Fathers, be good to your daughters | Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers |So mothers, be good to your daughters too …

(Daughters by John Mayer)

Seringkali saat kita memikirkan masa depan calon anak cucu kita nanti, ada sebuah keresahan timbul. Ada sebuah keraguan apakah kita akan dapat membesarkan calon-calon anak kita nanti dengan baik. Apakah kita akan melukai mereka secara tidak sengaja dan menimbulkan bekas yang menyulitkan masa depan mereka. Atau justru kita mendidik mereka dengan cara-cara yang kita anggap benar tetapi malahan menjadikan mereka pribadi yang manja, penakut ataupun cepat menyerah.

Terkadang segala keraguan yang kita miliki tersebut berasal dari pengalaman kita masing-masing. Bagaimana cara orangtua kita mendidik kita dari bayi hingga dewasa menjadi penentu bagaimana kita akan membesarkan anak kita nanti. Sehingga, gaya membesarkan anak kita nanti kurang lebih adalah hasil campursari metode yang kita observasi dari orangtua, pengalaman kita sebagai terdidik dan tentunya hasil pengamatan dan evaluasi dari sekitar kita.

Bagi kita yang orangtuanya, secara sadar atau tidak sadar, pernah meninggalkan luka batin di pribadi kita masing-masing, saat ini mungkin sedang berusaha keras mencari satu alasan saja bahwa mempunyai anak adalah ide yang baik selain untuk memperlangsung keturunan dan menghentikan pertanyaan ‘Kapan mamah punya cucu?’. Yang belum menikah mungkin masih sibuk mencari pasangan yang juga seidealisme dalam hal mempunyai anak, yaitu semakin sedikit semakin baik.

Ya, tentunya semua orangtua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Lalu, mengapa tak jarang kita dapati cara mereka mendidik menimbulkan sekian banyak hal yang menyakitkan sehingga kita berjuang keras untuk tidak menjadi seperti mereka di masa depan nanti? Secara logika, tentunya bisa diargumentasikan bahwa dari sekian banyak mata pelajaran di dunia, tidak ada pelajaran wajib berjudul Parenting101 dimana yang lulus saja yang boleh mempunyai anak. Tak jarang pula kita dapati bahwa orangtua kita pun masih membawa luka batin mereka masing-masing dari masa lalu mereka. Mata-mata kita-kecil yang menangkap sekelibat bekas-bekas luka tersebut kadang tak mampu memproses bahwa luka-luka tersebut terjadi bukan karena kita-kecil nakal, melainkan bersumber dari masa lalu si orangtua itu sendiri. Dan sekian banyak alasan lainnya.

Cukupkah sekian alasan itu untuk menghambat kita untuk beranak-pinak? Guess what, friends. Luka batin bisa disembuhkan. Cara mendidik anak yang terbaikpun dapat kita pelajari bersama. There is hope afterall! Langkah pertama tentunya menyadari bahwa diri kita memang pernah terluka. Bukan menyalahkan dan juga mencari kambing hitam. Perlahan kita bisa mulai membawa semua luka-luka dan beban itu ke Tuhan. Hari demi hari terus kita bawa kepedihan dan tanda tanya kita kepada-Nya. Menyadari sepenuhnya bahwa apa yang sudah terjadi berada diluar kontrol kita. Terus buka hati kita pada kasih-Nya yang meluap-luap, sampai kita tiba pada satu titik dimana kita berani berkata ‘Ya, itu memang menyakitkan. And it sucked really bad. Tapi aku memilih untuk memaafkannya, dan menjalankan hidupku bebas dari rasa sakit itu. Pilihan kedepanku tak lagi ditentukan oleh apa yang terjadi di masa laluku’ Saat semua terasa terlalu berat untuk dijalani sendirian, carilah Retret Penyembuhan Luka Batin yang rutin diadakan. Carilah sebuah komunitas yang menerimamu apa adanya. Carilah bantuan. Sebelum terlambat.

Langkah yang kedua, berjuanglah untuk merumuskan cara mendidik anak yang sesuai dengan karakteristik keluarga anda (bila sudah menikah), bila belum, tentunya bisa dipikirkan sendiri dahulu. Lancarkan jalur komunikasi antara suami dan istri ataupun pacar (tidak dianjurkan pada saat yang bersamaan ya). Membicarakan values-values, prinsip dan pedoman hidup secara terbuka jauh sebelum si bayi lahir akan menghasilkan sebuah tiang pancang yang kokoh kedepannya. Kunjungan ke psikolog anakpun bukanlah sebuah hal yang tabu. Psikolog anak yang menyelami dunia anak-anak setiap harinya tentu akan menjadi partner diskusi yang inspiratif dalam mencari cara terbaik untuk membesarkan (calon) anak kita masing-masing. Pada akhirnya, kita semua pernahlah menjadi anak-anak. Dengan hati yang melimpah dengan kasih-Nya, bayangkan hal-hal terutama yang kita dambakan sebagai seorang anak. Kecilku selalu mendambakan keamanan, cinta dan stabilitas situasi keluarga. Bagaimana dengan Anda?

… On behalf of every man | Looking out for every girl
You are the guide and the weight of her world

Fathers, be good to your daughters | Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers |So mothers, be good to your daughters too …