Dari dua menjadi satu. Dari dua kehidupan yang berbeda, satu jalan setapak menuju kedepan diharapkan untuk dilalui bersama, dalam suka maupun duka. Devi dari Australia memberanikan diri untuk menceritakan suka-dukanya menghadapi kerikil dan bantu sandungan yang ia temui bersama suaminya, Andre.
Halo semua, ini sharing dari gue, semoga bisa bermanfaat bagi yang lain.
Sedikit latar belakang, pada saat ini gue dan suami, Andre, menetap di kota kecil bernama Tasmania di Australia. Kami berdua berasal dari Jakarta.
Harapan gue dan Andre sebelum menikah adalah supaya setibanya di Australia, bisnis gue bisa berjalan mulus dan dapat dengan mudah mencari pekerjaan dengan gelar bachelor yang gue punya. Berhubung disini kebanyakan orang hanyalah lulusan SMA, ditambah dari gue sendiri yang mempunyai work experience di Indonesia dan Singapore dan juga gue bisa computer (keahlian computer buat orang2 disini adalah sesuatu yg bernilai). Lalu gue mulai baca koran untuk mencari lowongan kerja. Gila bener, ternyata jenis pekerjaan yg ‘profesional’ sangat sedikit, bisa dihitung dengan dua tangan. Korannya pun tipis dan penuh dengan repetisi dari iklan-iklan sebelumnya. Tapi gue bersikukuh untuk apply kerja professional. Seharusnya gue sudah mendapat panggilan/telpon interview, tetapi kenyataannya gak ada sama sekali!
Minggu-minggu berikutnya dengan berbesar hati, gue mulai melihat pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian, alias kerja kasar, seperti waitress, cashier, kitchen hand dan mestinya gue bisa mendapatkan panggilanlah setidaknya. Gaji mereka pun ternyata cukup besar, tidak jauh dari gaji kantoran walaupun kerjaannya seperti itu. Hasilnya? Tidak ada satu pun panggilan datang ke gue! Usaha apply kerja disinipun jauh lebih ekstra dari usaha di Indonesia. Dari menelpon HRD menanyakan lowongan, dari restaurant sampai ke bakery, semuanya gue lakukan..
Lalu gue mulai depresi. Lalu gue mulai melihat pekerjaan di Melbourne yang sesuai dengan background gue dan mengusulkan ke Andre supaya kami bisa pindah ke Melbourne secepatnya. Tapi sayang, jenis pekerjaan Andre membuatnya sulit menemukan pekerjaan yang cocok di Melbourne. Akhirnya gue mengusulkan supaya gue pindah ke Melbourne, dan Andre tetap tinggal di Tasmania. Jaraknya kira-kira naik pesawat 1.5 jam, ditambah 1.5 jam transportasi darat. Satu atau dua minggu sekali gue akan pulang ke Tasmania. Menurut gue, seharusnya sih gak apa-apa ya, toh pacaran saja bisa, masak sudah menikah gak bisa? Dan apa jawaban Andre ? “TIDAK!” Hancurlah hati gue. Alasannya karena terlalu riskan bagi pernikahan yang baru dimulai untuk hidup terpisah. Otomatis reaksi gue adalah marah besar sama Andre dan keadaan. Banyak yang bilang “Ya sudahlah, jadi ibu rumah tangga toh gak salah.” Tapi gue gak mau bersandar sama orang lain, gak mau suatu saat jadi janda-janda yg susah hidupnya karena ditinggal suaminya, atau yangg karena suaminya sakit jadi bingung mau ngapain.
Akibatnya gue mulai mempertanyakan pernikahan gue. Apa gue menikah kecepetan? Apa seharusnya gue gak mengikuti Andre dengan menikahinya? Dan banyak pertanyaan lainnya… Tetapi setiap kali gue bertanya, gue kembali kepada jawaban yang sama, yaitu memang ini adalah bagian dari rencana Tuhan, gak ada satu titik pun dimana gue bisa meragukan Andre dan pernikahan gue.
Buntu. Gak ada yg bisa dijadikan alasan, lalu gue marah sama Tuhan. Kok tega-teganya Tuhan biarkan gue seperti ini, luntang luntung gak jelas mau kemana, dan lagi kok Tuhan biarkan Andre melarang gue pergi. Duh, rasanya pengen gue berontak untuk keluar dari keadaan. Lalu gue inget sama satu ayat di Alkitab, alias kotbahnya Romo Deshi di misa pernikahan gue.
“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.”
Ohhhh… mateng lah gueee… sudah susah tapi masih disuruh tunduk sama suami dalam segala sesuatu, dan itu secara jelas ditulis di Alkitab! Gue pun jadi gak bisa menyalahkan Andre, dan gak bisa berontak.
Karena ngeyel dan ngerengek2, akhirnya dengan berat hati Andre memperbolehkan gue untuk apply kerja di Melbourne, dan hidup terpisah dari dia. Mencari pembenaran, gue bertanya pada teman gue yg lain (note: gue ikut kelas dari imigrasi, dimana para imigran berkumpul, belajar culture dan bahasa, yang kebanyakan adalah pengungsian dari negara miskin dan perang. Demikian tanggapan dari mereka :
- Teman dari India: Seorang IT professional yang migran mengikuti suami, tapi karena bahasa Inggrisnya masih kacau jadi belum bisa mencari kerja. Katanya “Semua keputusan dalam rumah tangga adalah keputusan suami, saya akan ikut kemanapun suami pergi. Karena apa? karena aku percaya 100% dengan suamiku, apapun yg diputuskannya adalah yang terbaik bagiku dan bagi keluargaku!” (pikiran gue: Dahsyat!!)
- Teman dari Buthan: Seorang pengungsian dari perang. Katanya “Jangan mikir untuk berpisah dari keluarga, karena sayapun sudah terpisah dari anak dan istri, karena dibuang dari negara.” Terakhir dia hidup dengan keluarganya adalah 17 tahun yang lalu, dan terakhir dia bisa ketemu istrinya 3 tahun yang lalu dengan sembunyi-sembunyi di perbatasan India dengan resiko dimasukkan penjara.
- Teman dari Kongo: Seorang pengungsian perang juga. Dia dan kedua anaknya migrasi ke Australia karena ditemukan oleh kakaknya secara gak sengaja setelah terpisah selama bertahun-tahun. Saat gue tanya kenapa bisa terpisah, demikian katanya “Devi, lu belum pernah merasakan perang, kamu gak tau apa yang bisa terjadi saat perang. Semua keluarga terpecah. Saat ini saja gue gak tau dimana suami berada” Mereka terakhir bertemu sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu perang di Kongo, wanita dan anak-anak diangkut dengan kapal mengungsi ke negara tetangga, sedangkan para pria berperang. Setelah selesai perang, dia berjalan keliling ke Kongo dan negara sekitarnya selama tiga tahun, tetapi tak pernah menemukan suaminya dimana.
Menganga lah gue. Bengong seperti ditegur sama Tuhan. Lalu gue berpikir, dulu di Singapore gue susah banget cari kerja dan dikasih kerja tepat setelah imlek. Rupanya Tuhan ingin mempertemukan gue dengan Andre di imlek itu, karena kalau gue dapet kerja sebelum imlek, gue gak akan dipaksa pulang Indo, dan gak akan ketemu Andre. Lalu gue mulai berdoa “Tuhan, Kau tahu kalau aku anakmu yang mau berusaha dan bekerja, tidak malas dan cepat menyerah. Aku yakin Kau sendiri yang mempertemukan aku dengan Andre sampai menikah. Kau juga tahu bahwa keadaan gak bisa dirubah, dimana banyak orang nganggur, lowongan kerja sangat sedikit dan bisnis tidak begitu jalan. Bermodalkan firmanMu sendiri yaitu musti nurut sama kata suami, aku serahkan semuanya.”
Akhirnya sambil tetap berusaha apply kerja gue juga kerja volunteer, tidak dibayar, untuk orang-orang miskin dan cacat dan juga mulai mengiringi musik di gereja, sampai pastornya pun kenal dan mem bantu gue mencari kerja melalui bulletin gereja, belajar melanjutkan bisnis lagi dan gue pasrahkan saja semuanya karena sudah mentok.
Hasilnya? Sekitar setelah tiga bulan di Australia, akhirnya ada lowongan di tempat kerjanya Andre. Pekerjaannya persis sama seperti yang gue bisa: business improvement, data analysis, administration dan computer. Gue apply, dipanggil dan dapat kerjaan itu. Gue kerja part time tiga hari seminggu dan sisanya untuk mengurus hal lain seperti bisnis, kvolunteer dan mengiringi musik gereja. Wuih! Siapa yang menyangka! Teman-teman gue disini sampai ternganga karena orang lokal saja banyak banget yang nganggur. Yang mengagetkan lagi, kata Andre sebenarnnya Tuhan sudah sediakan pekerjaan ini semenjak gue dateng ke Australia, tapi gue tolak, karena saat itu gue gak mau jadi admin.
Memang namanya manusia selalu khawatir, tapi untuk saat ini gue harus berterima kasih sama Tuhan dan harus membagikan kasih Dia dalam hidup gue melalui sharing ini. Jadi hitung berkatmu satu persatu, setia pada firman Tuhan, tetap berusaha tapi berpasrah pada Tuhan, dan jangan pelit untuk mengucap syukur.
Love, Devi










