Lita dan Bobi baru saja bertunangan. Rina dan Bobi berkenalan lima minggu yang lalu. Seminggu pendekatan, jadian sebulan, detik ini mereka resmi sudah berstatus tunangan dan sibuk merencanakan pernikahan untuk tahun depan. Teman baik Bobi, Geri bercerita, “Lita itu bukan dari komunitas kita, dan nggak pernah dikenalin ke kita kita. Kayaknya Bobi takut kalau sampe ketemu teman-temannya, Lita berubah pikiran”. Uh Oh. Ada apakah?
Ternyata, Bobi ini di komunitasnya sendiri terkenal sebagai cowok yang kadar kebejatannya mendapat nilai cukup tinggi. Tentunya setiap saat seseorang merambah keluar dari komunitasnya untuk memperluas pergaulan, seseorang tersebut seakan mendapat lembaran putih bersih untuk di isi bersama dengan teman-teman barunya? Dalam kasus ini, apakah Lita tahu bahwa ia akan mengisi lembar kosong kesekian di buku kehidupan Bobi yang telah terkumpul tebal selama 25 tahun kebelakang? Apakah Lita mempunyai cukup waktu dan energi untuk mengintip sejenak ke halaman depan buku Bobi dalam sebulan mereka pacaran ditambah seminggu pendekatan?
Kita harapkan saja demikian.
Bertemu, saling berkenalan, pacaran, berkenalan lebih jauh, tunangan, berkenalan lebih-lebih jauh lagi, lalu menikah. Demikian proses alami kehidupan. Rites of passages. Kadang memakan empat tahun, lima tahun, tujuh tahun dan belakangan ini sering dijumpai perjalanan dari titik A hingga titik Z terjadi dalam rentang waktu kurang dari setahun. Dalam kasus ekstrimnya seperti Lita dan Bobi, terjadi dalam sebulan lebih sedikit saja. Sebenarnya tidak ada patokan rentang waktu untuk proses penjajakan tersebut. Sehingga, untuk mengatakan paling tidak pendekatan sekian sekian bulan, pacaran sekian sekian bulan sebelum tunangan adalah hal yang mustahil untuk di ilmu bakukan.
Hal-hal yang bisa menjadi patokan kemudian lebih mengacu pada apa saja yang terjadi dalam rentang waktu tersebut dan bukanlah berapa lamanya. Demikian kiranya beberapa hal mendasar tersebut:
Jauh sebelum berkenalan dengannya:
- Kenali dirimu sendiri. Ketahui prinsip hidupmu, dekatkan diri ke Tuhanmu dan kenali batasan-batasan dirimu sendiri.
- Ketahui pasangan hidup seperti apa yang baik untukmu dan berdoalah supaya kamu dapat menyadari kehadirannya saat kalian akhirnya bertemu.
Pada saat perkenalan:
- Kenali tingkah laku dirinya, dan bagaimana dirimu berinteraksi dengannya saat keadaan memancing kalian untuk bahagia dan sedih.
- Kenali dirimu sendiri dan dirinya saat keadaan menuntut salah satu dari kalian untuk menyemangati yang lainnya.
- Kenali teman-teman dan keluarga terdekatnya, bagaimana mereka berinteraksi dengannya dan catat juga bagaimana cara mereka mengkomunikasikan cinta dengannya.
- Kenalkan dia dengan teman-teman terdekatmu, coba mengerti asal muasal reaksi mereka terhadap pacarmu itu, apapun reaksinya. Apakah berasal dari tempat yang mengedepankan kepentinganmu atau tidak.
- Perhatikan perkembangan iman dan hubungan pribadinya dengan Tuhan. Bila memungkinkan ajak beribadah bersama.
- Bila sudah ada tanda-tanda spesial, jangan menunggu lama untuk membawa namanya ke dalam doamu sehari-hari. Berdoalah untuk kejernihan hati dan kemampuan discernment.
Bila sudah beranjak ke jenjang yang lebih serius, segala hal yang menyangkut hidup bersama di masa depan menjadi relevan untuk di bicarakan. Menanti hingga pesta perkawinan selesai untuk memulai membicarakan hal-hal dibawah ini bisa menjadikan awal pernikahan yang penuh dengan argumentasi:
- Uang memang bukan segalanya, tapi berkemungkinan untuk menjadi akar dari segala masalah di dunia pernikahan. Beberapa diantaranya seperti : Tanyakan apakah ada hutang yang perlu dilunasi. Diskusikan juga berapa banyak dari uang kalian nantinya yang akan menjadi tanda kasih kalian ke orangtua masing-masing. Perhatikan juga kebiasaannya berbelanja.
- Mengenai anak. Berapa banyak, kapan dan pendidikan seperti apakah yang kalian inginkan untuk mereka. Ekspektasi orang tua masing-masing dalam membesarkan anak-anak kalian nantinya.
- Diskusikan perkembangan karir kalian, apakah akan ada kejutan-kejutan yang mungkin terjadi kedepannya. Misalnya, kemungkinan training ke luar negeri selama setahun, pindah lokasi ke luar kota selama beberapa bulan setelah pernikahan dan seterusnya.
- Again, discernment akan pasangan hidup kalian. Semoga saja status ‘tunangan’ tidak akan menjadi batu sandungan dalam mengambil keputusan bila memang hasil discernment tidak sesuai harapan.
Tentunya masih banyak lagi yang harus dibicarakan bila memang hubungan kalian sudah sampai ke jenjang pernikahan, dan banyak buku-buku dan kursus persiapan yang dapat di pelajari. Tips-tips di atas hanyalah segelintir saja dari sekian banyak bahasan yang harus didalami. Yang terutama disini adalah sikap keterbukaan kalian masing-masing dan niat tulus untuk mengusahakan yang terbaik bagi satu sama lain dalam mendiskusikan perbedaan-perbedaan yang ada.
Banyak yang berkata memang pernikahan itu bagai membeli kucing dalam karung (yang non-refundable ya), bila setelah pernikahan pribadi pasangan kita berubah 180 derajat dari persepsi mula kita tentang dia , kita harus menerima mereka apa adanya. Semoga dengan perbincangan dan perkenalan mantap sebelum lonceng berdentang, yang 180 derajat itu boleh saja menjadi 5 sampai 10 derajat sajalah perbedaannya dari apa yang sudah kita kenali.










