Book Review : Treasuring Womanhood – Renungan Harian Wanita 2010

Penerbit: Domus Cordis

Siapa yang mampu menyelami hati seorang wanita sesungguhnya?  Tidak lain dan tidak bukan adalah sesama wanita sendiri. Dengan konflik antar manusia yang unik, sesama wanita biasa berbagi tentang suka dan dukanya. Mereka bisa merasakan apa yang pernah mereka rasakan, dan keberadaan seorang teman wanita, ibu, istri, anak.. yang akan menguatkan jiwa yang rapuh di dekatnya.

Renungan harian khusus untuk wanita ini dibuat berdasarkan bacaan harian liturgi 2010, yang kemudian dijabarkan sesuai dengan kebutuhan wanita modern saat ini.

Treasuring Womanhood sengaja dipilih menjadi tema tahun ini untuk membantu mendalami panggilan kewanitaan Anda. Banyak wanita menjalani kehidupannya dengan begitu biasa dan tanpa makna. Seolah-olah menjadi wanita adalah suatu ‘takdir’ yang harus diterima dengan segala konsekuensinya.

Treasuring Womanhood ingin mengajak seluruh pembaca wanita untuk menyadari keberadaannya sebagai wanita. Menjadi wanita bukan hanya karena takdir, melainkan karena kita memiliki peran khusus di dunia ini. Saat seorang wanita menghayati panggilan kewanitaannya, menghadirkan Yesus dalam kesehariannya, dan menjadikan Bunda Maria sebagai contoh kewanitaannya, ia tidak akan pernah menyangka, apa yang bisa dia lakukan untuk mengubah dunia. Saat seorang wanita melihat kewanitaannya sebagai sesuatu yang berharga, ia tidak pernah menyangka, ada kekuatan besar yang memampukan seorang wanita mencapai mimpi-mimpinya.

Treasury of womanhood ingin hadir menemani sahabat-sahabat wanita mencapai semuanya itu.

Treasuring womanhood menelusuri jejak hati seorang wanita, apa yang juga dipikirkan dan dirasakan, dan ditulis sendiri oleh tim penulis wanita. Manakah lagi literatur penghayatan Alkitab dari wanita untuk wanita yang lebih mengena?

Simak testimonial dari beberapa pembaca:

 ”Kehadiran buku ini sangat inspiratif, untuk mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi para wanita. Buku ini sangat bermanfaat untuk semua wanita Katholik. Dilengkapi kalender gereja dan peristiwa-peristiwa orang kudus. Buku ini bisa menemani hari demi hari selama setahun dalam bimbingan Tuhan.” -Susan Bahtiar, Model. Presenter, Guru TK

“Buku cantik ini, dengan bahasanya yang sederhana, namun mengandung kekuatan hidup yang dinamis, akan membantu kita, perempuan, tidak hanya untuk merawat pikiran, perasaan dan jiwa, tetapi juga mengisinya dengan inspirasi hidup yang luar biasa. Karenanya luangkan waktu sejenak membacanya, setiap hari. Saya melakukannya. Sebaiknya Anda juga.” -Ratih Ibrahim, Psikolog

“Jika Anda membaca secara jujur dan terbuka, dan mencoba membiarkan gerakan Roh Tuhan membawa Anda, tanpa sadar Anda akan dibawa juga ke titik-titik indah itu. Entah Anda perempuan, entah Anda perempuan, entah Anda laki-laki, Anda akan kembali diajak mencicipi indahnya perempuan sebagai citra Allah. Saya berdoa agar setiap membaca buku ini akhirnya menemukan cara untuk ikut merayakan, mengagumi, menjaga harta indah itu: perempuan.” -Rm Deshi Ramadhani, SJ, Pemerhati dan Penulis Renungan (deshisj.blogspot.com)

Dapatkan segera RHW11 melalui kontak person di bawah ini:

Ivon: 081 9059 90095 /ivontheresia@gmail.com

Theresia: 0815 1163 8288 /e_theresia@yahoo.com

Untuk pemesanan sebelum tanggal 1 October 2010 dapatkan harga khusus Rp55.00o,- (belum termasuk ongkos kirim).

Ongkos Kirim: Jabodetabek: +Rp5.000/buku,- Pulau Jawa: +Rp10.000/buku,- Luar Pulau Jawa:+Rp 20.000/buku,-

Judul: Treasuring Womanhood- Renungan Harian Wanita 2010
Ukuran: 426 halaman
Penerbit: Domus Cordis

Tagged with:  

Pandangan Benar Seorang Single Saat Tahu Sahabatnya Akan Menikah

Source : Kapanlagi via Jawaban.com

Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri ketika kita mengetahui sahabat kita akan melangsungkan pernikahan dengan pasangan yang dicintainya. Namun, di sisi yang lain hal ini dapat menjadi beban tersendiri bagi pikiran kita yang sudah cukup lama hidup sendiri tanpa pasangan. Tak jarang juga banyak dari pria/wanita single yang akhirnya stres karena mendapatkan surat undangan pernikahan dari orang-orang terdekatnya.

Tentu hal ini tidak ingin terjadi dalam kehidupan Anda, bukan? Oleh karenanya, berikut beberapa pandangan benar yang harus Anda tanamkan saat mengetahui kabar sahabat Anda menikah:

1. Tenggat waktu. Tidak ada patokan pasti kapankah kita akan menemukan pasangan hidup kita. Memiliki target tertentu di dalam kehidupan ini boleh-boleh saja, tetapi jangan jadikan hal itu sebagai hal yang mutlak. Coba beri diri Anda sedikit kelonggaran. Mungkin dulu semasa sekolah atau kuliah tingkat awal, Anda merencanakan ingin menikah di usia 25 tahun. Tetapi faktanya, sang pangeran/tuan puteri masih juga belum datang pada saat yang sudah ditentukan. Jika ini yang terjadi, tetaplah bersikap tenang. Buatlah kembali target menikah untuk beberapa tahun yang akan datang. Janganlah langsung terburu-buru mempertimbangkan seseorang yang ada di dekat Anda untuk dijadikan pasangan hidup Anda.

2. Bukan pula balapan. Anda dan teman-teman Anda tak sedang lari maraton, berlomba untuk jadi yang pertama sampai ke garis akhir. Di sini, tak dicari pemenang atau yang terbaik. Alihkan jiwa kompetitif tadi ke hal yang lebih positif, karena iri hati hanya bikin capai diri saja. Nikmati hidup selagi bisa!

3. Sekali seumur hidup. Pernikahan menurut Alkitab adalah sekali seumur hidup. Anda tidak bisa seenaknya meminta cerai karena sudah tidak tahan diperlakukan kasar oleh pasangan Anda. Saat Anda mengucapkan janji pernikahan, Anda tidak hanya berjanji kepada pendeta ataupun para undangan yang hadir, melainkan Anda berjanji kepada Allah. Oleh karenanya, pertimbangkanlah masak-masak pada saat Anda memutuskan untuk bersatu dengan pasangan hidup Anda di kemudian hari.

Untuk memasuki gerbang pernikahan, Anda tidak perlu melakukannya dengan terburu-buru. Benar, usia Anda akan terus bertambah, tetapi itu juga bukan berarti Anda akan kesulitan nanti nya menemukan pasangan hidup. Jika Anda yakin Allah telah menyediakan pasangan hidup yang tepat untuk Anda maka peganglah hal itu. Percayalah, pada waktunya Dia akan mempertemukan  Anda dengan tulang rusuk Anda di bumi ini.

Source : Kapanlagi via Jawaban.com

Tagged with:  

Testimonial : Tuhan Katakan Kasihilah Sesamamu. Benarkah?

written by: Anonymous

Cinta datang bagi siapa saja, kapan saja, pada siapa saja. Nampaknya semua mencari cinta sejati, apapun itu bentuknya, bagaimanapun itu menunjukkan dirinya. Simak kisah salah seorang teman kita, yang memilih untuk menyembunyikan identitasnya, dalam pergumulannya dan masa pencariannya.

***

Bulan pertama gue dateng ke True Love Celebration, di bulan itu juga cobaan gue dimulai. Gue gak tau itu kebetulan atau enggak, dan kayaknya gak gitu penting juga apakah iya atau enggak. Bulan-bulan itu gue mulai deket sama nih cewek satu. Cantik. Manis. Tomboy. Takut Tuhan. Dia ngajak gue berdoa tiap malem awalnya dan selalu ngajakin ke gereja. Seneng banget rasanya akhirnya punya temen deket lagi. Yang bisa diceritain macem-macem, yang sabar, yang perhatian dan yang hobi banget buat gue ketawa.  Masalah mulai datang saat kedekatan itu membawa kayak sebuah dimensi baru. Dari yang awalnya memang gue udah curiga dia agak-agak naksir gimana, akhirnya gue tepiskan jauh-jauh dan akhirnya gue anggap angin lalu, akhirnya gue sadar penuh bahwa dia emang bener-bener suka lebih dari teman, berdasarkan satu dan lain hal. Dan guepun perlahan mulai merasakan hal yang sama. Masalahnya dimana? Masalahnya gue cewek. Yang sumpah demi apapun yang boleh di sumpah, sejauh ini selalu suka cowok.

Susah sekali menggambarkan apa yang terjadi antara otak gue, perasaan dan kehidupan spiritual gue. Seakan lagi ada perang dunia keseribu di dalam.

Nyaman banget pastinya saat berdekatan dengannya. Berbagi hari, berbagi cerita. Pada awalnyapun, dan mungkin sampai sekarang, gue merasa bahwa Tuhan yang mengirimkan dia untuk membobol dinding yang gue bangun tinggi-tinggi untuk menjaga luka-luka lama gue sendiri. Saat itu, dan sampai saat ini juga, gue melihat dia sebagai seorang cewek yang saking sudah penuhnya dengan cinta Tuhan, sampai mencari-cari lubang terdalam yang dia bisa temuin untuk dia bagi cintanya itu. Tanpa pandang bulu.

Dan bukankah itu juga yang Tuhan mau? Kasihilah sesamamu, katanya. Dan itulah yang dia lakukan.

Bila hubungan berlanjut ke arah yang tidak diinginkanNya, wah, entahlah apa maksud dari semua itu. Emang guenya penasaran aja kali? Gak tau jugalah. Yang jelas sejak saat itu gue merasa jauh dari Tuhan. Seperti gak layak masuk ke dalam rumahNya. Berdoa di dalam kamar jadi nyiksa banget karena gue ngerasa Tuhan gak seneng dengan ini semua. Apalagi setelah session demi session dari TLC seakan mengingatkan gue bahwa hey.. gak bener ini semua. Ada sebabnya banget lelaki dan wanita diciptakan, dan bukannya wanita dan wanita.

Sudah dua kali gue ngaku dosa dan pulang dari acara TLC dengan tekad akan menyelesaikan segalanya. Sudah dua kali juga gue kayak lupa ingatan saat disambut oleh pelukannya. Oleh kehangatannya. Oleh penerimaannya akan diri gue apa adanya sampe sebobrok-bobroknya. Sampe rasionalitas gue kadang berpikir. Sebenernya mau Tuhan apa sih. Kenapa manusia dimampukan untuk suka sesama jenis kalau emang gak boleh? Kenapa manusia di beri kebebasan kalo sebenernya gak boleh. Tapi ya namanya niat, apapun juga bisa di rasionalkan. Hubungan kayak pacaran tapi bukan itu pun jadi terus berlanjut secara diam-diam dengan segala pembenaran pribadi yang gue lakukan setiap harinya.

Guepun sempet melakukan riset kecil-kecilan dengan browsing mengenai gaya hidup ini. Dan ternyata disitu gue temukan banyak pengalaman dimana mereka adalah hamba Tuhan yang taat yang kebetulan mencintai sesama jenis. Walopun kebanyakan hidup dalam kerahasiaan, gak sedikit juga yang ternyata adem tentram hidup bersama pasangannya masing-masing, dalam gaya hidup yang udah kayak hidup rumah tangga suami istri selayaknya. Di bulan-bulan itu gue banyak bergumul. Sebenernya maunya Tuhan apa sih? Mau curhat kesiapa ya gak ngerti juga, palingan dibilang salah, dosa dan seterusnya.  

Sampe pada suatu hari dimana gue dateng ke kawinan gereja temen gue sendiri. Disitu gue liat betapa indahnya dia dengan baju pengantinnya, dengan veilnya yang menjuntai, dan betapa sumringahnya wajahnya. Disitu gue liat betapa hepi wajah bokapnya saat menyerahkan anaknya. Disitu gue liat mata si lelaki saat ngeliat temen gue itu mengucapkan janji pernikahan. Disitu gue kayak di tabok. Kenceng banget. ‘Liat tuh. Katanya sayang sama cewekmu itu. Kamu gak mau dia ngerasain pernikahan kayak gini? Kamu sendiri juga gak mau ngerasain ini semua?’ Seakan gue diingatkan bahwa “hey… jangan egoislah. Kamu tau cewekmu itu kalo ketemu cowok yang menyayanginya sepenuh hati juga akan bahagia nantinya.”

Mulai hari itu perjuangan berat dimulai. Putus. Nyambung lagi. Mencoba jauh lagi. Marah-marahan. Ngambek-ngambekan. Berdekatan lagi. Menjauh lagi. Dan sampai saat ini, setiap hari demi hari, berjuang berat untuk gak manja-manja, gak nanyain apa kabarnya setiap menit dan memikirkan apakah dia sudah makan atau belum. Hal-hal yang sebelum semua ini tak pernah harus kupikirkan untuk seorang ‘teman’. Berat. Sepi. Dan pergumulan ini sepertinya masih panjang. Belum lagi serentetan pertanyaan kenapa ini semua mesti terjadi. Tuhan tau sendiri betapa pada awal-awalnya dulu gue bangun tembok tinggi-tinggi untuk menolak segala perhatiannya. Setelah sukses dirobohkan kok ternyata gak boleh juga kalo deket-deket amat.

Sepi. Kembali sendiri. Apalagi kalo mikirin kayaknya gak banyak orang yang akan simpatik-simpatik amat mendengarkan kisah ini. Siap di hujat. Siap di cerca. Tapi gue tau gue ngejalanin ini buat siapa. Sering disaat gue mulai ragu, goyah dan pengen menghalalkan segala cara supaya bisa kembali deket sama dia, pertanyaan yang sama selalu datang “Do you love Me more than you love her?”. Plak. Kena tabok lagi. Jadilah mantra gue “I love Jesus more than I love her.” And I do.

by: anonymous

***

Editor: Untuk pesan yang ditujukan kepada penulis secara pribadi dapat kami salurkan melalui info@truelovecelebration.org

Tagged with:  

A Book Review: Seks, Selibat & Persahabatan Sebagai Karisma

Book Review by: Jani George Ginting/Hidup edisi 28 Maret

karangan: Al. Bagus Irawan, MSF

Selibat merupakan penolakan terhadap perkawinan dan memilih hidup dalam keperawanan baik secara implisit maupun eksplisit dengan tujuan mencapai kesempurnaan cinta Kasih. Tetapi masihkah hidup selibat dipandang sebagai jalan hidup yang memikat dan suatu keharusan bagi orang yang ingin melayani Tuhan?

Buku Seks, Selibat & Persahabatan Sebagai Karisma ini membahas arti dan nilai-nilai yang terkandung dalam selibat bakti. Mengacu dari tulisan Marry Malone, pada bagian pendahuluan, dipaparkan sejarah hidup selibat yang dimulai dari abad IV sampai abad XX.

Bagian inti buku ini diberi judul ‘Selibat Bakti sebagai Karisma’. Pastor Al. Bagus Irawan MSF, sebagai penulis, memaparkan bagian ini dengan mengacu pada tulisan Sandra M. Schneiders IHM, seorang biarawati yang mengajar pada Fakultas Teologi Yesuit di Barkeley, Amerika Serikat.

Adapun bagian yang penting dalam buku ini adalah penjernihan istilah selibat, motivasi hidup selibat, ciri dan karakteristik selibat bakti, dan tantangan-tantangan yang muncul dari praktik gaya hidup sekarang ini. “Menurut Schneiders, selibat religius dalam tradisi kekristenan berbeda dengan praktek selibat dalam tradisi-tradisi religius yang lain,” papar Pastor Irawan dalam bukunya ini.

Karena itu, dalam kekristenan, selibat dipahami sebagai komitmen kekal kepada Kristus sebagaimana ikatan perkawinan kekal adanya (hlm 37). Selibat merupakan pilihan bebas seorang pribadi dalam menanggapi panggilan Allah untuk membaktikan seluruh pribadinya kepada Allah secara intim dan total. Dengan demikian, seorang yang selibat tidak berhubungan seksual dan tidak menikah. Maka selibat sebagai karisma mengandung arti bahwa orang memilih hidup selibat memperoleh karunia dari Allah.

Akhirnya, buku ini baik digunakan untuk mengerti nilai-nilai yang terkandung dalam selibat bakti, beragam motivasi seseorang yang ingin hidup selibat , sejarah selibat, kritik dan tantangan dalam praktik hidup selibat para imam, biarawan-biarawati dalam sejarah Gereja.

written by: Jani George Ginting/ Hidup edisi 28 Maret

Dikutip dari website Penerbit dan Toko Rohani Obor

Tagged with:  

Dua Menjadi Satu

written by: Linda

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. – Matius 19:6

Disebuah VCD mengenai perkawinan ada leluco lucu pada waktu pastor bertanya kepada pengantin wanita “Apakah kamu bersedia untuk setia saat suka dan duka” dan si pengantin wanita menjawab “Hmmm saya coba”. Pengantin pria langsung menunjukkan muka terkejut ‘Hah?’ Pada kenyataannya menikah bukan hal yang gampang karena kedua mempelai bukan hanya menerima kelebihan masing-masing pasangan tetapi juga satu paket dengan segala kekurangannya.

Berikut sekumpulan rahasia sukses perkawinan dari mereka yang sudah lama menjalaninya:

-  Pada suatu retret, pembicara retret mengatakan umur perkawinan mereka sudah memasuki usia 22 tahun.  Sebagai pasangan yang bertolak belakang satu sama lain, lima tahun pertama perkawinan mereka adalah tahun-tahun terberat karena banyak hal yang harus disesuaikan. Apa rahasia perkawinan mereka sehingga dapat bertahan sampai saat ini ? Ternyata setiap pagi pasangan suami istri tersebut selalu saling memberkati, satu sama lain. Saat sedang happy dan tidak ada masalah, tentunya gampang melakukannya. Tetapi bagaimana saat sesudah betengkar, terlebih saat pertengkaran itupun belum tuntas. Tapi  itulah komitmen merekadalam menjalani kehidupan pernikahan mereka.

-  Salah seorang teman bercerita bagaimana orang tua mereka yang dijodohkan, baru bertemu pada hari pernikahan. Hingga saat ini mereka tetapmasih awet dan bertahan. Rahasia suksesnya adalah kesabaran dari mamanya yang tetap bertahan dalam situasi apapun walaupun si papa memiliki temperamen yang keras dan cepat marah. Saat ini usia pernikahan mereka telah mencapai 40 tahun.

-  Seorang teman wanita yang karirnya lebih sukses dari suaminya mengatakan bahwa perkawinan mereka bisa bertahan karena mereka ber dua mempunyai sebuah komitmen. Komitmen bahwa mereka berdua sama-sama tidak melihat adanya pintu perceraian sehingga apapun terjadi mereka akan tetap mempertahankannya. Usia perkawinan mereka saat ini adalah 11 tahun.

-  Pasangan yang lain pada waktu menikah, suaminya termasuk mapan dimana ia sudah memiliki mobil, rumah serta usaha sendiri. Setelah pernikahan, sang istri total menjadi Ibu rumah tangga. Dengan berjalannya waktu dan persaingan ekonomi, usaha suaminya bangkrut dan mereka sekeluarga mulai lagi hidup lebih sederhana,pindah ke rumah yang lebih kecil dan sederhana. Di usia yang sudah tidak muda, suaminya berjuang untuk mendapatkan perkerjaan dan bersaing dengan orang muda. Yang juga patut dikagumi adalah sikap sang istri yang selalu men-support apapun yang suaminya lakukan dan memberi semangat bagi suaminya (hal yang sangat jarang dilakukan pada saat sekarang ini). Sepertinya kata kiasan ‘jika ada uang abang sayang tidak ada uang abang melayang ‘ tidak berlaku bagi pasangan ini. Akhirnya sang istri juga ikut bekerja untuk meringankan biaya hidup keluarga. Usia perkawinan mereka saat ini telah menginjak tahun kedua belas.

Pada intinya, didalam perkawinan hendaklah suami dan istri menjalankan fungsinya masing-masing, tidak saling egois atau mementingkan diri sendiri. Perlu juga untuk mencari cara dalam memperkecil konflik-konflik yang timbul. Seorang istri yang berkerja dan mandiri secara finansial tidak berarti harus melupakan fungsinya sebagai seorang istri dan tetap menghormati suami sebagai kepala rumah tangga. Di sisi lain, seorang suami yang mendapati  istrinya tidak lagi cantik secara fisik sebaiknya berusaha keras untuk membuka matanya dalam melihat kecantikan istri yang memancar dari hati.  Bila semua itu terasa berat untuk dijalani, tentunya  sepasang suami istri seyogyanya kembali mengacu kepada komitmen pernikahan mereka yang telah diucapkan di depan altar. Dan dari segala yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga, tentunya yang terpenting adalah iman, pengharapan dan kasih. Dan yang terpenting adalah kasih.

written by: Linda

Tagged with:  

Stronger Than Anything

Written by Felicia

True Love Celebration theme song: Stronger Than Anything

Your love is stronger than anything. Your love is faithful all the way. You took the Cross and died for me.

Menyanyikan theme song True Love Celebration selalu mengingatkanku akan secawan penuh cinta yang berlimpah ruah melalui penebusan-Nya di kayu salib. Ada rasa haru yang menyekat di dada saat mengingat betapa masih seringnya diri ini mencoba menjauh dari-Nya disaat cobaan mendera. Sekali lagi lagu ini mengingatkan bahwa pada akhirnya selalu saja ada Dia yang memanggil namaku untuk terus berharap padaNya. Saat semua orang mungkin sudah menyerah, hanya diriNya lah yang terus setia dan tak henti mendampingiku.

Haru, bahagia, menggugah dan rasa syukur. Sekian banyak perasaan silih berganti menghinggapiku saat lagu ini bermain-main menggelitik telinga dan benakku. Meresap dan mengendap sampai kedalaman jiwa, bahkan lama setelah lagu tersebut selesai diputar. Kudapati sekali lagi bahwa memang cintaNya jauh lebih besar dari segalanya. CintaNya, cinta sejati.

Cause Your love is always stronger. True Love’s always stronger than anything.

 
 
 
 
 
Page 1 of 212
© 2010 True Love Celebration