TLC 5 – Take Me Out
3 July 2010
Lia B. Ariefano
Ruang Melati, Wisma Indocement, Sudirman, Jakarta
TLC memberikan satu materi yang berkesinambungan, bulan lalu Single, Sexy and Smart mengenai bagaimana kehidupan sebagai seorang single, dan bulan ini soal Take Me Out, kita akan membahas bagaimana kita memulai suatu relationship dan apa yang seharusnya kita lakukan selama masa perkenalan dan pacaran.
Flyer bulan ini gambarnyanya Mario Bros dan Princess. Ceritanya Mario Bros yang mau menyelamatkan seorang Princess, mereka melakukan adventure bersama, adventure apa yang dilalui oleh orang-orang yang pacaran? Mengapa itu dikatakan adventure?
Dari hasil kuestioner yang tadi dibagikan dan diisi oleh teman-teman, 60% respondennya adalah perempuan dan 31% laki-laki. 69% menyatakan siap pacaran, yang tidak siap 14%. Pertanyaan berikut menurut teman-teman kapan usia yang paling baik atau siap untuk mulai pacaran? 1.4% menjawab SMP, 25% SMA, 46% menjawab kuliah, dan 25% berpendapat saat bekerja.
Pyramid – sebuah dasar yang penting untuk mulai hubungan.
Saya akan mulai dengan cerita pribadi, kalau berdiri di sini bukan saya selalu benar tapi karena saya banyak melakukan kesalahan di masa lalu saya. Tapi saya bersaksi lewat kehidupan saya bahwa hidup dalam Tuhan adalah hidup berkemenangan. Tidak ada satupun kesalahan bila kau bawa pada Tuhan, tidak akan diubah menjadi kesaksian dan kemenangan. Bila anda hidup benar itu adalah rahmat, tapi kalau masih ada yang harus diperbaiki, mari minta rahmat yang benar, maka Ia akan mengubah kesalahan menjadi berkat.
Definisi pacaran
Menurut anda, apa definisi pacaran?
Peserta cowok: menurut salah seorang peserta kita berbagi suka dan duka.
Peserta cewek: mengenal pasangan lebih dekat.
Peserta cewek: pacaran adalah meluangkan waktu dengan orang yang kita suka. Dan memperhatikan dia.
Kita banyak sekali dibombardir dengan film-film romantic. Akhir-akhir ini ada film Letters of Juliet misalnya. Tanpa sadar itu mempengaruhi pendapat kita mengenai suatu hubungan, terutama ‘romantisme’.
Saya sendiri mulai pacaran sejak usia 15 tahun, waktu itu baru lulus SMP dan 2 bulan masuk SMA. Saya pacaran selama 10 tahun sebelum akhirnya putus. Setelah itu ada banyak Mario Bros-Mario Bros berikutnya dalam kehidupan saya, seperti dalam sebuah game, mati satu, bisa dengan mudah memulai lagi. Saya tak mengerti arti pacaran sesungguhnya sampai akhirnya saya mengalami banyak kejatuhan dan belajar dari kesalahan-kesalahan itu.
Waktu usia 15 tahun kalau ditanya apa siap menikah, jawabannya saya mau menikah tapi pastinya saya belum siap.
Pacaran bukan hanya status tapi sebuah persiapan, yang artinya kalau saya memulai suatu relationship berarti saya mempersiapkan diri untuk menikah dengan dia.
Waktu SMA saya memiliki gambar diri yang buruk, dari dulu bobot dan bentuk tubuh saya sudah besar seperti ini, bukan ukuran badan orang Asia yang ramping putih, bermuka mulus, saya juga menilah diri saya tidak pintar, sehingga saya tidak pernah berpikir ada yang ‘mau’ sama saya. Saya ingin pacaran seperti anak-anak SMA lain lain tapi tidak berani bermimpi. Boro-boro nikah, ada yang mau macarin saya saja sudah bagus. Pandangan saya terhadap diri saya sendiri yang demikian buruk berdampak pada cara saya menila satu hubungan atau bahkan mempertahankan satu hubungan dengan alasan yang salah.
Banyak orang dengan mudahnya jadian dan mudahnya putus, kenapa?
Teman-teman pernah punya sandal jepit merk Swallow yang beli di pasar, harganya sekitar sepuluh ribuan, bandingkan bila kita beli sandal Crocs, yang harganya sekitar Rp. 300.000 (itu sudah diskon). Waktu pakai sandal Swallow, yang bila keinjak yang keinjak sedikit saja mudah putus, waktu putus apakah kita simpan atau kita reparasi ke Stop and Go? Rasanya tidak, ya kita buang saja sandal yang putus itu.
Tapi kalau sandal Crocs-mu rusak, kira-kira apa yang teman-teman lakukan? Apakah dengan mudahnya teman-teman buang sandal itu ke tong sampah seperti kita membuang sandal Swallow tadi? Kita pasti punya attitude yang berbeda waktu sandal Swallow putus dan waktu Crocs putus.
Teman-teman sendiri yang tahu bagaimana menilai hubungannya dengan kekasihmu.
Kira-kira sikap hatimu seperti apa. Apakah engkau perlakukan pasanganmu seperti sandal Swallow atau Crocs? Apakah kau punya effort untuk bawa atau mempertahankan hubunganmu seperti kau membawa Crocs-mu ke Stop and Go atau hubunganmu hanya seharga Swallow yang dengan mudahnya kau buang ke tong sampah?
Apakah engkau menghargai dirimu seperti Swallow yang dengan mudahnya masuk ke satu hubungan ke hubungan lain atau bahkan mempertahankan suatu hubungan yang abusive? Atau engkau menghargai dirimu untuk menunggu sampai dirimu siap untuk memulai suatu hubungan yang serius dan membawa berkat? Hanya kau yang tahu bagaimana sikap hatimu dan menentukan bagaimana kau masuk ke satu hubungan.
Waktu kita masuk ke dalam satu hubungan kita menaruh hati kita dalam posisi yang fragile. Posisi di mana hati itu ada pada situasi siap terluka. Sehingga banyak yang perlu dipertimbangkan waktu kita hendak memutuskan masuk dalam suatu hubungan pacaran. Tapi pada kenyataannya banyak kondisi yang salah dalam memulai satu hubungan. Dalam masa pendekatan seharusnya banyak yang harus dicari tahu dan dipertanyakan. Tapi banyak kesalahan yang dilakukan waktu memutuskan akan pacaran. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:
1. Kita tidak banyak bertanya.
Waktu PDKT perasaan kita sangat terbuai dengan sensasi deg-degan. Buat yang cowok merasa: cewek oke banget, ini tipe idealku, sexiest girl yang pernah gw kenal dan ngasi respon ke gw. Buat yang cewe: wow ini cowok sixpack, keren, beken di sekolah/kampus, merhatiin gw bangt, dsb. Waktu itu jantung mulai dug-dug-dug, mulai dekat dan tak sempat tanya apa-apa karena yang terasa hanya debaran jantung dan berusaha untuk tampil memikat di hadapannya. Kemarin ada teman yang cerita bahwa seorang temannya pdkt dan kemudan jadian. Di satu pergi makan setelah jadian, tiba-tiba pasangannya buat tanda salib sebelum makan. Teman dari teman saya ini (yang bukan Katolik) kaget dan langsung bertanya pada pacar nya: “Lhooo.. kamu Katolik?” Inilah contoh yang terjadi kalau waktu pdkt tak tanya apa-apa, tapi lansung ‘nyamber’, tak sempat tanya latar belakang keluarganya bagaimana, hubungan dengan keluarganya bagaimana, apakah pernah pacaran sebelumnya? Kalau pernah, putusnya karena apa? Semua mungkin pernah ditanyakan tapi tak diolah dan dipikirkan dengan serius karena sibuk dengan hati yang deg-degan, dan ketakutan kehilangan dia, tanpa pernah tahu apakah ada hal-hal yang bisa mempertahankan hubungan ini bila kalian sudah bersama dan menemukan banyak perbedaan.
2. We ignore warning signs of potential problems.
Kalaupun sempat bertanya, kita tahu misalnya dia seorang drug addict, dia seorang pemakai narkoba,tapi karena terlalu terbuai dengan perasaan sehingga tak dipedulikan. Kita berpikir tak apa-apalah entar juga berubah, namanya juga orang, nanti kan ada aku yang mengubah dia, aku mampu mengubahnya. Kita ignore, merasionalisasikan banyak hal, atau bahkan menyangkal apa yang kita tahu.
3. We make premature compromise.
Karena perasaan begitu intense, kita membuat kompromi yang premature, banyak keadaan di mana orang baru berteman dekat sudah melakukan hubungan seks. Dengan hubungan seks ini rasanya yang lain menjadi tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Atau kita mengetahui ada hal yang salah yang dilakukan pasangan kita, mis: awalnya kita tahu bahwa pria itu sudah beristri tapi berkompromi dengan kenyataan itu dengan mengatakan bahwa ini hanya ‘persahabatan’ dan tidak akan pergi ke manapun.
4. We give in to lust blindness.
Asal suka sama suka, tak apa-apa, apa salahnya? Semua dilakukan hanya berdasarkan insting seksual.
5. We give in to material seduction
Waktu uang, penampilan, reputasi, kekuasaan, atau tuntutan gaya hidup mengacaukan kemampuan untuk melihat apakah cowok/cewek ini cocok dengan saya?
6. We put commitment before compatibility
Membuat komitmen sebelum tahu cocok atau tidak.Misalnya: melalukan hubungan seks tanpa mengenal dengan baik pasangan kita, atau karena perasaan yang begitu intens langsung memutuskan mau menikah tanpa mengenal dengan baik pasangannya.
Dari hal-hal ini saja kita bisa melihat, begitu banyak hal yang harus di settle bahkan sebelum kita memulai satu komitmen untuk pacaran. Sudahkah kita mengenal diri kita sendiri? Atau sudahkan kita belajar mengenal lawan jenis kita? Sudahkah kita mengerti bagaimana mereka bertindak atau memandang sesuai dengan gender mereka. Hal ini penting untuk diketahui karena akan sangat berpengaruh dalam interaksi suatu hubungan.
Laki-laki rasional:
Communicate himself in systematic logical flow, step by step, arguments, solutions oriented. Lelaki mengkomunikasikan diri dengan cara sistematis, cowok kalau punya masalah tak seperti perempuan. Kalau perempuan punya masalah biasanya dia tinggal angkat telpon, dan cerita ke salah satu sahabatnya, dan kalau sudah cerita masalah seolah selesai (padahal belum). Cowok tidak seperti itu. Kadang cewek merasa tak disayang/dianggap karena kalau cowok punya masalah dia tak cerita, cowok kadang perlu waktu untuk mengolah itu semua, ia perlu masuk ke ‘gua’ nya. Kalau sudah tahu bisa solve problem atau paling tidak ia sudah tahu bagaimana mengontrol dirinya, dia baru bisa share/ngomong. Ia akan makin stress bila dipaksa berbicara pada saat dia masih bergumul dengan masalahnya.
Lelaki sight sensitive: dari system di otaknya, cowok memang sudah sight sensitive. Jadi teman-teman perempuan harus membantu teman lelaki supaya bisa menjaga situasi hatinya dengan berpakaian rapi, jangan seperti kurang bahan. Karena kadang perempuan sendiri yang tak tahu diri,dan menyodorkan dirinya sebagai ‘objek’, dia tak tahu bagaimana cara berpakaian. Sebagai perempuan hendaknya kita menjaga integritas kita dengan berpakaian dan bersikap secara modest.
Perempuan emotional:
Communicate herself by expressing her emotional condition and needs, dengan berbicara perempuan merasa setidaknya setengah sudah beres. Waktu mulai sharing satu sama lain perempuan merasa stress dan tekanan perlahan-lahan berkurang.
Waktu cewek ketemu cowok kadang bete. Kita dekati dia maksudnya pengen sharing tapi belum selesai ngomong, cowok sudah bilang sebaiknya gini… gini.. gini.. akhirnya cewek merasa salah, padahal cowok bermaksud baik dalam arti memberi solusi. Tetapi yang diperlukan perempuan kadang hanya ingin didengarkan bukan minta solusi. Hal-hal seperti ini harus diketahui sebelum masuk dalam relasi pacaran supaya banyak hal dalam pacaran bisa dibicarakan dan diolah bersama.
Buat teman-teman cowok, perempuan sangat sensitive dengan kata-kata. Sehingga tolong jangan membombardiri perempuan dengan kata-kata/perhatian yang tidak pada tempatnya. Tetapi teman-teman perempuan juga jangan mudah ke GR-an. Contoh, ada satu teman kami yang waktu Valentine mau membelikan bunga untuk mamanya. Tetapi karena tak ada kembalian, dia beli satu lagi, akhirnya ketika ketemu seorang teman ceweknya, dia kasih bunga itu tanpa bercerita bahwa bunga itu dibeli gara-gara tidak ada kembalian, si cewek berbunga-bunga dan berpikir cowok ini suka pada dia, dsbnya.
Cowok bisa memberikan sesuatu tanpa berpikir panjang dan mungkin tanpa maksud apapun, hanya niat baik. Kita kaum perempuan harus bisa menempatkan semuanya pada porsinya.
BERPACARAN
Pertanyaan yang paling sering didapatkan bila membicarakan soal pacaran adalah: sampai di mana ‘batasan’ nya dalam pacaran? Apakah pegang-pegang kepala, hidung, tangan saja, atau sampai di mana batasannya?
Yang membuat saya suka bingung, kenapa orang menanyakan di mana batasannya? Bila kita menyetir mobil misalnya ke Puncak dengan jalannya berkelok-kelok dan kita tahu di ujung sana jurang, apakah kita mau bertanya di mana batasan jurangnya dan mencoba-coba mendekati batas jurang itu? Yang kita lakukan adalah berhati-hati dan menyetir sebaik mungkin sehingga kita sampai di tujuan dengan selamat dan tidak kurang satu apapun.
Pertanyaan sampai di mana batasan pacaran sebenarnya menunjukkan bahwa sikap hati kita sudah menuju ke arah yang salah. Sikap hati kita menuju pada ‘jurang’ kesalahan satu hubungan pacaran. Kita terfokus pada jurang itu dalam pacaran, padahal banyak sekali yang harus dikerjakan untuk memperoleh satu hubungan yang benar-benar mempersiapkan suatu pernikahan. Instead of asking how far is too far, kenapa tak bertanya bagaimana melakukan pertemanan/relasi yang sehat sehingga hubungan ini dipersiapkan ke pernikahan yang membawa berkat dan menyenangkan hati Tuhan? Karena seharusnya pacaran itu tak hanya nonton, makan, nonton makan, nonton makan, atau berpelukan, bergandengan.
Waktu terjadi satu keintiman, terutama hubungan seks, ada satu hormon dalam tubuh kita yang disebut oksitosin yang berefek seperti superglue/ perekat. Waktu melakukan sesuatu hubungan yang cukup dekat/intim dengan pasangan kita, tubuh wanita mengeluarkan hormon ini, yang menjadi perekat yang sangat kuat. Sehingga bila terjadi apa-apa, kerusakan yang diakibatkan akan sangat buruk. Mis: triplek yang direkatkan dengan aica aibon ada triplek lain. Bila hendak dibuka perekatnya pasti akan menimbulkan kerusakan pada salah satu (atau kedua) triplek itu..
Dari pengalaman, saya sendiri tak pernah berpikir ketika di SMA, tak pernah menyangka kalau banyak kesalahan yang saya buat membuat saya terluka, hati menjadi baal, sehingga sebagai akibatnya, mungkin kita tidak dapat merasakan/ bonding yang sama di hubungan berikutnya. Akibatnya dalam hubungan berikutnya orang tak merasakan seperti yang pertama. Ini harus diperhatikan: waktu memulai hubungan kita menaruh hati pada posisi itu, posisi siap terluka, hati yang hancur, tak berasa lagi ke depannya. Hal ini menjadi masalah bila ternyata kita tidak menikah dengan partner tersebut, dan akhirnya suami/istri kita yang menanggung karung-karung masa lalu. Kalaupun kita menikah, apakah benar dia cowok/cewek yang cocok untuk kita, atau hanya karena premature compromise seperti yang kita bahas di depan tadi?
Pertanyaan yang harus didiskusikan waktu ketemu:
- apa sih tujuan hidupmu,
- hidup seperti apa yang kau mau, hidup seperti apa yang kau bayangkan,
- keluarga seperti apa yang kau bayangkan ingin kau bentuk dengan aku,
- mampukan membawa calon suami atau istri untuk menuju tujuan itu?
- mampukah saling membantu, bekerjasama untuk saling membawa dan menjadi the best of each other, menjadi pasangan yang saling support sehingga setiap pribadi bisa menampilkan potensi terbaik dari dirinya masing-masing.
Saya pribadi waktu pacaran selama 10 tahun, saya sendiri tak memperhatikan hal-hal ini. Boro-boro memperhatikan, kepikiran pun tidak tapi kemudian saya melihat setelah 9 tahun dan kemudian bertunangan, saya mulai memikirkan hal ini dan parahnya ternyata tak ada satupun yang saya rasa bisa cocok di antara kami.Tetapi kenapa ini bisa bertahan 10 tahun? Jawabannya karena saya pribadi tidak tahu apa yang saya mau. Saya tidak tahu apa yang saya suka, suami seperti apa yang saya mau, saya tidak tahu bagaimana saya ingin diperlakukan, keluarga seperti apa yang saya mau, semuanya saya tidak tahu. Saya tidak mengenal diri saya. Sehingga saat itu 10 tahun bisa berjalan karena saya mengkompromi apapun yang dilakukan oleh mantan saya, karena saya berpikir, itu juga yang saya mau. Ternyata tidak! Sehingga saat ini, bahkan tidak pernah ada kata terlambat, eksplorelah dirimu, cari apa yang kau mau dan diskusikan itu dengan pasanganmu.
- Gimana caranya kau handle pacar kalau lagi PMS (pre menstrual syndrome) katanya cewek jadi moody, bête. Para cowok, apakah kalian mengerti bagaimana menyikapi hal ini?
- Bagaimana menghandle finance bersama-sama?
- Buat para cowok apakah sudah memikirkan dan tahu bagaimana caranya membawa istri dan anak menjadi keluarga kudus dihadapan Tuhan? Karena ini adalah tugasmu menjadi imam dalam keluarga.
- Buat cewek apakah engkau taat dengan keputusan yang dibuat oleh calon suamimu? Apakah engkau cukup percaya pada pasanganmu untuk membuatkan keputusan untuk hidupmu dan anak-anak kalian di depan sana?
Hal-hal in perlu dipikirkan karena dalam kehidupan akan banyak hal yang muncul. Bila ini tidak dibicarakan sejak awal kejutan-kejutan akan makin banyak kita temui. Masa pacaran adalah masa pengenalan dan menimbang bersama apakah hubungan ini bisa dilanjutkan terus dalam pernikahan? Keputusan menikah adalah keputusan yang dibicarakan bersama melalui proses bukan she’s the one, he’s the one lalu yuk menikah.
Banyak hal yang perlu dibicarakan bersama dan kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikenali. Bayangkan kondisi yang paling anda tidak sukai dari pasangan anda hari ini, dari kebiasaan kecil sampai yang besar, atau bahkan prinsip. Lalu bayangkan dalam pernikahan kebiasaan itu tidak berubah seperti yang anda mau, tapi makin parah 10x lipat misalnya. Apakah dengan hal seperti itu engkau mau terus mencintai pasangan?
Di awal acara ini kita melihat semua pyramid relationship.
Dulu tidak ada mobil, sehingga yang namanya cowok kalau datang ke rumah cewek, tak ada tempat lain, duduk di situ, pacaran ditonton/ berkumpul bersama mama, papa, adik, dan keluarga pihak wanita. Sehingga dari awal sang cowok sudah berpikir dalam konteks serius dengan wanita yang dikunjungi dan dipacarinya ini.Tapi saat ini waktu mobil diciptakan, konteks pacaran sudah beralih dari yang serius menjadi sebuah rekreasi. Bahkan ada pasangan yang sudah 4 tahun pacaran, orang tua sang cewek tidak pernah melihat muka pacar anaknya, karena tiap kali menjemput ke rumah, sang cowok tinggal mengklakson dan kemudian menbawa sang pacar keluar rumah, bahkan tanpa meminta ijin pada orang tua perempuan. Hal-hal ini membuat nilai dari pacaran menjadi turun dan tidak dianggap serius. Saat degradasi nilai ini terjadi, hal yang dilakukan dalam pacaran pun makin lama menjadi makin tidak serius dan tidak berkualitas.
Dalam pyramid yang benar terlihat bahwa tingkat dasar yang pertama harus dilakukan adalah friendship. Waktu saya SMA, mama saya selalu menasehati saya untuk tidak berpacaran dahulu, bertemanlah sebanyak mungkin. Saat itu saya menganggap ibu saya adalah ibu yang paling kolot se dunia. Berteman terus sampai kapan? Kayaknya dari saya kecil sampai hari itu (di saat saya SMA) saya sudah berteman.
Saat itu saya memandang enteng arti berteman. Tetapi setelah setelah makin dewasa, keluar dari satu ke alahan ke kesalahan berikutnya saya sadar bahwa mama saya benar dan pyramid ini benar!
Awalnya dimulai dari persahabatan, kita tertarik dan kenal kebiasaan dalam berteman. Misalnya: ini cowok kalau makan kakinya diangkat, kalau makan bakmi disedot sampai minyak beterbangan ke mana-mana, kalau bicara suka menyumpah. Atau: ini cewek kalau makan belepotan, buang ingus sembarangan. Kita mulai melihat dan mulai kenal sahabat kita kalau berbicara soal bola langsung bersemangat atau bicara soal belanja langsung berbinar matanya. Ini semua kita ketahui waktu kita bersahabat. Dengan bersahabat, sang cowok bisa beramai-ramai main ke rumahnya dan kenalan dengan orang tua serta kakak/adiknya. Melihat apakah engkau bisa cocok dengan keluarga ini, dsbnya.
Saya dan suami bersahabat 8 tahun, waktu kami kenalan dia masih dengan mantannya, saya masih dengan mantan saya. Kami bersahabat bersama-sama. Dia sering main ke rumah saya dan kenal dengan orang tua saya karena sering memakai rumah saya untuk doa bersama. Saya pun karena bersahabat suka menelpon dia ke rumahnya dan kebetulan yang angkat mamanya, kadang suka ngobrol sedikit, tanpa pernah tahu bertahun-tahun kemudian, dia akan jadi mama mertua saya. Setelah persahabatan dan melihat hubungan ini visible di tahab bersahabat, barulah masuk ke dalam pdkt lebih, ekslusive relationship, pertunangan dan pernikahan, baru sexual intimacy.
Jika pernah menonton film Back-up Plan, terbolakbalik, pertama kali hamil duluan karena inseminasi, karena JLo tak percaya cinta dan lelaki yang cocok, tapi setelah inseminasi ketemulah dia dengan lelaki yang dia suka, sehingga semua akhirnya jadi kacau balau.
Waktu posisi piramid terbalik atau dibolak balik, landasan menjadi tipis dan runcing sehingga mudah hancur karena landasannya tidak kuat.
Waktu membuat seks menjadi dasar suatu hubungan akan banyak prematur compromise yang dibuat, akan banyak kesalahan yang mengikuti, banyak luka penderitaan yang berkepanjangan waktu masuk ke pernikahan banyak hal yang harusnya dibicarakan supaya tidak ada penyesalan yang terjadi di depan sana.
Ada studi yang mengatakan hormon yang membuat perasan menjadi berbunga-bunga itu hanya bertahan 3 bulan. Saat perasaan berbunga-bunga/ fall in love berakhir, cinta menjadi sebuah keputusan yang dibuat hari demi hari. Inilah yang disebut sebuah adventure bersama, terutama dalam pacaran. Mario Bros tidak hanya menyelamatkan sang puteri, tetapi berjuang bersama sesuai dengan panggilannya sebagai lelaki dan perempuan untuk mengerjakan suatu hubungan yang benar terutama di hadapan Tuhan, sehingga saat masuk ke dalam pernikahan, pernikahan itu mempunyai dasar yang kuat dan membawa berkat, dan terutama menyenangkan hati Tuhan.
TALK SHOW
[Moderator] Kevin
Teman-teman siapkan pertanyaan tentang pacaran. Sebelumnya saya undang hot couple of the month: Ryan dan Vera. Oke teman-teman, ada yang mau tanya tentang pacaran atau relationship?
[Peserta] ….
Pacaran beda agama boleh nggak sih? Tapi kita bisa menghargai agama masing-masing.
[Pembicara] Lia
Bayangkan bagaimana kita dari kecil kita dididik dengan cara yang berbeda. Ada banyak prinsip yang berbeda. Kalau mau bicara soal larangan, tidak ada yang bisa melarang, keputusan ada di tanganmu. Tapi ada banyak hal yang harus dipikirkan dalam pernikahan yang berbeda agama. Adik saya sendiri menikah dengan seorang muslim. Sebelum pernikahannya saya membombardir dia dengan banyak pertanyaan dan meminta dia banyak berpikir, dan yang saya tahu dalam pernikahan Katholik dan luar Katolik/ nikah campur, pihak yang bukan Katolik diminta menanda-tangani persetujuan bahwa anak-anak dari pernikahan itu harus dididik secara Katholik. Jika pihak yang berbeda agama tidak mau menandatangani, maka Gereja tidak dapat meluluskan permintaan mereka menikah secara Katholik. Gereja menjunjung tinggi nilai pernikahan Katholik tetapi Gereja tidak dapat melarang bilang ada pasangan campur yang ingin menikah secara Katolik. Jadi tidak ada larangan, tetapi dalam pernikahan akan banyak perbedaan nilai yang harus dijalani bersama. Ini harus dipertimbangkan sebelum pernikahan. Jangan berpikir bahwa jika hari ini ada perbedaan, suatu hari itu akan berlalu begitu saja. Saat pacaran akan mudah rasanya membayangkan menghargai perbedaan prinsip, tapi setelah menikah, apalagi setelah anak-anak lahir, dengan banyak factor yang mempengaruhi apakah benar kalian bisa menjalani ini, dan pihak yang Katolik benar-benar bisa menjalani janjinya untuk mendidik anak-anak secara Katolik?
Sekali lagi tidak ada larangan, tapi ada salib yang harus dipikul. Kalau ada perbedaan agama bawalah dalam doa, mintalah pada Tuhan menjagai setiap keputuskanmu, terutama supaya engkau tetap setia kepada Tuhan dan bersedia menaati perintahNya.
[Moderator] Kevin
Cukup komprehensif. Apakah sudah cukup menjawab? Untuk teman-teman yang lain, apakah masih ada pertanyaan? Apakah ada pertanyaan untuk hot couple ini? Oke. Tadi kita sudah banyak bicara soal dream, relasi dan fisik. Saya mau tanya nih, kalau lagi pacaran, kalau lagi makan, harusnya siapa sih yang bayar? Saya punya pertanyaan, kalau pacaran mestinya siapa yang bayarin?
[Pembicara] Lia
Saya bisa bilang itu kembali ke pribadi masing-masing tapi saya mau memberi pandangan begini. Saya pribadi tidak suka dibayarin karena saya merasa bisa kok bayar sendiri, saya berpenghasilan, atau saya dapat uang saku, atau saya ngga mau dibilang perempuan matre. Tapi dalam pacaran, kita harus memberikan peran itu kepada cowok karena nantinya seorang cowok harus belajar untuk bertanggung jawab menghidupi keluarganya. Jadi yang terpenting bukan siapa yang bayar tetapi memberikan peran pada cowok untuk membuktikan dirinya kalau dia mampu bertanggung jawab atas keputusannya. Dia memutuskan untuk berani pacaran, artinya dia merasa mampu untuk belajar berbagi hidup dengan seseorang. Bukan hanya uang, tapi waktu, prioritas, perhatian, dll. Tapi yanh cewek juga jangan jadi cewek matre mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sebagai perempuan dalam konteks pacaran yang benar, artinya juga calon istri, si perempuan juga harus tahu, si cowok ini gajinya seberapa dan mulai menyesuaikan diri dengan gajinya dia. Kalau pun misalnya gaji cewek 2 kali lipat dari gaji cowok, si cewek harus mau menghormati dan belajar bergaul sesuai dengan kemampuan si cowok.
Memang dalam pacaran ngga harus ‘pleg-pleg’ musti ngikutin gaji si lelaki, tapi paling tidak si perempuan tahu hidup seperti apa yang akan dia jalani bila ia menikah dengan cowok ini nantinya.
Mis: dia berasal dari keluarga kaya, mungkin keluarga nya bisa menghidupi dia 7 turunan, dia pacaran dengan cowok yang latar belakangnya berbeda. Apakah sang perempuan mau menjalani perbedaan ini?
Waktu pacaran, masalah financial seperti ini dianggap angin lalu. Tapi dalam pernikahan hal ini banyak menjadi cikal bakal terjadinya perceraian.
[Moderator] Kevin
Jadi kalau saya tidak salah menangkap, cewek harus mau benar-benar mengerti cowok.
[Pembicara] Lia
Buat cewek ini juga jadi suatu point check list pada diri sendiri. Misalnya kalau ceweknya dari keluarga berkecukupan berpacaran dengan cowok dari keluarga yang biasa-biasa aja, lalu tiap pacaran complain terus. Lebih baik nggak usah aja. Kita harus peka terhadap point check list kita dan peka terhadap itu. Sekali lagi masalah ekonomi bisa jadi masalah yang cukup pelik.
[Moderator] Kevin
Oke. Sekarang, supaya lebih real, kita tanya langsung pada the hot couple of the month, Ryan dan Vera. Pada saat PDKT, yang ngajak makan duluan siapa?
[DI] Ryan
Pada saat PDKT yang ngajak makan duluan siapa? Pada saat PDKT, saya sedang jadi seorang yang workhaholic. Selama masa PDKT itu kami ketemu di telpon dari jam 1 sampai jam 4 pagi. Sesudah itu saya kadang mengajak dia makan, tetapi lebih sering dia karena dia tahu gue kadang-kadang suka lupa makan.
[Moderator] Kevin
Oke. Itu pada masa PDKT kan? Nah tapi yang paling duluan ngajak makan siapa? Salah satu aja.
[DI] Ryan
Bingung juga. Ya gantian, kadang gue kadang dia.
[DI] Vera
Gantian. Biasanya abis nonton trus makan.
[Moderator] Kevin
Oke. Soal uang kadang jadi sensitive dalam suatu hubungan. Padahal tidak mesti seseorang itu pas ada uang banyak terus. Jadi penting untuk sedini mungkin bersikap apa adanya. Pertanyaan berikutnya?
[Peserta] Yosep
Ada yang bilang kata hati itu suara Tuhan, seringlah mendengar suara hatimu. Tapi bagaimana jika kata hati kita salah? Apakah kata hati itu bisa dipertanggungjawabkan? Karena kalau kita dengar kata orang, kita jalan, kita bisa salahkan orang. Tapi kalau kita ikuti kata hati kita untuk jalan sama orang, tepi ternyata salah, apakah kata hati kita itu bisa dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawaban? Karena kalau kata hati kita itu salah, kita bisa terpuruk dalam rasa sedih. Dan bagaimana kita menyikapi keterpurukan itu atas kesalahan dari kata hati kita sendiri?
[Moderator] Kevin
Oke. Saya sudah menangkap. Jadi kalau kita mengikuti kata hati dan ternyata salah bagaimana kita menyikapi kata hati dan keterpurukan itu? Tetapi ini dalam konteks relationship, betul?
[Peserta] Yosep
Bisa juga dalam berhubungan kita mencari kelemahan dia. Thank you, Kevin.
[Pembicara] Lia
Tadi saya bilang bahwa saya banyak membuat keputusan yang salah karena kata hati saya. Contohnya dengan mantan saya dulu, kami sama-sama pelayanan, aktif di Mudika, dia orang baik, keluarganya juga keluarga baik-baik, sama-sama Katholik, apa yang kurang dari itu? Di awal hubungan saya, kata hati saya seperti meluluskan semuanya. Ini hubungan yang sempurna! Tapi kemudian saya juga tahu kami mengalami banyak perbedaan ini tidak bisa diteruskan. Dalam mendengar kata hati kita, bisa dari Tuhan, tapi kita harus berproses untuk benar-benar tahu apakah kata hati itu benar dari Tuhan atau tidak. Sehingga saya setuju dengan kamu perlu ada proses yang panjang, untuk akhirnya menyadari bahwa kita salah. Siapa yang tahu sesuatu itu datang dari Tuhan untuk kita, kalau bukan kita sendiri? Kalau memang harus terjatuh dan terpuruk ya sudah. Saya sendiri waktu terpuruk, kalau mau jujur lukanya masih ada sampai hari ini. Maka saya bilang, jangan terburu-buru memutuskan sesuatu bila sedang dalam kondisi emotional karena bisa merancukan semuanya. Kadang kita membuat keputusan berdasarkan rasa.
Kalau sampai kita melakukan kesalahan, saya percaya bahwa lewat proses ada cinta kasih dan rahmat Tuhan yang akan membantu kita bangkit dan melangkah lagi. Apakah langkah berikutnya itu dari Tuhan? Ya belum tentu juga. Tapi percayalah, bila kita menggantungkan hidup kita pada Tuhan, Dia akan memberikan rahmat kekuatan untuk melalui semua hal dalam hidup kita. Termasuk membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup kita.
[Moderator] Kevin
Ngomong-ngomong soal kata hati. Love at the first sight. Kalian percaya nggak pada cinta pada pandangan pertama. Atau tanya pada Vera dulu, kalian jatuh cinta pada pandangan pertama atau jatuh cinta karena sudah tidak ada lainnya? [Peserta tertawa.] Maksud saya kalian jadian karena proses atau sebelumnya udah tahu bahwa saling suka satu sama lain?
[ID] Vera
Mmmmmm… Aku mungkin percaya cinta pada pandangan pertama. Pertama kali ketemu dan lihat Ryan di acara Springtime, aku suka. [Peserta berseloroh.] Nggak tahu kenapa ya padahal baru pertama kali ketemu. Awalnya memang kami berteman karena tidak ada tujuan pacaran dan sebagainya. Setelah kita ngobrol, cerita masalah dan masa lalu satu sama lain, akhirnya kita jalan.
[ID] Ryan
Kalau dibilang cinta pada pandangan pertama, ya mungkin lebih tepat kalau dibilang suka pada pandangan pertama, karena kalau cinta itu levelnya di atas suka.
Aku mau share, tadi ada peserta yang menyebutkan soal kata hati. Kata hati dan emosional itu beda tipis. Aku pernah pacaran sama cewek yang setelah 3 bulan pacaran, aku tahu dari teman kampusnya dia, ternyata dia sudah punya cowok. Tapi karena kata hati gue bilang cewek itu sangat mencintai gue, jadinya hubungan itu aku pertahankan. Dan begitu aku tinggalin dia menangis dan terus-terusan telpon gue, dan ini yang membuat emosi aku seperti dicubit-cubit. Sekarang aku udah bisa bedain mana cinta dan emosi. Karena masa pendekatan aku ke cewek itu cuma dua minggu terus kita pacaran.
[Moderator] Kevin
Apakah ada tanggapan dari peserta setelah mendengar sharing dari Vera atau Ryan?
[Peserta] …
Kalau kita pernah salah, slanjutnya gimana?
[Pembicara] Lia
Kalau sudah terjadi ya sudahlah, mau apa lagi? Kita ngga bisa melihat ke depan kalau kita terus menengok ke belakang. Tapi yang pasti kita musti sadar kesalahan kita dan belajar (dalam konteks positive, bukan jadi trauma/kepahitan) untuk melangkah ke depan. Hidup lebih dekat dengan Tuhan.
Banyak hal memang membuat saya merasa takut untuk melangkah. Padahal tahu kalau salah. Mis: takut nanti nggak ada yang mau sama aku lagi dan sebagainya. Merasa takut karena sudah terlalu banyak kompromi yang aku buat. Tapi kalau sudah sadar akan kesalahan yang dibuat, bangkit dan ambil keputusan. Jangan pernah takut soal umur atau pressure sosial. Pressure ini memang banyak timbul di Negara Timur. Orang tua akan tanya, “Kok belum punya cewek/ cowok? Kapan menikah? Kapan nyusul? Kok belum punya anak?” Kalau pun kita sudah terlanjur membuat banyak kompromi dalam hubungan, jangan takut untuk pergi dan mengambil keputusan. Kenali dirimu, kenali apa yang kamu mau. Kenali benar-benar apa yang menjadi tujuan hidupmu. Kalau pernah salah, minta ampun pada Tuhan lalu berdiri dan berjalan lagi. Jujur pada diri sendiri itu lebih susah, karena engkau berhadapan dengan ketakutan, luka-lukamu dan trauma-traumamu. Jujur pada orang lain lebih mudah karena kita menutupi perasaan kita.
Percayalah pada pengampuna Tuhan, kalau ia memberikan kesempatan kedua, ketiga, keempat kepada kita, bertobatlah dan jangan berbuat dosa lagi. Tentu saja tidak mudah. Tapi saya mau bersaksi atas hidup saya yang banyak jatuh bangun, Dia Tuhan yang saya percayai tidak pernah gagal mengangkat hidup saya. Tuhan yang sama akan selalu ada bersama teman-teman sekalian.
[Moderator] Kevin
Sudah menjawab? Tadi ada lagi di sana.
[Peserta] Berna
Terima kasih atas kesempatannya. Saya pernah mendengar teori tentang mendapatkan jodoh yang sepadan, misalnya kalau kita mau mendapatkan jodoh yang takut pada Tuhan, kita juga perlu menjadikan diri kita seperti itu. Mungkin Kak Lia bisa sharing setelah Kak Lia mungkin pernah mengalami kejatuhan di masa muda, bagaimana cara-cara kita mempersiapkan diri untuk mendapatkan jodoh yang sepadan.
[Pembicara] Lia
Setelah 10 tahun pacaran dan putus, saya pacaran dan putus beberapa kali. Keadaan ini membuat saya terluka. Untuk mendapatkan jodoh yang sepadan, satu hal yang penting: jangan menurunkan standarmu! Karena terluka, saya tergoda untuk menurunkan standar, yang tadinya saya menginginkan suami yang Katholik dan mencintai Tuhan lebih dari segala sesuatu, pelayanan bersama, kemudian ada kompromi Katholik saja sudah bagus tidak pelayanan juga nggak apa-apa deh.
Tapi waktu saya jujur, Saya tidak happy dengan ini keputusan ini. Saya ambil waktu sendiri, saya memutuskan untuk tidak pacaran selama beberapa tahun. Lalu yang saya lakukan adalah memperbaiki kualitas diri saya dulu, saya berusaha berdamai dengan diri saya, luka-luka dan trauma saya, mendekatkan diri lebih lagi kepada Tuhan, berkarier, doing things I like, pokoknya explore my life. Saya menyadari kelemahan-kelemahan saya mis: saya ini seorang perempuan yang nggak bisa kalau saya nggak pacaran/ bergantung pada lelaki. Saya merasa jelek, nggak laku-laku, itu yang membuat saya hanya merasa aman bila ada lelaki yang mau sama saya, karena itu menutupi ketakutan saya. Kalau kita ingin mendapatkan suami yang setinggi standard kita, kita juga harus improve diri.
Kalau kita ingin mendapatkan jodoh yang sepadan, kita terus meningkatkan diri kita, belajar terus, mendekatkan diri dan setia dengan Tuhan dari waktu ke waktu.
Setelah menunggu sekian lama, Puji Tuhan saya jadian dengan seseorang yang sudah 8 tahun menjadi sahabat saya. Kami mempraktekan tingkat-tingkat dalam pyramid itu bersama-sama. Dia selalu ada di samping saya selama itu. Dia ada saat saya putus dari mantan saya yang 10 tahun. Dia ada di saat saya dekat dengan pacar saya yang kedua, ketiga, keempat. Dia ada waktu saya mengalami jatuh bangun, dan ternyata akhirnya saya menikah dengan dia. [Moderator meminta suami Lia berdiri] Puji Tuhan, berkat dia sebagai sahabat yang selalu menguatkan saya pada saat kami bersahabat, saya tidak menurunkan standar saya. D
Kalau ngomong caranya percaya (bahwa akan ada jodoh yang sepadan) saya juga nggak tahu bagaimana caranya percaya. Saya hanya menjalani dari waktu ke waktu. Saya sempat menangis terus setiap hari, “Kawin nggak ya gue?.” Ada masanya begitu, ada masanya juga gue bilang dalam hati, “Ga usah kawin juga gue bisa.” Tetapi teruslah setia dan percaya pada Allah yang selalu rindu melihat anak-anakNya berbahagia, Ia Allah yang selalu menggenapi janji-janjiNya.
Buat teman-teman cewek, jangan takut, jangan pernah menurunkan standarmu. Percaya pada kasih dan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupmu. Akan datang seorang yang tepat buatmu!
[Moderator] Kevin
Terima kasih, Lia. Terima kasih atas sharing-nya. Kita udah ngomong soal pacaran, pacaran yang bener itu gimana, sampai soal bayar-bayaran. Sekarang kita mau mundur dikit nih. Ngomongin friendship. Misalnya yang ada di ruangan ini, baru ketemu. Gimana kita bisa mengenal seseorang lebih baik kalau kita nggak kenalan. Ryan & Vera gimana caranya kenalan? [Ryan share tapi tidak terdengar.] Ada teman gue yang banyak ketemu teman baru tapi malu untuk kenalan. Padahal untuk mengenal orang itu sangat penting. Bagaimana mengenal orang kalau dijadiin teman aja nggak. Ada cowok-cowok yang ngajakin kenalan aja nggak berani, tapi ada juga yang sebaliknya paling berani ngajak kenalan. Oke nggak kalau cewek yang ngajak kenalan duluan?
[ID] Ryan
Kalau gue lebih setuju kalau cowok ngajak kenalan duluan. Di mana-mana kalau cowok itu kalau apa-apa mesti duluan.
[Pembicara] Lia
Kita punya bagian yang berbeda. Dalam pergaulan, bukan pantangan untuk berkenalan. Nggak apa-apa sih kalau cewek ngajak kenalan duluan dan berteman sebanyak-banyaknya. Kalau untuk tahap selanjutnya saya lebih setuju kalau cowok yang maju lebih dulu. Terutama buat yang masih single, bertemanlah sebanyak-banyaknya dan bukalah hatimu lebar-lebar.
[Moderator] Kevin
Bagaimana kalau cewek kasih tanda duluan?
[Pembicara] Lia
Aku kurang setuju kalau cewek kasih nomor hape duluan. Jadi cewek juga harus belajar menghargai dirinya sendiri. Kalau kita (cewek) jadi teman yang menyenangkan, cowok akan tertarik dan senang. Kalau kita bisa bawa diri, bisa jadi sparing partner yang enak untuk ngobrol, cowok akan tertarik. Jadilah perempuan-perempuan positif, menyenangkan, yang nggak cuma cemberut, mengkomplain semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tingkatkan kualitas diri dulu, lalu percayalah cowok-cowok yang berkualitas akan datang dan memperkenalkan diri lebih dulu.
[Moderator] Kevin
Kalau ada acara hang out antara sepasang cowok dan cewek. Seringkali ada bisikan, ‘Jangan ah nanti aku kasih harapan semu’. Atau, ‘Nggak ah dia bukan tipe gue.’ Sebaiknya gimana nih, lihat dulu check list kita tentang kriteria cewek atau cowok yang kita suka atau dikasih coba atau mempercayai early judgement, misalnya ‘Ah nih cewek atau cowok ngopi mulu’. Itu gimana Li?
[Pembicara] Lia
Makanya pyramid ini penting. Misalnya mulai dengan friendship, jangan pergi langsung berdua, pergilah rame-rame dulu. Rame-ramenya nggak perlu sekampung ya, berempat atau berlima. Pada waktu jalan rame-rame itu kita bisa melihat, ‘Bisa nggak ya gue jalan sama dia?’ Ini jadi penting. Lalu misalnya pada saat bersama teman-teman main ke rumahnya, kenal keluarganya, kita juga menilai, ‘Bisa nggak ya gue masuk ke keluarganya dia?’ Kalau semua itu sudah dilalui dengan cukup baik, baru pergilah berdua, syukur-syukur kalau jadian. Ini adalah suatu proses pengenalan. Jadi kita perlu mengetahui dengan frekuensi pyramide yang sama, ‘Ini sampai di mana sekarang?’
Maka acara seperti ini bagus untuk saling berkenalan. Puji Tuhan kalau dengan acara ini kita ada yang jadian, karena kita sedang sama-sama belajar dengan frekuensi pyramide yang sama.
[Moderator] Kevin
Kata penutup untuk Talk Show ini. Ryan ada saran nggak untuk cowok-cowok dalam soal berkenalan dan sebagainya?
[ID] Ryan
Buat para cowok, bener, untuk PDKT sama cewek, awali hubungan dengan friendship dulu. Setelah ngobrol dan lain-lain baru jadian. Buat gue, kalau pacaran itu berantem terus-terusan itu baiknya diputusin, bubar. Karena masa pacaran itu waktunya untuk saling mengenal dan menerima kekurangan satu sama lain, sebagai pasangan. Daripada nanti udah nikah berantem terus-terusan akhirnya cerai.
[Moderator] Kevin
Oke, saran dari Ryan, kalau kita pacaran tapi berantem terus-terusan mendingan bubar. Kalau dari Vera bagaimana?
[ID] Vera
Tadi juga sudah dikatakan sama Kak Lia, cewek jangan takut sama umur. Cewek itu kalau sudah mendekati umur 30 itu panik. Jadi asal milih kekasih padahal di hati nggak sreg. Umur gue 35 tahun, gue pacaran sama dia 3 tahun lebih, memang kita nggak langsung memutuskan untuk menikah. Mendingan aku lama-lama pacaran sama dia untuk lebih saling mengenal atau putus, daripada pada saat nanti aku menikah, aku berada di neraka dunia. [Aplaus dari peserta.]
[Moderator] Kevin
Oke yang gue tangkap dari Vera, biar nikah ditunda daripada hidup neraka di bumi. Untuk Lia, Ryan dan Vera, terima kasih, berikan sekali lagi aplausnya.