Sebelum teman-teman masuk ke dalam ruangan ini teman-teman dibagikan souvenir telur. Lalu ada kuesioner yang hasilnya menunjukkan angka-angka yang menarik. Saya bacakan pertanyaannya.
- Berdasarkan apa yang Anda telah alami sepanjang hidup Anda sampai detik ini, latar belakang keluarga Anda, luka-luka yang pernah terjadi, trauma juga kebahagiaan, apakah Anda merasa hidup Anda berharga dan bermakna? Puji Tuhan kebanyakan tema-teman di sini adalah orang-orang yang merasa hidupnya berharga dan bermakna. 96% mengatakan bahwa ya, hidup saya berharga dan bermakna.
- Apakah Anda setuju dengan penggunaan kontrasepsi dalam pernikahan? Jawabannya 48,8% jawabannya ya, setuju. Dan 51,2 % tidak setuju. Ini berimbang antara ya dan tidak.
- Menurut Anda, apakah kehadiran anak cukup penting dalam keluarga? 94% jawab ya. 5.9 % jawab tidak.
- Jika kehadiran Anak memang cukup penting dalam keluarga: mengapa? 2,4% bilang: sudah menikah kok tidak punya anak? 5% mengatakan: apa kata orang kalau tidak punya anak. Masa depan, hari tua dan investasi adalah 20,9 %. Ada 37,2 % mengatakan berapa pun pemberian Tuhan, akan saya terima.
Pengajaran ini berdasar pada Ensiklik Humane Vitae yang ditulis oleh Paus Paulus VI di tahun 1968. Humane Viate sendiri artinya adalah Human Life. Ensiklik ini menjelaskan tentang kehidupan. Bagaimana kita memandang kehidupan. Dalam ensiklik ini juga dibahas tentang kontrasepsi juga, euthanasia, dan isu-isu lain dalam kehidupan. Saat ini banyak sekali isu medis yang bertentangan dengan Ensiklik ini.
Pada pertemuan yang lalu tentang pernikahan, kita mempelajari dengan baik, bagaimana CINTA yang seharusnya ada dalam setiap manusia adalah cinta yang TOTAL, Free, Faithful dan Fruitful. Banyak pengertian tentang cinta saat ini yang tidak mengacu pada Total Free Faithful dan Fruitful ini, membuat banyak orang muda bertindak yang mereka anggap benar tetapi sebenarnya bertentangan dengan ajaran Gereja. Mari kita bersama melihat kualitas yang mestinya itu.
Pada pertemuan soal Dating saya sudah sedikit bercerita tentang hidup saya. Saya lahir sebagai anak pertama dari Keluarga Pentakosta, kemudian kami sekeluarga pindah ke Katolik. Puji Tuhan saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat mencintai saya, bahkan cenderung over protekif terhadap saya. Tetapi entah dari mana mulainya, saya tumbuh menjadi anak remaja yang sangat minder. Saya mempercayai bahwa saya adalah seorang yang gemuk, jelek, bodoh, ubanan, muka saya juga tidak mulus seperti muka-muka orang Asia, banyak bintik di muka saya. Penampilan seperti itu bagi seorang gadis tentu tidak menyenangkan. Saya tumbuh menjadi anak yang minder dan punya gambar diri yang buruk.
Singkat cerita saya bertemu dengan seorang cowok di SMA yang membuat saya terkagum-kagum, bukan karena saya kagum sama dia, tetapi kagum karena kok dia mau sama saya. Bagi seorang yang punya gambar diri yang buruk, saya berpikir: mumpung ada yang mau sama saya, akhirnya kami jadian dan pacaran selama 10 tahun.
Saya masuk ke bagian perkuliahan yang disebut Obstretry Ginekology, yang latihan prakteknya membantu ibu hamil dalam proses melahirkan. Suatu hari datanglah seorang ibu yang hendak melahirkan anaknya yang ke enam. Ibu ini punya badan yang cukup besar dan berasal dari ekonomi yang tidak mapan. Ibu ini memberikan arti dalam hidup saya. Selain saya mengingat dia karena teriakannya yang sangat keras (jangan-jangan terdengar sampai ke lapangan parkir!), tapi ada sesuatu yang terjadi dalam diri saya saat saya membantu ibu ini melahirkan anaknya. Proses melahirkan terjadi dengan mudah (mungkin karena ini sudah anak ke enam), tetapi buat saya pengalaman pertama menolong proses persalinan merupakan pengalaman yang bikin jantung saya rasanya mau jatuh ke lantai. Akhirnya bayi itu dilahirkan dan saya pegang erat di tangan saya. Lahirlah seorang bayi itu laki-laki dengan berat hampir 4 kg. Bayi ini lahir dengan tangisan keras seperti teriakan ibunya, dengan muka masih berkerut-kerut dan hampir tidak kelihatan karena gendutnya. Saya mendengat satu sahabat saya yang menemani dalam proses persalinan ini berkata: “Jelek amat ni bayi!” Saya tersenyum tiap kali mengingat kejadian ini. Buat orang lain ini mungkin bayi yang ‘jelek’. Tapi buat ibu bayi ini dan buat saya saat itu, ini bayi yang paling tampan yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Mengapa? Ketika bayi itu ada di tangan saya, terlintas di pikiran saya, bagaimana sebuah kehidupan manusia itu terjadi. Saat itu saya ingat dosen saya menceritakan bagaimana kehidupan manusia terjadi. Peristiwa ini mengubahkan hidup saya selamanya.
Orang tua kita sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai melakukan hubungan suami isteri. Pada saat hubungan seksual terjadi Ayah mengeluarkan cairan semen yang isinya adalah sperma. Setiap ejakulasi dikeluarkan rata-rata 3-5 cc cairan ejakulat yang bernama semen. Dalam 1 cc semen terkandung 1.00.000.000 sperma. Sedangkan Ibu/Mama kita di masa suburnya, mengeluarkan 1 telur dalam siklusnya. Saya membayangkan bila dari ratusan ribu telur, hanya ada 1 telur yang dikeluarkan bulan itu, artinya telur itu adalah telur yang paling cantik, paling indah, paling sempurna, paling mengandung semua kualitas yang terbaik dari ibu saat itu. Telur hanya akan bertahan paling lama 2 hari di dalam tuba falopii dan rahim. Dari 3-5 juta sel sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi, hanya aka nada 1 sperma yang akan memenangkan telur tadi. Kembali saya membayangkan , pasti sperma itu menghadapi banyak tantangan dan rintangan, tetapi akhirnya dia menang mengalahkan 2.999.999 – 4.999.999 sel sperm lain dan berhasil memenangkan putri cantik yang sudah menunggunya di saluran reproduksi ibu.
Setelah saya mengingat semua itu, saya tertunduk dan melihat ke dalam diri saya yang selama ini selalu merasa tidak berharga. Dengan kenyataan keajaiban penciptaan saya, punya hatikah saya untuk mengatakan diri saya tidak berharga? Punya hatikah saya untuk mengatakan diri ini tidak bisa apa-apa dan tidak ada gunanya hidup di dunia ini? Punya hatikah saya untuk mengatakan bahwa saya tidak punya masa depan karena semua gambar diri yang begitu buruk melekat dalam diri saya?
Saat itu saya menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan menciptakan saya dengan suatu maksud istimewa. Tidak sembarangan! Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan teman-teman satu per satu di tempat ini dengan maksud yang mulia. Anda dan saya pasti punya peran di dunia ini. Tuhan pasti menyediakan masa depan yang indah bagi kita masing-masing!
Lewat keajaiban kejadian kita masing-masing di dunia ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat betapa dahsyat dan ajaib hidup bersama Tuhan. Tapi banyak pengertian saat ini yang demikian dipopulerkan menjadi sebuat gaya hidup, mengalihkan kita dari kebenaran akan penciptaan kehidupan. Kita memandang dunia sebagai tempat hidup yang makin lama makin tidak bersahabat, cara pandang keberadaan anak sebagai sesuatu yang memberi beban sehingga banyak pasangan yang memilih untu tidak punya anak karena hidup terasa jauh lebih mudah. Semua cara pandang itu seakan mulai melegalkan kontrasepsi. Kita mulai kehilangan nilai sebenarnya dari proses penciptaan. Nilai seks menjadi sangat direndahkan karena cara pandangan mengenai kehidupan mulai banyak beralih. Manusia kehilangan arti dari sebuah hubungan seks dan menjadikannya sebagai objek pemuas belaka. Saat itu semua kehancuran datang dan menghancurkan kehidupan manusia perlahan-lahan. Kontrasepsi adalah salah satu penghancurnya.
Kontra-sepsi, seperti namanya kontra yang artinya tidak mendukung, dan sepsi dari kata ception yang artinya pembuahan. Jadi sejak awal kontrasepsi sudah jelas dengan maksudnya yaitu menolak kehidupan. Ketika kontrasepsi ini mulai ada, sesuai tujuan dengan adanya kontrasepsi ini bahwa agar anak itu tidak ada dalam suatu keluarga, tapi kenyataannya kontrasepsi malah menimbulkan angka yang luar biasa mengejutkan. Terjadi peningkatan perceraian 20 kali, anak di luar nikah bertambah ratusa kali lebih banyak, angka aborsi meningkat berkali-kali lipat. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pemakaian kontrasepsi bukan hanya mempengaruhi angka kehamilan, tapi juga memperburuk cara pandang manusia tentang satu relationship, penghargaan akan kehidupan, dan menghancurkan arti cinta yang seharusnya total, setia, bebas, dan berbuah.
Yohanes Paulus ke II mengatakan bahwa kontrasepsi dan aborsi berhubungan erat, karena merupakan buah dari pohon yang sama. Orang yang aborsi pasti dia menolak kehidupan. Kontrasepsi itu pasti menolak kehidupan. Sebenarnya kedua hal ini adalah sikap hati yang sama. Aborsi membunuh seorang janin yang sudah ada di dalam kandungan ibunya, sedangkan kontrasepsi mencegah atau bahkan jenis kontrasepsi tertentu juga menghancurkan sel telur yang sudah bertemu dengan sel sperma. Jadi.. apa bedanya? Tidak ada!
Kimberly Hahn adalah isteri dari pendeta Protestan Scott Hahn yang pindah Katholik dan menghasilkan banyak buku tentang ajaran tentang Gereja Katholik. Bukunya: Life giving Love telah mengubah hidup saya yang tadinya adalah seorang feminis yang berpadangan anak itu merepotkan, kalau saya menikah tidak ingin punya anak yang mungkin akan menghambat karir dan keinginan dalam hidup saya, memiliki anak adalah suatu kebodohan.
Buku yang ditulis oleh Kimberly Hahn mengubah hidup saya sampai 180 derajat. Kalau hari ini kalau saya berdiri di sini, saya percaya itu karena Tuhan yang bekerja dalam diri saya. Melihat diri saya sendiri sebagai kemurahan kehidupan dari Tuhan. Karena banyak sekali dosa, kejatuhan dan kesalahan yang saya lakukan, tapi Tuhan Allah yang memaknai terus kegagalan saya dan memberikan suatu kehidupan yang baru setiap hari.
Kimberly Hahn berkata bahwa kontrasepsi itu kontra life, itu jelas! Lalu ia mengatakan konrasepsi itu contra-woman. Ini menarik. Khususnya bagiteman-teman perempuan di tempat ini. Kita dilahirkan sebagai perempuan bukan tanpa maksud. Laki-laki boleh berbangga atas apa pun. Tetapi kita perempuan diberi satu hal yang tidak dimiliki oleh lelaki, sekuat sehebat siapa pun mereka, Cuma perempuan yang memiliki rahim. Kita perempuan diberi tugas oleh Tuhan untuk melahirkan laskar-laskar Gereja, suatu mandate dan kepercayaan yang luar biasa. Saat kita memakai kontrasepsi artinya kita menurunkan makna panggilan keperempuanan kita dan jatuh pada kebohongan si jahat yang mematikan nilai indah seorang perempuan.
Saat suami ingin berhubungan dengan istri atau seorang pria hanya mau berhubungan seks, hanya karena ini menikmati badan tubuh, tanpa mau berbuah. Itu using. Karena cinta itu pasti berbuah. Cinta Allah Bapa yang luar biasa pada Allah Putra dihadirkan pribadi luar biasa yaitu Allah Roh Kudus. Jika kita melawan panggilan itu dengan menggunakan kontrasepsi itu artinya kita melawan diri kita sendiri sebagai prempuan. Jika tidak berbuah itu bukan cinta. Itu lust, itu nafsu. Ini penting kita ketahui sebagai seorang perempuan.
Saya ingat cerita teman saya yang meskipun sudah tahu semua konsep ini tetapi dia bersikeras memakai spiral. Ketika bicara bagaimana terbuka pada kehidupan, saya memberi masukan ke dia untuk terbuka pada kehidupan. Tetapi tanpa sepengetahuan kami, dia tetap pakai spiral. Beberapa waktu yang lalu dia telpon saya karena dia hamil lagi. Dia bilang: “Ci, sudah buat dosa tetap aja jadi.” Saya cuman bilang ke dia: “Tuhan pasti punya rencana yang indah dan besar di balik ini semua. Pasti ada hal baik yang akan terjadi dalam hidup kalian sekeluarga.” Untungnya dia bukan tipe orang yang berani melakukan aborsi.
Tahun 2004, ada 2,3 juta kasus aborsi per tahun. Artinya dalam 1 jam ada sekitar 266 bayi digugurkan. Dari awal kita memulau TLC ini, sampai detik ini sudah sekitar 1 ½ jam, artinya sudah ada sekitar 400 janin kehidupan yang digugurkan! Angka ini bukan angka main-main, dan angka ini mengajak kita semua untuk bersama-sama menyuarakan arti kehidupan bagi dunia. Mari berdiri di atas keyakinan bahwa tidak ada suatu kehidupan pun yang layak dimusnahkan karena kekuatiran, ketakutan atau kurang iman orang tuanya. Keprihatinan ini membuat saya berkomitmen untuk mewartakan kehidupan. Karena kehidupan adalah penciptaan yang sangat dicintai oleh Tuhan, punya arti dan makna.
Saya mau cerita sedikit bagaimana proses aborsi dilakukan. Saat bayi diaborsi, bayinya dimatikan dulu. Ada cairan seperti cairan garam pekat yang dimasukkan ke dalam rahim dan efeknya membuat bayi menjadi seperti terbakar. Saat dikeluarkan bayi itu dipatahkan satu per satu bagian tubuhnya, karena jalan lahir ibu masih sempit karena memang belum saatnya dilahirkan, sehingga organ harus diperkecil dulu. Satu persatu dipatahkan, sampai terakhir kepalanya dijepit dan dikeluarkan. Bayi ini sudah cukup besar untuk merasakan sakit yang tak tertahankan, tapi masih terlalu kecil untuk dapat berteriak kesakitan.
Sebuah cerita, survival story dari seorang yang lolos dari aborsi. Saat ini ia sudah menjadi seorang wanita muda yang cantik. Ia keliling dunia mewartakan tentang kehidupannya. Ibunya ketika berumur 17 tahun hamil dengan pacarnya. Lalu sang ibu masuk ke sebuah klinik untuk mengaborsi bayinya. Setelah dua kali diinjeksi cairan garam, ibu itu mengalami kontraksi yang hebat. Saat itu memang sudah menjelang pagi, dan rencananya sekitar jam 7 pagi dokter akan datang untuk mengeluarkan anak yang (seharusnya) sudah mati itu. Tetapi di luar prediksi, jam 5 pagi sang ibu mengalami kontraksi, akhirnya kelahiran terjadi. Betapa kagetnya bidan yang membantu persalinan, dan tentu sang ibu, karena pada saat anak itu dikeluarkan, terdengar rintihan dan tangisan lemah dari anak ini. Anak ini masih hidup! Akhirnya bayi ini dibawa ke rumah sakit terdekat, ditolong, badannya terbakar dengan gangguan syaraf, lalu dirawat dan pada umur 4 tahun diadopsi oleh keluarga Kristen, begitu dicintai dan dihargai. Suatu hari di umur 12 tahun dia masuk ke dapur dengan terpincang-pincang karena ia menderita Cerebral Palsy akibat proses aborsi yang gagal tersebut.. Lalu dia tanya pada ibu adopsinya: “Mengapa saya pincang seperti ini, Ma?” “Kamu dulu mau diadopsi.” Pada hari ini dia sudah menjadi wanita yang cantik bernama Gianna Jensen, mewartakan pada dunia bahwa dia seorang yang bertahan dari aborsi, bukti bahwa Tuhan begitu mengasihi hidupnya dan menjadi kesaksian bagi begitu banyak orang.
Kembali ke cerita saat saya menolong melahirkan. Saat saya menengok ibu yang baru melahirkan anak ke enamnya, saya bilang ke ibu ini:
“Puji Tuhan anaknya sehat dan laki-laki.”
“Ini sudah anak ketiga yang laki-laki tadinya saya sudah mau aborsi.”
Kalau hari ini saya tahu ibu itu ada di mana, rasanya saya akan datang menghampiri dia dan saya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah bermurah hati pada kehidupan, karena tanpa kehadiran anak itu mungkin saya tidak ada di sini hari ini. Tanpa kelahiran anak itu saya akan tetap menjadi seorang Lia yang menyedihkan. Anak yang hampir diaborsi ibunya itu menyelamatkan hidup saya!
Tidak seorang pun akan tahu apa yang akan terjadi kalau kita mempertahankan kehidupan. Sebab kehidupan menjadi bermakna dan menjadi kesaksian, tanpa kita sadari. Jangan pernah meremehkan kehidupan apa pun. Karena Tuhan ada dan berkarya di dalamnya.
Ada seorang penyanyi klasik dari Itali yang kita tebak bersama-sama apa yang terjadi pada hidupnya. [Movie played] Teman-teman tahu siapa orang ini? Andrea Bocelli. Satu hal yang menggembirakan ketika saya menemukan video ini: saya sering tersentuh dengan alunan suaranya. Kalau dia diaborsi tidak aka nada seorang Andrea Bocelli yang memberikan warna di dalam hati saya: memberi suka cita dan harapan.
Banyak orang yang bilang kalau orang diperkosa lalu hamil, dia tidak akan pernah mau anak itu. Jadi baiknya aborsi saja, daripada stess terus melihat anak itu dan mengingat kasus perkosaan itu. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa efek psikologis orang yang habis aborsi dengan yang habis diperkosa. Terjadi gangguan psikologis yang jauh lebih parah pada perempuan-perempuan yang melakukan aborsi daripada perempuan yang habis diperkosa.
Ada dua pilihan tentang kehidupan. Saya menyukai kata-kata Albert Einstein. Kita bisa memilih bagaimana memandang kehidupan. Memandang dengan mengatakan tidak ada satupun yang namanya keajaiban. Misalnya: namanya orang menikah ya punya anak, semua orang juga begitu. Tidak ada keajaiban. Kemarin saya dan teman-teman pergi ke Lahurus sebuah daerah di pegunungan NTT. Satu malam saya memandan ke langit dan melihat yang namana bintang seperti pasir di laut. Ahhh… itu biasa saja. Itu bukan keajaiban. Atau… memandang kehidupan, semua aspek di dalamnya adalah keajaiban. Saya memilih untuk memandang apapun adalah keajaiban Tuhan dalam hidup saya.
[Movie about abortion]
Bila seorang ibu mampu membunuh anaknya, apa sulitnya bagi kita untuk saling membunuh? Ini adalah kata-kata dari Beata Teresia dari Calcutta. Memang benar, bila seorang ibu saja mampu membunuh artinya penilaian terhadap kehidupan sudah sangat rendah, apa sulitnya buat kita untuk saling membunuh?
Kalau teman-teman ada di tempat ini, mendengarkan pesan ini. Saya percaya itu karena kemurahan Tuhan yang hadir pada diri orang tuamu dan orang tua saya. Semua yang terjadi dan semua pertanyaan dalam hatimu, percayai satu hal, tidak ada suatu kehidupan pun yang tidak dijagai oleh Tuhan. Tidak ada kehidupan yang hadir di dunia ini tanpa maksud. Tidak ada satupun dari kita yang tidak punya andil dalam kehidupan di dunia ini. Saya mengajak teman-teman semua untuk berdiri teguh atas kehidupan, memperjuangkan kehidupan sampai kapan pun. Amien.
Speaker: Lia B. Ariefano
For True Love Celebration #8: Life is Good!