Takut Punya Anak?

by: Felicia

Fathers, be good to your daughters | Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers |So mothers, be good to your daughters too …

(Daughters by John Mayer)

Seringkali saat kita memikirkan masa depan calon anak cucu kita nanti, ada sebuah keresahan timbul. Ada sebuah keraguan apakah kita akan dapat membesarkan calon-calon anak kita nanti dengan baik. Apakah kita akan melukai mereka secara tidak sengaja dan menimbulkan bekas yang menyulitkan masa depan mereka. Atau justru kita mendidik mereka dengan cara-cara yang kita anggap benar tetapi malahan menjadikan mereka pribadi yang manja, penakut ataupun cepat menyerah.

Terkadang segala keraguan yang kita miliki tersebut berasal dari pengalaman kita masing-masing. Bagaimana cara orangtua kita mendidik kita dari bayi hingga dewasa menjadi penentu bagaimana kita akan membesarkan anak kita nanti. Sehingga, gaya membesarkan anak kita nanti kurang lebih adalah hasil campursari metode yang kita observasi dari orangtua, pengalaman kita sebagai terdidik dan tentunya hasil pengamatan dan evaluasi dari sekitar kita.

Bagi kita yang orangtuanya, secara sadar atau tidak sadar, pernah meninggalkan luka batin di pribadi kita masing-masing, saat ini mungkin sedang berusaha keras mencari satu alasan saja bahwa mempunyai anak adalah ide yang baik selain untuk memperlangsung keturunan dan menghentikan pertanyaan ‘Kapan mamah punya cucu?’. Yang belum menikah mungkin masih sibuk mencari pasangan yang juga seidealisme dalam hal mempunyai anak, yaitu semakin sedikit semakin baik.

Ya, tentunya semua orangtua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Lalu, mengapa tak jarang kita dapati cara mereka mendidik menimbulkan sekian banyak hal yang menyakitkan sehingga kita berjuang keras untuk tidak menjadi seperti mereka di masa depan nanti? Secara logika, tentunya bisa diargumentasikan bahwa dari sekian banyak mata pelajaran di dunia, tidak ada pelajaran wajib berjudul Parenting101 dimana yang lulus saja yang boleh mempunyai anak. Tak jarang pula kita dapati bahwa orangtua kita pun masih membawa luka batin mereka masing-masing dari masa lalu mereka. Mata-mata kita-kecil yang menangkap sekelibat bekas-bekas luka tersebut kadang tak mampu memproses bahwa luka-luka tersebut terjadi bukan karena kita-kecil nakal, melainkan bersumber dari masa lalu si orangtua itu sendiri. Dan sekian banyak alasan lainnya.

Cukupkah sekian alasan itu untuk menghambat kita untuk beranak-pinak? Guess what, friends. Luka batin bisa disembuhkan. Cara mendidik anak yang terbaikpun dapat kita pelajari bersama. There is hope afterall! Langkah pertama tentunya menyadari bahwa diri kita memang pernah terluka. Bukan menyalahkan dan juga mencari kambing hitam. Perlahan kita bisa mulai membawa semua luka-luka dan beban itu ke Tuhan. Hari demi hari terus kita bawa kepedihan dan tanda tanya kita kepada-Nya. Menyadari sepenuhnya bahwa apa yang sudah terjadi berada diluar kontrol kita. Terus buka hati kita pada kasih-Nya yang meluap-luap, sampai kita tiba pada satu titik dimana kita berani berkata ‘Ya, itu memang menyakitkan. And it sucked really bad. Tapi aku memilih untuk memaafkannya, dan menjalankan hidupku bebas dari rasa sakit itu. Pilihan kedepanku tak lagi ditentukan oleh apa yang terjadi di masa laluku’ Saat semua terasa terlalu berat untuk dijalani sendirian, carilah Retret Penyembuhan Luka Batin yang rutin diadakan. Carilah sebuah komunitas yang menerimamu apa adanya. Carilah bantuan. Sebelum terlambat.

Langkah yang kedua, berjuanglah untuk merumuskan cara mendidik anak yang sesuai dengan karakteristik keluarga anda (bila sudah menikah), bila belum, tentunya bisa dipikirkan sendiri dahulu. Lancarkan jalur komunikasi antara suami dan istri ataupun pacar (tidak dianjurkan pada saat yang bersamaan ya). Membicarakan values-values, prinsip dan pedoman hidup secara terbuka jauh sebelum si bayi lahir akan menghasilkan sebuah tiang pancang yang kokoh kedepannya. Kunjungan ke psikolog anakpun bukanlah sebuah hal yang tabu. Psikolog anak yang menyelami dunia anak-anak setiap harinya tentu akan menjadi partner diskusi yang inspiratif dalam mencari cara terbaik untuk membesarkan (calon) anak kita masing-masing. Pada akhirnya, kita semua pernahlah menjadi anak-anak. Dengan hati yang melimpah dengan kasih-Nya, bayangkan hal-hal terutama yang kita dambakan sebagai seorang anak. Kecilku selalu mendambakan keamanan, cinta dan stabilitas situasi keluarga. Bagaimana dengan Anda?

… On behalf of every man | Looking out for every girl
You are the guide and the weight of her world

Fathers, be good to your daughters | Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers |So mothers, be good to your daughters too …

Tagged with:  

Summary TLC: Fellowship of the Ring

Teaching by: Riko Ariefano

Sore ini kita bicara tentang the Fellowship Of The Ring. Pertanyaan untuk survey sore ini untuk wanita “Apa artinya mempercayakan seluruh hidupmu ke dalam keputusan calon suamimu atau suamimu?” Yang jawab ya 59, tidak 23 orang. Untuk yang pria “Apakah kamu memahami artinya mencintai dan menguduskan calon istrimu dalam Tuhan serta siap melaksanakannya?” Yang jawab ya 19, tidak 23. Kita lebih banyak punya wanita yang siap nikah daripada pria di tempat ini menyebabkan harga cowok melambung tinggi karena komoditas langka.

Saya menikah tahun 2004 dengan istri saya yang barusan nyanyi suaranya seperti malaikat. Saya berkenalan dengan dia tahun 95 waktu itu kami masing-masing punya pacar, hang out bareng, dia pacaran selama 9 tahun dengan cowoknya. Tahun ke 9 dia tunangan, yang mana saya dan mantan saya jadi MC-nya.

Setelah tunangan tak sampai 1 tahun putus. Saya sendiri setelah 6 tahun pacaran bubar, saya single selama 4 tahun ke depan, sementara dia sempat 2 atau 3 kali pacaran. Akhirnya tahun 2003 kami pacaran, dan tahun 2004 kami menikah.

Hari ini kita akan telusuri tentang pernikahan, ada beberapa hal yang sangat penting dalam pernikahan.  

Ef 5:21-33 Dan rendahkanlah dirimu seorang ada pada yang lain..

Kita akan banyak bicara soal ayat-ayat ini. Bagi yang masih ingat yang datang bulan lalu, ini yang kita bicarakan dari Maret (menunjuk pada powerpoint). Bulan Maret pertama kali acara ini diadakan kita bicara dasar teologi body, memahami Allah lewat tubuh kita, dan kita bicara apa artinya mencintai. Mencintai adalah giving, dan bukan menggunakan. Misalnya saya sudah berusia 30 tahun dan saya belum punya pacar. Sementara orang tua saya setiap hari terus mengingatkan saya kapan, kalau cewek usia 30 tahun ke kawinan pertanyaan yang diajukan sama, undangannya kapan, karena pressure terus menerus, karena sering ditekan akhirnya berpikir siapa saja, yang penting segera dapat cowok supaya oom dan tante nggak berisik tanyain terus menerus. Akhirnya siapa saja yang baik dan punya uang langsung ya jadian. Dia pacaran apakah benar-benar mencintai cowok itu? Tidak karena dia butuh cowok itu supaya statusnya aman. Using, dia menggunakan tubuh si cowok, ke beradaan fisik ada di sebelahnya supaya orang pikir dia punya cowok. It’s not love karena cinta selalu memberi, bukan menggunakan.

Bulan April kita bicara tentang pornografi, kalau cowok lihat cewek cakep langsung bisik-bisik ke temannya, sssttt barang bagus, atau ada cowok yang melihat cewek dan bisik-bisik tentang bagian tubuhnya, ini keren, itu pas, itu kepanjangan, itunya kegedean atau kekecilan dikit, yang dilihat hanya bagian anggota tubuh. Kalau cewek itu tubuhnya mampu membuat si cowok on, semangat, maka si cowok menyimpukan cewek ini cakep. Dengan kata lain kriteria cantik dsb hanya seberapa jauh mampu membuat si cowok tergerak.

Jadi dia dekati, supaya orang lain puji dia ceweknya cakep, dia menggunakan tubuh si cewek. Atau cowok lihat gambar-gambar cewek telanjang dan masturbasi, menggunakan tubuh perempuan untuk kepuasanku. Using, not loving.

Di bulan berikutnya kita bicara tentang sex abuse. Sedemikian nafsunya, dia punya power, orang yang lebih lemah powernya digunakan untuk kepentinganku. Lagi-lagi dia nggak loving tapi using.

Terus berlanjut pada singleness dan pacaran, bagaimana single harus dipenuhi oleh cinta Tuhan. Kenyataannya nggak banyak yang melewati hidupnya sungguh penuh dalam Tuhan. Karena bingung terus menerus akhirnya dia pacaran, dan pertanyaannya selalu batasannya ada di mana. Saya tanya suatu batasan di mana itu tujuannya supaya tak jatuh, dan ini juga berarti saya sedang berjalan menuju ke sana atau ke batas itu. Artinya kalau kita tanya pacaran batasnya di mana yang mulai dosa, maka kita sebetulnya sedang berjalan menuju dosa itu. Kalau memang mau pacaran yang bener, kenapa pertanyaannya tak dibalik, yaitu gimana pacaran untuk memuliakan Tuhan. Selama kita bertanya batasannya di mana, kita mau memakai space itu seoptimal mungkin, mau using, gue mau pegang cewek gue sampai mana supaya gak dosa. Kalau di leher ya sampai leher, artinya dia mau mendapatkan kenikmatan sebanyaknya. Lagi-lagi itu bukan loving tapi using.

Bulan lalu kita share pyramid dalam berhubungan. Dalam pacaran kita seringkali tak mau memikirkan atau tak peduli dengan area-area lain yang penting. Kebanyakan langsung masuk ke exclusive relationship. Suka lihat, pdkt, tembak, secepatnya jadian. Dia nggak melewati proses friendship yang berkualitas. Dia tak kenal keluarganya, langsung masuk exclusive relationship, lalu baru berteman, dan ternyata tak cocok. Tapi karena sudah membangun exclusive relationship duluan, maka emotionally sudah nempel. Waktu ternyata gak cocok, mau putus gak bisa, karena sudah emotionally lengket, mau jalan terus juga ga bisa karena tak cocok. Akhirnya jadi masalah. Ini problemnya karena tak mau menjalani friendship dulu. Kenali dulu keluarganya baru exclusive relationship, baru pertunangan, dan married. Waktu step-step pyramid ini dilewati dan tak diperhatikan, kita punya potensi masalah yang besar dalam perkawinan.

Maka kualitas hidup sebagai jomblo sangat mempengaruhi kualitas pernikahan kita. Kualitas persahabatan dengan pasangan juga sangat mepenguaruhi kualitas perkawinan. Baru yang paling atas judulnya seks.

TOB bicara tentang perkawinan sebagai sebuah sakramen

Kalau ingat pelajaran agama, sakramen adalah tanda yang kelihatan dari rahmat Tuhan yang tak kelihatan. Tadi dikatakan bahwa hubungan suami dan istri adalah rahasia tentang hubungan Kristus dan mempelai-Nya sehingga setiap kali melihat pasutri, mereka berdua sebetulnya seperti icon dari sebuah misteri besar. Begitu di klik iconnya, ada jauh lebih banyak program yang kompleks didalamnya. Maka icon mau menggambarkan apa yang sebetulnya mau diungkapkan.

Pernikahan adalah tanda kelihatan dari realitas yang tak kelihatan, yaitu Kristus dan mempelaiNya. Selain itu laki-laki dan perempuan menjadi sakramen bagi satu sama lain. Sakramen-sakramen lain dalam gereja diberikan oleh imam, kecuali pernikahan, karena pasangan saling menerimakan sakramen pernikahan. Jadi di samping pasutri menjadi lambang Kristus dan mempelai-Nya, mereka juga menjadi tanda yang kelihatan dari realitas Allah yang tak kelihatan bagi satu sama lain.

Suami menjadi gambar dan rupa yang kepenuhan cinta Allah bagi pasangannya, demikian pula sebaliknya istri juga menjadi gambar dan rupa dengan kepenuhan cinta Allah bagi pasangannya. Masing-masing menjadi tanda bagi satu sama lain. Mutual.

Ayat “Hai istri tunduklah pada suami…” sering dipakai cowok sebagai alasan kamu jadi istri harus nurut dan mengikuti kata-kataku padahal sebelumnya ada dasarnya, muncul respek satu sama lain, saling merendahkan diri satu sama lain, menjadi subyek bagi satu sama lain. Ada perbedaan besar antara pernikahan sebagai covenant dan kontrak.

Kontrak, saya beli barang, kamu kasih saya barang, saya kasih uang, barang ini menjadi milik saya uang menjadi milik kamu, this will become mine and this will become yours. Yang terjadi dalam perkawinan bukan kontrak tapi covenant. I will became yours and you will become mine, pasangan kamu itu will become totally yours but you will become totally hers, it’s not an exchange of goods it’s an exchange of person, of life.

Dulu waktu kuliah di Amerika, seorang dosen mengatakan marriage is a better form of prostitution karena dalam pelacuran you give sex you get cash, tapi dalam pernikahan you give sex, you get sex, you get a man, you get a house, it’s a better form of prostitution.

Sebagai suami istri, masing2 pasangan dipanggil untuk memberikan diri sepenuhnya dan seutuhnya bagi pasangannya.

Ayat berikutnya mengatakan hai suami kasihilah istrimu. Perintah buat suami banyak, mengasihi seperti Kristus , menyelamatkan, menguduskan, menyucikan, mengasihi istri seperti mengasihi tubuhnya sendiri. Kalau cowok-cowok seringkali bertolak pinggang dan berkata hai istri tunduklah pada suami, tapi ayat berikutnya perintah buat suami jauh lebih berat karena suami dipanggil untuk menjadi seperti Kristus bagi jemaat. Pertanyaannya berapa banyak suami atau calon suami yang siap menjadi Kristus bagi calon istrinya, berapa banyak cowok yang mengambil tanggung jawab untuk memimpin doa dalam sebuah hubungan, berapa banyak cowok yang ingetin cewek untuk doa, ngaku dosa, ajak ke gereja, bersikap sopan waktu komuni, berapa banyak cowok yang ambil waktu setiap hari bersekutu dengan Tuhan, ‘casue he has to be just like Jesus to his wife. Itu sebabnya istri tunduk pada suami karena suaminya harus serupa dengan Yesus.

Berangkat dari hasil survey ada 19 pria yang siap menjadi seperti Kristus bagi jemaat-Nya. Sementara ada 59 wanita telah siap memperebutkan 19 pria di ruangan ini. ..:-)

Apa artinya menjadi seperti Kristus, apakah cowok-cowok itu mengambil tanggungjawab rohani dalam hubungannya? Seringkali karena alasan bahwa gereja itu urusan cewek, karena di rumah dia melihat nyokap lebih rajin doa daripada bokap, ibu lebih rajin mimpin doa makan, doa novena, Rosario sementara bapak cuma sibuk daripagi sampai malam, tak peduli gereja sehingga banyak yang berpikir church and Jesus adalah bagan wanita. Kalau kamu merasa gereja hanyalah urusan wanita, kamu tak siap untuk menikah!

Beberapa waktu yang lalu, saya kerja di sebuah perusahaan, saya di hire satu company, saya masuk, 2 minggu kemudian ada laporan yang saya harus tandatangani, yaitu laporan keuangan di perusahan itu dan laporan pajak. Setelah saya cek angka yang dilaporkan adalah angka yang salah, saya panggil staf saya. Saya bilang “Kemarin yang saya tandatangani angkanya segini, padahal sebetulnya beda ya”. Dia jawab “Sudah biasa boss kasih laporan yang tak benar. Kalau kasih yang benar bayar pajaknya mahal”. Saya bergumul dalam doa, ini tak jujur, kalau melanggar saya bisa dipecat sementara saya dapat tawaran di perusahaan itu dengan gaji 3x gaji saya di perusahaan sebelumnya. Akhirnya satu hari saya memberanikan diri menghadap boss, dan saya katakana “Pak saya bukan orang suci tapi ceritanya kita mau belajar hidup benar, boleh gak lain kali laporan pajak kita laporkan yang jujur?” Boss saya geleng-geleng kepala. “Riko..Riko.. hampir semua firman Tuhan saya bisa ikuti kecuali yang satu itu” Saya pikir hebat juga, semua bisa diikuti kecuali yang satu itu. Lalu boss saya bilang lagi “Kita kasih ke pajak dikit, selisihnya, kita nyumbang panti asuhan, kalau kita kasih semua ke pajak nanti juga dikorupsi”. Saya katakan “Yesus bilang berikan pada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikan Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan. Masalah korupsi urusan dia dan Tuhan, yang penting kita jujur” Anyway, hari itu saya memuji Tuhan bahwa saya nggak dipecat.

Bulan berikut, beberapa hari sebelum laporan, saya bergumul, 2-3 hari sebelum tandatangan, saya menghadap boss dan resign. Saya keluar, waktu keluar, saya belum punya kerjaan, saya nganggur tapi sampai hari ini Tuhan tak pernah membiarkan saya kekurangan sedikitpun dalam hidup sekalipun saya memilih untuk jujur seperti Kristus. Cowok dipanggil untuk menjadi serupa Kristus, untuk hidup dalam kebenaran, kalau tak siap hidup dalam kebenaran Tuhan berarti tak siap untuk menikah. Kepada istri-istri diperintahkan untuk tunduk pada suami seperti tunduk pada Kristus, maka ya cowok2 harus berusaha menjadi serupa Kristus.

Istri tunduk pada suami, saya suka bahasa Inggris woman should be in submission to husband, bagian dari missi suaminya yang adalah mencintai, menyelamatkan, memandikan dengan air dan firman, mengasihi istrinya. Itu misinya dan istri harus menjadi bagian dari misi suaminya dengan membiarkan dirinya dicintai, dilayani, dikasihi, diselamatkan, disucikan dalam Firman. Maka kalau buat cewek tak akan ada masalah kalau punya calon suami yang memandikan dengan firman dan air, menguduskan, menyucikan, menyelamatkan, semua dilakukan suami untuk istri, buat istri tidak ada masalah untuk tunduk pada suami. Banyak kali yang terjadi adalah masalah suaminya.

Ef 5:31 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Suami dipanggil untuk meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istri dan menjadi satu daging, analogi yang sama, suami seperti Kristus, analogi Kristus meninggalkan Bapa-Nya dan segala kemegahan kerajaan untuk bersatu dengan mempelai-Nya, kita ,dan menjadi satu daging dengan kita. “Inilah tubuh-Ku” kita sambut komuni dan jadi satu tubuh dengan Kristus.

Arti nupsial laki-laki adalah memberi.  Nupsial artinya perkawinan. Bayangkan Kristus dan mempelaiNya, suami dan istrinya, serta Tuhan sebagai mempelai pria dan umat-Nya sebagai mempelai wanitaNya. Itu sebabnya dalam perkawinan, waktu suami melakukan hubungan seks dengan istri, suami berada pada posisi memberikan sperm, istri yang menerima. Suami dipanggil untuk member. Tubuh cowok didesign sedemikian rupa sehingga dalam kaitannya dengan wanita (fungsi nupsial) ia mempunyai fungsi memberi.

Wanita di sisi lain memiliki arti nupsial tubuh untuk menerima. Maka laki-laki menunjukkan cintanya dengan memberikan. Dengan memberi cinta ia menerima cinta. Seperti Allah memberi kehidupan. Cewek dengan menerima cinta, ia memberikan cinta.

Seks

Orang suka bilang seks enak, saya bilang gak enak. Yang enak pulang dari sini cari makan. Orang suka bilang seks seru, saya bilang gak seru. Piala dunia itu baru seru. Seks bukan sekadar enak atau seru. Sex is holy, bukan sekadar masalah enak atau seru karena waktu suami dan istri melakukan hubungan seks ini adalah peristiwa mewujudnya janji di atas altar. Cowok janji bakal sayang dalam sehat, senang dan sukses, cewek bilang aku cinta kamu..bla bla bla. Seluruh janji di atas altar hanya kata-kata, tapi waktu memberikan diri secara utuh dalam pernikahan janji ini mewujud dalam hubungan seks suami istri, sehingga seks menjadi perwujudan total pemberian suami dan istri, seks menjadi perwujudan tanda cinta kasih.

Seks sebagai persatuan cinta kasih artinya waktu suami memberikan diri untuk mencintai istrinya, dia memberikan diri sepenuhnya dan tidak menggunakan tubuh istri untuk kepuasan sendiri – tapi dengan cinta lewat tubuh seutuhnya. Begitu juga istri memberikan cinta lewat tubuh seutuhnya bagi suaminya. Maka seks menjadi ungkapan cinta satu sama lain. Familiaris Consortio mengatakan bahwa hubungan suami dan istri adalah peringatan tetap akan apa yang terjadi di atas salib, karena di atas salib Yesus telanjang dan memberikan cinta-Nya secara utuh bagi memelai-Nya. Maka dalam arti tertentu kayu salib adalah seperti ranjang pengantin bagi Kristus dan umat-Nya, karena di atas salib Dia rapuh dan memberikan diri-Nya seutuh-Nya bagi kita. Seperti suami dalam hubungan suami istri, dia telanjang, dan memberikan diri secara utuh bagi istrinya. Konsekuensinya kalau ini cinta kasih yang seperti cinta Tuhan, maka akan selalu berbuah kehidupan yang baru. Waktu kita menerima cinta Tuhan kita terus menerus diperbarui. Maka hubungan suami istri yang mencerminkan cinta Tuhan harus selalu terbuka pada kehidupan. Artinya seks harus memiliki dua unsur, yaitu persatuan cinta kasih dan prokreasi.

Kesimpulan

Marriage love = God’s love = true love = free, total, faithful, dan fruitful. Pemberian diri sepenuhnya, cinta yang total tak menahan apapun, semuanya buat pasanganku. Kadang-kadang orang bilang cintanya total kenyataannya tidak. Misalnya aku berikan diriku seutuhnya untukmu kecuali spermaku. Ini terjadi kalau pasangan menggunakan kontrasepsi, pakai kondom, dsb. Atau istrinya bilang aku memberikan diriku seutuhnya semuanya untukmu, kecuali kesuburanku. Jadi pakai kontrasepsi dan tak mau punya anak berarti tak mau berbuah kehidupan. Waktu kita tak mau berbuah kehidupan, ini bermasalah karena cinta Tuhan selalu terbuka pada kehidupan.

Faithfullness berarti memilih untuk mencintai terus menerus. Memilih mencintai orang yang sama setiap hari seumur hidup. Seringkali permasalahan dalam pernikahan bukan masalah prinsipil yang besar tapi seringkali masalah kecil jadi besar. Contoh, saya kalau suruh angkat kursi ini saya kuat, perbedaan kecil dalam satu hubungan kecil tak ada masalah karena saya kuat menanggungnya. Waktu pikul 1 menit saya masih kuat, cobain 3 menit akan gemetaran. Makin lama makin turun tangan saya, dan menit ke limabelas saya taruh.  Sebetulnya enteng, tapi kalau yang enteng harus dipikul setiap hari seumur hidup ceritanya akan beda. Faithfullness bicara tentang setia mau memikul perbedan kecil, kelemahan, semua seumur hidup walaupun lama kelamaan terasa berat.

Kalau kita bisa siap dalam sebuah hubungan pernikahan, buat cowok atau cewe artinya masing-masing dari  kita siap secara bebas memberikan diri secara seutuhnya, total, mencintai terus menerus menanggung segala perbedaan dan terbuka pada kehidupan. Waktu kita siap menjalankan ini – cowok-cowok menjadi seperti Kristus dan cewek-cewek menjadi seperti umat yang tunduk pada mempelai Kristus, maka kita siap untuk menikah.

Teaching by: Riko Ariefano

Wisma Indocement – 7 Agustus 2010

Transcript by: Mungky & Redi

Tagged with:  

Happily Ever After

Written by: Linda

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” Efesus 5:23-24

Pada waktu digereja (homili), pertanyaa mengelitik dari romo yang selalu terngiang-giang di telingaku adalah “Kenapa orang jaman dulu perkawinannya bisa awet padahal kebanyakan dari mereka adalah hasil dari penjodohan, tapi kenapa jaman sekarang sudah mencari sendiri tapi malah banyak yang cerai?” Aku jadi teringat akan pernikahan papa dan mama yang juga merupakan hasil dari penjodohan dimana papa adalah teman kelas dari kakak mama.

Selama perkawinan mereka, tidak pernah sekalipun aku melihat papa memukul ataupun memaki mama, bahkan kami sebagai anaknya pun tidak pernah melihat mereka bertengkar didepan mata sehingga tidak tahu kapan mereka bertengkar. Mereka bukan pasangan yang kelihatan mesra, tidak pernah sekalipun pegangan tangan, tapi aku tahu mereka saling menyayangi meskipun mereka jarang meluangkan waktu untuk berduaan.

Seingatku sewaktu kecil kami sekeluarga selalu meluangkan waktu bersama-sama, papa dan mama naik sepeda dan kami anak-anaknya duduk dibelakang sepeda, hari Sabtu dan Minggu biasanya digunakan untuk nonton video dirumah. Setiap liburan kami selalu jalan-jalan keluar kota walaupun kadang hanya piknik dipinggir danau bersama keluarga teman – teman mereka (sesuatu yang jarang sekali dilakukan pada jaman sekarang).

Beranjak SMP, siang hari mama sibuk dengan salonnya, belanja ke pasar, masak makan siang dan malam (seperti ibu RT kebanyakan). Sedangkan papa sibuk dengan tokonya. Malam hari kegiatan yang selalu dilakukan papa adalah membaca koran sedangkan mama mengajar kami mengerjakan PR dan terkadang memasak kue. Mereka jarang sekali duduk berdua meluangkan waktu untuk ngobrol.

SMA dan kuliah, aku sudah diluar kota tapi setiap pulang aku selalu melihat mereka melakukan hal yang sama dan ditambah dengan jalan-jalan ikut tur dimana papa selalu berduaan dengan mama.

Pada waktu mama menoupause adalah yang hal terberat karena mama sangat kesepian, kadang dia sampai mengajak anak saudara yang masih kecil untuk menginap di rumah, dan selalu mengeluh tidak bisa tidur dan kakinya sakit. Dia juga menjadi malas mandi dan dandan. Tapi papa tidak pernah mempersoalkannya, malahan papa yang mengguntingkan kuku jari tangan dan kaki mama. Setiap sore pulang dari toko, papa mengangkat baju-baju yang sudah kering dari jemuran dan setiap habis makan papa selalu membersihkan piring serta membuangkan sampah. Karena mama menopause kakinya pun mulai keropos. Setiap tahun papapun menemani mama medical check up, memasangkan kaki besi untuk mama dan malah membuatkan kamar dibawah untuk tidur siang (merelakan sebagian garasi mobil diubah jadi kamar) dan merombak kamar mandi dengan mengganti klosetnya agar mama mudah ke kamar kecil. Mama juga menjadi lebih sensitif karena merasa dirinya sudah tidak cantik dan papa yang biasanya tidak ada romantis-romantisnya, disaat itu mendadak jadi romantis dengan mengatakan “masih cantik seperti dulu”.

Pada tahun 2002 mama meninggal mendadak (1 minggu sebelum ulang tahunnya ke 50), pada saat pulang aku kaget karena biasanya papa gendut mendadak jadi kurus dan 1 pertanyaan dari papa (2 hari setelah meninggal mama) yang terasa membuatku sedih adalah, “Kenapa kamu selalu doain mama setiap hari supaya sembuh, tapi kog malah dipanggil Tuhan?” (Pada waktu itu papa masih belum mengenal Yesus). Dalam suasana sedih itu sulit memikirkan jawaban yang tidak membuat papa sedih untung juga adikku bisa memberi penghiburan, katanya “Di Surga tidak ada sakit penyakit, jadi mama tidak perlu tiap hari bilang sakit kaki, tidak bisa tidur.”.  

Sekarang sudah 8 tahun mama meninggal, hidup papa setiap hari diisi dengan ke toko dan naik sepeda, masih jalan-jalan tiap tahun dan berita menggembirakan adalah papa menjadi katolik 3 tahun setelah kematian mama.

Banyak yang berkata bahwa cinta barulah diuji sesungguhnya pada saat pasangan sudah menjadi tua dan kita masih mampu tetap berada disisinya walaupun pasangan tersebut sudah tidak bisa melayani kita.     

   Written by: Linda

 

Tagged with:  

I Wish for Four, now I still have Zero

By: Lia B. Ariefano

Mari kita simak bersama kisah suka duka dari salah satu teman kita, Lia, dalam menggenapi rencana Tuhan atas kehidupannya.

***

Waktu saya di bangku SMA, saya pernah berjanji dalam hati, saya tidak mau hidup saya dibebani dengan makhluk-makhluk kecil yang bernama: A N A K. Buat saya (saat itu), anak hanya menghalangi langkah saya untuk mencapai apa yang saya mau dalam hidup saya. Kebetulan saya juga bukan tipe perempuan yang suka akan anak dan mau dinilai orang keibuan.

Ini berlangsung sampai masa saya bekerja. Hati saya selalu berontak bila melihat kenyataan perempuan seakan-akan tidak punya pilihan. Semua kesialan, ketidak-beruntungan, bahkan ketidak-enakan selalu harus dijalani oleh perempuan. Saya percaya akan kontrasepsi, saya percaya akan pilihan-pilihan yang harus dibuat oleh perempuan, saya percaya kita perempuan bisa hidup tanpa lelaki. Satu-satunya yang belum bisa saya terima waktu itu adalah aborsi, karena biar bagaimanapun saya tahu itu adalah pembunuhan. Tapi…  kalau waktu itu saya mengalami kehamilan yang tidak saya inginkan, jangan-jangan… saya akan melakukannya juga! Who know’s…?

Sampai rahmat dan belas kasihan Tuhan tercurah deras atas hidup saya. Lewat sebuah buku yang ditulis oleh Kimberly Hahn: Live Giving Love, pandangan saya berubah 180°, dari seseorang yang menggunakan hidup, menjadi seseorang yang belajar mencintai kehidupan.Sejak itu ada kerinduan untuk memeluk anak-anak saya. Sampai sekarang saya masih belum bisa tahan kalau melihat anak-anak berlarian dan teriak-teriak, rasanya saya pengen menghampiri mereka dan menaruh plakban di mulut mereka dan mengikat kaki mereka (eehhh… *cartoon mode*) tetapi saya harus mengakui.. setiap kali memeluk Jovan dan Celine (anak2 dari pasangan Kusno&Anast dari komunitas kami) saya tidak bisa membohongi, ada kehangatan yang menyelimuti hati saya dan kadang tidak mau melepaskan mereka. Sejak membaca buku itu, saya selalu memimpikan 4 orang anak hadir dalam pernikahan kami.

Tahun ini kami melewati tahun ke 6 pernikahan kami. Seperti judul tulisan ini, I wish for 4 (children), tapi saat ini kami masih bertahan di angka Zero (atau nol!). Saya pernah melewati masa-masa sedih setiap kali mendengar seseorang hamil. Duluuuuu setiap kali saya bertemu dengan orang yang baru menikah, kalau ketemu kata basa-basi saya adalah: “Gimana? Sudah isi?”.. sampai saya mendapati pertanyaan itu begitu menyakitkan dan semua mata dan telunjuk seakan tertuju kepada saya dan mengatakan: “Kamu bukan perempuan krn kamu tidak bisa mempunyai anak!”

Rasanya saya mulai mengerti bagaimana perasaan St.Elisabet sebelum akhirnya ia mendapatkan Yohanes.

Tetapi saya memutuskan untuk tidak menjadi pahit dengan semua ini. Saya bersyukur dengan setiap pengalaman yang boleh saya jalani. Cara pandang saya sebagai seseorang yang dulunya adalah Pro Choice, justru membuat saya hari ini makin mencintai kehidupan dan keperempuanan saya.

Kalau saya membuka diri saya buat kehidupan, saya memilih untuk terbuka pada cinta, bukan kepahitan dan kebencian.

Kalau saya memilih untuk terbuka akan berapapun jumlah anak yang Tuhan berikan kepada kami, itu karena Ia mempercayakan kehidupan yang Ia ciptakan dengan sempurna, dan Ia sumber kehidupan dan kelimpahan akan memberikan dan mencukupi segala keperluan kami.

Kalau kami hari ini belum diberi satupun kehidupan, saya percaya ada hal lain yang harus kami kerjakan, dan membuat cinta kami tetap berbuah, berkelimpahan, dan menjadi berkat buat siapapun yang ada di sekeliling kami.

Beberapa waktu lalu saya nonton acara Oprah dengan The big family of Osmond.  Dari sepasang George dan Olive Osmond, mereka terbuka pada 9 anak yang diberikan kepada mereka, dari 9 anak, hari ini ada 55 cucu dan 48 (dan terus bertambah) cicit. Mereka berhasil mendidik anak-anak mereka dengan cinta dan terus hidup rukun sampai sekarang.

Waktu saya mendengar cerita ini, hati saya diliputi kehangatan, betapa cinta lebih besar dari apapun dan mampu mengalahkan apapun.

So, I was living my pro choice life with many (individual, egoist, and full of hate) choices.

I wish for four and we still have zero now! But we never doubt of whatever God has plan for us.

As we open ourselves to life He will create, we believe He will open the heaven’s door for us. Assuring that we will have the strength, the love, the blessing, the wisdom, happiness and everything we’ll need.

Yes I wish for Four and yet we still have Zero, but we believe if we generous enough to give our life, HE will give fo(u)rever generosity to us and you!

As posted By: Lia B. Ariefano at http://whittulipe.wordpress.com

Tagged with:  

The Fruit of the Gift

by: Monica

The “Gift”

God created human with the desire to love and to be loved. And God created human bodies as male and female, to help us to have the image of God’s love, where God loves us and we are loved by God. Therefore, the plan of the Creator is man and woman are destined to be a life-giving “gift”. Because, man’s body makes no sense by itself and so does the woman’s body. John Paul 2 said that God inscribed in our bodies as male and female a language. And the language of the body is “gift” and “self-gift”.

The gift itself is something given to us, not something we take over or we grasp. So, human body is also gifted to each other in the Sacrament of Marriage which later the vow of marriage is re-expressed without words in sexual union. Therefore the sexual union before marriage is not a gift, because his/her body and his/her partner’s body is not freely given yet to each other. Instead of giving “gift” for each other, they grasp the “gift” just like what Eve did in the Garden of Eden.

The fruit as “Gift”

Eve saw the fruit of knowledge of good and bad. She desired it. But she remembered what God, the Yahweh, said not to touch the fruit of knowledge. When God said that they were not to eat from the tree of knowledge of good and evil, it can’t be said that God didn’t want to give them the knowledge of good and evil. God certainly wants us to have the knowledge of what is good and what is evil. But this fruit of knowledge will be given by God Himself to human, instead of human took it by himself. The knowledge of what good and bad is something that we can’t invent by ourselves. We can only receive the knowledge from God, as a gift. Surely, we can’t grasp what is gifted to us.

The new Eve, Mary has redeemed the first Eve’s sin, not by refusing to eat the gift, but by refusing to grasp it. The old Eve doubted whether the gift will be given to her or not, but the new Eve believed and waited on the Lord in her yearning. Both of them desire in their heart the gift.

The Stolen Fruit vs The Given Fruit

Eve gave the stolen fruit to Adam, Eve’s fruit led to death. Mary also gives the given fruit to us, and her fruit flourishes, multiplies into an abundant harvest, and brings life to us. She brought Jesus to the world. The grasped gift led to sin, but the gift which is given to us by God bears fruit, the fruit of peace and joy in our heart.

 There is a fear in every woman (and man) during waiting for the pregnancy test after an out-of-wedlock sexual intercourse. Why? Because they are afraid of the fruit of grasped gift: death. But the tears of joy, abundant and inexpressible overflowing happiness come into every heart who was given the fruit by God, the Father.

source: Heaven’s Song chapter 5 — Christopher West

Tagged with:  

TLC: Life is Good

 

Jawaban Quiz

Diterjemahkan oleh Felicia

Jawaban dari Quiz Benar atau Salah minggu lalu:

1.  BENAR – Wanita lebih mudah terinfeksi oleh penyakit menular seksual.

2. SALAH –Hasil tes darah baru akan menunjukkan bahwa kamu adalah HIV positif setelah beberapa bulan setelah kamu terinfeksi virus HIV tersebut.

3. SALAH – Kondom memang dapat mengurangi resiko terjangkit beberapa penyakit menular. Namun, alasan sebenarnya kondom diciptakan adalah supaya wanita dapat menjadi lebih aktif secara seksual dengan mengurangi probabilitas terjadinya pembuahan.

4. SALAH – Perawan dapat juga menularkan penyakit menular seksual, karena seks oral, sentuhan tangan kea lat kelamin pun dapat menjadi medium penularan penyakit kelamin.

5. SALAH – Angka 99% didapatkan dari tes laboratorium dengan kondisi ideal. Di kehidupan nyata, kenyataannya 18.4% kondom yang digunakan pengguna berumur 15 hingga 25 tahun  ternyata gagal berfungsi seperti seharusnya.

6. SALAH – Delapan dari sepuluh orang yang terjangkit penyakit menular seksual tidak sadar bahwa mereka sudah terinfeksi.

7. SALAH – Setiap penyakit kelamin seksual dapat tertularkan walaupun kondom digunakan dengan cara yang benar.

8. BENAR – Sifilis dan herpes menimbulkan bisul dan nanah yang dapat mempermudah penularan HIV

9. BENAR – Pembunuh sperma mengandung bahan kimia Nonoxynol-9, yang dapat merusak alat reproduksi wanita, membuat mereka lebih rentan terhadap penularan HIV dan penyakit lainnya.

10. BENAR – Selama masa remaja, rahim wanita masih dalam masa pertumbuhan dan terselubungi oleh sebuah selaput yang terkenal dengan nama ectropion. Jaringan tersebut lebih rentan untuk infeksi oleh karena luasnya. Pada wanita umur 20-an, jaringan tersebut telah menyusut dan digantikan oleh selaput yang lebih kebal terhadap infeksi, walaupun tidak kebal sama sekali.

11. BENAR – Bila sperma di keluarkan di sekitar alat reproduksi wanita, ada probabilitas untuk kehamilan. Walaupun mereka tidak pernah berhubungan intim secara langsung.

12. BENAR – Hepatitis dapat mengarah ke kanker hati.

13. SALAH – Saat seseorang menggunakan alat kontrasepsi, ia berniat untuk menutup kemungkinan atas kehidupan yang baru. Semakin banyak mereka yang menggunakan kontrasepsi, semakin banyak orang yang berhubungan intim tanpa mengharapkan kehamilan. Bagi kebanyakan dari mereka, kehamilan adalah sesuatu yang harus di selesaikan, dan biasanya aborsi adalah jawabannya.

14. BENAR – 600 juta kondom di produksi di Amerika setiap tahunnya. Badan legal memperbolehkan kurang dari 1 kondom rusak untuk setiap 250 kondom yang beredar. Dihitung-hitung, ternyata 1 dari 250 dari 600 juta kondom adalah 2.4 juta kondom yang rusak, dan beredar.

 Jadi berapa skormu?

Diterjemahkan dari www.chastity.org

Tagged with:  

Quiz Time! Benar atau Salah

translated by Felicia

Benarkah kamu tahu kenyataan akan hubungan intim yang sebenarnya?

Coba tebak apakah pernyataan di bawah ini benar atau salah. Jawabannya dapat kamu temukan di website ini dalam beberapa hari mendatang.

  1. Wanita lebih mudah terinfeksi oleh penyakit kelamin menular.
  2. Hasil tes HIV-mu negatif. Artinya, kamu bebas dari virus HIV di tubuhmu.
  3. Kondom diciptakan untuk mencegah penularan penyakit menular melalui hubungan intim.
  4. Perawan tidak mungkin menularkan penyakit menular seksual.
  5. Kondom itu 99% efektif mencegah kehamilan.
  6. Kebanyakan dari mereka  yang mempunyai penyakit menular seksual pasti mengetahuinya.
  7. Menggunakan kondom menghilangkan resiko terkena penyakit menular seksual
  8. Bila kamu terkena herpes atau sifilis, kemungkinan besar kamu akan terkena HIV
  9. Menggunakan spermicide (alat kontrasepsi wanita untuk membasmi sperma) akan menaikan resiko tertular penyakit kelamin
  10. Remaja wanita lebih mudah tertular penyakit kelamin daripada wanita di umur dua puluhan
  11. Kamu bisa hamil tanpa berhubungan intim.
  12. Kami bisa mendapatkan kanker hati bila berhubungan intim dengan mereka yang mempunyai penyakit menular seksual.
  13. Semakin banyak orang memakai kontrasepsi, semakin sedikit aborsi yang akan terjadi.
  14. Perusahaan kondom dapat dengan legal menjual jutaan kondom cacat setiap tahunnya.

Diterjemahkan dari www.chastity.org

Tagged with:  

Never Ending Love of God

by: Rediningrum

 

1 Corinthians 13:8 “Love never fails…”

Cinta itu apa sih? Masih banyak karya seni dan sastra yang sampai sekarang masih berusaha mengungkap makna cinta. Jika cinta antara sesama manusia saja seperti laut, begitu luas untuk dapat digali pemahamannya, bagaimana dengan cinta Tuhan kepada ciptaanNya?

Jaman dulu, kuasa yang lebih besar yang sudah disadari oleh manusia yang primitif diwujudkan dan diungkapkan dengan bentuk animisme (roh) dan dinamisme (benda) yang diyakini mempunyai kekuatan lebih besar yang dapat menolong kesulitan manusia di dunia. Semakin beradab dan modern, manusia beragama dan menyembah monotheis. Kehendak Tuhan yang lebih besar yang melingkupi hidup manusia.

Kalau kita melihat memori kisah sengsara Tuhan Yesus menuju Golgota, Dia terjatuh beberapa kali, dia tetap meneruskan perjalananNya sampai tujuan, karena cintaNya, karena ketaatanNya. Bukankah ini contoh agar manusia yang jatuh ribuan kali tetap harus maju menuju  keselamatan yang Tuhan sediakan?

Hendaknya kita membesarkan hati seorang teman atau pun bahkan kita sendiri untuk mau hidup lebih baik meskipun pernah gagal, pernah salah jalan, pernah tidak percaya pada Tuhan, agar tetap meneruskan perjalanannya. Karena Tuhan itu cintaNya tidak pernah berhenti, tidak pernah gagal menyelamatkan manusia yang dikasihiNya. CintaNya sejati dan abadi.

by: Rediningrum

Tagged with:  

Ringan Seperti Kapas

by: Rediningrum

by: Rediningrum

Salah satu rutinitas yang sudah lama tidak sengaja aku tinggalkan adalah Misa Pagi. Mengapa aku sebut tidak sengaja? Karena keadaan membuatku tidak lagi bisa datang ke kapel atau gereja terdekat untuk misa harian.

Ritme kota Jakarta. Tapi aku ingat suatu masa ketika aku masih berusia 13 tahun, aku sering mengamati seorang Frater, sebut saja Frater A, yang mempunyai sikap doa begitu, bila boleh kukatakan, indah. Sikap doa yang… sangat tulus, fokus dan penuh kepasrahan Bagiku sikap doa itu mengagumkan dan mampu membuat jiwa yang melihatnya ikut serta melayang.

Frater itu selalu berlutut di di belakang bangku, urutan paling belakang. Tidakkah itu menunjukkan kerendahan hati? Kalau aku sering memilih di tengah. Agar aku tetap bisa mendengar suara Pastor kala umat sibuk mengobrol, dan mengamati siapa saja yang ikut misa saat itu dengan bebas menengok ke kiri kanan belakang depan, kebiasaan yang membuat ibuku melotot, tidak tertib katanya. Melalui Frater tersebut aku menemukan sikap doa yang ideal untuk kupraktekkan.

Lalu bagaimana dengan lamanya berdoa? Aku tidak tahan berdoa lama-lama, bahkan sampai saat inipun.Seorang Frater lainnya lagi (ah, ternyata aku pengamat frater-frater waktu itu), sebut saja Frater B, adalah seorang pendoa yang lamaaaaaaaa sekali. Misa dimulai jam 06.00 pagi dan selesai pk. 06.30, cuma setengah jam. Tetapi sesudahnya, Frater B baru keluar gereja sekitar pk. 08.00. Bagaimana aku tahu? Karena kebetulan aku sedang libur sekolah, dan aku sengaja menunggu Frater B itu keluar hanya untuk sekadar tahu jam berapa Frater tersebut pulang. Dan sampai sekarang aku belum pernah punya kesempatan untuk bertanya apa saja yang didoakannya. Karena begitu keluar gereja dia terus berjalan ke pintu gerbang keluar, pulang. Dia kelihatannya tidak tertarik untuk berbincang dengan siapa pun setelah misa. Mungkin dia orang yang disiplin, bukan orang yang mudah larut. Tapi tidak lama kemudian aku mendengarnya keluar dari seminari. Jadi, untuk lamanya berdoa sepertinya tidak ada patokan tertentu.

Mengapa aku percaya bahwa doa itu sebagai salah satu usaha kemurnian? Karena dalam doa itu aku merasa menemukan diri. Sepertinya ada adegan film yang diputar lalu aku ingin itu dicuci, karena aku merasa adegan itu kotor. Sesudahnya aku merasa tenang, ringan dan melayang, karena aku percaya Tuhan kemudian tetap mengasihi dan tetap menerima Aku sebagai anakNya. Pencucian mental spiritual baiknya dilegitimasi dengan mengaku dosa. Kamu bisa mencobanya sekarang juga…

Tagged with:  
Page 1 of 212
© 2010 True Love Celebration