut ini adalah supaya hubungan kekeluargaan terus terjalin sampai tua nanti.

Merekapun berharap salah satunya untuk Antiokhia dan Gereja Katolik supaya umat Kristen semakin solid dan bersatu.

 
Page 1 of 41234
© 2010 True Love Celebration