This Generation Speaks 9

 

This Generation Speaks 8

 

Naked for Free(dom) Summary

Transcript by Mungky Kusuma
Edited by Riko Ariefano

Tadi di depan, waktu mau masuk ke ruangan ini, di bawah, kita dapat secarik kertas kecil yang ada pertanyaannya. Ada 2 pertanyaan di kertas itu dan tanpa nama. Pertama: Apakah dalam 2 bulan terakhir Anda pernah melihat atau membaca materi pornografi? Yang menjawab ya dalam 2 bulan terakhir melihat atau membaca pornografi ada 46.5%, yang menjawab tidak 53%. Kira-kira separuh dalam ruangan ini 2 bulan terakhir mengkonsumsi materi pornografi.

Kedua apakah kamu merasa terikat pada materi pornografi? Ya 30,5%, Tidak 60,9%, jadi 30% dari kita di ruangan ini mengaku keterikatan pada pornografi.

Saya hari ini bicara tentang pornografi bukan karena saya mau menghakimi orang-orang yang melihat pornografi 2 bulan terakhir, saya bicara karena saya pernah juga mengalami keterikatan pornografi, bertahun-tahun saya terikat dan saya bergumul bagaimana bisa lepas. Saya bergaul dengan pornografi sejak SD. Di SMP saya bersekolah di sekolah cowok semua dan pornografi menjadi kegiatan sehari-hari.  Saat pelajaran ketika ada guru cewek cukup muda, waktu itu SMP kelas tiga, ada 2 anak di sisi kiri dan kanan belakang yang bermasturbasi. Di SMApun ada teman saya yang suka memberikan dasar-dasar praktis  melakukan masturbasi.

Saya dari lingkungan seperti itu, bertahun-tahun saya mengalami kelekatan pornografi, walaupun saya juga pelayanan, berdiri di depan, share tentang Firman Tuhan, dan jadi WL. Tapi sampai di rumah bergumul harus menghadapi kenyataan saya jatuh pada dosa yang sama terus, yaitu saya melakukan masturbasi lagi. Next time saya pimpin acara, merasakan Tuhan baik, tapi saya lalu jatuh lagi dan saya merasa berdosa, tidak layak, It’s a long journey of ups and downs, dan keterikatan itu semakin lama  semakin menggerogoti. Makin lama maikin merasa kotor dan tidak layak, Ini terjadi bukan sehari dua hari tapi bertahun-tahun.

Satu hari saya diminta untuk menerjemahkan seorang pembicara dari Filipina – Bo Sanchez. Dia mulai bercerita. I was a porn addict. Saya lalu terjemahkan – Saya pernah mengalami kecanduan pornografi. Many times I preach to people about God’s love  but when I went home I feel so bad because I did it again. I did it again and again and again. Dalam hati saya pikir ini  orang kenapa ceritain pengalaman hidup gue?. Ini dia tahu atau mau menyindir? Tahun demi tahun demi tahun dia alami ini sampai satu hari  dia sudah tak tahan. Dia datang ke kelompok kecil cel groupnya, dia katakan saya mau melakukan pengakuan saya porn addict, always watch pornography, dan tak tahu bagaimana melepaskannya.

Setelah mendengarkan cerita Bo, semua anggota Cel datang memeluknya sambil berkata: We love you Bo, sin no more (kami mencintaimu jangan melakukan hal itu lagi). Tiap minggu dia datang ke pertemuan cell grupnya dan bercerita hal yang sama, kelompoknya datang memeluknya dan berkata, “we love you brother Bo, sin no more”.  Minggu berikutnya dia datang lagi dan katakan “Oops I did it again”. Dia melakukannya dari minggu ke minggu sampai satu hari dia bilang “I did not do it this week”.  Tapi minggu depannya jatuh lagi, teman-temannya tetap bilang “We love you brother Bo, sin no more”. Dia bilang ada dosa yang kelihatan orang lain, ada juga yang tak kelihatan orang lain. Yang tak kelihatan misalnya pornografi. Buat cowok mungkin browsing gambar-gambar porno, buat cewek mungkin lebih lewat kata-kata seperti, baca novel romance yang penuh dengan cerita pornografi. Dalam bentuknya masing-masing, cowok dan cewek terikat pada pornografi. Nggak cewek nggak cowok, dua-duanya terikat masturbasi. Selama dosa tak dibawa ke dalam terang, maka ia akan terus berakar dalam hidup kita. Kalau mau dilepaskan harus dibawa pada terang, jangan dibawa ke dalam tempat gelap. Harus di-share sambil terus bawa dalam doa.

Selesai acara, saya mulai mikir, saya harus cerita pada orang-orang. Saya mulai rutin ngaku dosa. Dulu saya kerja dan tiap pagi misa di Theresia, setiap selesai misa berusaha ngaku dosa.  Pertama kali ngaku dosa dengan romo Koelman saya bilang “Dosa-dosa saya adalah saya melakukan… sambil berbisik saya katakan “Masturbasi”. Romo Koelman bertanya “Apa?” Saya katakan “Masturbasi”.. “Apa?”  Saya dekatkan lagi mulut saya ke jeruji dan berkata “Masturbasi!”. Romo bilang “Mohon maaf pendengaran saya kurang baik”. Akhirnya saya setengah berteriak “Mmm… MASTURBASI!!”. Awalnya saya malu. Tapi akhirnya dari bulan ke bulan saya mulai terbiasa. Dari yang ngakunya sebulan sekali jadi sebulan 2x karena saya sering masturbasi, kemudian terjadi seminggu sekali sampai akhirnya seminggu 2 sampai 3 kali ngaku dosa.  Akhirnya saya jadi expert dan biasa.

Suatu hari Rm Koelman berkata bahwa pertobatan bukan soal mengingat dosa tapi fokus pada Yesus yang mau mengampuni. Fokusnya adalah Yesus yang mau memnyembuhkan dan membebaskan. Hari itu saya pulang dengan sesuatu yang berubah dalam hati karena selama itu, kehidupan rohani saya ditentukan oleh intensitas dari dosa saya. Selama itu saya merasa hubungan saya dengan Tuhan ditentukan berapa kali saya masturbasi. Kalau lagi jarang saya merasa hubungan saya dengan Tuhan baik, kalau lagi sering saya merasa hubungan saya sedang jelek. Akibatnya fokus saya ada di dosa., Tapi sejak itu saya berusaha tak ingat lagi dosa-dosa saya, dan mulai fokus pada Yesus. Hingga pada satu hari saya berhenti menyebutkan masturbasi di ruang Sakramen Tobat karena Tuhan membebaskan saya.

Teman-teman, ada pembebasan di dalam cinta sejati Tuhan. Kita bisa dibebaskan dari kecanduan pornografi, betapapun mengikat, berakar, dan sudah kecanduan selama puluhan tahun sekalipun. Cinta Tuhan selalu mesanggup membebaskan kita dari keterikatan itu.

Ada cowok-cowok bilang no harm doing masturbation, gue gak nyakitin orang kok. Padahal ada beberapa efek buruk dari pornografi yang kita tak sadari.

Seorang cowok,misalnya punya cewek, pacaran sama dia, kemudian melamar dia dan get married. Kemudian si cewek hamil, punya anak perempuan, dan mereka begitu sayang sama anaknya ini. Anak ini bertumbuh jadi remaja 15 tahun yang cantik dan hepi. One day kamu melihat ada cowok-cowok yang melihat anak perempuan kamu dan berkata “Ada barang bagus nih”. Gimana rasanya cowok yang punya anak perempuan dan melihat ada cowok memandang anak perempuannya seperti sebuah barang bagus? Barang? Gimana rasanya kalau seseorang cowok menggunakan imajinasi tubuh anak perempuanmu untuk memenuhi kepuasan seksnya? Hatimu terluka. Same with God. Allah terluka kalau anak-anak perempuan-Nya dipandang oleh cowok-cowok yang menggunakan tubuhnya sebagai sarana pemuasan seksual belaka. Itu sebabnya Mat 5:28 bilang bahwa ngebayangin cewek dengan nafsu itu sudah berzinah dalam hati.

Banyak cowok yang ngga sadar bahwa pornografi itu emasculate cowok. Emasculate artinya melemahkan kemampuan cowok untuk menjadi seorang cowok sejati. Kenapa? Karena waktu cowok melihat cewek seringkali bukan melihat manusia, tapi a collection of body parts, tangannya mulus, pahanya asyik, punggungnya… mmm.. asyik banget. Dadanya man.. wooo liat
pantatnya… Cowok banyak lihat cewek nggak sebagai manusia tapi a collection of body parts. Dulu orang suka becanda “Muka Madonna kaki Maradona”. Semuanya soal body parts. Ini menyebabkan cowok mulai menilai cewek dari seberapa besar si cewek sanggup membangkitkan nafsu si cowok.  Kalau bisa membangkitkan napsu yang cukup besar, berarti itu cewek keren, kalau nggak, ya berarti itu cewek kurang ok. Cara pandang ini melumpuhkan kemampuan cowok untuk mencintai secara murni. Padahal cowok dipanggil untuk mengasihi cewek (dalam hal ini istrinya) seperti Yesus mengasihi jemaat-Nya, dengan cara menyerahkan nyawa-Nya (bdk Ef 5). Paulus bilang cowok harus seperti Yesus, dan Yesus menunjukkan bahwa to love means to give. Mencintai artinya memberi.

Banyak toko yang menjual alat-alat seks atau majalah diberi judul adult book store. Kalau memang dewasa nggak perlu ada tulisan adult. Atau gentlemen’s club. Kalau bener gentlemen tak perlu ada sign itu. Itu kebohongan.

So pornografi pertama-tama offend Tuhan, kedua, melumpuhkan cowok. Ketiga, merendahkan wanita.

Waktu Pamela Anderson pertama kali bugil di majalah Playboy, dia dijemput pakai limousine, didandani, dibawa ke studio, lalu dia telanjang siap photo session. Tapi begitu dia telanjang semua berhenti karena Pamela nangis sejadi-jadinya selama 2 jam. Selama 2 jam Pamela nggak bisa kendaliin emosinya waktu dia tau dia akan difoto bugil. Setelah nangisnya selesai, make-up-nya di touch up ulang, dan baru difoto. Tapi yang difoto bukan Pamela yang dulu, tapi Pamela yang sudah dirampas harkat dan martabat dirinya sebagai cewek. Jadi jangan bilang bahwa cewek-cewek yang menjadi obyek pornografi itu memang enjoy dijadikan obyek. Cewek-cewek itu sama sekali nggak enjoy. Lihat data di klip tadi tentang korban-korban yang mati di industry pornografi. Industri pornografi membawa pada kematian. Pornografi membeli harkat dan martabat cewek dan lalu menjualnya pada cowok-cowok. Cowok banyak berpikir I become a man when I use a woman’s body for my pleasure.  It’s a total lie! Ini justru melumpuhkan pria dari kemampuannya menjadi pria sejati, dengan merendahkan perempuan.

Waktu melihat gambar porno, biasanya foto itu sudah di touched up berkali-kali. Di Amerika ada majalah porno yang menghabiskan USD 20.000 untuk touched up fee per edisi. Pahanya digedein atau dikecilan, mukanya di ‘upgrade’, dsb. sehingga semua yang ada di majalah itu adalah hasil touched up. Semuanya adalah impossible perfection yang di dunia nyata tak ada.

Ini berkaitan dengan pusat kenikmatan di otak cowok, yang namanya Medial Preoptic Nucleus, yang fungsinya antara lain merekam pleasure.

Teori Pavlov berangkat dari eksperimen memberi makanan pada anjing. Tiap kali bunyi bel anjing diberi makanan sehingga berasosiasi kalau bunyi bel berarti makanan, dan air liur anjing mulai keluar. Satu kali bel dibunyikan tapi tidak ada makanan sementara air liur si anjing sudah luber ke mana-mana. Banyak dari kita seperti itu. Baru mikirin makan rujak asem aja air liur udah mengalir –karena pengalaman ini di rekam di otak kita. Walaupun bunyi bel tak ada makanan, air liur tetap mengalir. Cowok-cowok juga seperti itu. Kenikmatan direkam di pusat pleasure di otaknya. Biasanya cowok-cowok ngeliat gambar porno sekitar 10 detik, lalu ganti gambar lain. Ini terjadi terus menerus, dan bisa jadi selama bertahun-tahun. Akhirnya pusat kenikmatan cowok menjadi terbiasa dengan kepuasan ini.  Hanya 10 detik bosan, dan butuh kepuasan dari gambar lain. Dan bahkan kepuasan ini didapat dengan melihat figur tubuh perempuan sempurna yang sesungguhnya tak ada karena semuanya hasil touched up. Akibatnya ketika menikah, dia bisa segera bosan dengan tubuh istrinya. Selama bertahun-tahun dia melatih otaknya untuk puas dengan impossible perfection dan setiap 10 detik ganti obyek mencari impossible perfection yang lain. Begitu dia punya istri, dengen segera dia butuh tubuh wanita lain untuk memuaskan dirinya. Itu sebabnya cowok yang mengalami adiksi pornografi tingkat perceraian tinggi karena otaknya dibiasakan puas dengan yang perfect padahal impossible, dan cuma 10 detik!

Hari in mungkin kita pikir tak apa-apa, tapi sebenarnya apa-apa, karena efek dari pornografi jauh ke dapan dan mempengaruhi kualitas pernikahanmu nant. Tapi sekali lagi ada jalan menuju kebebasan: Tuhan mau menawarkan kebebasan sejati.

Kebebasan sejati bukan berarti kita bebas melakukan semuanya. Misalnya sebagai WL saya menyanyi dengan nada sesuka hati (Riko menyanyi dengan nada sumbang dan berantakan). My point is kebebasan sejati bukan berarti tak ada batasnya. Di ruangan ini tak ada tulisan dilarang membunuh, kenapa? Karena kita semua tahu bahwa di ruangan ini memang tak ada yang mau membunuh. Artinya semua yang ada di ruangan ini sudah dibebaskan dari godaan atau dorongan untuk membunuh. Kebebasan sejati berarti kita tak memikirkan lagi hal yang buruk, serta mampu untuk menginginkan dan memilih apa yang baik. Kalau misalnya kamu masih ada keinginan untuk melihat gambar porno, dan masih berjuang untuk nggak mau, itu belum mengalami kebebasan sejati. Waktu keinginan-pun sudah tidak ada, baru namanya itulah kebebasan sejati. Dan ini mungkin terjadi di dalam cinta Tuhan.

Tuhan mau kita mengalami kebebasan sejati karena Yesus di kayu salib bukan hanya menebus dosa-dosa di masa lalu. Dia mau menebus seluruh yang ada dalam hidup kita, seluruh keinginan kita sehingga kalau hari ini ada yang mengalami adiksi atau keterikatan, dorongan itu bisa ditebus oleh Yesus supaya kita mengalami pembebasan yang sejati. Prosesnya tak sehari atau dua hari, mungkin bertahun-tahun but there is a promise of freedom when you believe and receive His love.

Orang yang mengalami adiksi sebetulnya menginginkan pengalaman dicintai tapi dia tidak mendapatkannya. Ini terjadi karena dia mungkin mengalami luka, masa lalu dsb., Dengan kompensasi melihat gambar pornografi dan masturbasi, kita pikir akan memenuhi hati kita. Tapi kenyataannya jauh dari itu. Semakin sering kita lakukan semakin kita terikat di dalamnya. Obatnya adalah kalau hati kita dipenuhi oleh cinta Tuhan. Itu sebabnya kecanduan itu harus dibawa pada terang cinta Tuhan. Jalan keluarnya adalah dengan membawa ini kepada terang lewat bercerita tentang pengalaman kecanduan ini. Tetapkan hatimu untuk sungguh-sungguh terbebas, dan datang ke Sakramen Tobat, ceritakan pada Imam. Dengan mengakuinya, kita membawa dosa dari gelap menuju terang.Terang Tuhan akan menyinari bagian-bagian yang gelap, kosong, hampa, dan terluka. Waktu hati orang disinari terus oleh terang dan cinta Tuhan, hatinya perlahan akan penuh, dan orang ini tak lagi menginginkan untuk gunakan tubuh lawan jenis sebagai sarana pemuasan seksual dirinya.

Christopher West, penulis TOB mengatakan orang yang mengetuk pintu kamar seorang pelacur sebenarnya sedang mengetuk pintu surga, mencari Allah tapi salah pintu. Yang dia cari adalah pemenuhan kepuasan hati oleh cinta sejati, tapi ia mencari di tempat yang salah. Waktu kita kita cari pada sarana yang semu, kita tak akan dapat kepenuhan sejati. Tidak ada kepuasan di luar cinta Tuhan. Untuk itu kita harus terima cinta Tuhan sebanyak-banyaknya, semakin menerima semakin meluap oleh cintaNya, dan pada saat itu kita akan sepenuhnya bebas.

Ada harapan bagi kita semua, ada jalan keluar bagi kita semua dalam cinta Tuhan. Waktu kita telanjang tak lagi naked for free untuk dinikmati sebagai obyek pemuas, but naked for freedom untuk mengetahui bahwa Allah adalah pembebas kita.

Transcript by Mungky Kusuma
Edited by Riko Ariefano

 

One Truth. Tens of Millions Ways to See

Written by Felicia

There’s only one truthin anything. One objective truth. Including love.

There are billions of people in this world. At least 20 millions alone lives in Jakarta. Tens of millions subjective ways to see the truth.

There is a lot of hubbub regarding free speech that sometimes we forget that they are all indeed that. Opinions. Opinions that belong to whoever says it and could never replace the objective truth. Simple enough, no?

Things start getting messy when people start forcing their beliefs upon one another. And I’m not even talking about religion. I’m referring the way we often persuade our loved ones to love us the way we want them to. It’s all about the way we often expect people dearest to our hearts behave in such a way that is most acceptable to us. It’s all about the thin line between loving and owning somebody.

In deep relationships, ‘love’ often brings out the best in us and in turn wishing the same to happen to our loved ones as well. And when Riko & Rika  (these cool people who knows what’s going on) affirmed that true love means wanting the best for your loved one, you said ‘AMEN TO THAT! I’m doing that ya’ll!’ wholeheartedly in your heart while nodding furiously. After all, don’t we all tell our boy/girlfriends, husbands/wives what we think is best for them in how they should behave? What they should do and who they should hang out with? What food they should be eating, free advises at disposal whenever they may require. Why else would we do those if not for love?  So we think that we are putting them first as we really do want to see them happy. Obviously they often come with the clauses ranging in hostility from ‘If I were you…’, ‘I’m only saying this because I care…’ to the almost psychotic, ‘I know you better than you know yourself!’. These words seem to both disclaim and disregard the fact that they’re all subjective truths that we shove into each other’s faces. What doesn’t help either is the fact that love (they way the world had commercially accept the meaning of) had been known to cloud most sound judgments into mush in such a short period of time.

For those who’ve had a possessive and super-jealous boyfriend would’ve known what a thin line it is between caring and scaring. “Does Donald like you? … How about Mickey?… What do you think of Goofy? … I don’t think you should hang out with them. Do they like you?” What first was cute can quickly turn into a nightmare when they start going through your personal communication methods daily. (Yes, the whole plethora of e-mails, phone contacts list, Facebook account). And when you confront them, it’s the dopey eyes that seem to whisper ‘I just want the best for you.’ And our heart melts like butter on hot pancakes. Oh and it could happen to you men out there too as this is definitely not a gender-related issue.

Oh and that’s just the beginning. Soon things will escalate into more serious behaviours. Common tricks such as going for the guilt trip, condescending and belittling behavior will start flourishing. There’ll be a clear power struggle between the very two people who are supposed to be in love. Admittedly, they are the spice and flavor on any serious relationship prior and during marriages, some would say. However, left untreated, they could classify as domestic abuse of the emotional kind when someone starts getting wounded. Not the bleeding type where it’s visible, but deep wound inside, fear, rejected, restrained and most of the time, hollowness. When you look in the mirror, and not recognize yourselves is when you know love had departed from its original truth.

When did it all go wrong? All I want is for her to be happy. And I, make her happy. I know I can. I give her everything. She doesn’t need to go outside and meet other people because I provide. Men provide, that’s what we do. Now she sulks and act all distant whenever I talk to her. So I just told her what I’ve given up to provide her they way that I have, and put her right where she belongs. Under my roof.. And I know that’s what’s best for her.

We all have best intentions in our heart. We all do. We all actually could figure out objectively what is the best for our loved ones, and for ourselves for that matter. We all are given the ability to do so.  Everybody though, has baggage. We have our own past hurt and disappointment from our childhood and past relationships that distort the way we see the truth completely. We wear our own eyeglasses with so many muck and dirt on it that it’s hard to see clear. So we enforce they way we see the world to whoever is willing to accept our point of view and in turn forcing them to wear the very same dirty glasses to see the truth.

So how do we get new glasses? Or clean them perhaps?

You can start by wanting to know the objective truth. Let God take away all that dirt from the past and your current sins and addictions, and He’ll soon show you what the real meaning of love is. He gave His only son to clean those dirty glasses (obviously amongst many other miracles that His redemption brought). That’s hardcore love. Only true love can do that. And that’s just the beginning. Better yet. Get rid of your glasses. Empty yourself from your own need and wants and start giving yourself totally to your loved ones. Put their needs on top of yours. Stop making your own rationalization and really understand what it takes and what it means to love. In the realest way.

Millions pairs of eyes and ways to see the truth.

One real truth.  Find the truth.

Curious to find out more?

Watch this space as we’re coming to a place near you!

Tagged with:  

This Generation Speaks 7

 

This Generation Speaks 6

 

This Generation Speaks 5

 

U-Turn

Written by Felicia

Pengalaman berjalan menuju ke arah yang baik dan benar, berbeda-beda bagi setiap orang. Gambarannya kira-kira seperti ini. Bayangkan sebuah jalan panjang yang lurus. Di satu ujung terdapat ‘rumah’ kita, dimana kita lahir dengan segala kepolosan dan ketidak tahuan kita. Di ujung yang lain terdapat sebuah ‘jurang’. Bila kalian lebih mudah membayangkan jurang sebagai sebuah tungku api panas dengan lidah menjilat ataupun pengalaman sejam bersama orang tua calon pacar yang galak, itu adalah hak kalian sepenuhnya. Sekarang bayangkan bahwa jalan panjang itu adalah gambaran perjalanan hidup kita. Untuk setiap kenakalan, dosa dan intensi buruk kita, selangkah kita ambil ke arah ‘jurang’. Dan juga sebaliknya, setiap pilihan dimana kita mengambil keputusan untuk terus mengikuti kehendak Tuhan, kita berjalan ke arah ‘rumah’ dimana kita dilahirkan.

Sudah terbayang?

Beranjak dewasa, sudah dapat dipastikan kita berada di sebuah titik yang terletak di antara kedua ujung jalan tersebut. Pertanyaan yang perlu ditanyakan adalah: ke arah manakah kakimu melangkah? Dapat timbul beberapa jawaban dari sini. Bila dilihat dari pandangan mata burung (burung yang sangat pintar tentunya), akan terlihat beberapa situasi yang cukup representatif. Akan ada si Adi yang berjalan lurus kearah rumahnya tanpa menoleh noleh kebelakang lagi, walaupun sesekali langkahnya amat sangat perlahan, entah karena pengaruh eksternal ataupun internal. Akan ada si Budi yang berlari cepat ke arah jurang karena remnya sudah blong. Akan ada si Cantik yang merasa sedang berjalan maju pulang ke rumah, padahal sebenarnya dia berjalan mundur ke arah jurang karena terus disemangati oleh Budi (yang kebetulan juga ganteng dan karismatik). Ada pula si Dinda yang berputar putar di tempatnya seakan bingung kemana harus melangkah, sampai akhirnya dia memilih untuk duduk saja, tidak ke jurang, tidak juga pulang ke rumah.

Kebanyakan dari kita mungkin akan menyerupai kelakuan si Elang. Si Elang ini sungguh menginginkan sampai ke rumah sebelum waktunya habis, tapi keinginan daging yang begitu kuat sering membuatnya melangkah ke arah jurang. Perbedaan antara si Elang dari si Budi-rem-blong adalah Elang masih dapat melihat celah-celah di pembatas jalan untuk berputar balik, yang ada setiap selang beberapa waktu. Bila Budi berlari terlalu cepat sehingga tidak sempat berpikir untuk berlari ke arah sebaliknya, Elang masih melihat rambu-rambu tersebut. Rambu berwarna biru yang bergambar U terbalik dengan panah di ujungnya.

Kembali ke realitas.

Saat kita mengaku dosa dan kembali lagi dan lagi mengakukan dosa yang itu itu saja, rasa putus asa bisa dengan mudah menyelinap. Disusul dengan rasa segan untuk mengaku dosa dengan pikiran, ‘Apalah gunanya… Toh nanti juga akan berbuat lagi dan lagi dan lagi.’ Pada saat rasa itu menyelinap sebenarnya kita baru saja ditawarkan sepasang in-line-skate baru untuk mempercepat laju kita ke arah jurang.

Saat kita berbuat dosa pertama kalinya, entah dalam hidup kita, entah setelah kita memulai hidup baru ataupun setelah kita menerima sakramen tobat, seringkali ada sedikit mules-mules di perut yang mengusik. Seakan mengatakan ‘nggak bener ini’. Buka mata dan ingat baik baik. Itu rambu putar-balik mu yang pertama. Perhatikan baik-baik, karena semakin cepat kita berlari, semakin jarang pula rambu-rambu itu akan terlihat. Sampai suatu saat mata kita hanya akan mampu memandang lurus, seperti saat kita melaju dengan kecepatan sangat kencang di jalan tol. Fokus ke satu tujuan. Tujuan yang secara sadar atau tidak sadar mengarah ke jurang sudah tak diindahkan. Bisa karena kecanduan adrenalin ataupun ketakutan akan perubahan yang terjadi bila mendadak berhenti di tengah jalan dan berputar balik. Apa kata dunia, bukan?

Yang perlu disadari di sini adalah mengetahui bahwa sebenarnya tak ada pembatas antara jalan menuju jurang dan jalan menuju rumah Bapa. Berbeda dengan jalan raya buatan manusia, kita dapat berputar balik kapan saja kita mau dan kembali ke jalan yang benar. Kapan saja kita mau. Semuanya kembali ke pilihan. Kita semua tahu bahwa hidup itu terantaikan oleh serangkaian pilihan satu dan lainnya. Berjalan di jalan yang benar menuntut sejuta pilihan yang bertumpukan setiap waktu. Tanda-tanda putar balik itu akan ada untuk mengingatkan bahwa pilihan untuk berbalik arah itu selalu ada.

Saat pacar mulai menujukkan tanda-tanda ingin memuaskan dan dipuaskan, pilihan itu ada. Saat bos di kantor menginginkan kita untuk menandatangani dokumen illegal yang seharusnya di luar kewenangan kita, pilihan itu ada. Saat kita terserang keinginan luar biasa untuk memuaskan hasrat dan nafsu kita, pilihan itu ada… (memuaskan hasrat dan nafsu makan bakmi sehari tiga kali selama seminggu penuh maksudnya. Hei, mikir apa kalian? ) Saat untuk kelima kalinya di hari itu kita diberi kesempatan untuk berkata sejujur-jujurnya atau berbohong untuk menyelamatkan muka kita, pilihan itu tetap ada. Setelah jarum jam bergeser sebanyak lima angka sejak pertama kali kita membuka situs-situs adiktif yang merusak otak, pilihan tetap ada. Lanjut terus, atau berhenti dan menenangkan hati dan pikiran.

Tak banyak yang pasti di dunia ini. Tapi salah satu dari yang pasti, tak pernah ada kata terlambat selama kamu masih hidup. Seberapapun dekatnya posisi kita dengan jurang, kesempatan untuk pulang ke rumah itu akan selalu ada. Seberapapun kencang laju kita menuju jurang, coba kirimlah pesan (e-mail, sms atau yang tercepat, cukup doakan saja) pada Bapa di rumah untuk rem baru kinclong yang pakem. Walau terkadang mungkin hujan badai yang lebih dulu akan Ia kirimkan untuk memperlambat lajumu sejenak, sebelum kiriman rem baru itu sampai. Imani keinginanmu untuk pulang ke rumah dan nantikan kuasa-Nya bekerja.

Memutuskan untuk terus menurus melangkah ke arah rumah Bapa adalah proses yang panjang dan penuh godaan. Jurang dunia kita kadang terbungkus dalam sejuta tipuan yang menarik dan menyenangkan. Akan banyak putaran balik yang kita ambil karena kita akan terus berkali-kali tergoda untuk berputar lagi menuju ke jurang, yang biasanya nampak jauh lebih menggembirakan. Sampai tiba suatu saat dimana kita menyadari bahwa semua U-turn itu lebih layak disebut dengan R-turn. Redemption turn. Sebuah pilihan putar balik yang dibayar dengan darah Yesus sendiri. Redemption is there for us to grab. Have you grabbed yours?

Tagged with:  

Naked for Free(dom) Video 3

Video 3 of TLC 2: Naked for Free(dom)

 

Naked for Free(dom) Video 2

Video 2 of TLC 2: Naked for Free(dom)

 
Page 1 of 3123
© 2010 True Love Celebration