Question of the Week 0703 : Janji Pernikahan

by: you

Selain apa yang diucapkan dalam janji pernikahan, adakah janji-janji (tertulis maupun tidak) yang harus dibuat sebelum melangsungkan pernikahan?

Pertanyaan mingguan kembali hadir! Segera layangkan jawaban maupun pertanyaan yang sempat terselip di benakmu sekalian!

Tagged with:  

A Sharing : Kasih Tuhan Dalam Hidup Gue

by: Devi as written to TLC Team

Dari dua menjadi satu. Dari dua kehidupan yang berbeda, satu jalan setapak menuju kedepan diharapkan untuk dilalui bersama, dalam suka maupun duka. Devi dari Australia memberanikan diri untuk menceritakan suka-dukanya menghadapi kerikil dan bantu sandungan yang ia temui bersama suaminya, Andre.

Halo semua, ini sharing dari gue, semoga bisa bermanfaat bagi yang lain.

Sedikit latar belakang, pada saat ini gue dan suami, Andre, menetap di kota kecil bernama Tasmania di Australia. Kami berdua berasal dari Jakarta.

Harapan gue dan Andre sebelum menikah adalah supaya setibanya di Australia, bisnis gue bisa berjalan mulus dan dapat dengan mudah mencari pekerjaan dengan gelar bachelor yang gue punya. Berhubung disini kebanyakan orang hanyalah lulusan SMA, ditambah dari gue sendiri yang mempunyai work experience di Indonesia dan Singapore dan juga gue bisa computer (keahlian computer buat orang2 disini adalah sesuatu yg bernilai). Lalu gue mulai baca koran untuk mencari lowongan kerja. Gila bener, ternyata jenis pekerjaan yg ‘profesional’ sangat sedikit, bisa dihitung dengan dua tangan. Korannya pun tipis dan penuh dengan repetisi dari iklan-iklan sebelumnya. Tapi gue bersikukuh untuk apply kerja professional. Seharusnya gue sudah mendapat panggilan/telpon interview, tetapi kenyataannya gak ada sama sekali!

Minggu-minggu berikutnya dengan berbesar hati, gue mulai melihat pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian, alias kerja kasar, seperti waitress, cashier, kitchen hand dan mestinya gue bisa mendapatkan panggilanlah setidaknya. Gaji mereka pun ternyata cukup besar, tidak jauh dari gaji kantoran walaupun kerjaannya seperti itu. Hasilnya? Tidak ada satu pun panggilan datang ke gue! Usaha apply kerja disinipun jauh lebih ekstra dari usaha di Indonesia. Dari menelpon HRD menanyakan lowongan, dari restaurant sampai ke bakery, semuanya gue lakukan..

Lalu gue mulai depresi. Lalu gue mulai melihat pekerjaan di Melbourne yang sesuai dengan background gue dan mengusulkan ke Andre supaya kami bisa pindah ke Melbourne secepatnya. Tapi sayang, jenis pekerjaan Andre membuatnya sulit menemukan pekerjaan yang cocok di Melbourne. Akhirnya gue mengusulkan supaya gue pindah ke Melbourne, dan Andre tetap tinggal di Tasmania. Jaraknya kira-kira naik pesawat 1.5 jam, ditambah 1.5 jam transportasi darat. Satu atau dua minggu sekali gue akan pulang ke Tasmania. Menurut gue, seharusnya sih gak apa-apa ya, toh pacaran saja bisa, masak sudah menikah gak bisa? Dan apa jawaban Andre ? “TIDAK!” Hancurlah hati gue. Alasannya karena terlalu riskan bagi pernikahan yang baru dimulai untuk hidup terpisah. Otomatis reaksi gue adalah marah besar sama Andre dan keadaan. Banyak yang bilang “Ya sudahlah, jadi ibu rumah tangga toh gak salah.” Tapi gue gak mau bersandar sama orang lain, gak mau suatu saat jadi janda-janda yg susah hidupnya karena ditinggal suaminya, atau yangg karena suaminya sakit jadi bingung mau ngapain.

Akibatnya gue mulai mempertanyakan pernikahan gue. Apa gue menikah kecepetan? Apa seharusnya gue gak mengikuti Andre dengan menikahinya? Dan banyak pertanyaan lainnya… Tetapi setiap kali gue bertanya, gue kembali kepada jawaban yang sama, yaitu memang ini adalah bagian dari rencana Tuhan, gak ada satu titik pun dimana gue bisa meragukan Andre dan pernikahan gue.

Buntu. Gak ada yg bisa dijadikan alasan, lalu gue marah sama Tuhan. Kok tega-teganya Tuhan biarkan gue seperti ini, luntang luntung gak jelas mau kemana, dan lagi kok Tuhan biarkan Andre melarang gue pergi. Duh, rasanya pengen gue berontak untuk keluar dari keadaan. Lalu gue inget sama satu ayat di Alkitab, alias kotbahnya Romo Deshi di misa pernikahan gue.

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.”

Ohhhh… mateng lah gueee… sudah susah tapi masih disuruh tunduk sama suami dalam segala sesuatu, dan itu secara jelas ditulis di Alkitab! Gue pun jadi gak bisa menyalahkan Andre, dan gak bisa berontak.

Karena ngeyel dan ngerengek2, akhirnya dengan berat hati Andre memperbolehkan gue untuk apply kerja di Melbourne, dan hidup terpisah dari dia. Mencari pembenaran, gue bertanya pada teman gue yg lain (note: gue ikut kelas dari imigrasi, dimana para imigran berkumpul, belajar culture dan bahasa, yang kebanyakan adalah pengungsian dari negara miskin dan perang. Demikian tanggapan dari mereka :

  • Teman dari India: Seorang IT professional yang migran mengikuti suami, tapi karena bahasa Inggrisnya masih kacau jadi belum bisa mencari kerja. Katanya “Semua keputusan dalam rumah tangga adalah keputusan suami, saya akan ikut kemanapun suami pergi. Karena apa? karena aku percaya 100% dengan suamiku, apapun yg diputuskannya adalah yang terbaik bagiku dan bagi keluargaku!” (pikiran gue: Dahsyat!!)
  • Teman dari Buthan: Seorang pengungsian dari perang. Katanya “Jangan mikir untuk berpisah dari keluarga, karena sayapun sudah terpisah dari anak dan istri, karena dibuang dari negara.” Terakhir dia hidup dengan keluarganya adalah 17 tahun yang lalu, dan terakhir dia bisa ketemu istrinya 3 tahun yang lalu dengan sembunyi-sembunyi di perbatasan India dengan resiko dimasukkan penjara.
  • Teman dari Kongo: Seorang pengungsian perang juga. Dia dan kedua anaknya migrasi ke Australia karena ditemukan oleh kakaknya secara gak sengaja setelah terpisah selama bertahun-tahun. Saat gue tanya kenapa bisa terpisah, demikian katanya “Devi, lu belum pernah merasakan perang, kamu gak tau apa yang bisa terjadi saat perang. Semua keluarga terpecah. Saat ini saja gue gak tau dimana suami berada” Mereka terakhir bertemu sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu perang di Kongo, wanita dan anak-anak diangkut dengan kapal mengungsi ke negara tetangga, sedangkan para pria berperang. Setelah selesai perang, dia berjalan keliling ke Kongo dan negara sekitarnya selama tiga tahun, tetapi tak pernah menemukan suaminya dimana.

Menganga lah gue. Bengong seperti ditegur sama Tuhan. Lalu gue berpikir, dulu di Singapore gue susah banget cari kerja dan dikasih kerja tepat setelah imlek. Rupanya Tuhan ingin mempertemukan gue dengan Andre di imlek itu, karena kalau gue dapet kerja sebelum imlek, gue gak akan dipaksa pulang Indo, dan gak akan ketemu Andre. Lalu gue mulai berdoa “Tuhan, Kau tahu kalau aku anakmu yang mau berusaha dan bekerja, tidak malas dan cepat menyerah. Aku yakin Kau sendiri yang mempertemukan aku dengan Andre sampai menikah. Kau juga tahu bahwa keadaan gak bisa dirubah, dimana banyak orang nganggur, lowongan kerja sangat sedikit dan bisnis tidak begitu jalan. Bermodalkan firmanMu sendiri yaitu musti nurut sama kata suami, aku serahkan semuanya.”

Akhirnya sambil tetap berusaha apply kerja gue juga kerja volunteer, tidak dibayar, untuk orang-orang miskin dan cacat dan juga mulai mengiringi musik di gereja, sampai pastornya pun kenal dan mem bantu gue mencari kerja melalui bulletin gereja, belajar melanjutkan bisnis lagi dan gue pasrahkan saja semuanya karena sudah mentok.

Hasilnya? Sekitar setelah tiga bulan di Australia, akhirnya ada lowongan di tempat kerjanya Andre. Pekerjaannya persis sama seperti yang gue bisa: business improvement, data analysis, administration dan computer. Gue apply, dipanggil dan dapat kerjaan itu. Gue kerja part time tiga hari seminggu dan sisanya untuk mengurus hal lain seperti bisnis, kvolunteer dan mengiringi musik gereja. Wuih! Siapa yang menyangka! Teman-teman gue disini sampai ternganga karena orang lokal saja banyak banget yang nganggur. Yang mengagetkan lagi, kata Andre sebenarnnya Tuhan sudah sediakan pekerjaan ini semenjak gue dateng ke Australia, tapi gue tolak, karena saat itu gue gak mau jadi admin.

Memang namanya manusia selalu khawatir, tapi untuk saat ini gue harus berterima kasih sama Tuhan dan harus membagikan kasih Dia dalam hidup gue melalui sharing ini. Jadi hitung berkatmu satu persatu, setia pada firman Tuhan, tetap berusaha tapi berpasrah pada Tuhan, dan jangan pelit untuk mengucap syukur.

 Love, Devi

Tagged with:  

Fireproof : A Movie Review

by: Felicia Sidharta & friends

Film blockbuster yang menangkat tema seputar pernikahan tidak kurang banyaknya. Dari komedi romantis seperti Four Weddings and a Funeral sampai ke drama seperti the Law of Attraction. Tak banyak yang berani dengan jujur menggambarkan kehidupan pernikahan secara realistis sampai ke pertengkaran sehari hari, apalagi menunjukkan bagaimana masalah demi masalah dalam pernikahan dapat ditanggulangi untuk menghindari perceraian.

Fireproof melakukan hal tersebut dengan menceritakan tentang sepasang suami istri yang berada di ujung tanduk perpisahan setelah sekian tahun merajut kisah bersama. Untuk sebagian besar penonton yang melihat pertengkaran mereka akan merasakan betapa mudahnya untuk masuk ke dalam gejolak naik turunnya emosi yang di alami sepasang suami istri tersebut. Pertengkaran sepele yang berakhir dengan korek-mengorek luka lama pastinya sering dialami siapapun yang pernah menjalin hubungan serius.

Pekerjaan sang suami sebagai pemadam kebakaran yang berulang kali sukses memadamkan rumah-rumah yang terbakar seakan mengejek ketidak mampuannya untuk memadamkan bara di rumahnya sendiri. Di tengah keputus asaannya, bantuan justru datang dari ayahnya sendiri yang menantangnya untuk mencoba melakukan satu hal baik terhadap istrinya setiap harinya selama empat puluh hari. Mengikuti perhatian demi perhatian yang diberikan sang suami kepada istrinya, dan juga reaksi yang didapatnya akan membawa pasangan mana saja mau tak mau merefleksikan hubungan mereka masing-masing bila hal serupa terjadi dengan mereka.

Satu adegan yang sangat membekas dari Fireproof adalah saat sang suami merasa usahanya setelah hari kesekian tidak juga membuahkan hasil. Sang suami bertanya kepada ayahnya ‘Bagaimana aku dapat menunjukkan perhatian terus menerus dan mencintai lagi dan lagi terhadap seseorang yang terus menolakku?’. Si ayah terdiam. Ia kemudian menyentuh salib besar yang tertanam di tanah dan berkata ‘Pertanyaan yang bagus.’ Sang ayah tersenyum dan sang suamipun tertegun.

Sebuah tontonan wajib bagi siapapun yang merasakan panggilan untuk menikah, demikian tanggapan teman-teman kita mengenai film tersebut.

“It takes two to clap, takes two to dance. Kebahagiaan pernikahan adalah sesuatu yang diperjuangkan bersama. It’s a teamwork done by husband, wife and God!” – Lia B. Ariefano

“Dari Fireproof gue belajar that open personal communication is very, very, very important in a love relationship, especially in a marriage. Emang gak semua orang bisa saling terbuka, tapi hal ini penting dalam membangun suatu hubungan, terutama cinta, yang mengarah ke jenjang pernikahan.” – Iwan Rahardjo

“Menurutku, filmnya bagus banget dan ada beberapa hal yang bisa diambil dari film tersebut seperti pengorbanan sang suami dan betapa pentingnya pengaruh lingkungan terhadap hubungan pribadi kita.” – Linda

“Film ini mengajarkan kepada kita bahwa kalo kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri gak akan pernah berhasil. Tapi kalo kita mau melibatkan campur tangan Tuhan dalam setiap apapun masalah yang kita hadapi, khususnya dalam Film Fireproof ini tentang bagaimana dia mau mempertahankan perkawinannya, pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik buat kita. Sangat menyentuh dan menjadi pembelajaran kalo sedang menghadapi masalah dalam rumah tangga gue” – Tn

Tagged with:  

Take Me Out Summary

Transcript by Mungky Kusuma (talk) & Rediningrum Setyarini (talkshow)
Edited by Lia B. Ariefano

TLC 5 – Take Me Out

3 July 2010
Lia B. Ariefano
Ruang Melati, Wisma Indocement, Sudirman, Jakarta

TLC memberikan satu materi yang berkesinambungan, bulan lalu Single, Sexy and Smart mengenai bagaimana kehidupan sebagai seorang single, dan bulan ini soal Take Me Out, kita akan membahas bagaimana kita memulai suatu relationship dan apa yang seharusnya kita lakukan selama masa perkenalan dan pacaran.

Flyer bulan ini gambarnyanya Mario Bros dan Princess. Ceritanya Mario Bros yang mau menyelamatkan seorang Princess, mereka melakukan adventure bersama, adventure apa yang dilalui oleh orang-orang yang pacaran? Mengapa itu dikatakan adventure?

Dari hasil kuestioner yang tadi dibagikan dan diisi oleh teman-teman,  60% respondennya adalah  perempuan dan 31% laki-laki. 69%  menyatakan siap pacaran, yang tidak siap 14%. Pertanyaan berikut menurut teman-teman kapan usia yang paling baik atau siap untuk mulai pacaran? 1.4% menjawab SMP, 25% SMA, 46% menjawab kuliah, dan 25% berpendapat saat bekerja.

Pyramid – sebuah dasar yang penting untuk mulai hubungan.

Saya akan mulai dengan cerita pribadi, kalau berdiri di sini bukan saya selalu benar tapi karena saya banyak melakukan kesalahan di masa lalu saya. Tapi saya bersaksi lewat kehidupan saya bahwa hidup dalam Tuhan adalah hidup berkemenangan. Tidak ada satupun kesalahan bila kau bawa pada Tuhan, tidak akan diubah menjadi kesaksian dan kemenangan. Bila anda hidup benar itu adalah rahmat, tapi kalau masih ada yang harus diperbaiki, mari minta rahmat yang benar, maka Ia akan mengubah kesalahan menjadi berkat.

Definisi pacaran

Menurut anda, apa definisi pacaran?

Peserta cowok: menurut salah seorang peserta kita berbagi suka dan duka.

Peserta cewek: mengenal pasangan lebih dekat.

Peserta cewek: pacaran adalah meluangkan waktu dengan orang yang kita suka. Dan memperhatikan dia.

Kita banyak sekali dibombardir dengan film-film romantic. Akhir-akhir ini ada film Letters of Juliet misalnya. Tanpa sadar itu mempengaruhi pendapat kita mengenai suatu hubungan, terutama ‘romantisme’.

Saya sendiri mulai pacaran sejak usia 15 tahun, waktu itu baru lulus SMP dan 2 bulan masuk SMA. Saya pacaran selama 10 tahun sebelum akhirnya putus. Setelah itu ada banyak Mario Bros-Mario Bros berikutnya dalam kehidupan saya, seperti dalam sebuah game, mati satu, bisa dengan mudah memulai lagi. Saya tak mengerti arti pacaran sesungguhnya sampai akhirnya saya mengalami banyak kejatuhan dan belajar dari kesalahan-kesalahan itu.

Waktu usia 15 tahun kalau ditanya apa siap menikah, jawabannya saya mau menikah tapi pastinya saya belum siap.

Pacaran bukan hanya status tapi sebuah persiapan, yang artinya kalau saya memulai suatu relationship berarti saya mempersiapkan diri untuk menikah dengan dia.

Waktu SMA saya memiliki gambar diri yang buruk, dari dulu bobot dan bentuk tubuh saya sudah besar seperti ini, bukan ukuran badan orang Asia yang ramping putih, bermuka mulus, saya juga menilah diri saya tidak pintar, sehingga saya tidak pernah berpikir ada yang ‘mau’ sama saya. Saya ingin pacaran seperti anak-anak SMA lain lain tapi tidak berani bermimpi. Boro-boro nikah, ada yang mau macarin saya saja sudah bagus. Pandangan saya terhadap diri saya sendiri yang demikian buruk berdampak pada cara saya menila satu hubungan atau bahkan mempertahankan satu hubungan dengan alasan yang salah.

Banyak orang dengan mudahnya jadian dan mudahnya putus, kenapa?

Teman-teman pernah punya sandal jepit merk Swallow yang beli di pasar, harganya sekitar sepuluh ribuan, bandingkan bila kita beli sandal Crocs, yang harganya sekitar Rp. 300.000 (itu sudah diskon). Waktu pakai sandal Swallow, yang bila keinjak yang keinjak sedikit saja mudah putus, waktu putus apakah kita simpan atau kita reparasi ke Stop and Go? Rasanya tidak, ya kita buang saja sandal yang putus itu.

Tapi kalau sandal Crocs-mu rusak, kira-kira apa yang teman-teman lakukan? Apakah dengan mudahnya teman-teman buang sandal itu ke tong sampah seperti kita membuang sandal Swallow tadi?  Kita pasti  punya attitude yang berbeda waktu sandal Swallow putus dan waktu  Crocs putus.

Teman-teman sendiri yang tahu bagaimana  menilai hubungannya dengan kekasihmu.

Kira-kira sikap hatimu seperti apa. Apakah engkau perlakukan pasanganmu seperti sandal Swallow atau Crocs? Apakah kau punya effort untuk bawa atau mempertahankan hubunganmu seperti kau membawa Crocs-mu ke Stop and Go atau hubunganmu hanya seharga Swallow yang dengan mudahnya kau buang ke tong sampah?

Apakah engkau menghargai dirimu seperti Swallow yang dengan mudahnya masuk ke satu hubungan ke hubungan lain atau bahkan mempertahankan suatu hubungan yang abusive? Atau engkau menghargai dirimu untuk menunggu sampai dirimu siap untuk memulai suatu hubungan yang serius dan membawa berkat? Hanya kau yang tahu bagaimana sikap hatimu dan menentukan bagaimana kau masuk ke satu hubungan.

Waktu kita masuk ke dalam satu hubungan kita menaruh  hati kita dalam posisi yang fragile. Posisi di mana hati itu ada pada situasi siap terluka. Sehingga banyak yang perlu dipertimbangkan waktu kita hendak memutuskan masuk dalam suatu hubungan pacaran. Tapi pada kenyataannya banyak kondisi yang salah dalam memulai satu hubungan. Dalam masa pendekatan seharusnya banyak yang harus dicari tahu dan dipertanyakan. Tapi banyak kesalahan yang dilakukan waktu memutuskan akan pacaran. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:

1. Kita tidak banyak bertanya.

    Waktu PDKT perasaan kita sangat terbuai dengan sensasi deg-degan. Buat yang cowok merasa:  cewek oke banget, ini tipe idealku, sexiest girl yang pernah gw kenal dan ngasi respon ke gw. Buat yang cewe: wow ini cowok sixpack, keren, beken di sekolah/kampus, merhatiin gw bangt, dsb. Waktu itu jantung mulai dug-dug-dug, mulai dekat dan tak sempat tanya apa-apa karena yang terasa hanya debaran jantung dan berusaha untuk tampil memikat di hadapannya. Kemarin ada teman yang cerita bahwa seorang temannya pdkt dan kemudan jadian. Di satu pergi makan setelah jadian, tiba-tiba pasangannya buat tanda salib sebelum makan. Teman dari teman saya ini (yang bukan Katolik) kaget dan langsung bertanya pada pacar nya: “Lhooo.. kamu Katolik?”  Inilah contoh yang terjadi kalau waktu pdkt tak tanya apa-apa, tapi lansung ‘nyamber’, tak sempat tanya latar belakang keluarganya bagaimana, hubungan dengan keluarganya bagaimana, apakah pernah pacaran sebelumnya? Kalau pernah, putusnya karena apa? Semua mungkin pernah ditanyakan tapi tak diolah dan dipikirkan dengan serius karena sibuk dengan hati yang deg-degan, dan ketakutan kehilangan dia, tanpa pernah tahu apakah ada hal-hal yang bisa mempertahankan hubungan ini bila kalian sudah bersama dan menemukan banyak perbedaan.

    2. We ignore warning signs of potential problems.

      Kalaupun sempat bertanya, kita tahu misalnya dia seorang drug addict, dia seorang pemakai narkoba,tapi karena terlalu terbuai dengan perasaan sehingga tak dipedulikan. Kita berpikir tak apa-apalah entar juga berubah, namanya juga orang, nanti kan ada aku yang mengubah dia, aku mampu mengubahnya. Kita ignore, merasionalisasikan banyak hal, atau bahkan menyangkal apa yang kita tahu.

      3. We make premature compromise.

        Karena perasaan begitu intense, kita membuat kompromi yang premature, banyak keadaan di mana orang baru berteman dekat sudah melakukan hubungan seks. Dengan hubungan seks ini rasanya yang lain menjadi tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Atau kita mengetahui ada hal yang salah yang dilakukan pasangan kita, mis: awalnya kita tahu bahwa pria itu sudah beristri tapi berkompromi dengan kenyataan itu dengan mengatakan bahwa ini hanya ‘persahabatan’ dan tidak akan pergi ke manapun.

        4. We give in to lust blindness.

          Asal suka sama suka, tak apa-apa, apa salahnya? Semua dilakukan hanya berdasarkan insting seksual.

          5. We give in to material seduction

            Waktu uang, penampilan, reputasi, kekuasaan, atau tuntutan gaya hidup mengacaukan kemampuan untuk melihat apakah cowok/cewek ini cocok dengan saya?

            6. We put commitment before compatibility

              Membuat komitmen sebelum tahu cocok atau tidak.Misalnya: melalukan hubungan seks tanpa mengenal dengan baik pasangan kita, atau karena perasaan yang begitu intens langsung memutuskan mau menikah tanpa mengenal dengan baik pasangannya.

              Dari hal-hal ini saja kita bisa melihat, begitu banyak hal yang harus di settle bahkan sebelum kita memulai satu komitmen untuk pacaran. Sudahkah kita mengenal diri kita sendiri? Atau sudahkan kita belajar mengenal lawan jenis kita? Sudahkah kita mengerti bagaimana mereka bertindak atau memandang sesuai dengan gender mereka. Hal ini penting untuk diketahui karena akan sangat berpengaruh dalam interaksi suatu hubungan.

              Laki-laki rasional:

              Communicate himself in systematic logical flow, step by step, arguments, solutions oriented. Lelaki mengkomunikasikan diri dengan cara sistematis, cowok kalau punya masalah tak seperti perempuan. Kalau perempuan punya masalah biasanya dia tinggal angkat telpon, dan cerita ke salah satu sahabatnya, dan kalau sudah cerita masalah seolah selesai (padahal belum). Cowok tidak seperti itu. Kadang cewek merasa tak disayang/dianggap karena kalau cowok punya masalah dia tak cerita, cowok kadang perlu waktu untuk mengolah itu semua, ia perlu masuk ke ‘gua’ nya. Kalau sudah tahu bisa solve problem atau paling tidak ia sudah tahu bagaimana mengontrol dirinya,  dia baru bisa share/ngomong. Ia akan makin stress bila dipaksa berbicara pada saat dia masih bergumul dengan masalahnya.

              Lelaki sight sensitive:  dari system di otaknya, cowok memang sudah sight sensitive. Jadi teman-teman perempuan harus membantu teman lelaki supaya bisa menjaga situasi hatinya dengan berpakaian rapi, jangan seperti kurang bahan. Karena kadang perempuan sendiri yang tak tahu diri,dan menyodorkan dirinya sebagai ‘objek’, dia tak tahu bagaimana cara berpakaian. Sebagai perempuan hendaknya kita menjaga integritas kita dengan berpakaian dan bersikap secara modest.

              Perempuan emotional:

              Communicate herself by expressing her emotional condition and needs, dengan berbicara perempuan merasa setidaknya setengah sudah beres. Waktu mulai sharing satu sama lain perempuan merasa stress dan tekanan perlahan-lahan berkurang.

              Waktu cewek ketemu cowok kadang bete. Kita dekati dia maksudnya pengen sharing tapi belum selesai ngomong, cowok sudah bilang sebaiknya gini… gini.. gini.. akhirnya cewek merasa salah, padahal cowok bermaksud baik dalam arti memberi solusi. Tetapi yang diperlukan perempuan kadang hanya ingin didengarkan bukan minta solusi. Hal-hal seperti ini harus diketahui sebelum masuk dalam relasi pacaran supaya banyak hal dalam pacaran bisa dibicarakan dan diolah bersama.

              Buat teman-teman cowok, perempuan sangat sensitive dengan kata-kata. Sehingga tolong jangan membombardiri perempuan dengan kata-kata/perhatian yang tidak pada tempatnya. Tetapi teman-teman perempuan juga jangan mudah ke GR-an. Contoh, ada satu teman kami yang waktu Valentine mau membelikan bunga untuk mamanya. Tetapi  karena tak ada kembalian, dia beli satu lagi, akhirnya ketika ketemu seorang teman ceweknya, dia kasih bunga itu tanpa bercerita bahwa bunga itu dibeli gara-gara tidak ada kembalian, si cewek berbunga-bunga dan berpikir cowok ini suka pada dia, dsbnya.

              Cowok bisa memberikan sesuatu tanpa berpikir panjang dan mungkin tanpa maksud apapun, hanya niat baik. Kita kaum perempuan harus bisa menempatkan semuanya pada porsinya.

              BERPACARAN

              Pertanyaan yang paling sering didapatkan bila membicarakan soal pacaran adalah: sampai di mana ‘batasan’ nya dalam pacaran? Apakah pegang-pegang kepala, hidung, tangan saja, atau sampai di mana batasannya?

              Yang membuat saya suka bingung, kenapa orang menanyakan di mana batasannya? Bila kita menyetir mobil misalnya ke Puncak dengan jalannya berkelok-kelok dan kita tahu di ujung sana jurang, apakah kita mau bertanya di mana batasan jurangnya dan mencoba-coba mendekati batas jurang itu? Yang kita lakukan adalah berhati-hati dan menyetir sebaik mungkin sehingga kita sampai di tujuan dengan selamat dan tidak kurang satu apapun.

              Pertanyaan sampai di mana batasan pacaran sebenarnya menunjukkan bahwa sikap hati kita sudah menuju ke arah yang salah. Sikap hati kita menuju pada ‘jurang’ kesalahan satu hubungan pacaran. Kita terfokus pada jurang itu dalam pacaran, padahal banyak sekali yang harus dikerjakan untuk memperoleh satu hubungan yang benar-benar mempersiapkan suatu pernikahan. Instead of asking how far is too far, kenapa tak bertanya bagaimana  melakukan pertemanan/relasi yang sehat sehingga hubungan ini dipersiapkan ke pernikahan yang membawa berkat dan menyenangkan hati Tuhan? Karena seharusnya pacaran itu tak hanya nonton, makan, nonton makan, nonton makan, atau berpelukan, bergandengan.

              Waktu terjadi satu keintiman, terutama hubungan seks, ada satu hormon dalam tubuh kita yang disebut oksitosin yang berefek seperti superglue/ perekat. Waktu melakukan sesuatu hubungan yang cukup dekat/intim dengan pasangan kita, tubuh wanita mengeluarkan hormon ini, yang menjadi perekat yang sangat kuat. Sehingga bila terjadi apa-apa, kerusakan yang diakibatkan akan sangat buruk. Mis: triplek yang direkatkan dengan aica aibon ada triplek lain. Bila hendak dibuka perekatnya pasti akan menimbulkan kerusakan pada salah satu (atau kedua) triplek itu..

              Dari pengalaman, saya sendiri tak pernah berpikir ketika di SMA, tak pernah menyangka kalau banyak kesalahan yang saya buat membuat saya terluka, hati menjadi baal, sehingga sebagai akibatnya, mungkin kita tidak dapat merasakan/ bonding yang sama di hubungan berikutnya. Akibatnya dalam hubungan berikutnya orang tak merasakan seperti yang pertama.  Ini harus diperhatikan: waktu memulai hubungan kita menaruh hati pada posisi itu, posisi siap terluka, hati yang hancur, tak berasa lagi ke depannya. Hal ini menjadi masalah bila ternyata kita tidak menikah dengan partner tersebut, dan akhirnya suami/istri kita yang menanggung karung-karung masa lalu. Kalaupun kita menikah, apakah benar dia cowok/cewek yang cocok untuk kita, atau hanya karena premature compromise seperti yang kita bahas di depan tadi?

              Pertanyaan yang harus didiskusikan waktu ketemu:

              -      apa sih tujuan hidupmu,

              -      hidup seperti apa yang kau mau, hidup seperti apa yang kau bayangkan,

              -      keluarga seperti apa yang kau bayangkan ingin kau bentuk dengan aku,

              -      mampukan membawa calon suami atau istri untuk menuju tujuan itu?

              -       mampukah saling membantu, bekerjasama untuk saling membawa dan menjadi the best of each other, menjadi pasangan yang saling support sehingga setiap pribadi bisa menampilkan potensi terbaik dari dirinya masing-masing.

              Saya pribadi waktu pacaran selama 10 tahun, saya sendiri tak memperhatikan hal-hal ini. Boro-boro memperhatikan, kepikiran pun tidak tapi kemudian saya melihat setelah 9 tahun dan kemudian bertunangan, saya mulai memikirkan hal ini dan parahnya ternyata tak ada satupun yang saya rasa bisa cocok di antara kami.Tetapi kenapa ini bisa bertahan 10 tahun? Jawabannya karena saya pribadi tidak tahu apa yang saya mau. Saya tidak tahu apa yang saya suka, suami seperti apa yang saya mau, saya tidak tahu bagaimana saya ingin diperlakukan, keluarga seperti apa yang saya mau, semuanya saya tidak tahu. Saya tidak mengenal diri saya. Sehingga saat itu 10 tahun bisa berjalan karena saya mengkompromi apapun yang dilakukan oleh mantan saya, karena saya berpikir, itu juga yang saya mau. Ternyata tidak! Sehingga saat ini, bahkan tidak pernah ada kata terlambat, eksplorelah dirimu, cari apa yang kau mau dan diskusikan itu dengan pasanganmu.

              -      Gimana caranya kau handle pacar kalau lagi PMS (pre menstrual syndrome)  katanya cewek jadi moody, bête. Para cowok, apakah kalian mengerti bagaimana menyikapi hal ini?

              -       Bagaimana menghandle finance bersama-sama?

              -      Buat para cowok apakah sudah memikirkan dan tahu bagaimana caranya membawa istri dan anak menjadi keluarga kudus dihadapan Tuhan? Karena ini adalah tugasmu menjadi imam dalam keluarga.

              -      Buat cewek apakah engkau taat dengan keputusan yang dibuat oleh calon suamimu? Apakah engkau cukup percaya pada pasanganmu untuk membuatkan keputusan untuk hidupmu dan anak-anak kalian di depan sana?

              Hal-hal in perlu dipikirkan karena dalam kehidupan akan banyak hal yang muncul. Bila ini tidak dibicarakan sejak awal kejutan-kejutan akan makin banyak kita temui. Masa pacaran adalah masa pengenalan dan menimbang bersama apakah hubungan ini bisa dilanjutkan terus dalam pernikahan?  Keputusan menikah adalah keputusan yang dibicarakan bersama melalui proses bukan she’s the one, he’s the one lalu yuk menikah.

              Banyak hal yang perlu dibicarakan bersama dan kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikenali. Bayangkan kondisi yang paling anda tidak sukai dari pasangan anda hari ini, dari kebiasaan kecil sampai yang besar, atau bahkan prinsip. Lalu bayangkan dalam pernikahan kebiasaan itu tidak berubah seperti yang anda mau, tapi makin parah 10x lipat misalnya. Apakah dengan hal seperti itu engkau mau terus mencintai pasangan?

              Di awal acara ini kita melihat semua pyramid relationship.

              Dulu tidak ada mobil, sehingga yang namanya cowok kalau datang ke rumah cewek, tak ada tempat lain, duduk di situ, pacaran ditonton/ berkumpul bersama mama, papa, adik, dan keluarga pihak wanita. Sehingga dari awal sang cowok sudah berpikir dalam konteks serius dengan wanita yang dikunjungi dan dipacarinya ini.Tapi saat ini waktu mobil diciptakan, konteks pacaran sudah beralih dari yang serius menjadi sebuah rekreasi. Bahkan ada pasangan yang sudah 4 tahun pacaran, orang tua sang cewek tidak pernah melihat muka pacar anaknya, karena tiap kali menjemput ke rumah, sang cowok tinggal mengklakson dan kemudian menbawa sang pacar keluar rumah, bahkan tanpa meminta ijin pada orang tua perempuan. Hal-hal ini membuat nilai dari pacaran menjadi turun dan tidak dianggap serius. Saat degradasi nilai ini terjadi, hal yang dilakukan dalam pacaran pun makin lama menjadi makin tidak serius dan tidak berkualitas.

              Dalam pyramid yang benar terlihat bahwa tingkat dasar yang pertama harus dilakukan adalah friendship. Waktu saya SMA, mama saya selalu menasehati saya untuk tidak berpacaran dahulu, bertemanlah sebanyak mungkin. Saat itu saya menganggap ibu saya adalah ibu yang paling kolot se dunia. Berteman terus sampai kapan? Kayaknya dari saya kecil sampai hari itu (di saat saya SMA) saya sudah berteman.

              Saat itu saya memandang enteng arti berteman. Tetapi setelah  setelah makin dewasa, keluar dari satu ke alahan ke kesalahan berikutnya saya sadar bahwa mama saya benar dan pyramid ini benar!

              Awalnya dimulai dari persahabatan, kita tertarik dan kenal kebiasaan dalam berteman. Misalnya:  ini cowok kalau makan kakinya diangkat, kalau makan bakmi disedot sampai minyak beterbangan ke mana-mana, kalau bicara suka menyumpah. Atau: ini cewek kalau makan belepotan, buang ingus sembarangan. Kita mulai melihat dan mulai kenal sahabat kita kalau berbicara soal bola langsung bersemangat atau bicara soal belanja langsung berbinar matanya. Ini semua kita ketahui waktu kita bersahabat. Dengan bersahabat, sang cowok bisa beramai-ramai main ke rumahnya dan kenalan dengan orang tua serta kakak/adiknya. Melihat apakah engkau bisa cocok dengan keluarga ini, dsbnya.

              Saya dan suami bersahabat 8 tahun, waktu kami kenalan dia masih dengan mantannya, saya masih dengan mantan saya. Kami bersahabat bersama-sama. Dia sering main ke rumah saya dan kenal dengan orang tua saya karena sering memakai rumah saya untuk doa bersama. Saya pun karena bersahabat suka menelpon dia ke rumahnya dan kebetulan yang angkat mamanya, kadang suka ngobrol sedikit, tanpa pernah tahu bertahun-tahun kemudian, dia akan jadi mama mertua saya. Setelah persahabatan dan melihat hubungan ini visible di tahab bersahabat, barulah masuk ke dalam pdkt lebih, ekslusive relationship, pertunangan dan pernikahan, baru sexual intimacy.

              Jika pernah menonton film Back-up Plan, terbolakbalik, pertama kali hamil duluan karena inseminasi, karena JLo tak percaya cinta dan lelaki yang cocok, tapi setelah inseminasi ketemulah dia dengan lelaki yang dia suka, sehingga semua akhirnya jadi kacau balau.

              Waktu posisi piramid terbalik atau dibolak balik, landasan menjadi tipis dan runcing sehingga mudah hancur karena landasannya tidak kuat.

              Waktu membuat seks menjadi dasar suatu hubungan akan banyak prematur compromise yang dibuat, akan banyak kesalahan yang mengikuti,  banyak luka penderitaan yang berkepanjangan waktu masuk ke pernikahan banyak hal yang harusnya dibicarakan supaya tidak ada penyesalan yang terjadi di depan sana.

              Ada studi yang mengatakan hormon yang membuat perasan menjadi berbunga-bunga itu hanya bertahan 3 bulan. Saat perasaan berbunga-bunga/ fall in love berakhir, cinta menjadi sebuah keputusan yang dibuat hari demi hari. Inilah yang disebut sebuah adventure bersama, terutama dalam pacaran. Mario Bros tidak hanya menyelamatkan sang puteri, tetapi berjuang bersama sesuai dengan panggilannya sebagai lelaki dan perempuan untuk mengerjakan suatu hubungan yang benar terutama di hadapan Tuhan, sehingga saat masuk ke dalam pernikahan, pernikahan itu mempunyai dasar yang kuat dan membawa berkat, dan terutama menyenangkan hati Tuhan.

              TALK SHOW

              [Moderator] Kevin

              Teman-teman siapkan pertanyaan tentang pacaran. Sebelumnya saya undang hot couple of the month: Ryan dan Vera.  Oke teman-teman, ada yang mau tanya tentang pacaran atau relationship?

              [Peserta] ….

              Pacaran beda agama boleh nggak sih? Tapi kita bisa menghargai agama masing-masing.

              [Pembicara] Lia

              Bayangkan bagaimana kita dari kecil kita dididik dengan cara yang berbeda. Ada banyak prinsip yang berbeda. Kalau mau bicara soal larangan, tidak ada yang bisa melarang, keputusan ada di tanganmu. Tapi ada banyak hal yang harus dipikirkan dalam pernikahan yang berbeda agama. Adik saya sendiri menikah dengan seorang muslim. Sebelum pernikahannya saya membombardir dia dengan banyak pertanyaan dan meminta dia banyak berpikir, dan yang saya tahu dalam pernikahan Katholik dan luar Katolik/ nikah campur, pihak yang bukan Katolik diminta menanda-tangani persetujuan bahwa anak-anak dari pernikahan itu harus dididik secara Katholik. Jika pihak yang berbeda agama tidak mau menandatangani, maka Gereja tidak dapat meluluskan permintaan mereka menikah secara Katholik. Gereja menjunjung tinggi nilai pernikahan Katholik tetapi Gereja tidak dapat melarang bilang ada pasangan campur yang ingin menikah secara Katolik. Jadi tidak ada larangan, tetapi dalam pernikahan akan banyak perbedaan nilai yang harus dijalani bersama. Ini harus dipertimbangkan sebelum pernikahan. Jangan berpikir bahwa jika hari ini ada perbedaan, suatu hari itu akan berlalu begitu saja. Saat pacaran akan mudah rasanya membayangkan menghargai perbedaan prinsip, tapi setelah menikah, apalagi setelah anak-anak lahir, dengan banyak factor yang mempengaruhi apakah benar kalian bisa menjalani ini, dan pihak yang Katolik benar-benar bisa menjalani janjinya untuk mendidik anak-anak secara Katolik?

              Sekali lagi  tidak ada larangan,  tapi ada salib yang harus dipikul. Kalau ada perbedaan agama bawalah dalam doa, mintalah pada Tuhan menjagai setiap keputuskanmu, terutama supaya engkau tetap setia kepada Tuhan dan bersedia menaati perintahNya.

              [Moderator] Kevin

              Cukup komprehensif. Apakah sudah cukup menjawab? Untuk teman-teman yang lain, apakah masih ada pertanyaan? Apakah ada pertanyaan untuk hot couple ini? Oke. Tadi kita sudah banyak bicara soal dream, relasi dan fisik. Saya mau tanya nih, kalau lagi pacaran, kalau lagi makan, harusnya siapa sih yang bayar? Saya punya pertanyaan, kalau pacaran mestinya siapa yang bayarin?

              [Pembicara] Lia

              Saya bisa bilang itu kembali ke pribadi masing-masing tapi saya mau memberi pandangan begini. Saya pribadi tidak suka dibayarin karena saya merasa bisa kok bayar sendiri, saya berpenghasilan, atau saya dapat uang saku, atau saya ngga mau dibilang perempuan matre. Tapi dalam pacaran, kita harus memberikan peran itu kepada cowok karena nantinya seorang cowok harus belajar untuk bertanggung jawab menghidupi keluarganya. Jadi yang terpenting bukan siapa yang bayar tetapi memberikan peran pada cowok untuk membuktikan dirinya kalau dia mampu bertanggung jawab atas keputusannya. Dia memutuskan untuk berani pacaran, artinya dia merasa mampu untuk belajar berbagi hidup dengan seseorang. Bukan hanya uang, tapi waktu, prioritas, perhatian, dll. Tapi yanh cewek juga jangan jadi cewek matre mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sebagai perempuan dalam konteks pacaran yang benar, artinya juga calon istri, si perempuan juga harus tahu, si cowok ini gajinya seberapa dan mulai menyesuaikan diri dengan gajinya dia. Kalau pun misalnya gaji cewek 2 kali lipat dari gaji cowok, si cewek harus mau menghormati dan belajar bergaul sesuai dengan kemampuan si cowok.

              Memang dalam pacaran ngga harus ‘pleg-pleg’ musti ngikutin gaji si lelaki, tapi paling tidak si perempuan tahu hidup seperti apa yang akan dia jalani bila ia menikah dengan cowok ini nantinya.

              Mis: dia berasal dari keluarga kaya, mungkin keluarga nya bisa menghidupi dia 7 turunan, dia pacaran dengan cowok yang latar belakangnya berbeda. Apakah sang perempuan mau menjalani perbedaan ini?

              Waktu pacaran, masalah financial seperti ini dianggap angin lalu. Tapi dalam pernikahan hal ini banyak menjadi cikal bakal terjadinya perceraian.

              [Moderator] Kevin

              Jadi kalau saya tidak salah menangkap, cewek harus mau benar-benar mengerti  cowok.

              [Pembicara] Lia

              Buat cewek ini juga jadi suatu point check list pada diri sendiri. Misalnya kalau ceweknya dari keluarga berkecukupan berpacaran dengan cowok dari keluarga yang biasa-biasa aja, lalu tiap pacaran complain terus. Lebih baik nggak usah aja.  Kita harus peka terhadap point check list kita dan peka terhadap itu. Sekali lagi masalah ekonomi bisa jadi masalah yang cukup pelik.

              [Moderator] Kevin

              Oke. Sekarang, supaya lebih real, kita tanya langsung pada the hot couple of the month, Ryan dan Vera. Pada saat PDKT, yang ngajak makan duluan siapa?

              [DI] Ryan

              Pada saat PDKT yang ngajak makan duluan siapa? Pada saat PDKT, saya sedang jadi seorang yang workhaholic. Selama masa PDKT itu kami ketemu di telpon dari jam 1 sampai jam 4 pagi. Sesudah itu saya kadang mengajak dia makan, tetapi lebih sering dia karena dia tahu gue kadang-kadang suka lupa makan.

              [Moderator] Kevin

              Oke. Itu pada masa PDKT kan? Nah tapi yang paling duluan ngajak makan siapa? Salah satu aja.

              [DI] Ryan

              Bingung juga. Ya gantian, kadang gue kadang dia.

              [DI] Vera

              Gantian. Biasanya abis nonton trus makan.

              [Moderator] Kevin

              Oke. Soal uang kadang jadi sensitive dalam suatu hubungan. Padahal tidak mesti seseorang itu pas ada uang banyak terus. Jadi penting untuk sedini mungkin bersikap apa adanya. Pertanyaan berikutnya?

              [Peserta] Yosep

              Ada yang bilang kata hati itu suara Tuhan, seringlah mendengar suara hatimu. Tapi bagaimana jika kata hati kita salah? Apakah kata hati itu bisa dipertanggungjawabkan? Karena kalau kita dengar kata orang, kita jalan, kita bisa salahkan orang. Tapi kalau kita ikuti kata hati kita untuk jalan sama orang, tepi ternyata salah, apakah kata hati kita itu bisa dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawaban? Karena kalau kata hati kita itu salah, kita bisa terpuruk dalam rasa sedih. Dan bagaimana kita menyikapi keterpurukan itu atas kesalahan dari kata hati kita sendiri?

              [Moderator] Kevin

              Oke. Saya sudah menangkap. Jadi kalau kita mengikuti kata hati dan ternyata salah bagaimana kita menyikapi kata hati dan keterpurukan itu? Tetapi ini dalam konteks relationship, betul?

              [Peserta] Yosep

              Bisa juga dalam berhubungan kita mencari kelemahan dia. Thank you, Kevin.

              [Pembicara] Lia

              Tadi saya bilang bahwa saya banyak membuat keputusan yang salah karena kata hati saya. Contohnya dengan mantan saya dulu, kami sama-sama pelayanan, aktif di Mudika, dia orang baik, keluarganya juga keluarga baik-baik, sama-sama Katholik, apa yang kurang dari itu? Di awal hubungan saya, kata hati saya seperti meluluskan semuanya. Ini hubungan yang sempurna! Tapi kemudian saya juga tahu kami mengalami banyak perbedaan ini tidak bisa diteruskan. Dalam mendengar kata hati kita, bisa dari Tuhan, tapi kita harus berproses untuk benar-benar tahu apakah kata hati itu benar dari Tuhan atau tidak. Sehingga saya setuju dengan kamu perlu ada proses yang panjang, untuk akhirnya menyadari bahwa kita salah. Siapa yang tahu sesuatu itu datang dari Tuhan untuk kita, kalau bukan kita sendiri? Kalau memang harus terjatuh dan terpuruk ya sudah. Saya sendiri waktu terpuruk, kalau mau jujur lukanya masih ada sampai hari ini. Maka saya bilang, jangan terburu-buru memutuskan sesuatu bila sedang dalam kondisi emotional karena bisa merancukan semuanya. Kadang kita membuat keputusan berdasarkan rasa.

              Kalau sampai kita melakukan kesalahan, saya percaya bahwa lewat proses ada cinta kasih dan  rahmat Tuhan yang akan membantu kita bangkit dan melangkah lagi. Apakah langkah berikutnya itu dari Tuhan? Ya belum tentu juga. Tapi percayalah, bila kita menggantungkan hidup kita pada Tuhan, Dia akan memberikan rahmat kekuatan untuk melalui semua hal dalam hidup kita. Termasuk membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup kita.

              [Moderator] Kevin

              Ngomong-ngomong soal kata hati. Love at the first sight. Kalian percaya nggak pada cinta pada pandangan pertama. Atau tanya pada Vera dulu, kalian jatuh cinta pada pandangan pertama atau jatuh cinta karena sudah tidak ada lainnya? [Peserta tertawa.] Maksud saya kalian jadian karena proses atau sebelumnya udah tahu bahwa saling suka satu sama lain?

              [ID] Vera

              Mmmmmm… Aku mungkin percaya cinta pada pandangan pertama. Pertama kali ketemu dan lihat Ryan di acara Springtime, aku suka. [Peserta berseloroh.] Nggak tahu kenapa ya padahal baru pertama kali ketemu. Awalnya memang kami berteman karena tidak ada tujuan pacaran dan sebagainya. Setelah kita ngobrol, cerita masalah dan masa lalu satu sama lain, akhirnya kita jalan.

              [ID] Ryan

              Kalau dibilang cinta pada pandangan pertama, ya mungkin lebih tepat kalau dibilang suka pada pandangan pertama, karena kalau cinta itu levelnya di atas suka.

              Aku mau share, tadi ada peserta yang menyebutkan soal kata hati. Kata hati dan emosional itu beda tipis. Aku pernah pacaran sama cewek yang  setelah 3 bulan pacaran, aku tahu dari teman kampusnya dia, ternyata dia sudah punya cowok. Tapi karena kata hati gue bilang cewek itu sangat mencintai gue, jadinya hubungan itu aku pertahankan. Dan begitu aku tinggalin dia menangis dan terus-terusan telpon gue, dan ini yang membuat emosi aku seperti dicubit-cubit. Sekarang aku udah bisa bedain mana cinta dan emosi. Karena masa pendekatan aku ke cewek itu cuma dua minggu terus kita pacaran.

              [Moderator] Kevin

              Apakah ada tanggapan dari peserta setelah mendengar sharing dari Vera atau Ryan?

              [Peserta] …

              Kalau kita pernah salah, slanjutnya gimana?

              [Pembicara] Lia

              Kalau sudah terjadi ya sudahlah, mau apa lagi? Kita ngga bisa melihat ke depan kalau kita terus menengok ke belakang. Tapi yang pasti kita musti sadar kesalahan kita dan belajar (dalam konteks positive, bukan jadi trauma/kepahitan) untuk melangkah ke depan. Hidup lebih dekat dengan Tuhan.

              Banyak hal memang membuat saya merasa takut untuk melangkah. Padahal tahu kalau salah. Mis: takut nanti nggak ada yang mau sama aku lagi dan sebagainya. Merasa takut karena sudah terlalu banyak kompromi yang aku buat. Tapi kalau sudah sadar akan kesalahan yang dibuat, bangkit dan ambil keputusan. Jangan pernah takut soal umur atau pressure sosial. Pressure ini memang banyak timbul di Negara Timur. Orang tua akan tanya, “Kok belum punya cewek/ cowok? Kapan menikah? Kapan nyusul? Kok belum punya anak?” Kalau pun kita sudah terlanjur membuat banyak kompromi dalam hubungan, jangan takut untuk pergi dan mengambil keputusan. Kenali dirimu, kenali apa yang kamu mau. Kenali benar-benar apa yang menjadi tujuan hidupmu. Kalau pernah salah, minta ampun pada Tuhan lalu berdiri dan berjalan lagi. Jujur pada diri sendiri itu lebih susah, karena engkau berhadapan dengan ketakutan, luka-lukamu dan trauma-traumamu. Jujur pada orang lain lebih mudah karena kita menutupi perasaan kita.

              Percayalah pada pengampuna Tuhan, kalau ia memberikan kesempatan kedua, ketiga, keempat kepada kita, bertobatlah dan jangan berbuat dosa lagi. Tentu saja tidak mudah. Tapi saya mau bersaksi atas hidup saya yang banyak jatuh bangun, Dia Tuhan yang saya percayai tidak pernah gagal mengangkat hidup saya. Tuhan yang sama akan selalu ada bersama teman-teman sekalian.

              [Moderator] Kevin

              Sudah menjawab? Tadi ada lagi di sana.

              [Peserta] Berna

              Terima kasih atas kesempatannya. Saya pernah mendengar teori tentang mendapatkan jodoh yang sepadan, misalnya kalau kita mau mendapatkan jodoh yang takut pada Tuhan, kita juga perlu menjadikan diri kita seperti itu.  Mungkin Kak Lia bisa sharing setelah Kak Lia mungkin pernah mengalami kejatuhan di masa muda, bagaimana cara-cara kita mempersiapkan diri untuk mendapatkan jodoh yang sepadan.

              [Pembicara] Lia

              Setelah 10 tahun pacaran dan putus, saya pacaran dan putus beberapa kali. Keadaan ini membuat saya terluka. Untuk mendapatkan jodoh yang sepadan, satu hal yang penting: jangan menurunkan standarmu! Karena terluka, saya tergoda untuk menurunkan standar, yang tadinya saya menginginkan suami yang Katholik dan mencintai Tuhan lebih dari segala sesuatu, pelayanan bersama, kemudian ada kompromi Katholik saja sudah bagus tidak pelayanan juga nggak apa-apa deh.

              Tapi waktu saya jujur, Saya tidak happy dengan ini keputusan ini. Saya ambil waktu sendiri, saya memutuskan untuk tidak pacaran selama beberapa tahun. Lalu yang saya lakukan adalah memperbaiki kualitas diri saya dulu, saya berusaha berdamai dengan diri saya, luka-luka dan trauma saya, mendekatkan diri lebih lagi kepada Tuhan, berkarier, doing things I like, pokoknya explore my life. Saya menyadari kelemahan-kelemahan saya mis: saya ini seorang perempuan yang nggak bisa kalau saya nggak pacaran/ bergantung pada lelaki. Saya merasa jelek, nggak laku-laku, itu yang membuat saya hanya merasa aman bila ada lelaki yang mau sama saya, karena itu menutupi ketakutan saya. Kalau kita ingin mendapatkan suami yang setinggi standard kita, kita juga harus improve diri.

              Kalau kita ingin mendapatkan jodoh yang sepadan, kita terus meningkatkan diri kita, belajar terus, mendekatkan diri dan setia dengan Tuhan dari waktu ke waktu.

              Setelah menunggu sekian lama, Puji Tuhan saya jadian dengan seseorang yang sudah 8 tahun menjadi sahabat saya. Kami mempraktekan tingkat-tingkat dalam pyramid itu bersama-sama. Dia selalu ada di samping saya selama itu. Dia ada saat saya putus dari mantan saya yang 10 tahun. Dia ada di saat saya dekat dengan pacar saya yang kedua, ketiga, keempat. Dia ada waktu saya mengalami jatuh bangun, dan ternyata akhirnya saya menikah dengan dia. [Moderator meminta suami Lia berdiri] Puji Tuhan, berkat dia sebagai sahabat yang selalu menguatkan saya pada saat kami bersahabat, saya tidak menurunkan standar saya. D

              Kalau ngomong caranya percaya (bahwa akan ada jodoh yang sepadan) saya juga nggak tahu bagaimana caranya percaya. Saya hanya menjalani dari waktu ke waktu. Saya sempat menangis terus setiap hari, “Kawin nggak ya gue?.” Ada masanya begitu, ada masanya juga gue bilang dalam hati, “Ga usah kawin juga gue bisa.” Tetapi teruslah setia dan percaya pada Allah yang selalu rindu melihat anak-anakNya berbahagia, Ia Allah yang selalu menggenapi janji-janjiNya.

              Buat teman-teman cewek, jangan takut, jangan pernah menurunkan standarmu. Percaya pada kasih dan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupmu. Akan datang seorang yang tepat buatmu!

              [Moderator] Kevin

              Terima kasih, Lia. Terima kasih atas sharing-nya. Kita udah ngomong soal pacaran, pacaran yang bener itu gimana, sampai soal bayar-bayaran. Sekarang kita mau mundur dikit nih. Ngomongin friendship. Misalnya yang ada di ruangan ini, baru ketemu. Gimana kita bisa mengenal seseorang lebih baik kalau kita nggak kenalan. Ryan & Vera gimana caranya kenalan? [Ryan share tapi tidak terdengar.] Ada teman gue yang banyak ketemu teman baru tapi malu untuk kenalan. Padahal untuk mengenal orang itu sangat penting. Bagaimana mengenal orang kalau dijadiin teman aja nggak. Ada cowok-cowok yang ngajakin kenalan aja nggak berani, tapi ada juga yang sebaliknya paling berani ngajak kenalan. Oke nggak kalau cewek yang ngajak kenalan duluan?

              [ID] Ryan

              Kalau gue lebih setuju kalau cowok ngajak kenalan duluan. Di mana-mana kalau cowok itu kalau apa-apa mesti duluan.

              [Pembicara] Lia

              Kita punya bagian yang berbeda. Dalam pergaulan, bukan pantangan untuk berkenalan. Nggak apa-apa sih kalau cewek ngajak kenalan duluan dan berteman sebanyak-banyaknya. Kalau untuk tahap selanjutnya saya lebih setuju kalau cowok yang maju lebih dulu.  Terutama buat yang masih single, bertemanlah sebanyak-banyaknya dan bukalah hatimu lebar-lebar.

              [Moderator] Kevin

              Bagaimana kalau cewek kasih tanda duluan?

              [Pembicara] Lia

              Aku kurang setuju kalau cewek kasih nomor hape duluan. Jadi cewek juga harus belajar menghargai dirinya sendiri. Kalau kita (cewek) jadi teman yang menyenangkan, cowok akan tertarik dan senang. Kalau kita bisa bawa diri, bisa jadi sparing partner yang enak untuk ngobrol, cowok akan tertarik. Jadilah perempuan-perempuan positif, menyenangkan, yang nggak cuma cemberut, mengkomplain semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tingkatkan kualitas diri dulu, lalu percayalah cowok-cowok yang berkualitas akan datang dan memperkenalkan diri lebih dulu.

              [Moderator] Kevin

              Kalau ada acara hang out antara sepasang cowok dan cewek. Seringkali ada bisikan, ‘Jangan ah nanti aku kasih harapan semu’. Atau, ‘Nggak ah dia bukan tipe gue.’ Sebaiknya gimana nih, lihat dulu check list kita tentang kriteria cewek atau cowok yang kita suka atau dikasih coba atau mempercayai early judgement, misalnya ‘Ah nih cewek atau cowok ngopi mulu’. Itu gimana Li?

              [Pembicara] Lia

              Makanya pyramid ini penting. Misalnya mulai dengan friendship, jangan pergi langsung berdua, pergilah rame-rame dulu. Rame-ramenya nggak perlu sekampung ya, berempat atau berlima. Pada waktu jalan rame-rame itu kita bisa melihat, ‘Bisa nggak ya gue jalan sama dia?’ Ini jadi penting. Lalu misalnya pada saat bersama teman-teman main ke rumahnya, kenal keluarganya, kita juga menilai, ‘Bisa nggak ya gue masuk ke keluarganya dia?’ Kalau semua itu sudah dilalui dengan cukup baik, baru pergilah berdua, syukur-syukur kalau jadian. Ini adalah suatu proses pengenalan. Jadi kita perlu mengetahui dengan frekuensi pyramide yang sama, ‘Ini sampai di mana sekarang?’

              Maka acara seperti ini bagus untuk saling berkenalan. Puji Tuhan kalau dengan acara ini kita ada yang jadian, karena kita sedang sama-sama belajar dengan frekuensi pyramide yang sama.

              [Moderator] Kevin

              Kata penutup untuk Talk Show ini. Ryan ada saran nggak untuk cowok-cowok dalam soal berkenalan dan sebagainya?

              [ID] Ryan

              Buat para cowok, bener, untuk PDKT sama cewek, awali hubungan dengan friendship dulu. Setelah ngobrol dan lain-lain baru jadian. Buat gue, kalau pacaran itu berantem terus-terusan itu baiknya diputusin, bubar. Karena masa pacaran itu waktunya untuk saling mengenal dan menerima kekurangan satu sama lain, sebagai pasangan. Daripada nanti udah nikah berantem terus-terusan akhirnya cerai.

              [Moderator] Kevin

              Oke, saran dari Ryan, kalau kita pacaran tapi berantem terus-terusan mendingan bubar. Kalau dari Vera bagaimana?

              [ID] Vera

              Tadi juga sudah dikatakan sama Kak Lia, cewek jangan takut sama umur. Cewek itu kalau sudah mendekati umur 30 itu panik.  Jadi asal milih kekasih padahal di hati nggak sreg. Umur gue 35 tahun, gue pacaran sama dia 3 tahun lebih, memang kita nggak langsung memutuskan untuk menikah. Mendingan aku lama-lama pacaran sama dia untuk lebih saling mengenal atau putus, daripada pada saat nanti aku menikah, aku berada di neraka dunia. [Aplaus dari peserta.]

              [Moderator] Kevin

              Oke yang gue tangkap dari Vera, biar nikah ditunda daripada hidup neraka di bumi. Untuk Lia, Ryan dan Vera, terima kasih, berikan sekali lagi aplausnya.

               

              Take Me Out Talkshow

               

              Take Me Out Talk part 2

               

              Take Me Out Talk part 1

               

              Take Me Out Overview

               

              Marriage

              by: Francisca Monica

              Kasus perceraian selebriti selalu menjadi topik utama setiap infotainment. Kasus-kasus selebriti saja sudah banyak, berapa banyak lagi yang tidak diketahui publik? Kekerasan rumah tangga selalu ada, kata-kata selingkuh sudah menjadi vocabulary sehari-hari anak-anak SD. Dunia ini sepertinya menanamkan suatu image baru terhadap perkawinan. Marriage menjadi sesuatu yang nampak indah diawal-awal dan menyakitkan setelah itu.

              Should I get married?

              Akibatnya banyak orang bertanya, “Haruskah saya menikah?”  Jawabannya bukanlah boleh atau tidak, atau harus atau tidak. Setiap orang memiliki panggilan hidup masing-masing. Bila Tuhan memanggilnya untuk hidup selibat, maka ia memilih untuk mempersembahkan seluruh hidupnya melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dan melayani umat-Nya di bumi ini. Tetapi selain itu, Tuhan juga memanggil anak-anak-Nya untuk membangun keluarga, melahirkan dan membesarkan anak dan juga melayani Tuhan dalam keluarganya.

              Pilihan untuk tidak menikah hanya boleh dipilih bila seseorang sungguh bertanya pada dirinya sendiri dan bertanya kepada Tuhan jika ia terpanggil untuk hidup selibat. Dan bukan merupakan kesimpulan dari kasus-kasus rumah tangga yang ia alami atau ia dengar. God created a union  between man and women that is known as a marriage. Tuhan tidak pernah merancangkan sesuatu yang buruk bagi anak-anak-Nya.

              Why marriage should be spiritual?

              Pernikahan merupakan sesuatu yang kudus, sakral. Tuhan menciptakan pernikahan antara pria dan wanita di bumi ini dengan menaruh suatu makna besar dibaliknya. Yohanes Paulus 2 mengatakan bahwa dalam pernikahan, Tuhan menyampaikan misteri ke-Ilahi-an-Nya. Pernikahan menjadi sesuatu yang spiritual, bukan sekedar persatuan dua insan semata.

              Pernikahan pria dan wanita menjadi analogi pernikahan Tuhan dengan Gereja-Nya, mempelai wanita. Diantaranya terdapat kegiatan saling mencintai. Pria mencintai wanita dan wanita mencintai pria. Cinta yang seperti apa? Yaitu seperti yang dikatakan Efesus 5:25, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”  Dengan kata lain seperti cinta yang diberikan disepanjang Kalvari.

              Maka, pernikahan yang otentik haruslah dimulai dengan menyadari panggilan setiap manusia, yaitu untuk mencintai. Tubuh kita diciptakan Tuhan untuk dicintai dan mencintai dengan cinta yang sempurna, yaitu cinta yang total, berbuah, setia dan bebas. Maka pernikahan tidak pernah antara sesama jenis, karena tidak akan pernah berbuah. Maka, hubungan seksual tidak boleh dilakukan sebelum menikah, karena tidak menunjukkan totalitas cinta itu. Maka, pernikahan itu adalah satu, setia untuk selamanya. Dan bukanlah suatu paksaan.

              Dalam pernikahan, pria memilih istrinya dan mencintainya seperti Tuhan mencintai Gereja-Nya, dengan cinta yang penuh pengorbanan, pengampunan dan kesetiaan yang tak terbatas. Pernikahan menjadi tempat bagi pria dan wanita untuk membayangkan dan mengecap cinta agape yang Tuhan berikan bagi umat-Nya. Dan Sakramen Perkawinan menjadi suatu tanda yang membuat cinta Tuhan yang tidak kelihatan itu menjadi kelihatan.

              Marriage : hell or heaven?

              Kembali kepada kenyataan, Sakramen Perkawinan hanya seperti suatu kewajiban semata jika ingin menikah. Tidak sedikit pasangan-pasangan Katolik yang bubar. Pernikahan bagi anak muda hanya nampak seperti neraka karena bukannya cinta tetapi benci yang ada ditengah-tengahnya. Semua ini adalah tanda bahwa ada pergeseran makna pernikahan yang sesungguhnya.  Pergeseran ini terjadi karena banyaknya orang-orang yang lupa untuk saling mencintai sepenuhnya, lupa untuk mengampuni, lupa untuk setia dan lupa membawa keluarganya menjadi keluarga yang kudus dan berkenan bagi Tuhan.

              Pernikahan-pernikahan yang selama ini kita lihat mungkin tidak sesuai harapan kita. Mungkin orang tua kita bercerai? Mungkin ayah atau ibu kita meninggalkan kita begitu saja? Mungkin orang tua saya terus melakukan KDRT di rumah? Semua itu dapat terjadi. Tetapi bila kita terus menyatukan diri dan keluarga kita dengan cinta sejati dari Tuhan, kita akan terus diingatkan dan dipenuhi serta dimampukannya. Dan apa yang terjadi pada orang tua dan generasi diatas kita sekarang biarlah terjadi, tetapi masa depan generasi ini dan bangsa ini berada ditangan kita. Kitalah yang dapat mengubah kembali image-image bahwa pernikahan itu seperti ‘hell’ menjadi pernikahan adalah ‘heaven’.

              Marilah kita mulai bertanya, apakah saya terpanggil untuk menikah? Apakah pandangan saya tentang pernikahan sudah benar? Apakah saya sudah membawa keluarga saya semakin kudus? Dan apakah saya sudah mencintai atau siap untuk mencintai psangan dan keluarga saya seperti dalam Efesus 5:22-33?

              Tagged with:  

              Air Mata Cut Tari

              by: Redi

              Tidak mudah bagi tiap orang untuk mau mengakui kesalahan dan meminta maaf di depan publik. Tapi bukan tidak mungkin. Ada beberapa artis yang sudah membuktikannya. Entah terpaksa dilakukan karena tekanan sosial atau memang dari lubuk hati yang dalam, hanya orang bersangkutan yang tahu. Di dalam masyarakat yang kental dengan budaya Timur, apalagi, ruang privat dan ruang publik sekatnya menjadi tipis, terutama jika seseorang itu terkenal. Organisasi yang bersikap sebagai polisi moral pun tumbuh dan menunjukkan keberpihakan moral meski pelaksanaannya kadang bersikap anarkis.

              Salah satu perumpamaan favorit saya dalam Perjanjian Baru adalah ketika Yesus mengundang orang yang merasa tidak pernah berdosa untuk melempari wanita asusila di masa itu. Siapakah manusia yang tidak pernah berdosa? Bahkan Yesus menunjukkan sisi manusianya dengan marah, menangis, takut…Dalam perumpamaan favorit saya itu, saya sering berada dalam posisi wanita itu. Saya pernah berdosa pada Tuhan, tidak cuma sekali bahkan berkali-kali, terjatuh dan terjatuh lagi.

              Luk 5:32 “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

              Mungkin saya naif untuk mengatakan, semua orang ingin hidup lebih baik, bahasa Jawanya: Urip Luwih Becik. Meski ukuran kedalaman penghayatan akan hidup tidaklah selalu dalam: ada yang ingin lebih kaya, semakin beken, lebih kurusan, dsb-nya. Pada dasarnya ada sesuatu yang ingin diperbaiki. Saya sendiri menyadari untuk dapat hidup lebih baik saya perlu tamparan yang keras. Sakit, tapi membuat saya bangun.

              Mi. 7:18 “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?”

              Tagged with:  
              Page 1 of 212
              © 2010 True Love Celebration