Perjalanan meninggalkan adiksi adalah sebuah perjalanan panjang yang seakan tak berujung. Banyak yang merasa terintimidasi oleh tekanan sosial, himpitan hati maupun reaksi fisik saat adiksi mulai dilepaskan. Banyak juga yang belum menemukan alasan kuat untuk meninggalkan adiksi mereka. Simak perjuangan salah satu hadirin True Love Celebration yang telah menemukan sebuah alasan untuk berani mengambil langkah pertamanya menuju kemurnian sejati.
Pertama banget ikut TLC di bulan Maret, aku tidak begitu bisa enjoy. Namun ada beberapa tulisan dari Paus Johanes Paulus II yang ditampilkan di layar, cukup menolong aku. “Chastity frees us to love” dan “Chastity is the sure way to happiness.” Dua filosofi ini cukup mengagetkan aku dan membuat aku terus mengingat dan merenungkannya selama beberapa hari ke depan. Aku terus bertanya dalam hatiku, kalau Paus berkata begitu, lantas mengapa aku dalam upaya menggapai “kebahagiaan” harus lewat pornography, masturbasi dan free sex life style ? Mengapa bukan lewat kemurnian? Meskipun tulisan Paus JP II pelan-pelan mulai menerangi kegelapan budiku, aku terus tetap saja melanjutkan cara hidupku yang lama karena aku sudahter lanjur cinta dengan sex bebas. Keluar dari sex bebas, pornography dan masturbasi, sepertinya sesuatu yang mustahil bagiku.
Kedua kali ikut TLC di bulan April. Dalam perjalanan sampai masuk ke gedung Indocement, aku masih ogah dan terus bertanya dalam hati, bisa apa sih sebetulnya TLC ini berbuat bagiku ? Aku berharap TLC dapat menolongku yg sudah puluhan tahun terikat pornography, masturbasi dan sex bebas. Bagiku, daya tarik sex itu begitu powerful, sementara aku begitu powerless. Ketika sesi tanya jawab, aku dikasih tahu oleh Sdr. Riko, bahwa apa yang sedang saya lakukan selama ini adalah terus mengisi kekosongan dan kehausan jiwaku dengan pornography, tapi nantinya akan haus dan haus lagi. Riko juga bilang bahwa hanya “cinta Tuhan” lah yg mampu memuaskan hatiku, “oleh sebab itu saat berdoa bukalah hatimu, biarkanlah cinta Tuhan memuaskanmu.”, begitulah nasehat singkat darinya.
Sampai di rumah, aku merubah sikap doaku. Selama ini aku rajin mengikuti Misa Kudus dan rajin berdoa Rosario, namun rupanya aku lupa “membuka hatiku” bagi cinta Tuhan yang mampu memuaskan hati dan jiwaku. Sesudah membuka hatiku kepada cinta Tuhan di dalam doa-doa harianku, aku perlahan merasa dipulihkan dan disembuhkan. Aku merasa hidupku jauh lebih bahagia, jauh lebih damai tanpa butuh pornography, masturbasi dan sex bebas. Inikah mutiara hidup bahagia yang aku cari-cari selama ini? Aku kaget, aku pikir keluar dari keterikatan sex bebas adalah sesuatu yang mustahil seperti yang aku sebutkan di atas. Ternyata keluar dari keterikatan sex bebas itu adalah sesuatu yang mungkin, asalkan di dalam doa mau membuka hati kita akan cinta Tuhan yang mampu memuaskan hati dan jiwa kita.
Pertemuan TLC yang ketiga, aku pergi mengaku dosa karena sudah ada setengah tahun aku tidak menyambut Tubuh Kristus meskipun masih tetap ikut Misa Kudus. Kini aku semakin rajin berdoa Rosario dan ikut Misa Kudus. Perjuanganku tentu saja belum selesai, hidupku yang dahulu begitu sensual masih sangat menggoda untuk come back lagi. Rasa rindu ini cukup mengganggu. Namun aku fight dengan doa-doa-ku. Syukur kepada Tuhan, rahmat Tuhan sangatlah menolong sehingga aku tetap hidup setia dan terus mencintai kemurnian.
Aku tidak tahu apakah tulisan ini membantu orang lain atau tidak.
Yang jelas sekarang aku sungguh percaya bahwa “Chastity is the sure way to happiness.”
Aku sedih mengapa baru sekarang aku tahu bahwa sebenarnya aku tidak butuh sex bebas, masturbasi dan pornography.
Sungguh sebuah kebenaran akan apa yg dikatakan oleh Paus JP II, bahwa hidup murni (kemurnian) bukanlah suatu beban.
Tuhan Yesus memberkati.
Sesuai yang disampaikan ke redaksi True Love Celebration oleh seorang peserta yang memilih untuk menyembunyikan identitasnya. Layangkan dukungan, tanggapan ataupun pertanyaan anda melalui comment box dibawah atau email ke info@truelovecelebration.org untuk selanjutnya kami sampaikan ke penulis.










